← Kembali ke Detail

Bayangan di Gedung Aruna

Export PDF

Desa yang Menyimpan Rahasia

Hujan turun deras ketika bus yang ditumpangi Nara memasuki wilayah Desa Wanasari. Dari balik kaca jendela yang dipenuhi embun, ia memperhatikan hamparan sawah yang membentang luas di sisi jalan. Kabut tipis turun perlahan dari perbukitan yang mengelilingi desa, menciptakan suasana yang terasa asing sekaligus menenangkan.

Namun ketenangan itu hanya berlangsung sesaat. Ketika bus melewati sebuah tikungan, Nara melihat bangunan tua berdiri di kejauhan.

Bangunan itu tampak berbeda dari rumah-rumah lain di desa. Ukurannya jauh lebih besar. Dindingnya kusam dan sebagian atapnya telah runtuh. Pepohonan besar mengelilingi bangunan tersebut seolah sengaja menyembunyikannya dari pandangan.

Nara langsung tahu.

Itulah Gedung Aruna.

Tempat yang menjadi alasan kedatangannya ke desa ini.

Beberapa bulan sebelumnya, dosen pembimbing tugas akhirnya menyarankan sebuah topik investigasi yang belum pernah diangkat secara serius.

"Misteri Gedung Aruna," kata dosennya waktu itu.

Awalnya Nara mengira itu hanya cerita rakyat biasa. Namun setelah mencari berbagai informasi, ia menemukan banyak laporan orang hilang yang berkaitan dengan gedung tersebut.

Yang membuatnya semakin tertarik adalah pola kejadiannya, setiap sepuluh tahun, selalu satu orang. Dan semuanya menghilang setelah berusaha menyelidiki sejarah Gedung Aruna.

Kebetulan?

Nara tidak percaya pada kebetulan.

Bus berhenti di terminal kecil desa.

Ia turun sambil membawa ransel besar dan sebuah koper berisi perlengkapan penelitian.

Udara dingin langsung menyambutnya.

Di dekat terminal terdapat beberapa warung sederhana. Sejumlah warga tampak berbincang sambil menikmati kopi hangat.

Nara mendekati seorang bapak paruh baya.

"Permisi, Pak. Saya mau bertanya."

Bapak itu tersenyum ramah.

"Mau ke mana, Nak?"

"Saya mencari rumah Bu Ratih."

Senyum di wajah bapak itu masih bertahan.

Namun ketika Nara menambahkan kalimat berikutnya, ekspresinya berubah.

"Saya datang untuk meneliti Gedung Aruna."

Suasana mendadak sunyi.

Percakapan beberapa warga terhenti.

Seorang ibu yang sedang menuang teh bahkan menjatuhkan sendoknya.

Nara mengerutkan kening.

Reaksi mereka jauh lebih aneh daripada yang ia bayangkan.

Bapak itu menelan ludah.

"Lebih baik jangan mencari tahu tentang tempat itu."

"Kenapa?"

"Tidak ada yang baik di sana."

"Lalu orang-orang yang hilang?"

Bapak itu menggeleng.

"Saya tidak tahu."

Padahal dari sorot matanya, Nara yakin pria tersebut mengetahui sesuatu.

Ia hanya tidak mau mengatakannya.

Sore hari Nara tiba di rumah Bu Ratih.

Rumah kayu sederhana itu berada tidak jauh dari area persawahan.

Bu Ratih adalah seorang janda berusia sekitar enam puluh tahun yang dikenal ramah kepada pendatang.

Setelah menunjukkan surat rekomendasi dari kampus, Nara diperbolehkan menyewa kamar kosong selama beberapa minggu.

Malam pertama di desa berlangsung tenang.

Hanya suara jangkrik dan angin yang terdengar dari luar jendela.

Saat makan malam, Nara memutuskan untuk mulai menggali informasi.

"Bu, boleh saya bertanya sesuatu?"

Bu Ratih mengangguk.

"Tentu."

"Tentang Gedung Aruna."

Sendok yang dipegang Bu Ratih berhenti di udara.

