← Kembali ke Detail

Jam 08.17 yang Terulang

Export PDF

Alarm ponsel berbunyi nyaring di samping tempat tidur Niko. Dengan malas ia meraih ponselnya dan mematikan alarm. Matanya masih terasa berat.

Ketika melihat layar ponsel, waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi.

"Hari Senin lagi," gumamnya.

Ia segera bersiap dan berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor.

Langit terlihat mendung sejak pagi. Jalanan cukup ramai karena banyak siswa yang juga berangkat sekolah.

Saat melewati perempatan dekat taman kota, sebuah mobil tiba-tiba muncul dari arah kanan.

Niko mengerem mendadak dan ban motornya tergelincir.

Bruk!

Tubuhnya terjatuh ke aspal.

Untungnya ia tidak mengalami luka serius.

Beberapa warga segera membantu.

"Mas, tidak apa-apa?" tanya seorang bapak.

"Iya, Pak."

Setelah memastikan motornya masih bisa digunakan, Niko melanjutkan perjalanan menuju sekolah.

Ketika tiba di kelas, jam dinding menunjukkan pukul 08.15.

Dua menit kemudian bel masuk berbunyi.

Niko duduk di bangkunya. Lalu sesuatu yang aneh terjadi.

Jam dinding menunjukkan pukul 08.17.

Tiba-tiba pandangannya kabur. Kepalanya terasa sangat pusing.

Seluruh ruangan berputar.

Dan...

Gelap.

"Niko! Bangun!"

Suara ibunya terdengar keras.

Niko membuka mata.

Ia terkejut.

Ia kembali berada di kamarnya.

Alarm ponsel berbunyi. Jam menunjukkan pukul 07.00 pagi.

Persis seperti sebelumnya.

Niko duduk tegak.

"Aku mimpi?"

Ia mengingat semuanya dengan jelas.

Perjalanan ke sekolah dan kecelakaan.

Jam 08.17.Lalu kegelapan.

Namun sekarang semuanya kembali seperti semula. Dengan bingung, ia menjalani harinya lagi.

Dan semua kejadian benar-benar terulang.

Mobil yang sama, kecelakaan yang sama, dan percakapan yang sama.

Bahkan guru matematika mengucapkan kalimat yang sama persis saat memasuki kelas.

Ketika jam menunjukkan pukul 08.17...

Dunia kembali gelap.

Niko terbangun di kamarnya.

Pukul 07.00 pagi.

Untuk ketiga kalinya. Kali ini ia mulai panik.

"Aku terjebak."

Ia mencoba mengubah berbagai hal.

Berangkat lebih awal, mengambil jalan berbeda, bolos sekolah. Bahkan mematikan ponselnya.

Namun hasilnya selalu sama. Ketika waktu mencapai 08.17, semuanya kembali ke awal.

Pada pengulangan kesepuluh, Niko mulai memperhatikan detail-detail kecil yang sebelumnya terabaikan.

Di lorong sekolah terdapat sebuah papan foto alumni.

Salah satu foto tampak berbeda. Foto seorang siswi bernama Laras.

Anehnya, setiap kali Niko melewati papan itu, ia merasa wajah Laras seperti sedang menatapnya.

Perasaan itu semakin kuat dari hari ke hari.

Saat mencari informasi di perpustakaan sekolah, ia menemukan artikel lama.

Judulnya membuat bulu kuduknya merinding.

"Siswi SMA Menghilang Tanpa Jejak pada Pukul 08.17."

Tahun kejadian: lima tahun lalu.

Nama siswi tersebut adalah Laras.

Rasa penasaran membuat Niko menggali lebih jauh. Karena waktu terus berulang, ia memiliki kesempatan tanpa batas untuk menyelidiki.

Ia mulai mewawancarai guru-guru.

Mencari arsip sekolah dan membaca koran lama.

Pada pengulangan ke-23, ia menemukan fakta baru. Laras terakhir kali terlihat memasuki gedung laboratorium lama yang kini sudah ditutup. Gedung itu berada di belakang sekolah dan jarang dikunjungi.

Pada pengulangan berikutnya, Niko mendatangi laboratorium tersebut.

Bangunan tua itu tampak kosong, pintu depannya terkunci namun, jendela belakang masih bisa dibuka.

Di dalam ruangan, debu menutupi hampir semua perabot. Tidak ada yang terlihat mencurigakan.

Sampai Niko menemukan sebuah meja tua.

Di bawah meja terdapat ukiran kecil.

08.17

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Di samping angka tersebut terdapat kalimat pendek.

