Hutan Jam yang Kehilangan Pagi
Export PDFPintu berikutnya di Lorong Seribu Pintu memiliki bentuk yang berbeda dari sebelumnya.
Permukaannya dipenuhi angka-angka jam yang bergerak perlahan. Jarum panjang dan pendek berputar tanpa mengikuti aturan waktu biasa.
Saat Nara menyentuh pintu itu, suara detak jam terdengar semakin keras.
Tik.
Tak.
Tik.
Tak.
Ia membuka pintu tersebut.
Namun, tidak seperti dunia-dunia sebelumnya yang langsung dipenuhi cahaya, tempat ini justru terasa gelap.
Bukan gelap biasa.
Melainkan gelap yang seolah tidak pernah berakhir.
Nara melangkah masuk dan melihat sebuah hutan luas yang diselimuti malam. Bulan menggantung rendah di antara pepohonan. Daun-daun berkilauan terkena cahaya perak, sementara dari batang-batang pohon terdengar suara detak jam dengan irama yang berbeda-beda.
Ada pohon yang berdetak cepat.
Ada yang lambat.
Ada pula yang terdengar seperti jam tua yang hampir berhenti.
Nara mengeluarkan kompas kertasnya.
Cahaya kecil dari kompas membantu menerangi jalan di depannya.
Belum jauh berjalan, seekor burung hantu turun dari salah satu dahan.
Yang membuat Nara terkejut, burung hantu itu mengenakan rompi kecil seperti seorang penjaga.
“Berhenti,” katanya.
Nara berhenti.
“Siapa kamu?”
“Aku penjaga pintu masuk Hutan Detik.”
Burung hantu itu mengulurkan sayap.
“Tiket waktu.”
Nara kebingungan.
“Tiket waktu?”
“Iya.”
“Aku tidak punya.”
Burung hantu itu menghela napas panjang.
“Pendatang selalu mengatakan hal yang sama.”
Ia mencabut satu bulu dari tubuhnya.
Dengan ujung paruhnya, ia menulis angka 24 pada bulu tersebut.
Kemudian ia menyerahkannya kepada Nara.
“Ini jatah waktumu selama berada di sini. Jangan sampai hilang.”
Nara menerima bulu itu dengan bingung.
“Apa maksudnya?”
Namun sebelum burung hantu menjawab, terdengar suara langkah cepat dari balik semak.
Seorang gadis muncul dengan napas terengah-engah.
Rambutnya dikepang menggunakan rantai kecil berbentuk jam. Di pinggangnya tergantung banyak kunci dengan ukuran berbeda.
“Kau melihat Buah Fajar?” tanyanya.
Nara menggeleng.
“Aku bahkan belum tahu apa itu.”
Gadis itu terlihat kecewa, tetapi kemudian memperkenalkan dirinya.
“Aku Ema. Aku calon penjaga Hutan Detik.”
Ema melihat kompas di tangan Nara.
“Kau datang dari Lorong Seribu Pintu, ya?”
Nara mengangguk.
Ema kemudian menjelaskan keadaan hutan tersebut.
“Hutan ini tidak seperti tempat biasa. Di sini, waktu tumbuh dari pohon.”
Mereka berjalan melewati pepohonan sambil Ema menjelaskan.
“Pohon Menit menghasilkan buah kecil yang mengatur kegiatan sehari-hari. Pohon Musim menjaga pergantian musim. Pohon Kenangan menyimpan semua peristiwa masa lalu dalam lingkaran batangnya.”
Ema menunjuk ke arah pusat hutan.
“Dan di sana ada Pohon Hari.”
Nara melihat sebuah pohon besar yang menjulang tinggi.
“Pohon itu memiliki dua buah utama. Buah Senja dan Buah Fajar.”
“Buah Senja menutup perjalanan satu hari. Sedangkan Buah Fajar membangunkan pagi.”
Ema berhenti berjalan.
“Tiga malam lalu, Buah Fajar menghilang.”
Nara melihat sekeliling.
“Jadi itu sebabnya pagi tidak pernah datang?”
Ema mengangguk.
“Sejak saat itu, semua orang terjebak dalam malam yang sama.”
Ia menatap desa di kejauhan.