Perempuan tua itu menatap Nara cukup lama sebelum akhirnya meletakkan sendoknya.

"Kamu datang ke sini karena gedung itu, ya?"

"Iya."

Bu Ratih menghela napas.

"Sudah banyak orang yang mencoba mencari jawabannya."

"Dan?"

"Mereka tidak pernah mendapatkan jawaban yang mereka cari."

"Apakah benar ada orang yang menghilang?"

Bu Ratih mengangguk pelan.

"Benar."

"Siapa korban terakhir?"

"Pak Surya."

"Guru sejarah?"

Nara terkejut.

Nama itu pernah ia baca dalam arsip koran lama.

"Beliau hilang sepuluh tahun lalu."

"Bagaimana kejadiannya?"

"Malam itu ia pergi ke Gedung Aruna. Besok paginya sepeda motornya ditemukan di depan bangunan tersebut."

"Lalu?"

"Orangnya tidak pernah ditemukan."

Nara mulai mencatat.

"Polisi menyelidiki?"

"Tentu."

"Hasilnya?"

"Tidak ada."

Jawaban singkat itu membuat bulu kuduk Nara meremang.

Malam semakin larut.

Setelah Bu Ratih tidur, Nara membuka laptopnya dan mulai menyusun catatan. Ada beberapa fakta yang sudah berhasil ia kumpulkan.

Pertama, Gedung Aruna dibangun pada masa kolonial sekitar tahun 1920.

Kedua, bangunan tersebut pernah digunakan sebagai kantor administrasi.

Ketiga, terdapat beberapa kasus orang hilang yang berkaitan dengan gedung tersebut.

Dan yang paling menarik...

Semua korban memiliki ketertarikan terhadap sejarah bangunan itu. Seolah-olah mereka hampir menemukan sesuatu. Sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Ketika sedang berpikir, terdengar suara ketukan di jendela.

Tok.

Tok.

Tok.

Nara terdiam.

Kamar yang ditempatinya berada di lantai dua. Tidak mungkin ada orang yang mengetuk dari luar.

Perlahan ia menoleh ke arah jendela.

Ketukan itu terdengar lagi.

Tok.

Tok.

Tok.

Jantungnya berdebar lebih cepat. Dengan hati-hati ia berdiri dan mendekat, hujan mulai turun di luar.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya gelap.

Nara menghembuskan napas lega.

Mungkin hanya ranting pohon.

Namun tepat ketika ia hendak menutup tirai...

Ia melihat sesuatu.

Sesosok bayangan berdiri di halaman.

Diam.

Tidak bergerak.

Seolah sedang memperhatikannya.

Nara langsung membuka jendela.

"Siapa di sana?!"

Petir menyambar.

Cahaya sesaat menerangi halaman.

Bayangan itu menghilang.

Seakan tidak pernah ada.

Nara berdiri membeku.

Perasaan tidak nyaman mulai merayap di pikirannya.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke Wanasari, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Dan ia belum menyadari bahwa malam itu hanyalah awal dari misteri yang jauh lebih besar.

Arsip yang Hilang

Keesokan paginya, Nara terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Bayangan yang dilihatnya semalam terus teringat di benaknya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya ilusi akibat hujan dan cahaya petir.

Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Setelah sarapan, ia memutuskan pergi ke kantor desa untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai Gedung Aruna. Menurut arsip yang pernah dibacanya, bangunan itu dulunya merupakan kantor administrasi yang cukup penting pada masa kolonial.

Kantor desa tampak sederhana. Di dalamnya terdapat lemari-lemari tua yang menyimpan dokumen puluhan tahun. Kepala desa saat ini, Pak Rahmat, menerima kedatangannya dengan ramah.

"Kamu mahasiswa yang sedang meneliti Gedung Aruna, ya?" tanyanya.

"Iya, Pak."

Pak Rahmat tersenyum tipis.

"Sudah banyak yang datang dengan tujuan yang sama."

"Dan semuanya gagal?"

Senyum itu perlahan menghilang.

"Sebagian menyerah. Sebagian lagi pergi begitu saja."

