← Kembali ke Detail

BAYANGAN DI BALIK POHON TERTUA

Export PDF

Jejak yang Muncul Setelah Hujan

Hujan pertama di awal musim penghujan selalu membawa aroma tanah yang khas ke seluruh Desa Bukit Angin. Kabut tipis turun perlahan dari lereng perbukitan, sementara dedaunan yang semula kering berubah hijau kembali. Anak-anak desa senang bermain di halaman setelah hujan reda, meninggalkan jejak-jejak kecil di tanah yang masih lunak.

Namun pagi itu, ada jejak lain yang membuat warga berhenti sejenak.

Jejak itu jauh lebih besar daripada jejak anjing atau kambing yang biasa berkeliaran di desa. Bentuknya memanjang, dengan bekas empat jari yang tercetak jelas di tanah. Yang membuat orang semakin penasaran adalah arah jejak tersebut. Jejak itu tidak menuju ladang atau sungai, melainkan ke arah Hutan Arwana, hutan tertua yang berada di sisi utara desa.

"Jejak itu muncul lagi," ujar Pak Lurah dengan tampang khawatir kepada beberapa warga yang sedang berkumpul.

Sebagian hanya tersenyum sambil menggeleng. Mereka sudah mendengar cerita serupa sejak kecil. Setiap beberapa tahun sekali, setelah hujan pertama turun, jejak itu selalu muncul lalu menghilang beberapa hari kemudian.

Aldo mendengar pembicaraan itu dari kejauhan. Ia memang dikenal sebagai anak yang suka mengamati alam. Di rumahnya terdapat rak kecil berisi buku tentang satwa liar, tumbuhan, dan peta-peta hutan.

Sore harinya ia mengajak dua sahabatnya, Citra dan Faris, melihat sendiri jejak tersebut.

Tanah masih lembap ketika mereka tiba di tepi hutan.

Jejak itu benar-benar ada.

Aldo berjongkok sambil memperhatikan bentuknya.

"Aneh..."

Faris menatap sekeliling.

"Menurutmu ini jejak apa?"

Aldo tidak langsung menjawab. Ia mengambil buku kecil dari tasnya dan mulai menggambar bentuk jejak tersebut.

"Aku belum tahu. Tapi satu hal yang pasti..."

Ia menatap ke arah hutan yang mulai diselimuti bayangan senja.

"...jejak ini tidak mungkin muncul tanpa pemilik."

Mereka memutuskan kembali ke rumah sebelum hari gelap. Namun malam itu, rasa penasaran membuat mereka sulit tidur.

Perjalanan Menuju Pohon Tertua

Keesokan paginya mereka berangkat lebih awal.

Langit masih berwarna jingga ketika mereka memasuki Hutan Arwana. Udara terasa sejuk, dan cahaya matahari menembus sela-sela ranting, membentuk garis-garis keemasan di atas tanah.

Mereka berpencar mencari jejak itu lagi, semuanya jejaknya masih tampak jelas.

Semakin jauh mereka berjalan, suasana hutan berubah. Pohon-pohon semakin besar, batangnya dipenuhi lumut hijau, sementara akar-akarnya menjalar seperti ular raksasa di atas tanah.

Mereka hampir tidak berbicara. Suara burung, serangga, dan gemerisik daun menjadi teman sepanjang perjalanan.

Sesekali Aldo berhenti mengamati petunjuk lain.

Ada ranting yang patah.

Bekas tanah yang tergeser.

Daun-daun yang tampak baru saja diinjak.

"Jejak ini masih baru," gumamnya.

Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah sungai kecil. Airnya jernih dan mengalir tenang melewati bebatuan hitam.

Jejak itu berhenti di tepi sungai.

"Yah, Hilang lagi." ucap Faris sambil menghela napas kelelahan.

Namun, Aldo menemukan hal yang berbeda, dia menunjuk beberapa batu besar yang membentuk jalur alami melintasi sungai.

"Kalau aku menjadi hewan, aku juga akan melewati batu itu agar tidak tenggelam di lumpur."

Mereka menyeberang.

Dan benar saja.

Di sisi lain sungai, jejak itu kembali muncul.

Rasa penasaran mereka semakin besar.