“Penduduk mulai kelelahan. Ayam-ayam terus menunggu waktu untuk berkokok. Bunga tidak pernah membuka kelopak. Anak-anak mengantuk, tetapi takut tidur karena ketika bangun mereka masih berada di malam yang sama.”
Nara merasa sedih mendengarnya.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju pusat hutan.
Di sepanjang jalan, Nara melihat penduduk membawa jam pasir sebagai penerangan.
Di sebuah rumah, seorang ibu sedang menyiapkan sarapan.
Namun sesuatu terasa aneh.
Ia sudah menyiapkan makanan yang sama berkali-kali.
“Ini sarapan kesembilan hari ini,” katanya lelah.
Di kandang dekat rumah, ayam-ayam hanya menatap jam dinding dengan wajah kesal.
Seolah mereka juga bosan menunggu pagi yang tidak kunjung datang.
Akhirnya mereka tiba di alun-alun utama.
Di sana berdiri Pohon Hari.
Cabangnya terbagi menjadi dua sisi.
Sisi timur berwarna emas seperti matahari.
Sisi barat berwarna jingga seperti senja.
Namun, tempat Buah Fajar seharusnya tumbuh kini kosong.
Di tanah terdapat serpihan kulit buah dan jejak kaki kecil.
Ema berjongkok memeriksa jejak tersebut.
“Penjaga utama mencurigai Rubi.”
“Siapa dia?”
“Seorang pembuat jam yang tinggal di bagian tertua hutan.”
Nara melihat jejak itu.
Ada sesuatu yang membuatnya ragu.
“Kalau begitu, kita harus bertanya langsung kepadanya.”
Nara dan Ema mengikuti jejak kecil yang ditemukan di sekitar Pohon Hari.
Jalur itu membawa mereka semakin jauh ke bagian tertua Hutan Detik. Pepohonan di sana terlihat berbeda. Batangnya besar dan dipenuhi jam-jam tua yang tertanam secara alami di kulit pohon.
Akhirnya mereka sampai di sebuah pondok kecil.
Rumah itu terlihat seperti dibuat dari kumpulan jam rusak. Ada jam dinding di pintu, jam pasir di jendela, bahkan jarum jam besar yang menjadi pagar halaman.
Ema mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
Belum sempat mereka mengetuk untuk ketiga kalinya, pintu terbuka.
Seorang lelaki pendek dengan rambut putih yang mengembang berdiri di sana. Tangannya membawa obeng kecil.
“Aku sudah tahu kalian datang untuk menuduhku,” katanya.
Nara mengangkat alis.
“Kami belum mengatakan apa-apa.”
Lelaki itu mendengus.
“Aku Rubi.”
Ia memandang ke arah hutan.
“Dan aku tidak mencuri Buah Fajar.”
Ema melangkah maju.
“Tapi semua bukti mengarah kepadamu.”
Rubi menyilangkan tangan.
“Bukti tidak selalu berarti kebenaran.”
Nara memperhatikan wajah Rubi.
Aneh.
Lelaki itu memang terlihat kesal, tetapi bukan seperti seseorang yang sedang menyembunyikan kejahatan.
Lebih seperti seseorang yang lelah membela diri.
“Kami hanya ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Nara.
Rubi menatapnya sebentar, lalu membuka pintu lebih lebar.
“Masuklah.”
Di dalam pondok, Nara melihat sesuatu yang luar biasa.
Ratusan jam memenuhi ruangan.
Ada jam dengan bentuk yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Satu jam menunjukkan umur seseorang.
Satu jam bergerak hanya ketika seseorang berkata jujur.
Bahkan ada sebuah jam tanpa angka yang jarumnya hanya berjalan ketika pemiliknya merasa bahagia.
“Ini semua buatanmu?” tanya Nara.
Rubi mengangguk.
“Aku pembuat jam.”
Ia berjalan melewati rak-rak penuh mesin kecil.
“Tapi aku bukan pencuri waktu.”
Nara memperhatikan ruangan itu.
Lalu matanya berhenti pada sebuah jam besar di sudut ruangan.
Jarumnya berhenti tepat pada pukul lima pagi.
Di bawah jam tersebut terdapat tanah berwarna keemasan.
Warnanya sama seperti serpihan Buah Fajar yang mereka temukan di Pohon Hari.
Nara mendekat.
“Ini apa?”
Rubi langsung berjalan cepat dan menutupi jam tersebut dengan kain.