Jawaban itu membuat Nara semakin penasaran.

Pak Rahmat akhirnya mengizinkannya melihat arsip desa.

Selama beberapa jam, Nara membuka dokumen demi dokumen yang sudah menguning dimakan usia. Sebagian besar berisi data kependudukan, laporan pembangunan, dan catatan administrasi biasa.

Hingga ia menemukan sesuatu yang menarik, sebuah daftar inventaris bangunan tahun 1948. Nama Gedung Aruna tercantum di sana, namun ada satu kejanggalan. Bagian yang menjelaskan fungsi bangunan tersebut sengaja disobek.

Bekas robekannya terlihat sangat rapi.

Seolah seseorang ingin menghilangkan informasi tertentu.

Nara memotret dokumen itu.

Ketika ia hendak membuka arsip berikutnya, seorang pegawai desa tiba-tiba datang menghampiri.

"Maaf, Mbak."

"Iya?"

"Pak Rahmat meminta arsip itu dikembalikan."

"Kenapa?"

Pegawai itu terlihat gugup.

"Katanya arsipnya sedang diperbaiki."

Alasan itu terdengar aneh.

Terlebih lagi ketika Nara melihat pegawai tersebut buru-buru membawa dokumen itu pergi.

Sore harinya ia kembali ke rumah Bu Ratih.

Di depan rumah sudah menunggu seseorang.

Seorang pemuda berkacamata yang langsung melambaikan tangan ketika melihatnya.

"Dimas?"

Pemuda itu tersenyum lebar.

"Siapa lagi?"

Nara tertawa kecil.

Dimas adalah sahabatnya sejak SMA. Ia sedang kuliah di jurusan sejarah dan memiliki kebiasaan tidak bisa menolak misteri.

"Aku bawa bantuan," kata Dimas sambil mengangkat tas ranselnya.

"Bantuan apa?"

"Salinan koran lama."

Mata Nara langsung berbinar.

Malam itu mereka menghabiskan waktu di ruang tamu.

Dimas mengeluarkan beberapa lembar fotokopi koran yang diperolehnya dari perpustakaan provinsi.

"Ini berita tentang korban-korban yang hilang."

Nara mulai membacanya.

Kasus pertama terjadi tahun 1956.

Korbannya seorang penulis bernama Hasan.

Sepuluh tahun kemudian, seorang pegawai kecamatan menghilang.

Lalu seorang dosen sejarah.

Kemudian seorang wartawan.

Dan terakhir Pak Surya.

Ada satu kesamaan yang membuat mereka terdiam.

Sebelum menghilang, semua korban pernah menyebut tentang ruang rahasia di Gedung Aruna.

"Berarti ruang itu benar-benar ada," kata Dimas.

Nara mengangguk.

"Dan mungkin itulah alasan mereka menghilang."

Ketika sedang membahas kemungkinan tersebut, listrik rumah tiba-tiba padam.

Seluruh ruangan gelap.

"Hebat," gumam Dimas.

"Tenang. Mungkin listrik desa memang sering mati."

Namun beberapa detik kemudian mereka mendengar suara langkah kaki di luar rumah.

Krek...

Krek...

Krek...

Seseorang sedang berjalan perlahan di halaman.

Nara dan Dimas saling berpandangan.

Suara itu berhenti tepat di depan jendela.

Mereka menahan napas.

Lalu terdengar satu suara ketukan.

Tok.

Tok.

Tok.

Persis seperti semalam.

Dimas segera mengambil senter.

Dengan cepat ia membuka pintu depan.

Namun halaman kosong.

Tidak ada siapa pun.

Hanya angin malam yang bertiup dingin.

Di tanah dekat teras terdapat secarik kertas.

Dimas mengambilnya.

Tulisan merah di atasnya membuat mereka membeku.

BERHENTI MENYELIDIK.

Gedung yang Terlupakan

Keesokan malamnya mereka memutuskan mendatangi Gedung Aruna.

Langit tertutup awan tebal ketika mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju bangunan tua tersebut. Semakin dekat, suasana terasa semakin mencekam.