Perjalanan berlanjut hingga akhirnya mereka tiba di sebuah pohon beringin raksasa. Batangnya begitu besar sehingga diperlukan enam orang dewasa untuk memeluknya bersama-sama.

Di bawah pohon itu, jejak-jejak tadi berhenti.

Tidak ada satu pun bekas langkah berikutnya.

Hanya akar-akar besar yang menjulur ke segala arah.

Ketiganya saling berpandangan.

Keheningan hutan membuat tempat itu terasa semakin misterius.

Saat mereka sedang mengamati sekitar, terdengar suara ranting patah dari balik semak.

Mereka menoleh bersamaan.

Namun tidak ada apa pun selain dedaunan yang bergerak perlahan tertiup angin.

Rahasia yang Dijaga Alam

Perasaan menekan di dada belum terangkat bagi Aldo, dia masih terhantui oleh rasa penasaran. Ia percaya jejak itu tidak mungkin berakhir begitu saja.

Ia berjalan mengelilingi pohon beringin sambil memperhatikan setiap detail.

Di salah satu sisi batang pohon, ia melihat bekas goresan pada tanah yang tertutup akar.

Ketika semak-semak disingkirkan, tampak sebuah jalur sempit yang hampir seluruhnya tertutup tumbuhan liar.

"Itu dia..." bisiknya.

Jalur tersebut ternyata mengarah ke sebuah lembah kecil yang tersembunyi.

Begitu mereka sampai di sana, ketiganya terdiam.

Di hadapan mereka terbentang sebuah kolam alami yang airnya sangat jernih. Di sekelilingnya tumbuh berbagai jenis bunga liar yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Burung-burung kecil beterbangan di antara ranting, sementara kupu-kupu berwarna-warni memenuhi udara.

Tempat itu terasa damai.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah ringan.

Seekor tapir melangkah perlahan menuju kolam untuk minum.

Tubuhnya besar, tetapi gerakannya tenang. Setelah selesai minum, tapir itu berjalan melewati jalan sempit yang tadi mereka temukan hingga akhirnya menghilang kembali ke dalam hutan.

Aldo tersenyum.

"Jadi selama ini..."

Ia melihat kembali jejak yang mereka ikuti.

"...jalan ini adalah jalur satwa menuju sumber air."

Saat mereka hendak kembali, seorang penjaga hutan bernama Pak Hendra datang menghampiri. Rupanya ia sudah memperhatikan mereka sejak memasuki kawasan hutan.

Pak Hendra menjelaskan bahwa lembah kecil itu merupakan salah satu habitat penting bagi berbagai satwa liar. Jalur yang mereka ikuti digunakan selama puluhan tahun oleh hewan-hewan untuk menuju kolam alami, terutama setelah hujan pertama turun ketika sumber air lain mulai mengering.

"Penduduk sering menyebutnya jejak misterius," kata Pak Hendra sambil tersenyum.

"Padahal alam hanya sedang menunjukkan bahwa kehidupan di hutan masih berjalan sebagaimana mestinya."

Dalam perjalanan pulang, ketiga sahabat itu menyadari bahwa rasa takut sering kali muncul karena mereka tidak paham tentang apa yang mereka hadapi. Apa yang tampak misterius ternyata merupakan bagian dari keseimbangan alam yang luar biasa.

Beberapa minggu kemudian mereka mengadakan pameran kecil di sekolah tentang satwa liar di sekitar desa. Mereka memajang gambar jejak yang telah mereka buat, menjelaskan cara mengenali bekas langkah berbagai hewan, dan menceritakan pentingnya menjaga hutan sebagai rumah bagi banyak makhluk hidup.

Sejak saat itu, warga desa tidak lagi melihat jejak-jejak tersebut sebagai pertanda sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, mereka menganggapnya sebagai kabar baik bahwa hutan masih hidup dan satwa-satwa masih memiliki tempat yang aman untuk bertahan.

Dan setiap kali hujan pertama turun di awal musim, Aldo selalu berjalan ke tepi hutan. Bukan untuk mencari makhluk misterius, melainkan untuk melihat apakah alam masih meninggalkan pesan yang sama.

Karena ia kini percaya, setiap jejak bukan sekadar bekas langkah, melainkan kisah tentang kehidupan yang terus berjalan, bahkan ketika manusia tidak menyadarinya.