← Kembali ke Detail

Jembatan Menuju Dunia Lain

Export PDF

Satria masih belum terbiasa dengan rumah baru neneknya di desa terpencil, jauh dari kehidupan kota yang selama ini ia kenal. Sejak kedua orang tuanya bercerai bulan lalu, ia harus tinggal sementara bersama neneknya sementara kedua orang tuanya menyelesaikan berbagai urusan.

Suatu sore, saat menjelajahi halaman belakang rumah neneknya yang luas, Satria menemukan sebuah jembatan kayu tua yang melintasi sungai kecil, namun anehnya, jembatan itu tampak lebih panjang dari yang seharusnya, ujungnya menghilang ditelan kabut tebal yang tidak wajar.

"Nek, kenapa ada kabut di jembatan itu padahal cuaca cerah?" tanya Satria penasaran saat makan malam.

Neneknya terdiam sejenak, lalu tersenyum misterius. "Itu Jembatan Dunia, peninggalan kakek buyutmu. Jembatan itu menghubungkan berbagai dunia yang berjalan paralel dengan dunia kita."

"Dunia paralel? Nenek bercanda, kan?"

"Kau akan tahu sendiri kebenarannya jika berani menyeberanginya," jawab neneknya sambil mengedipkan mata.

Didorong rasa penasaran dan mungkin sedikit keinginan untuk melarikan diri dari kenyataan yang menyakitkan tentang perceraian orang tuanya. Satria memutuskan untuk menyeberangi jembatan itu keesokan paginya.

Begitu ia melangkah masuk ke dalam kabut, dunia di sekelilingnya berubah drastis. Ia kini berdiri di tengah desa yang mirip dengan desanya, namun dengan warna langit yang berbeda yaitu ungu kemerahan alih-alih biru cerah.

Seorang wanita tua yang wajahnya sangat mirip neneknya, namun mengenakan pakaian aneh dengan ornamen berkilau, mendekatinya.

"Kau pasti Satria dari Dunia Utama," katanya ramah. "Aku Nenek Wulandari dari Dunia Kedua. Aku sudah menduga kau akan datang."

"Bagaimana Nenek tahu namaku?"

"Setiap dunia paralel saling terhubung lewat jembatan-jembatan tersembunyi seperti itu," jelas Nenek Wulandari. "Dan kabarnya menyebar cepat ketika ada pengunjung baru dari dunia lain."

Satria menceritakan tujuannya menyeberangi jembatan itu adalah rasa penasaran, sekaligus keinginan diam-diam untuk mencari cara menyatukan kembali orang tuanya yang bercerai.

Nenek Wulandari mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu berkata, "Ah, kau mencari Fragmen Harmoni. Banyak pengunjung dari dunia lain datang mencarinya, berharap bisa memperbaiki hal-hal yang mereka anggap 'rusak' di dunia asal mereka."

"Apakah itu bisa menyatukan kembali orang tuaku?"

Nenek Wulandari menghela napas panjang. "Fragmen Harmoni memang memiliki kekuatan menyatukan, tapi tidak selalu dengan cara yang kau harapkan, Nak. Mari, akan kutunjukkan jalannya, tapi kau harus melewati beberapa dunia lain terlebih dahulu."

Mereka berjalan menuju jembatan lain yang menghubungkan dunia ini dengan dunia berikutnya. Di dunia ketiga, Satria menemukan dirinya berada di tengah kota yang mengambang di atas awan, dipenuhi teknologi canggih yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Di sana, ia bertemu dengan versi lain dirinya sendiri seperti seorang Satria yang tampak lebih dewasa dan percaya diri, hidup bersama kedua orang tuanya yang masih bersama.

"Kau dari dunia lain?" tanya Satria versi itu terkejut.

"Ya. Aku... aku ingin tahu bagaimana rasanya jika orang tuaku tidak bercerai," jawab Satria jujur.

Satria versi itu menatapnya dengan ekspresi rumit. "Kau pikir semuanya baik-baik saja di sini? Orang tuaku memang tidak bercerai, tapi mereka terus bertengkar setiap hari, hanya bertahan demi menjaga citra keluarga sempurna. Aku justru iri padamu, yang mungkin bisa memiliki dua rumah yang masing-masing dipenuhi kedamaian, dibandingkan satu rumah yang penuh pertengkaran."