Rumput liar tumbuh hingga setinggi pinggang. Pohon-pohon besar berdiri seperti penjaga yang mengawasi setiap langkah mereka.

Gedung Aruna tampak jauh lebih besar dibandingkan yang terlihat dari kejauhan.

Pintu depannya setengah terbuka.

"Siap?" tanya Dimas.

"Tidak."

"Bagus. Aku juga."

Mereka masuk.

Debu tebal memenuhi udara.

Bau kayu lapuk menyengat hidung.

Cahaya senter menyapu dinding-dinding tua yang dipenuhi retakan.

Di salah satu ruangan mereka menemukan meja besar yang sudah hancur dimakan usia.

Di atasnya terdapat beberapa dokumen yang tersisa.

Sebagian besar sudah rusak.

Namun satu lembar masih bisa dibaca.

Tulisan di bagian atas berbunyi:

RUANG PENYIMPANAN KHUSUS AKSES TERBATAS

Dimas mengerutkan kening.

"Kalau ada ruang penyimpanan khusus, berarti ada sesuatu yang disembunyikan."

Nara mengangguk.

Mereka mulai memeriksa setiap sudut bangunan.

Satu jam berlalu.

Tidak ada hasil.

Hingga Dimas menemukan sesuatu yang aneh.

Salah satu dinding menghasilkan suara berbeda ketika diketuk.

Tok.

Tok.

Dung.

Tok.

Mereka saling berpandangan.

Bagian tengah dinding itu berongga.

Dengan susah payah mereka menyingkirkan lemari tua yang menempel di depannya.

Di balik lemari terdapat pintu besi berkarat.

Jantung Nara berdegup kencang.

Mereka baru saja menemukan sesuatu yang selama puluhan tahun tersembunyi.

Ruang Bawah Tanah

Pintu besi itu tidak terkunci. Ketika didorong perlahan, terdengar bunyi decit panjang. Di baliknya terdapat tangga sempit yang mengarah ke bawah.

Udara dingin langsung menerpa wajah mereka.

"Ini dia," bisik Dimas.

Mereka menuruni tangga dengan hati-hati. Setelah beberapa menit, tangga berakhir pada sebuah lorong panjang. Dindingnya terbuat dari batu, suasananya lembap, gelap, dan sunyi.

Di ujung lorong terdapat ruangan besar. Apa yang mereka lihat membuat keduanya terdiam.

Ruangan itu dipenuhi rak arsip.

Puluhan.

Mungkin ratusan.

Semuanya tertata rapi.

Seolah ada seseorang yang terus merawat tempat itu.

Nara mengambil salah satu map.

Di dalamnya terdapat daftar nama orang-orang yang pernah ditahan pada masa kolonial.

Banyak di antara nama tersebut tercatat sebagai hilang.

Padahal dokumen itu menunjukkan bahwa mereka pernah ditahan di Gedung Aruna.

"Astaga..." gumam Dimas.

Mereka mulai memahami gambaran besarnya.

Gedung Aruna bukan sekadar kantor administrasi.

Bangunan itu pernah menjadi tempat penahanan rahasia.

Namun misteri belum selesai.

Karena di atas meja utama terdapat sebuah buku harian.

Halaman terakhirnya berisi tulisan yang membuat bulu kuduk mereka meremang.

"Mereka akan kembali mengambil arsip ini. Jika seseorang menemukan catatan ini, jangan percaya siapa pun."

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.

Bukan dari lorong.

Melainkan dari belakang mereka.

Nara membalikkan badan.

Seseorang berdiri di ambang pintu.

Seorang pria tua.

Dan ia sedang menatap mereka tanpa berkedip.

Penjaga Rahasia

Pria tua itu berdiri diam di ambang pintu. Cahaya senter yang dipegang Nara menyorot wajahnya yang dipenuhi kerutan. Rambutnya memutih, tetapi sorot matanya masih tajam.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Nara merasakan jantungnya berdegup sangat cepat.

“Siapa Anda?” tanyanya akhirnya.

Pria tua itu menghela napas panjang.

“Pertanyaan yang sama ingin saya ajukan kepada kalian.”