“Bukan sesuatu yang perlu kamu ketahui.”
Ema langsung menatap curiga.
“Jadi memang ada hubungannya dengan Buah Fajar.”
Rubi tidak menjawab.
Namun Nara memperhatikan sesuatu.
Jika Rubi benar-benar pencurinya, mengapa ia terlihat sedih?
Bukan takut tertangkap.
Melainkan seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang menyakitkan.
Saat angin malam masuk melalui celah jendela, sebuah foto di meja Rubi jatuh.
Nara mengambilnya.
Dalam foto itu, Rubi terlihat lebih muda.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan berambut panjang dengan senyum cerah.
“Siapa dia?” tanya Nara.
Rubi terdiam.
Lama sekali.
Akhirnya ia mengambil foto itu dari tangan Nara.
“Namanya Mira.”
Suaranya menjadi lebih pelan.
“Istriku.”
Nara dan Ema diam mendengarkan.
“Mira pergi tujuh tahun lalu.”
Rubi melihat jam yang berhenti di sudut ruangan.
“Dia pergi saat matahari terbit.”
Nara mulai memahami.
“Jadi kamu membenci pagi?”
Rubi tidak langsung menjawab.
“Aku membenci hari ketika aku kehilangan dia.”
Ema menatap Rubi.
“Apakah karena itu kamu mengambil Buah Fajar?”
Rubi menggeleng.
“Tidak.”
Ia berjalan menuju jam besar itu.
“Aku pernah berpikir untuk melakukannya.”
Ia menyentuh permukaan jam.
“Aku pernah ingin menghentikan pagi agar matahari tidak pernah terbit lagi.”
“Tapi aku tahu menghentikan waktu tidak akan membuat Mira kembali.”
Nara memperhatikan Rubi.
Kali ini ia yakin.
Rubi bukan pencuri.
Ia hanya seseorang yang belum selesai berdamai dengan kehilangan.
“Kita harus mencari orang lain,” kata Nara.
Ema mengangguk.
Mereka kembali ke Pohon Hari untuk memeriksa jejak sekali lagi.
Kali ini Nara tidak hanya melihat jejak sepatu kecil itu.
Ia memperhatikan arah jalannya.
Jejak tersebut tidak menuju rumah Rubi.
Melainkan menuju semak berduri di dekat akar Pohon Kenangan.
“Ini bukan milik Rubi,” kata Nara.
Ema mendekat.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Lihat ukurannya.”
Nara menunjuk jejak tersebut.
“Kaki Rubi jauh lebih besar.”
Mereka mengikuti jejak itu.
Di balik semak berduri, Ema menemukan sebuah celah kecil pada batang Pohon Kenangan.
Ia mengambil salah satu kunci dari pinggangnya.
“Aku belum pernah membuka bagian ini.”
Kunci itu dimasukkan perlahan.
Klik.
Batang pohon terbuka.
Di baliknya terdapat tangga melingkar yang turun ke bawah tanah.
Udara dingin keluar dari dalam.
Nara menyalakan kompasnya.
“Kita harus masuk.”
Mereka menuruni tangga tersebut.
Semakin dalam mereka turun, semakin jelas suara-suara aneh terdengar.
Suara tawa.
Suara tangisan.
Suara seseorang yang sedang mengucapkan selamat tinggal.
Ketika sampai di bawah, mereka menemukan sebuah ruangan besar.
Ruangan itu dipenuhi gelembung cahaya yang melayang di udara.
Setiap gelembung berisi sebuah kenangan.
Ada anak kecil yang sedang merayakan ulang tahun.
Ada keluarga yang sedang berkumpul.
Ada seseorang yang sedang bermain di bawah hujan.
Ada juga momen perpisahan yang penuh air mata.
“Ini ruang kenangan,” bisik Ema.
Namun perhatian Nara tertuju pada seseorang di sudut ruangan.
Seorang anak kecil duduk sambil memeluk sesuatu.
Sesuatu yang bersinar keemasan.
Buah Fajar.
Anak kecil itu memeluk Buah Fajar erat-erat.
Cahaya keemasan dari buah tersebut menerangi wajahnya yang terlihat sedih.
Ema berjalan mendekat dengan hati-hati.
“Siapa namamu?”
Anak itu terkejut.
Ia menoleh perlahan.