"Carilah pintu yang tidak terlihat."

Selama beberapa pengulangan berikutnya, Niko berusaha memecahkan petunjuk itu.

Ia memeriksa setiap sudut laboratorium.

Hingga akhirnya menemukan panel tersembunyi di belakang lemari arsip.

Panel tersebut membuka lorong sempit menuju ruang bawah tanah.

Ruangan itu sangat gelap. Di tengah ruangan terdapat kursi kayu dan beberapa kotak tua. Salah satu kotak berisi buku harian. Nama pemiliknya membuat Niko terdiam.

Laras.

Dengan tangan gemetar, ia membuka buku itu.

Isi buku harian tersebut menceritakan kehidupan Laras sebagai siswi berprestasi.

Namun beberapa halaman terakhir berubah menjadi catatan penuh ketakutan.

Laras menulis bahwa ia menemukan sesuatu yang tidak seharusnya diketahui. Ia melihat seseorang memalsukan dokumen sekolah dan menyalahgunakan dana pendidikan.

Saat mencoba melaporkannya, ia mulai diancam.

Halaman terakhir hanya berisi satu kalimat.

"Jika aku menghilang, carilah kebenaran di ruang kepala sekolah."

Niko terkejut.

Selama ini semua orang menganggap Laras kabur atau mengalami kecelakaan.

Namun catatan itu menunjukkan kemungkinan lain. Pada pengulangan berikutnya, ia memasuki ruang kepala sekolah.

Karena waktu akan kembali seperti semula, ia tidak takut ketahuan.

Setelah mencari cukup lama, ia menemukan laci rahasia di belakang lemari. Di dalamnya terdapat dokumen-dokumen lama. Salah satunya adalah laporan kehilangan Laras. Namun laporan tersebut berbeda dengan salinan yang tersimpan di arsip sekolah.

Beberapa bagian telah diubah.

Nama saksi dihapus, waktu kejadian diganti. Dan terdapat tanda tangan yang dipalsukan.

Kini Niko memahami bahwa hilangnya Laras bukanlah kecelakaan. Ada seseorang yang sengaja menutupi kebenaran. Tetapi bagaimana cara menghentikan lingkaran waktu?

Pertanyaan itu terus menghantuinya.

Pada pengulangan ke-47, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya muncul. Saat jam menunjukkan pukul 08.10, Niko melihat seorang siswi berdiri di ujung koridor.

Siswi itu mengenakan seragam lama.

Tidak ada siswa lain yang memperhatikannya.

Ketika Niko mendekat, siswi tersebut tersenyum.

Itu Laras.

"Kamu akhirnya menemukan petunjuknya," kata Laras.

Niko membeku.

"Kamu... siapa?"

"Kamu sudah tahu jawabannya."

"Kenapa aku terjebak di sini?"

Laras menatap jam dinding di koridor.

"Karena tidak ada yang pernah menemukan kebenaran."

"Apakah kamu sudah meninggal?"

Laras tidak menjawab.

Sebaliknya ia menunjuk ke arah ruang kepala sekolah.

"Laporan yang asli."

"Lalu?"

"Ungkapkan sebelum pukul 08.17."

Begitu Laras menghilang, Niko segera berlari.

Ia mengambil dokumen asli dan menyerahkannya kepada guru yang paling ia percaya. Semua dilakukan sebelum pukul 08.17. Ketika jam menunjukkan angka tersebut, dunia kembali bergetar. Pandangannya mengabur.

Namun kali ini ia tidak merasa takut.

"Niko! Bangun!"

Suara ibunya terdengar lagi.

Niko membuka mata.

Ia langsung melihat jam.

07.00 pagi.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Tanggal di ponsel berubah.

Hari telah berganti.

Lingkaran waktu akhirnya berakhir.

Beberapa bulan kemudian, penyelidikan resmi dilakukan.

Dokumen yang ditemukan membuka kembali kasus hilangnya Laras.

Meski tidak semua pertanyaan terjawab, banyak fakta baru berhasil diungkap.

Nama Laras akhirnya dibersihkan dari berbagai rumor yang selama ini beredar.

Pada hari kelulusan, Niko berdiri di koridor sekolah. Saat melewati papan foto alumni, ia berhenti.

Foto Laras masih ada di sana. Namun kali ini wajah dalam foto itu tampak berbeda. Seolah sedang tersenyum.

Niko tersenyum balik.

Mungkin itu hanya perasaannya.

Atau mungkin seseorang akhirnya bisa beristirahat dengan tenang setelah bertahun-tahun menunggu kebenaran terungkap.

Tamat.