Kata-kata itu menghantam Satria seperti kilat. Ia tidak pernah berpikir bahwa "bersatu" tidak selalu berarti "bahagia".

Mereka melanjutkan perjalanan ke beberapa dunia lain. Di salah satu dunia, ia bertemu dengan Satria yang tumbuh tanpa mengenal ayahnya sama sekali karena sang ayah meninggal saat ia masih bayi, namun tetap tumbuh bahagia dengan cinta yang berlimpah dari sang ibu. Di dunia lain lagi, ia bertemu Satria yang orang tuanya tetap bersama meski jelas tidak saling mencintai lagi, hidup dalam kepura-puraan yang menyesakkan.

Setiap pertemuan itu membuka mata Satria sedikit demi sedikit, hingga akhirnya mereka tiba di jembatan terakhir yang menghubungkan menuju sebuah kuil kecil bercahaya keemasan di puncak gunung, tempat Fragmen Harmoni tersimpan.

Fragmen itu berbentuk kristal kecil berkilau lembut, melayang di atas altar batu sederhana.

"Ini dia," kata Nenek Wulandari. "Tapi sebelum kau mengambilnya, Satria, renungkan baik-baik apa yang benar-benar kau inginkan. Fragmen Harmoni tidak menciptakan kebahagiaan sesuai keinginanmu namun ia hanya menyelaraskan sesuatu sesuai dengan kebenaran yang paling murni."

Satria menatap kristal itu lama, memikirkan semua yang telah ia saksikan di sepanjang perjalanannya. Ia teringat wajah ibunya yang kini tampak lebih tenang sejak berpisah dari ayahnya, dan wajah ayahnya yang meski sedih, tampak lega tidak lagi harus memaksakan sesuatu yang sudah lama retak.

"Aku..." Satria menghela napas panjang, "aku pikir aku tidak butuh menyatukan mereka kembali."

Nenek Wulandari tersenyum lembut, seolah sudah menduga jawaban itu. "Lalu apa yang kau inginkan, Nak?"

"Aku hanya ingin mereka berdua bahagia, meski terpisah. Dan aku ingin belajar menerima bahwa keluarga tidak harus selalu berbentuk sama seperti sebelumnya untuk tetap terasa utuh," jawab Satria, matanya berkaca-kaca namun hatinya terasa lebih ringan dari sebelumnya.

Kristal Fragmen Harmoni bersinar lembut, seolah merespons ketulusan kata-katanya, lalu perlahan melayang mendekat dan menyentuh dada Satria, menyalurkan kehangatan yang menenangkan ke seluruh tubuhnya.

"Fragmen itu kini menjadi bagian darimu," kata Nenek Wulandari. "Bukan untuk mengubah duniamu, tapi untuk membantumu menemukan harmoni dalam dirimu sendiri, apa pun bentuk keluargamu nantinya."

Dengan hati yang jauh lebih tenang, Satria berpamitan pada Nenek Wulandari dan menyeberangi jembatan-jembatan itu kembali menuju dunia asalnya.

Ketika ia tiba kembali di halaman belakang rumah neneknya, matahari sore menyinari lembut wajahnya. Neneknya sudah menunggu di teras, tersenyum seolah tahu apa yang baru saja dialami cucunya.

"Bagaimana perjalananmu, Nak?" tanya neneknya.

Satria tersenyum, menghampiri neneknya dan memeluknya erat. "Aku belajar bahwa tidak semua yang terpisah harus disatukan kembali untuk bisa terasa utuh, Nek. Kadang, menerima adalah bentuk harmoni yang paling nyata."

Neneknya mengelus rambut Satria lembut. "Kau tumbuh bijak sekali hari ini."

Malam itu, saat Satria menelepon ibu dan ayahnya secara bergantian, untuk pertama kalinya sejak perceraian mereka, ia berbicara dengan hati yang tulus dan tenang, tanpa lagi diam-diam berharap mereka akan kembali bersama melainkan berharap mereka masing-masing menemukan kebahagiaan mereka sendiri, sama seperti yang mulai ia temukan dalam dirinya sendiri.