← Kembali ke Detail

Bintang yang Jatuh di Bulan Desember

Export PDF

Hujan turun sejak sore.

Halaman SMA Tunas Bangsa terlihat sepi karena sebagian besar siswa sudah pulang.

Di perpustakaan, Nisa masih sibuk menyusun buku-buku yang akan dipindahkan ke ruang baru.

Tiba-tiba lampu padam.

"Yah, kenapa mati sekarang?" gumamnya.

Suara langkah kaki terdengar dari lorong.

Seorang laki-laki masuk sambil membawa senter kecil.

"Kamu belum pulang?"

Nisa menoleh.

Ia mengenali laki-laki itu.

Arga.

Siswa yang jarang berbicara dan selalu membawa buku astronomi ke mana-mana.

"Aku masih membereskan buku," jawab Nisa.

Arga mengangguk.

Tanpa berkata apa-apa, ia membantu menyusun beberapa kardus.

Malam itu, mereka pulang bersama untuk pertama kalinya.

Hari-hari berikutnya, mereka mulai sering bertemu.

Kadang di perpustakaan.

Kadang di kantin.

Kadang di atap sekolah saat Arga mengamati langit menggunakan teleskop kecilnya.

"Kamu suka bintang?" tanya Nisa.

Arga tersenyum.

"Bintang mengajarkan kalau cahaya kecil pun bisa terlihat dari tempat yang jauh."

Nisa mengangguk meski belum benar-benar mengerti.

Beberapa minggu kemudian, ibunya jatuh sakit dan harus menjalani perawatan.

Biaya pengobatan membuat keadaan keluarganya semakin sulit.

Nisa mulai kehilangan semangat.

Nilainya menurun.

Ia jarang tertawa.

Suatu sore, Arga memberinya sebuah kertas.

Di sana tertulis:

Daftar Sebelum Lulus

Melihat hujan meteor.

Makan es krim tengah malam.

Menonton matahari terbit.

Membuat kapsul waktu.

Tetap tersenyum sampai hari kelulusan.

Nisa tertawa kecil.

"Itu daftar aneh."

"Justru karena aneh, kita harus melakukannya," kata Arga.

Sedikit demi sedikit, Nisa kembali bersemangat.

Mereka menjalani hari-hari terakhir di SMA dengan membuat kenangan sebanyak mungkin.

Hingga suatu hari, Arga tidak masuk sekolah selama seminggu.

Tidak ada kabar.

Tidak ada pesan.

Nisa mulai khawatir.

Ketika akhirnya Arga datang, wajahnya terlihat pucat.

"Aku akan pindah ke luar kota bulan depan," katanya pelan.

Nisa terdiam.

"Tapi kita belum lulus."

"Ayahku dipindahkan tugas."

Mereka sama-sama diam.

Untuk pertama kalinya, Nisa menyadari bahwa tidak semua pertemuan akan bertahan lama.

Bulan Desember pun tiba.

Hari kelulusan datang lebih cepat dari yang mereka kira.

Malam sebelum Arga pergi, mereka duduk di lapangan sekolah.

Langit tampak cerah.

Tiba-tiba, sebuah bintang jatuh melintas.

"Itu bintang jatuh!" seru Nisa.

Arga tersenyum.

"Katanya kalau melihat bintang jatuh, kita boleh membuat harapan."

"Kamu berharap apa?"

Arga menatap langit.

"Aku berharap kamu tetap mengejar mimpimu."

Nisa tidak menjawab.

Ia hanya menatap cahaya kecil yang perlahan menghilang di langit malam.

Keesokan harinya, Arga pergi.

Tidak ada perpisahan yang panjang.

Tidak ada janji untuk bertemu lagi.

Hanya sebuah buku kecil yang ditinggalkannya.

Di halaman terakhir tertulis:

"Terima kasih sudah menjadi bagian terbaik dari masa putih abu-abuku."

Nisa menutup buku itu perlahan.

Matanya berkaca-kaca.

Namun kali ini ia tersenyum.

Karena ia tahu, beberapa orang datang ke dalam hidup kita seperti bintang jatuh.

Hadir hanya sebentar.

Tetapi cahayanya akan selalu tinggal di dalam kenangan.