Foto Kelas yang Berubah
Export PDFHujan turun deras di luar gedung SMA Nusantara.
Alana sedang membantu Bu Ratih membersihkan gudang sekolah yang akan direnovasi. Ruangan itu dipenuhi meja rusak, lemari tua, dan tumpukan arsip yang telah menguning dimakan usia.
"Alana, tolong pisahkan barang yang masih bisa digunakan," kata Bu Ratih.
"Baik, Bu."
Saat memindahkan sebuah kardus besar, Alana menemukan bingkai foto yang tertutup debu tebal.
Ia mengusap permukaannya perlahan.
Tampak foto kelas bertuliskan:
Kelas XII IPA 2 - 2003
Sebelas siswa dan seorang wali kelas berpose di depan gedung sekolah lama. Foto itu terlihat biasa saja.
Namun ada sesuatu yang membuat Alana merasa aneh. Salah satu siswi di barisan depan tampak lebih pucat dibanding yang lain. Wajahnya sedikit kabur, seolah-olah mulai memudar.
"Mungkin efek foto lama," gumam Alana.
Ia membawa foto itu pulang karena merasa tertarik.
Malam harinya, foto tersebut ia letakkan di meja belajar.
Sebelum tidur, ia sempat memperhatikannya sekali lagi. Semua siswa masih terlihat jelas.
Tidak ada yang aneh.
Namun keesokan paginya, Alana hampir menjatuhkan foto itu karena terkejut. Siswi yang semalam terlihat samar kini benar-benar hilang. Tempatnya kosong.
Seolah sejak awal tidak pernah ada orang di sana.
"Apa?"
Alana mengucek matanya.
Ia yakin semalam masih melihat seorang siswi duduk di tempat itu.
Karena penasaran, ia membawa foto tersebut ke sekolah.
Teman dekatnya, Dimas, ikut memperhatikan.
"Ada yang aneh?" tanya Dimas.
"Kemarin ada siswi di sini."
Dimas tertawa.
"Enggak ada. Dari tadi memang kosong."
"Tidak mungkin."
Alana menunjukkan posisi yang dimaksud.
Namun Dimas tetap menggeleng.
Siang harinya mereka pergi ke perpustakaan untuk mencari arsip angkatan 2003.
Mereka menemukan buku tahunan sekolah.
Ketika membuka halaman kelas XII IPA 2, Alana kembali merinding.
Foto dalam buku tahunan juga menunjukkan tempat kosong di posisi yang sama.
Tidak ada siswi yang hilang itu.
Nama siswa dalam daftar kelas pun hanya sepuluh orang.
Padahal Alana yakin jumlah siswa dalam foto awalnya sebelas.
Malam itu ia sulit tidur.
Sekitar pukul sebelas malam, ia terbangun karena mendengar suara jatuh dari meja belajar.
Foto kelas itu tergeletak di lantai. Saat mengambilnya, jantungnya kembali berdegup kencang. Kini seorang siswa laki-laki di barisan belakang mulai memudar.
Wajahnya samar seperti kabut.
Alana segera memotret foto tersebut menggunakan ponselnya.
Ia takut besok siswa itu benar-benar menghilang.
Dan benar saja.
Keesokan harinya siswa itu lenyap. Foto kembali berubah.
Dimas yang mulai percaya akhirnya ikut menyelidiki.
Mereka mencari mantan guru yang mengajar pada tahun 2003.
Hampir semua guru sudah pensiun.
Setelah bertanya ke banyak orang, mereka menemukan Pak Harun, mantan guru sejarah yang tinggal di pinggir kota.
Ketika melihat foto tersebut, wajah Pak Harun langsung pucat.
"Di mana kalian menemukan ini?" tanyanya.
"Di gudang sekolah."
Pak Harun terdiam cukup lama.
Kemudian ia menarik napas dalam-dalam.
"Saya kira foto itu sudah dimusnahkan."
"Mengapa?"
Pak Harun menatap foto itu dengan cemas.
"Dua puluh tiga tahun lalu terjadi sebuah kecelakaan."
