← Kembali ke Detail

Aroma Kopi Terakhir di Ujung Senja Hutan Pinus

Export PDF

Hutan selalu menyimpan rahasia yang tidak pernah diizinkan untuk dipecahkan oleh manusia. Bagi warga yang tinggal di kaki pegunungan, Hutan Pinus Alas Senja bukan sekadar kawasan konservasi alam biasa, melainkan sebuah wilayah transisi tempat orang-orang bisa tersesat selamanya tanpa pernah meninggalkan jejak fisik sedikit pun. Sudah banyak catatan regu penyelamat yang pulang dengan tangan hampa, hanya menemukan sebuah ransel kosong atau jaket yang tersangkut di dahan pohon pinus tanpa pemiliknya. Namun, bagi Dimas, hutan tersebut adalah satu-satunya tempat untuk mencari jawaban atas teka-teki terbesar dalam hidupnya: hilangnya sang kakak, Rian, tepat sepuluh tahun yang lalu pada tanggal yang sama.

Langkah kaki Dimas terasa begitu berat di atas tanah basah yang tertutup oleh guguran jarum pinus tua. Hari mulai beranjak petang, dan kabut tebal berwarna putih kelabu perlahan-lahan merayap naik dari dasar lembah, menelan sisa-sisa cahaya matahari senja yang kemerahan. Suhu udara di dalam hutan mendadak drop secara drastis, menusuk hingga ke balik jaket tebal yang ia kenakan. Di tangan kanannya, sebuah senter LED berdaya sorot tinggi menyala terang, membelah kegelapan malam yang mulai merangkak naik. Bau getah pinus yang pekat bercampur dengan aroma tanah basah menciptakan atmosfer yang sunyi dan mencekam. Tidak ada suara jangkrik atau burung hantu; yang terdengar hanyalah derit batang pohon yang bergesekan pelan tertiup angin malam.

Saat ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di dekat sebuah batu besar yang ditumbuhi lumut hijau tebal, sebuah kejanggalan tertangkap oleh indra penciumannya. Di tengah aroma busuk dedaunan basah dan getah, tercium bau harum yang sangat kontras dan asing di tempat antah berantah itu, aroma biji kopi Arabika yang baru saja disangrai, berpadu dengan manisnya karamel hangat.

Dimas mengerutkan keningnya, tidak percaya. Di tengah hutan lindung yang berjarak belasan kilometer dari permukiman terdekat, mustahil ada kedai kopi yang buka pada jam sembilan malam. Didorong oleh rasa penasaran yang bercampur dengan kewaspadaan tingkat tinggi, ia bangkit berdiri dan mulai mengikuti arah datangnya aroma tersebut. Ia menerobos semak belukar yang lebat, melangkah hati-hati di antara barisan pohon pinus yang berdiri tegak bagaikan barisan prajurit bisu dalam kegelapan.

Setelah berjalan sekitar seratus meter menuruni sebuah lereng curam, pandangannya tiba-tiba dikejutkan oleh pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal. Di sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi oleh pepohonan pinus raksasa, berdiri sebuah bangunan kafe berlantai dua dengan gaya arsitektur Victoria kuno. Dindingnya terbuat dari kayu jati tua berwarna cokelat gelap, dihiasi dengan jendela-jendela kaca besar berbingkai besi tempa klasik. Di atas pintu utamanya, sebuah papan nama kayu bergantungan, memancarkan cahaya lampu pijar temaram dengan tulisan yang diukir sangat elegan: Café de l'Ombre.

Lampu-lampu gantung bergaya antik bersinar hangat dari balik kaca jendela, menciptakan pantulan keemasan di atas tanah yang diselimuti kabut tipis. Suasana di sekitar kafe itu terasa begitu sunyi, hampir tidak nyata, seolah bangunan tersebut baru saja berteleportasi dari sudut kota Paris era abad kesembilan belas langsung ke tengah hutan rimba Jawa.

Tanpa sadar, kaki Dimas melangkah mendekati pintu utama kafe tersebut. Gagang pintu yang terbuat dari kuningan terasa sangat dingin saat disentuh. Saat ia mendorongnya perlahan, engsel pintu berderit pelan, memecah keheningan malam yang pekat.