Dimas melangkah maju.

“Kami sedang mencari kebenaran tentang Gedung Aruna.”

Pria itu menatap mereka bergantian.

“Kalian seharusnya tidak berada di sini.”

“Kenapa?”

“Karena tempat ini tidak pernah dimaksudkan untuk ditemukan.”

Jawaban itu membuat suasana semakin tegang.

Nara memperhatikan pakaian pria tersebut. Meski sederhana, pakaian itu tampak bersih. Tidak seperti seseorang yang tinggal di tempat terbengkalai.

“Apa Anda tinggal di sini?” tanya Nara.

Pria itu tidak langsung menjawab.

Beberapa saat kemudian ia mengangguk.

“Sebagian hidup saya habis untuk menjaga tempat ini.”

“Menjaga apa?”

Pria itu memandang rak-rak arsip di sekeliling mereka.

“Menjaga sejarah yang ingin dihapus oleh banyak orang.”

Namanya Rahman.

Ia adalah cucu dari penjaga terakhir Gedung Aruna.

Menurut ceritanya, setelah Indonesia merdeka, banyak dokumen penting yang sengaja dimusnahkan oleh pihak-pihak tertentu. Dokumen tersebut berisi catatan tentang penahanan rahasia, penyiksaan, dan berbagai pelanggaran yang pernah terjadi di Gedung Aruna.

Kakeknya diam-diam menyelamatkan sebagian arsip dan menyembunyikannya di ruang bawah tanah.

Ketika kakeknya meninggal, tugas menjaga arsip itu diwariskan kepada Rahman.

“Kenapa tidak melaporkannya ke pemerintah?” tanya Dimas.

Rahman tersenyum pahit.

“Karena tidak semua orang ingin kebenaran terungkap.”

“Apa maksudnya?”

“Ada keluarga-keluarga berpengaruh yang namanya tercantum dalam dokumen ini. Mereka tidak ingin masa lalu mereka diketahui.”

Nara mulai memahami mengapa begitu banyak orang takut membicarakan Gedung Aruna.

Namun satu pertanyaan masih mengganggunya.

“Orang-orang yang hilang... apakah mereka menemukan tempat ini?”

Rahman terdiam.

Wajahnya berubah muram.

“Ya.”

“Apa yang terjadi kepada mereka?”

Rahman menunduk.

“Sebagian berhasil pergi.”

“Sebagian?”

“Sebagian lagi tidak pernah sempat keluar dari desa.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Rahman kemudian membawa mereka ke bagian lain ruang bawah tanah.

Di balik rak arsip terdapat lorong sempit yang mengarah ke sebuah ruangan kecil.

Di sana terdapat beberapa kotak kayu tua.

Ketika salah satu kotak dibuka, Nara terkejut.

Di dalamnya terdapat kamera tua, buku catatan, perekam suara, dan berbagai barang pribadi.

“Ini milik siapa?” tanyanya.

“Milik mereka yang pernah datang mencari kebenaran.”

Nara memegang sebuah buku catatan.

Pada halaman pertama tertulis nama yang dikenalnya.

Pak Surya.

Guru sejarah yang hilang sepuluh tahun lalu.

Tangannya bergetar ketika membuka halaman demi halaman.

Isi catatan itu menjelaskan penyelidikan Pak Surya terhadap Gedung Aruna.

Ia menemukan keberadaan ruang bawah tanah.

Ia juga menulis tentang sekelompok orang yang mengawasinya.

Pada halaman terakhir terdapat tulisan yang tidak selesai.

"Jika sesuatu terjadi padaku, berarti mereka..."

Kalimat itu terputus.

Tidak ada halaman berikutnya.

“Mereka siapa?” tanya Dimas.

Rahman menggeleng.

“Saya tidak pernah tahu pasti.”

“Bukankah Anda tinggal di sini?”

“Ya. Tapi saya hanya penjaga arsip. Saya bukan bagian dari mereka.”

Nara semakin bingung.

Jika benar ada kelompok yang ingin menutupi rahasia Gedung Aruna, mengapa mereka membiarkan Rahman hidup?