“Aku Timi.”
Matanya berpindah dari Ema ke Nara.
“Kalian datang untuk mengambilnya?”
Nara melihat Buah Fajar yang ada di pelukan Timi.
“Kenapa kamu mengambil Buah Fajar?”
Timi menunduk.
Beberapa saat ia tidak menjawab.
Kemudian ia memeluk buah itu lebih erat.
“Karena aku tidak mau besok datang.”
Ema mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
Timi menatap gelembung-gelembung kenangan yang melayang di ruangan.
“Besok aku harus pergi dari Hutan Detik.”
Suaranya mulai bergetar.
“Ayahku mendapat pekerjaan di Kota Musim. Kami harus pindah.”
Nara mulai memahami.
“Jadi kamu mengambil Buah Fajar supaya pagi tidak datang?”
Timi mengangguk pelan.
“Kalau tidak ada pagi, besok tidak akan pernah terjadi.”
Ia melihat sekeliling.
“Semua tetap sama. Rumahku tetap ada. Teman-temanku tetap di sini. Aku tidak perlu mengucapkan selamat tinggal.”
Nara duduk di sampingnya.
Ia tidak langsung menyalahkan Timi.
Ia tahu rasa takut kehilangan sesuatu bukan perasaan yang mudah.
“Dulu aku juga pernah berharap waktu berhenti,” kata Nara.
Timi menatapnya.
“Ketika sahabatku pindah sekolah, aku berharap hari terakhir kami tidak pernah selesai.”
Nara tersenyum kecil.
“Tapi ternyata waktu tetap berjalan.”
“Awalnya memang terasa menyakitkan. Namun setelah itu aku menemukan hal-hal baru. Aku bertemu orang-orang baru, memiliki pengalaman baru, dan tetap bisa mengingat sahabatku meskipun kami tidak berada di tempat yang sama.”
Timi menatap Buah Fajar.
“Tapi bagaimana kalau aku melupakan tempat ini?”
Nara terdiam sebentar.
Kemudian ia melihat sekeliling.
Di antara akar Pohon Kenangan terdapat biji kecil yang bercahaya.
Ema mengambilnya.
“Ini biji kenangan.”
Ia menyerahkan biji itu kepada Timi.
“Tanam ini di tempat barumu.”
“Kenangan bukan sesuatu yang harus membuat kita berhenti berjalan.”
Ema tersenyum.
“Kenangan bisa ikut tumbuh bersama kita.”
Timi menggenggam biji itu.
Ia melihat kembali Buah Fajar yang ada di tangannya.
Perlahan, pelukannya mulai melemah.
“Aku hanya takut semuanya berubah.”
Nara mengangguk.
“Memang akan berubah.”
“Tapi perubahan tidak selalu berarti kehilangan.”
Beberapa saat kemudian, Timi akhirnya menyerahkan Buah Fajar kepada Nara.
Mereka membawa buah itu kembali ke permukaan.
Namun ketika sampai di alun-alun, mereka menemukan masalah baru.
Buah Fajar tidak langsung kembali seperti semula.
Cahayanya semakin redup.
Kulit buahnya mengeras.
“Sudah terlalu lama terpisah dari Pohon Hari,” kata Ema khawatir.
Ia mencoba membelah buah tersebut menggunakan pisau waktu miliknya.
Namun begitu pisau menyentuh kulit buah, benda itu langsung patah.
“Kita terlambat.”
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
“Belum.”
Mereka menoleh.
Rubi berdiri di sana.
Di tangannya terdapat sebuah jam besar yang dibawanya dari pondok.
“Aku bisa membantu.”
Ema terkejut.
“Kamu?”
Rubi mengangguk.
Ia meletakkan jam tersebut di dekat Buah Fajar.
“Selama tujuh tahun terakhir, aku menyimpan waktu yang paling sering kuhindari.”
Nara melihat jam itu.
“Waktu menjelang pagi?”
Rubi mengangguk.
“Setiap kali jam mendekati fajar, aku selalu memutarnya kembali.”
Ia tersenyum sedih.
“Ternyata selama ini aku hanya menunda sesuatu yang tetap harus terjadi.”
Rubi membuka jam tersebut.
Tiba-tiba ribuan cahaya kecil keluar dari dalamnya.
Bukan cahaya biasa.
