Kamera yang Memotret Masa Lalu
Export PDFHujan turun sejak pagi ketika Nara membantu ibunya membersihkan rumah peninggalan kakeknya. Rumah tua di pinggir desa itu sudah lama kosong sejak sang kakek meninggal dunia setahun lalu.
Debu memenuhi hampir setiap sudut ruangan. Kardus-kardus tua bertumpuk di gudang belakang.
"Nara, tolong periksa gudang itu. Barang yang tidak terpakai bisa kita buang," kata ibunya.
Nara mengangguk.
Gudang tersebut remang-remang. Aroma kayu lapuk dan kertas tua memenuhi udara. Ia mulai membuka satu per satu kotak yang tersimpan di sana.
Di sudut ruangan, sebuah koper kulit tua menarik perhatiannya. Koper itu terkunci, tetapi gemboknya sudah berkarat. Setelah beberapa kali dicoba, akhirnya terbuka.
Di dalamnya terdapat berbagai barang lama milik kakeknya. Jam saku, peta desa, dan sebuah kamera hitam yang tampak sangat kuno.
Bentuknya berbeda dari kamera modern.
Di bagian bawah kamera terdapat tulisan kecil yang hampir pudar.
"Kenangan tidak pernah benar-benar hilang."
Nara tersenyum kecil.
"Mungkin barang koleksi kakek."
Karena penasaran, ia membawa kamera itu ke luar rumah.
Meski terlihat tua, kamera tersebut masih berfungsi. Saat ia menekan tombol rana, terdengar bunyi klik yang cukup keras.
Aneh.
Padahal kamera itu tidak menggunakan baterai. Nara memotret halaman rumah yang dipenuhi rumput liar.
Beberapa menit kemudian, secarik foto keluar dari bagian samping kamera.
"Hebat juga."
Namun senyumnya perlahan menghilang.
Foto itu tidak menunjukkan halaman rumah yang ia lihat sekarang.
Dalam foto terlihat halaman yang bersih dan terawat. Seorang pria tua sedang duduk di kursi kayu sambil membaca koran. Pria itu adalah kakeknya.
Padahal foto tersebut jelas baru saja diambil.
Nara mengerutkan kening.
"Bagaimana mungkin?"
Ia mencoba lagi.
Kali ini ia memotret sumur tua di belakang rumah.
Hasilnya kembali membuatnya terkejut. Foto tersebut memperlihatkan beberapa anak sedang bermain di sekitar sumur. Pakaian mereka terlihat seperti mode puluhan tahun lalu. Salah satu anak bahkan mengenakan seragam sekolah yang sudah tidak digunakan lagi.
Nara mulai merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Malam harinya ia memperhatikan kamera itu lebih teliti.
Tidak ada layar digital, tidak ada kartu memori, dan tidak ada sumber daya apa pun. Tetapi kamera itu menghasilkan foto-foto aneh yang menampilkan masa lalu.
Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya.
Keesokan pagi, ia berjalan mengelilingi desa.
Ia memotret berbagai tempat.
Balai desa.
Jembatan tua.
Lapangan sekolah.
Setiap foto selalu menunjukkan kejadian yang pernah terjadi di lokasi tersebut bertahun-tahun lalu.
Semakin banyak foto yang ia kumpulkan, semakin yakin bahwa kamera itu benar-benar mampu memotret masa lalu.
Sore harinya, Nara melewati sebuah lapangan kosong di ujung desa.
Tempat itu sudah lama terbengkalai.
Ia mengangkat kamera dan menekan tombol rana.
Klik.
Beberapa saat kemudian foto keluar.
Begitu melihat hasilnya, tubuh Nara merinding.
Dalam foto tampak seorang anak laki-laki berdiri sendirian, wajahnya terlihat ketakutan.
Di belakangnya berdiri seorang pria bertopi yang sebagian wajahnya tertutup bayangan.
Yang membuat Nara terkejut adalah tulisan di bagian belakang foto.
"Hari terakhir Arga terlihat."
Napasnya tertahan.
Nama Arga tidak asing.
