← Kembali ke Detail

Di Bawah Langit yang Sama

Export PDF

Pagi itu, halaman SMA Nusantara dipenuhi suara siswa yang sedang mengikuti upacara.

Farrel berdiri di barisan paling belakang sambil sesekali melihat ponselnya.

Semalam, kedua orang tuanya kembali bertengkar.

Ia tidak tidur dengan nyenyak.

"Rel, kamu kenapa?" tanya sahabatnya, Rian.

"Nggak apa-apa."

Padahal semuanya tidak baik-baik saja.

Bel masuk berbunyi.

Para siswa kembali ke kelas masing-masing.

Di dalam kelas, wali kelas memperkenalkan seorang murid baru.

Namanya Nayla.

Perempuan itu berdiri di depan kelas dengan wajah tenang.

"Halo, aku Nayla. Senang bisa belajar bersama kalian."

Setelah itu, ia duduk di bangku kosong di sebelah Farrel.

"Hi," kata Farrel.

Nayla tersenyum kecil.

"Hi."

Hari-hari berikutnya, mereka tidak banyak berbicara.

Namun Farrel sering melihat Nayla duduk sendirian di perpustakaan.

Suatu sore, ia memberanikan diri menghampiri.

"Kamu suka baca buku?"

Nayla mengangguk.

"Di buku, aku bisa pergi ke banyak tempat tanpa harus pindah ke mana-mana."

Jawaban itu membuat Farrel tertawa kecil.

Sejak saat itu, mereka mulai sering menghabiskan waktu bersama.

Mereka belajar bersama di perpustakaan.

Mengerjakan tugas kelompok.

Dan sesekali berjalan pulang sambil bercerita.

Suatu hari, Farrel menerima kabar bahwa kedua orang tuanya benar-benar akan berpisah.

Dunia seakan berhenti.

Ia pulang lebih awal dan mengurung diri di kamar.

Keesokan harinya, Nayla menemukannya duduk sendirian di taman sekolah.

"Kamu kenapa?" tanyanya.

Farrel menunduk.

"Aku takut semuanya berubah."

Nayla terdiam beberapa saat.

"Laut selalu berubah karena ombak."

Farrel menoleh.

"Tapi laut tetap menjadi laut."

Farrel tidak langsung mengerti.

Nayla tersenyum.

"Kadang hidup berubah. Keluarga berubah. Rencana berubah. Tapi bukan berarti semua kebahagiaan ikut hilang."

Kalimat itu terus teringat di kepala Farrel.

Sedikit demi sedikit, ia mulai menerima kenyataan.

Ia mulai lebih banyak berbicara dengan ibunya.

Ia juga kembali fokus belajar.

Waktu berjalan cepat.

Tak terasa, semester terakhir telah tiba.

Mereka mengikuti acara perpisahan sekolah.

Malam itu, seluruh siswa berkumpul di lapangan.

Lampu-lampu kecil menghiasi panggung.

Setelah acara selesai, Farrel dan Nayla duduk di tribun.

Langit terlihat sangat cerah.

Bintang-bintang bersinar di atas mereka.

"Kita mungkin bakal jarang ketemu nanti," kata Farrel.

Nayla mengangguk.

"Semua orang pasti berjalan ke jalannya masing-masing."

Farrel tersenyum kecil.

"Tapi setidaknya, kita pernah melihat langit yang sama."

Nayla ikut tersenyum.

Angin malam berembus pelan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Farrel merasa hatinya lebih tenang.

Ia sadar bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Namun selalu ada orang-orang yang datang dan membantu kita melewati masa sulit.

Dan seperti langit yang selalu membentang luas, kenangan masa remaja akan tetap ada meskipun waktu terus berjalan.

Di bawah langit yang sama, mereka belajar tentang persahabatan, kehilangan, dan keberanian untuk tumbuh menjadi dewasa.