Melainkan potongan-potongan waktu yang tersimpan selama bertahun-tahun.
Cahaya itu mengelilingi Buah Fajar.
Perlahan, kulit buah tersebut mulai melunak.
Nara memandang Rubi.
“Kamu yakin ingin melakukan ini?”
Rubi diam.
Kemudian ia melihat ke arah langit yang masih gelap.
“Mira menyukai matahari terbit.”
Suaranya lembut.
“Mungkin sudah waktunya aku melihatnya lagi tanpa hanya mengingat kehilangan.”
Nara tersenyum.
Ia akhirnya melihat Rubi bukan sebagai seseorang yang kehilangan masa lalu.
Melainkan seseorang yang mulai berani melangkah menuju masa depan.
Timi dan Ema berdiri di sisi Pohon Hari.
Bersama-sama mereka membelah Buah Fajar.
Ketika buah itu terbuka—
Cahaya emas langsung menyembur ke langit.
Malam perlahan mundur.
Bulan mulai memudar.
Ujung pepohonan berubah warna.
Dari gelap menjadi jingga.
Dari jingga menjadi kuning keemasan.
Untuk pertama kalinya setelah tiga malam panjang...
Matahari terbit di Hutan Detik.
Suara ayam terdengar dari seluruh penjuru hutan.
Bahkan ayam-ayam yang selama ini menunggu pagi berkokok begitu keras seolah ingin membalas semua malam yang hilang.
Bunga-bunga membuka kelopaknya.
Penduduk keluar dari rumah.
Sebagian tertawa.
Sebagian menangis lega.
Sebagian lagi langsung tertidur karena akhirnya tubuh mereka bisa beristirahat.
Di tengah cahaya pagi, dari bagian tengah Buah Fajar yang terbelah muncul sebuah cahaya emas.
Cahaya itu melayang menuju Nara.
Saat disentuh, cahaya tersebut masuk ke dalam kompas kertasnya.
Kompas bersinar.
Kepingan cahaya keempat telah ditemukan.
Burung hantu penjaga datang menghampiri.
Ia melihat bulu bertuliskan angka 24 yang masih berada di tangan Nara.
“Aneh.”
Burung itu memiringkan kepala.
“Kau sudah berada di sini cukup lama, tetapi waktumu tidak berkurang.”
Nara melihat bulu tersebut.
“Mungkin karena waktu yang penting bukan selalu waktu yang bisa dihitung.”
Burung hantu itu tersenyum kecil.
“Jawaban yang aneh.”
“Tapi mungkin benar.”
Sebelum pergi, Timi memberikan biji Pohon Kenangan kepada Nara.
“Tanamlah di rumahmu.”
Nara menerima biji kecil itu.
“Terima kasih, Timi.”
Anak itu tersenyum.
“Aku juga belajar sesuatu.”
“Apa?”
“Bahwa besok memang menakutkan.”
Ia melihat matahari pagi.
“Tapi mungkin besok juga membawa sesuatu yang menyenangkan.”
Tidak lama kemudian, sebuah pintu muncul di antara dua batang pohon.
Warnanya hitam pekat.
Yang membuat Nara merasa aneh, pintu itu tidak memiliki bayangan.
Padahal matahari sudah bersinar terang.
Ema memandang pintu tersebut dengan wajah serius.
“Hati-hati.”
Nara menatapnya.
“Kenapa?”
“Tempat yang tidak memiliki bayangan biasanya menyimpan sesuatu yang tersembunyi.”
Nara menggenggam kompasnya.
Setelah melewati dunia yang kehilangan hujan, kota yang lupa mendengarkan rumahnya sendiri, dan hutan yang takut menghadapi perubahan, ia mulai memahami satu hal.
Tidak semua hal yang hilang harus dikembalikan seperti semula.
Kadang sesuatu harus berubah agar bisa menemukan bentuk terbaiknya.
Nara berjalan menuju pintu hitam itu.
Ia belum tahu apa yang menunggunya.
Apakah kegelapan di luar sana?
Atau mungkin sesuatu yang selama ini tersembunyi dalam dirinya sendiri?
Dengan rasa penasaran yang sama seperti pertama kali menemukan pintu biru di ujung gang, Nara membuka pintu tersebut.
Dan kembali melangkah menuju petualangan berikutnya.
SELESAI