Begitu ia melangkah masuk, gelombang udara hangat langsung menyambut tubuhnya yang kedinginan. Interior kafe itu sangat memesona sekaligus menghanyutkan. Lantai parket kayu jati mengkilap memantulkan cahaya lampu temaram dari dinding. Di sudut ruangan, sebuah gramofon kuno berputar pelan, memainkan melodi musik jazz klasik tahun 1940-an dengan suara derit piringan hitam yang khas.

Namun, hal paling aneh dari kafe tersebut bukanlah bangunannya, melainkan para pengunjungnya.

Ada sekitar tujuh orang pengunjung yang duduk di meja-meja berbeda di dalam ruangan yang cukup luas itu. Seorang pria paruh baya berjas rapi tampak membaca koran lama sambil menyeruput kopinya; sepasang muda-mudi duduk berdampingan di dekat jendela sambil tersenyum tanpa suara; dan beberapa orang lainnya duduk sendiri dalam keheningan. Yang membuat darah Dimas mendadak membeku adalah kenyataan bahwa tidak satupun dari mereka bergerak secara normal. Gerakan mereka tampak kaku, lambat, dan tidak ada suara percakapan sedikit pun yang keluar dari bibir mereka. Cangkir-cangkir kopi di atas meja mereka selalu penuh, mengeluarkan uap tipis yang tidak pernah habis.

"Selamat malam, Tuan. Selamat datang di tempat peristirahatan terakhir... ah, maksud saya, tempat peristirahatan malam," sebuah suara berat menyapa dari balik meja bar kayu mahoni di ujung ruangan.

Dimas terperanjat dan menoleh cepat. Di balik meja bar, berdiri seorang pria paruh baya berpenampilan sangat rapi dengan rompi hitam dan kemeja putih berlengan digulung. Rambutnya sudah beruban di bagian pelipis, dan ia sedang membersihkan sebuah cangkir porselen putih dengan selembar kain bersih secara berulang-ulang. Wajah pria itu tenang, dihiasi senyuman ramah yang justru memancarkan aura misterius yang sulit dijelaskan.

"Aku... aku tidak sengaja tersesat di hutan ini," ucap Dimas, mencoba menjaga agar suaranya tidak bergetar. "Aku sedang mencari jalan keluar, tapi aku tidak menyangka ada kafe di tempat sepi seperti ini."

Barista itu berhenti mengelap cangkir, lalu menatap Dimas dengan sorot mata yang menyiratkan pemahaman mendalam tentang segala hal di dunia ini. "Tidak ada seorang pun yang datang ke tempat ini secara kebetulan, anak muda. Hutan Alas Senja tidak pernah membiarkan orang sembarangan masuk, kecuali mereka yang memang membawa beban di dalam hatinya."

Dimas menelan ludah kelat. Ia berjalan mendekati meja bar dan duduk di salah satu kursi tinggi berlapis kulit hitam. "Apa maksudmu? Apakah tempat ini nyata?"

Pria di balik bar itu menuangkan cairan hitam pekat dari sebuah kendi tembaga ke dalam cangkir porselen kosong, lalu mendorongnya perlahan ke hadapan Dimas. Aroma kopi yang sangat kuat langsung menusuk hidung, memicu kenangan masa kecil yang sangat spesifik di dalam kepala Dimas, aroma kopi hitam buatan sang kakak, Rian.

"Kopi ini diracik khusus untuk mereka yang lelah mencari," kata sang barista dengan nada suara yang tenang, seolah sedang mendendangkan sebuah lullaby kuno. "Kau mencari seseorang, bukan? Seorang pemuda dengan jaket kulit cokelat dan ransel hijau lumut yang hilang sepuluh tahun lalu?"

Jantung Dimas seolah berhenti berdetak seketika. Bulu kuduk di seluruh tubuhnya meremang hebat. Ia mencengkeram tepi meja bar dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Bagaimana... bagaimana kau tahu tentang Rian? Di mana dia? Apakah dia pernah datang ke tempat ini?"