Alana dan Dimas saling berpandangan.
"Kecelakaan apa?"
"Sebuah bus yang membawa siswa XII IPA 2 mengalami kecelakaan saat perjalanan studi wisata."
Suasana mendadak hening.
"Sebagian besar siswa selamat. Namun ada satu siswa yang tidak pernah ditemukan."
"Siapa?"
Pak Harun menggeleng.
"Itulah masalahnya. Tak seorang pun bisa mengingat namanya sekarang."
Alana merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Bagaimana mungkin?"
"Awalnya kami semua ingat. Tetapi beberapa bulan setelah kejadian, ingatan tentang siswa itu mulai menghilang. Foto-foto berubah. Arsip berubah. Bahkan catatan sekolah berubah."
Pak Harun menatap foto tersebut.
"Saya satu-satunya yang masih mengingat sedikit."
"Kenapa foto ini terus berubah?"
Pak Harun menggeleng pelan.
"Saya tidak tahu."
Malam berikutnya Alana memutuskan mengamati foto itu.
Tepat pukul dua belas malam.
Sebuah kejadian aneh terjadi.
Permukaan foto bergetar pelan.
Kemudian muncul tulisan samar di bagian bawah bingkai.
"Temukan aku."
Alana menahan napas.
Tulisan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum menghilang.
Keesokan harinya ia dan Dimas memeriksa lokasi kecelakaan bus yang disebutkan Pak Harun.
Tempat itu berada di jalan lama dekat jurang yang kini sudah jarang digunakan.
Mereka mencari selama berjam-jam.
Hingga Dimas menemukan sesuatu di antara semak-semak.
Sebuah liontin sekolah yang telah berkarat.
Di bagian belakang terdapat ukiran nama.
Nadia.
Nama itu terasa asing.
Ketika Alana menyebut nama tersebut di sekolah, tidak ada seorang pun yang mengenalnya.
Namun saat ia mendekatkan liontin ke foto kelas, sesuatu terjadi.
Wajah seorang siswi perlahan muncul kembali.
Siswi yang pertama kali menghilang.
Alana terkejut.
"Nadia..."
Malamnya tulisan kembali muncul di foto.
Kali ini lebih jelas.
"Di bawah pohon besar."
Esok pagi mereka kembali ke lokasi kecelakaan.
Tidak jauh dari jurang terdapat pohon beringin tua yang sangat besar.
Di bawah akar pohon itu mereka menemukan kotak logam kecil yang terkubur.
Di dalamnya terdapat buku harian.
Milik Nadia.
Buku itu menceritakan bagaimana ia terpisah dari rombongan setelah kecelakaan. Ia sempat bertahan hidup selama beberapa hari sambil menunggu pertolongan. Namun tidak ada yang menemukannya.
Halaman terakhir berisi tulisan yang membuat Alana meneteskan air mata.
"Aku takut dilupakan."
Mereka menyerahkan buku harian tersebut kepada pihak sekolah dan keluarga korban yang akhirnya berhasil ditemukan.
Berita itu menyebar ke seluruh kota.
Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, nama Nadia kembali diingat.
Malam itu foto kelas berubah lagi.
Tetapi kali ini berbeda.
Semua siswa yang sebelumnya menghilang muncul kembali. Termasuk Nadia.
Mereka berdiri lengkap seperti foto aslinya.
Di bagian bawah foto muncul tulisan terakhir.
"Terima kasih karena mengingatku."
Keesokan paginya tulisan itu hilang.
Foto kelas kembali menjadi foto biasa. Tidak ada lagi perubahan. Tidak ada lagi siswa yang memudar.
Namun setiap kali Alana melihat foto tersebut, ia selalu teringat satu hal. Terkadang seseorang tidak benar-benar hilang karena kematian. Mereka hilang ketika tidak ada lagi yang mengingat keberadaan mereka.
Dan berkat sebuah foto yang terus berubah, seorang siswi bernama Nadia akhirnya pulang ke dalam ingatan semua orang.