Seolah bisa membaca pikirannya, Rahman berkata pelan.

“Mereka tahu saya ada.”

“Apa?”

“Mereka tahu saya menjaga tempat ini.”

“Lalu kenapa tidak menangkap Anda?”

Rahman tersenyum tipis.

“Mungkin karena mereka menganggap saya tidak berbahaya.”

Tiba-tiba terdengar suara keras dari atas.

BRAKK!

Ketiganya tersentak.

Suara itu seperti pintu yang dibanting dengan paksa.

Rahman langsung berdiri.

Wajahnya berubah pucat.

“Mereka datang.”

“Siapa?”

“Mereka yang selama ini menjaga rahasia.”

Langkah kaki terdengar dari lorong.

Banyak.

Lebih dari satu orang.

Dimas mematikan senter.

Mereka bertiga bersembunyi di balik rak arsip.

Suara langkah itu semakin dekat.

Jantung Nara berdetak sangat keras hingga ia khawatir orang lain bisa mendengarnya.

Kemudian terdengar percakapan.

“Aku yakin mereka masuk ke sini.”

“Cari setiap ruangan.”

“Jangan sampai arsipnya dibawa.”

Nara menahan napas.

Ternyata selama ini mereka benar.

Ada seseorang yang aktif menjaga rahasia Gedung Aruna.

Dan sekarang mereka sedang diburu.

Rahman memberi isyarat agar mereka mengikutinya.

Dengan hati-hati mereka bergerak menuju lorong sempit di belakang ruangan.

Lorong itu begitu kecil sehingga hanya cukup dilalui satu orang.

Mereka berjalan dalam gelap selama beberapa menit.

Di ujung lorong terdapat pintu kayu tua. Rahman membukanya perlahan. Udara malam langsung menyambut mereka.

Mereka ternyata keluar di belakang bukit, sekitar satu kilometer dari Gedung Aruna.

“Jalan rahasia,” kata Rahman.

“Sudah ada sejak zaman kolonial.”

Nara menoleh ke arah gedung yang tampak samar di kejauhan.

Lampu-lampu senter terlihat bergerak di dalam bangunan.

Seseorang benar-benar sedang mencari mereka.

Malam itu mereka bersembunyi di rumah Rahman yang terletak di pinggir hutan. Rumah kecil tersebut hampir tidak terlihat dari jalan utama.

Di sana, Rahman akhirnya menceritakan seluruh kebenaran yang diketahuinya. Menurutnya, beberapa keluarga berpengaruh di desa memiliki hubungan dengan pihak yang pernah mengelola Gedung Aruna pada masa lalu. Mereka khawatir arsip-arsip tersebut akan merusak nama keluarga mereka.

Karena itulah setiap kali ada orang yang terlalu dekat dengan kebenaran, mereka berusaha menghentikannya.

“Apakah mereka yang menyebabkan korban-korban itu menghilang?” tanya Nara.

Rahman menghela napas.

“Saya tidak punya bukti.”

“Tapi Anda curiga?”

Rahman mengangguk pelan.

Nara tidak bisa tidur malam itu.

Ia duduk di dekat jendela sambil memandangi hutan yang gelap.

Semakin banyak fakta yang terungkap, semakin berbahaya penyelidikan ini. Namun kini ia tidak bisa mundur.

Terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab. Dan terlalu banyak orang yang berhak mengetahui kebenaran.

Keesokan paginya mereka memutuskan untuk menyalin seluruh arsip penting. Rahman memiliki generator tua dan sebuah komputer sederhana yang masih berfungsi. Selama berjam-jam mereka memindai dokumen, memotret catatan, dan menyimpan salinan digital. Jika sesuatu terjadi, setidaknya informasi tersebut tidak akan hilang.

Menjelang sore, pekerjaan mereka hampir selesai.

Saat itulah Dimas menemukan sebuah dokumen yang berbeda dari yang lain.

Dokumen itu disimpan dalam map merah.

Di bagian atas tertulis:

RAHASIA

Nara membuka map tersebut.