Barista itu tidak langsung menjawab. Ia berbalik, mengambil sebuah foto polaroid tua yang sudah agak menguning dari laci bawah meja, lalu meletakkannya di sebelah cangkir kopi Dimas.

Dimas menunduk menatap foto tersebut. Di atas kertas foto yang mulai pudar itu, terlihat sosok Rian kakaknya sedang duduk tersenyum di kursi yang persis sedang diduduki oleh Dimas saat ini, memegang cangkir kopi yang sama, dengan latar belakang jendela kafe yang menampilkan kegelapan hutan pinus. Tanggal di sudut foto tersebut tertulis jelas: 14 Oktober 2016. Tepat hari di mana Rian dinyatakan hilang secara misterius.

"Sepuluh tahun lalu, kakakmu duduk persis di tempat dudukmu sekarang," suara sang barista berubah menjadi bisikan lirih yang bergema di dalam kepala Dimas. "Ia lelah berlari di dalam labirin kabut hutan, lalu ia menemukan tempat ini. Ia memesan secangkir kopi terakhirnya, menikmati kehangatan di tengah malam yang dingin, dan memutuskan untuk berhenti berjalan."

"Apa maksudmu berhenti berjalan?!" teriak Dimas, emosinya mendadak meledak melampaui rasa takutnya. Ia bangkit dari kursi, mencengkeram kerah rompi barista tersebut dengan tangan gemetar. "Di mana dia sekarang?! Jangan permainkan aku!"

Barista itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Ia menatap mata Dimas dengan sorot mata yang kosong namun teduh. "Di tempat ini, waktu tidak pernah bergerak maju, Dimas. Siapa pun yang meminum secangkir kopi terakhir di kafe ini akan terikat selamanya dengan ingatan malam itu. Kakakmu tidak mati; ia hanya memilih untuk tetap tinggal di dalam babak hidupnya yang paling tenang, menolak kembali ke dunia luar yang kejam dan penuh kehilangan."

Dimas melepaskan cengkeramannya perlahan. Kakinya terasa lemas, kehilangan seluruh tenaga untuk menopang tubuhnya. Ia menoleh ke sekeliling ruangan kafe. Para pengunjung yang duduk diam di meja-meja perlahan menoleh ke arahnya secara bersamaan. Di bawah temaram lampu gantung, wajah-wajah pucat itu mulai terlihat sangat familiar. Ada seorang kakek tua yang dicari keluarganya tahun lalu, seorang pendaki wanita asal kota seberang yang hilang tiga tahun lalu, dan di sudut paling gelap, sesosok pemuda berjaket kulit cokelat menatapnya sambil tersenyum hangat, Rian.

Kakaknya tidak menua sedetik pun. Ia tersenyum tenang, mengangkat cangkir kopinya dari kejauhan seolah menyambut kepulangan sang adik ke dalam lingkaran waktu yang sama.

Dimas mundur perlahan hingga punggungnya membentur pintu keluar kafe. Napasnya memburu cepat. Rasa rindu yang teramat sangat berbenturan hebat dengan ketakutan luar biasa di dalam dadanya. Ia menatap cangkir kopi hitam yang masih mengepul di atas meja bar cangkir yang disiapkan khusus untuk dirinya.

Barista itu mendorong cangkir tersebut sedikit lebih dekat ke arah Dimas, lalu berucap dengan suara yang semakin melebur bersama derit piringan hitam gramofon, "Pilihannya ada di tanganmu, anak muda. Keluar kembali ke hutan yang dingin dan melanjutkan pencarian yang melelahkan, atau duduklah, nikmati kopinya, dan bergabunglah dalam keabadian bersama saudaramu."

Malam semakin larut di luar sana. Kabut putih yang pekat merayap masuk melalui celah pintu yang terbuka, membawa aroma tanah basah dan getah pinus yang pekat. Dimas menatap cangkir kopi itu, lalu menatap bayangan kakaknya di ujung ruangan yang melambaikan tangan perlahan, mengundang dalam keheningan yang abadi.