← Kembali ke Detail

Anak laki-laki yang menangkap waktu

Export PDF

Raka duduk di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan ayahnya yang semakin lemah setiap hari. Dokter bilang waktu ayahnya tidak banyak lagi, penyakitnya sudah terlalu parah untuk disembuhkan.

"Kenapa waktu selalu berjalan begitu cepat saat kita membutuhkannya paling lama?" gumam Raka sedih sambil berjalan pulang melewati toko barang antik langganan ayahnya dulu.

Di etalase toko itu, ia melihat sebuah jam pasir tua dengan bingkai perak berukir simbol-simbol aneh. Entah kenapa, ia merasa tertarik untuk masuk dan membelinya dengan uang tabungannya.

Malam itu, di kamarnya, Raka memandangi jam pasir itu sambil menangis pelan. "Andai saja aku bisa memberikan sedikit waktu untuk ayah..."

Tiba-tiba, pasir dalam jam itu mulai berputar sendiri, memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Raka merasa tubuhnya seperti ditarik ke dalam pusaran cahaya, dan ketika ia membuka mata kembali, ia sudah berada di tempat yang benar-benar asing, sebuah lorong panjang dengan jam-jam raksasa tergantung di langit-langit, masing-masing berdetak dengan ritme berbeda.

"Di mana ini?" gumam Raka takjub.

"Kau berada di Lorong Waktu," sebuah suara menjawab. Seorang pria tua berjubah biru tua dengan jam saku besar tergantung di lehernya mendekat. "Namaku Kronos, penjaga Lorong Waktu. Sudah lama sekali tak ada manusia yang menemukan jam pasir itu."

"Aku... aku hanya ingin menyelamatkan waktu ayahku," kata Raka, suaranya bergetar.

Kronos menatapnya penuh iba. "Aku memahami keinginanmu, Nak. Tapi ada masalah besar yang sedang terjadi di sini. Sang Pencuri Detik telah mencuri ribuan detik dari orang-orang di dunia manusia, membuat waktu mereka berjalan tidak normal sehingga beberapa orang mengalami waktu yang berjalan terlalu cepat, sementara yang lain terjebak dalam waktu yang seolah tak pernah bergerak."

"Apa itu ada hubungannya dengan ayahku?"

"Mungkin saja," jawab Kronos. "Detik-detik yang dicuri disimpan di Ruang Detik Hilang. Jika kau bisa menemukan detik-detik milik ayahmu di sana dan mengembalikannya, mungkin kau bisa memberinya sedikit waktu tambahan."

Hati Raka dipenuhi harapan. "Tolong tunjukkan jalannya!"

Kronos memimpin jalan menuju sebuah ruangan gelap dipenuhi kristal-kristal kecil berkelip yang melayang di udara, masing-masing menyimpan detik-detik waktu yang telah dicuri.

Di tengah ruangan, berdiri sesosok makhluk tinggi kurus mengenakan jubah hitam bertabur angka-angka berkilau, wajahnya tersembunyi di balik topeng jam yang jarumnya berputar liar tanpa arah.

"Seorang manusia berani masuk ke wilayahku," desis Sang Pencuri Detik.

"Kembalikan detik-detik yang kau curi!" seru Raka. "Ayahku sekarat, dan aku butuh waktu untuknya!"

Sang Pencuri Detik tertawa dingin. "Kenapa aku harus peduli? Aku mencuri waktu karena waktu selalu mencuriku lebih dulu. Aku dulunya manusia yang selalu kehabisan waktu untuk hal-hal yang kucintai karena selalu sibuk bekerja, hingga waktu bersama keluargaku habis begitu saja. Ketika akhirnya aku sadar, semuanya sudah terlambat. Sekarang giliranku yang mengambil waktu dari orang lain."

Raka merasakan sesuatu yang menyentuh hatinya. "Aku turut sedih mendengarnya. Tapi mencuri waktu orang lain tidak akan mengembalikan waktumu yang hilang. Itu hanya akan membuat lebih banyak orang merasakan penyesalan yang sama sepertimu."

Sang Pencuri Detik terdiam, jarum di topengnya berhenti berputar sejenak. "Lalu apa yang harus kulakukan? Waktu sudah terlanjur hilang."

"Mungkin kau tidak bisa mengambil kembali waktu yang hilang," kata Raka pelan, "tapi kau bisa membantu orang lain menghargai waktu yang masih mereka miliki, alih-alih mengambilnya."

Hening panjang menyelimuti ruangan. Akhirnya, Sang Pencuri Detik melepas topengnya, menampakkan wajah seorang pria paruh baya dengan mata lelah penuh penyesalan.

"Aku... aku hanya tidak ingin orang lain merasakan penyesalan yang sama."

"Maka bantu mereka menghargai waktu, bukan merampasnya," kata Raka lembut. "Aku yakin, itu akan terasa lebih berarti."

Pria itu menatap Raka lama, lalu mengangguk pelan. Ia mengangkat tangannya, dan seketika, ribuan kristal detik yang tersimpan di ruangan itu melayang kembali menuju dunia manusia, kembali kepada pemiliknya masing-masing.

"Detik milik ayahmu ada di sana," kata pria itu menunjuk sebuah kristal kecil berkilau lembut berwarna keemasan yang masih tertinggal. "Ambillah, dan gunakan dengan bijak."

Raka menggenggam kristal itu erat-erat, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "Terima kasih."

Kronos mendekat, tersenyum bangga. "Kau tidak hanya menyelamatkan waktu ayahmu, Raka, tapi juga menyelamatkan seseorang yang telah lama tersesat dalam penyesalannya."

"Bagaimana aku bisa memberikan kristal ini pada ayahku?"

"Waktu di Lorong Waktu berjalan berbeda dengan dunia manusia," jelas Kronos. "Begitu kau kembali, waktu di sana baru saja berlalu sepersekian detik. Peganglah kristal itu erat-erat saat kau kembali, dan letakkan di dekat jantung ayahmu."

Raka mengangguk mantap. Kronos mengarahkannya kembali ke jam pasir, dan dalam sekejap cahaya keemasan menyelimutinya kembali, membawanya pulang ke kamarnya.

Dengan kristal keemasan di genggamannya, Raka bergegas ke rumah sakit meski waktu sudah larut malam. Ia menyelinap ke kamar ayahnya, meletakkan kristal itu perlahan di dekat dada ayahnya.

Kristal itu bersinar sejenak sebelum menghilang, menyatu dengan tubuh ayahnya. Napas ayah Raka yang tadinya lemah perlahan menjadi lebih stabil, wajahnya yang pucat mulai tampak sedikit lebih segar.

Keesokan paginya, dokter memeriksa kondisi ayah Raka dengan wajah bingung. "Ini keajaiban... kondisinya membaik drastis semalam. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya."

Raka hanya tersenyum, menggenggam tangan ayahnya yang kini mulai membuka mata. "Ayah..."

"Raka," bisik ayahnya lemah namun penuh kehangatan. "Kau di sini."

"Aku akan selalu di sini, Ayah," jawab Raka, air mata bahagia mengalir di pipinya. "Dan mulai sekarang, aku janji tidak akan menyia-nyiakan waktu kita bersama."

Sejak hari itu, Raka menyimpan jam pasir ajaib itu dengan hati-hati, tidak pernah menggunakannya lagi kecuali untuk mengenang petualangannya di Lorong Waktu dan pelajaran berharga bahwa waktu paling berarti bukanlah waktu yang panjang, melainkan waktu yang dihargai sepenuhnya bersama orang-orang yang kita cintai.