Dan untuk pertama kalinya, mereka menemukan nama yang selama ini hilang dari semua arsip.

Pak Surya.

Di bawah namanya terdapat catatan tanggal.

Ternyata setelah menghilang, Pak Surya sempat ditahan selama beberapa hari.

Namun yang membuat mereka terkejut adalah kalimat terakhir.

"Subjek berhasil melarikan diri."

“Melarikan diri?” gumam Dimas.

“Berarti dia tidak meninggal?”

Nara membaca ulang dokumen itu. Tidak ada catatan lanjutan. Tidak ada informasi ke mana Pak Surya pergi.

Namun satu hal menjadi jelas. Pak Surya tidak hilang secara misterius. Ia berhasil kabur.

Malam itu mereka mengirim seluruh salinan dokumen kepada seorang jurnalis senior di kota. Jika terjadi sesuatu kepada mereka, bukti-bukti tersebut tetap aman.

Keesokan harinya, berita mengenai Gedung Aruna mulai menyebar. Media datang ke Wanasari. Polisi membuka penyelidikan baru. Sejumlah warga yang selama ini diam mulai berani berbicara. Satu demi satu rahasia yang terkubur selama puluhan tahun mulai terungkap.

Beberapa minggu kemudian, pemerintah daerah melakukan penggalian dan pemeriksaan resmi terhadap Gedung Aruna. Ruang bawah tanah ditemukan. Arsip-arsip yang disimpan Rahman dinyatakan autentik.

Sejarah yang selama ini hilang akhirnya berhasil di dokumentasikan kembali. Nama-nama korban yang pernah ditahan di sana dicatat dan diumumkan kepada publik. Keluarga mereka akhirnya mendapatkan jawaban setelah puluhan tahun menunggu.

Suatu sore, Nara kembali berdiri di depan Gedung Aruna.

Bangunan itu kini dipasangi garis pembatas dan sedang dalam proses konservasi. Tidak lagi tampak menyeramkan. Tidak lagi menjadi simbol kutukan.

Rahman berdiri di sampingnya.

“Terima kasih,” katanya.

“Untuk apa?”

“Karena akhirnya ada yang berani mencari kebenaran.”

Nara tersenyum.

“Mungkin memang sudah waktunya.”

Namun sebelum pergi meninggalkan desa, Nara menerima sebuah amplop tanpa nama. Amplop itu ditemukan di depan kamar penginapannya. Di dalamnya hanya ada selembar kertas. Tulisan tangan yang rapi memenuhi bagian tengah halaman.

"Jika kamu membaca surat ini, berarti kamu telah menemukan sebagian kebenaran."

Nara mengernyit.

Ia melanjutkan membaca.

"Pak Surya masih hidup."

Matanya membelalak.

Di bawah kalimat itu terdapat sebuah alamat. Alamat yang berada di kota lain. Tanpa nama pengirim, tanpa penjelasan apa pun, hanya satu petunjuk baru.

Nara menatap alamat tersebut lama sekali, lalu perlahan tersenyum.

Misteri Gedung Aruna mungkin telah terpecahkan. Tetapi tampaknya ada misteri lain yang baru saja dimulai.

Enam bulan kemudian, artikel investigasi Nara memenangkan penghargaan jurnalistik tingkat nasional. Kisah Gedung Aruna menjadi perhatian banyak pihak dan membuka diskusi panjang tentang sejarah yang selama ini terlupakan.

Gedung Aruna diubah menjadi museum sejarah lokal. Nama para korban yang pernah ditahan di sana dipasang pada sebuah monumen peringatan.

Sementara itu, Nara masih menyimpan surat misterius yang diterimanya sebelum meninggalkan Wanasari.

Alamat itu belum pernah ia kunjungi. Bukan karena takut, melainkan karena ia ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu. Namun setiap kali melihat surat tersebut, ia selalu teringat satu hal. Setiap misteri yang terpecahkan biasanya akan membuka pintu menuju misteri berikutnya. Dan di suatu tempat yang belum ia ketahui, jawaban tentang Pak Surya mungkin sedang menunggunya.

Tamat.