Hutan Warna yang Hilang
Export PDFDesa Cempaka dulunya adalah tempat paling berwarna yang pernah ada seperti atap rumah merah bata, ladang bunga kuning keemasan, dan langit biru cerah yang selalu menghiasi pagi hari. Namun sejak setahun terakhir, warna-warna itu perlahan memudar, seolah seseorang menuangkan air ke atas lukisan yang belum kering.
Padi, anak laki-laki berusia dua belas tahun, adalah satu-satunya orang di desa yang masih bisa melihat warna dengan jelas entah kenapa. Semua orang lain di desa mulai melihat dunia dalam gradasi abu-abu, seperti menonton film hitam putih.
"Kau beruntung, Padi," kata neneknya suatu malam, suaranya lemah. "Tapi jika Hutan Warna tidak segera diselamatkan, bahkan matamu pun akan kehilangan kemampuannya."
"Hutan Warna? Nek belum pernah cerita soal itu," kata Padi penasaran.
Neneknya menghela napas panjang. "Jauh di ujung Bukit Kabut, ada hutan legendaris tempat semua warna di dunia berasal dan dijaga oleh Pelangi Purba, makhluk kuno yang menyebarkan warna ke seluruh penjuru bumi. Tapi kudengar dari burung-burung yang masih bisa bicara, seseorang telah menangkap Pelangi Purba dan mengurungnya, membuat warna-warna dunia perlahan menghilang."
"Aku harus menyelamatkannya!" seru Padi bersemangat.
"Ini bukan perjalanan mudah, Nak," kata neneknya cemas. "Tapi jika kau adalah satu-satunya yang masih bisa melihat warna, mungkin memang kaulah yang ditakdirkan untuk pergi."
Keesokan paginya, Padi berangkat menuju Bukit Kabut dengan bekal seadanya. Perjalanan itu panjang dan melelahkan, melewati padang rumput yang kini tampak kelabu suram, sungai yang airnya tak lagi berkilau, hingga akhirnya ia tiba di gerbang Hutan Warna, sebuah lengkungan pohon raksasa yang daunnya masih menyisakan sedikit warna hijau pudar.
Begitu melangkah masuk, Padi disambut oleh sekumpulan makhluk kecil bercahaya menyerupai kunang-kunang, namun berwarna-warni seperti manik-manik kaca.
"Seorang manusia!" seru salah satu makhluk itu terkejut. "Sudah lama tidak ada manusia yang bisa melihat kami!"
"Siapa kalian?" tanya Padi.
"Kami Peri Cahaya, penjaga kecil hutan ini," jawab makhluk itu. "Namaku Kirana. Kau pasti datang untuk menyelamatkan Pelangi Purba, bukan?"
"Benar! Bisakah kalian membantuku menemukannya?"
Kirana dan teman-temannya saling berpandangan cemas. "Itu akan sangat berbahaya. Pelangi Purba dikurung oleh Sang Kelabu, penyihir yang membenci warna karena ia sendiri dikutuk tidak bisa melihatnya sejak lahir. Sang Kelabu percaya, jika seluruh dunia sama kelabunya dengannya, ia tidak akan merasa berbeda lagi."
Hati Padi terenyuh mendengarnya, namun ia tetap teguh. "Aku mengerti perasaannya, tapi menghapus warna dunia bukan solusinya. Tolong antarkan aku padanya."
Kirana mengangguk dan memimpin jalan menuju jantung hutan, tempat pepohonan semakin gelap dan suram, seolah warna di sana benar-benar telah terserap habis.
Di tengah area gelap itu, berdiri sebuah menara batu tinggi, dan di puncaknya, Padi bisa melihat sangkar besar berisi cahaya berputar-putar dengan lemah Pelangi Purba yang terkurung.
"Berhenti di situ!" sebuah suara menggelegar.
Dari balik bayangan menara, muncul sesosok wanita berjubah kelabu compang-camping, wajahnya pucat tanpa warna sama sekali, matanya kosong seperti kaca buram.
"Kau pasti Sang Kelabu," kata Padi mencoba tenang.
"Dan kau pasti anak yang masih bisa melihat warna," desis Sang Kelabu. "Kenapa kau kemari? Untuk merampas satu-satunya hal yang membuatku merasa setara dengan dunia?"
"Aku kemari untuk menyelamatkan warna dunia," jawab Padi jujur. "Tapi aku juga ingin membantumu, jika kau mengizinkan."
Sang Kelabu tertawa sinis. "Membantuku? Tak seorang pun bisa mengembalikan penglihatanku. Aku terkutuk sejak lahir."
"Mungkin bukan penglihatanmu yang perlu diperbaiki," kata Padi hati-hati, "tapi caramu melihat dunia. Warna bukan hanya soal mata, tapi juga soal hati. Bahkan tanpa bisa melihat warna, kau masih bisa merasakannya lewat kehangatan matahari, kesejukan air, atau harumnya bunga."
Sang Kelabu terdiam, matanya yang kosong tampak bergetar seolah menahan sesuatu.
"Kau pikir semudah itu?" bisiknya, suaranya kini lebih lirih.
"Tidak, tidak mudah," jawab Padi. "Tapi mengurung Pelangi Purba dan membuat seluruh dunia kelabu sepertimu tidak akan membuatmu bahagia. Itu hanya akan membuat semua orang merasakan kesepian yang sama sepertimu."
Air mata meski tak berwarna mengalir di pipi pucat Sang Kelabu. "Aku hanya lelah merasa berbeda sendirian."
"Kau tidak sendirian," kata Padi lembut. "Aku di sini. Dan aku yakin, ada banyak cara untuk merasakan dunia meski tanpa warna. Biarkan aku menunjukkannya, tapi tolong, bebaskan Pelangi Purba dulu."
Setelah hening panjang, Sang Kelabu akhirnya mengangguk pelan dan mengangkat tangannya. Sangkar di puncak menara terbuka, dan cahaya Pelangi Purba melesat keluar, berputar-putar riang sebelum akhirnya membentuk sosok naga kecil bersisik warna-warni yang berkilauan indah.
"Terima kasih telah membebaskanku," suara Pelangi Purba bergema lembut. Ia terbang mengelilingi hutan, dan seketika, warna-warna kembali memenuhi setiap sudutnya, daun-daun hijau segar, bunga-bunga merah dan ungu bermekaran, langit yang tadinya suram kini berkilau biru cerah.
Padi menoleh pada Sang Kelabu. "Bagaimana kalau kau tinggal di sini bersama Pelangi Purba dan para peri? Mungkin dengan waktu, kau bisa belajar merasakan warna dengan caramu sendiri."
Sang Kelabu menatap Padi lama, lalu untuk pertama kalinya, bibirnya membentuk senyum tipis. "Mungkin aku akan mencobanya."
Pelangi Purba menyebarkan warnanya ke seluruh penjuru dunia, dan tak lama kemudian, Padi bisa melihat dari kejauhan bahwa Desa Cempaka kembali berwarna cerah seperti sedia kala.
Ketika Padi kembali pulang, neneknya menyambutnya dengan air mata bahagia. "Kau berhasil, Nak. Warna telah kembali!"
"Bukan hanya warna yang kembali, Nek," kata Padi tersenyum. "Tapi juga seseorang yang akhirnya menemukan tempatnya di dunia."
Sejak hari itu, setiap kali pelangi muncul setelah hujan, penduduk Desa Cempaka selalu tersenyum, teringat kisah tentang seorang anak yang menyelamatkan warna dunia dan seorang penyihir kesepian yang akhirnya belajar mencintai dunianya sendiri, dengan caranya sendiri.