Ia pernah mendengar cerita tentang seorang anak yang hilang secara misterius dua puluh tahun lalu.
Kasus itu tidak pernah terpecahkan.
Malamnya, Nara mencari informasi dari warga yang lebih tua.
Pak Rahmat, tetangga kakeknya, langsung mengenali nama tersebut.
"Arga memang hilang dua puluh tahun lalu," katanya.
"Apakah ditemukan?"
Pak Rahmat menggeleng.
"Tidak pernah."
"Siapa yang terakhir melihatnya?"
"Tidak ada yang tahu pasti."
Nara tidak menceritakan soal kamera.
Ia khawatir tidak akan dipercaya.
Setelah kembali ke rumah, ia menatap foto itu lama.
Pria bertopi di belakang Arga tampak mencurigakan.
Mungkin ia adalah petunjuk yang selama ini hilang.
Esoknya, Nara kembali ke lapangan tersebut.
Ia mengambil foto dari berbagai sudut.
Setiap hasil foto menunjukkan potongan kejadian berbeda.
Pada salah satu foto, Arga terlihat berlari menuju hutan kecil di belakang lapangan.
Foto berikutnya memperlihatkan pria bertopi yang mengikutinya.
Nara mulai menyusun urutan kejadian. Seperti potongan puzzle.
Jejak itu membawanya ke sebuah bangunan tua yang tersembunyi di pinggir hutan.
Bangunan itu dulunya gudang penyimpanan hasil panen.
Kini sudah kosong dan hampir roboh.
Dengan perasaan tegang, Nara masuk ke dalam.
Lantai kayu berderit di setiap langkah.
Di sudut ruangan, ia menemukan kotak logam yang tertimbun debu.
Saat dibuka, terdapat beberapa surat tua dan sebuah buku catatan.
Nama pemiliknya membuat jantung Nara berdegup kencang.
Arga.
Buku itu berisi catatan sederhana seorang anak.
Namun halaman terakhir berbeda.
Tulisan di sana tampak tergesa-gesa.
"Aku takut. Pak Hadi terus mengikutiku. Jika sesuatu terjadi, aku bersembunyi di tempat bawah tanah."
Nara segera mencari area yang dimaksud.
Tak lama kemudian ia menemukan pintu kayu kecil yang tertutup karung tua.
Di bawahnya terdapat ruang sempit.
Ia menyalakan senter ponselnya.
Di dalam ruangan itu terdapat berbagai barang lama yang sudah rusak dimakan waktu.
Lalu ia melihat sesuatu.
Sebuah lencana sekolah milik Arga.
Nara langsung melaporkan temuannya kepada polisi. Penyelidikan yang telah lama ditutup akhirnya dibuka kembali.
Bukti-bukti yang ditemukan di gudang mengarah kepada seorang pria bernama Pak Hadi, mantan penjaga gudang yang sudah meninggal beberapa tahun lalu.
Meski pelaku tidak lagi hidup, misteri hilangnya Arga akhirnya berhasil diungkap.
Beberapa minggu kemudian, keluarga Arga datang ke desa.
Mereka berterima kasih kepada Nara karena telah membantu menemukan kebenaran yang selama dua puluh tahun tidak pernah terjawab.
Namun ada satu hal yang masih mengganjal pikirannya.
Bagaimana kamera itu bisa menunjukkan masa lalu?
Malam sebelum pulang ke kota, Nara kembali membuka koper peninggalan kakeknya.
Di dasar koper terdapat sebuah amplop yang sebelumnya tidak ia sadari.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan.
"Jika kamu membaca ini, berarti kamera itu telah memilihmu. Kamera tersebut bukan alat biasa. Ia hanya menunjukkan masa lalu kepada orang yang ingin mencari kebenaran, bukan keuntungan. Gunakanlah dengan bijak."
Surat itu ditandatangani oleh kakeknya.
Nara tersenyum tipis.
Ia memandang kamera tua yang terletak di atas meja.
Kini misteri Arga telah terpecahkan.
Tetapi ia tahu masih banyak rahasia lain yang mungkin tersimpan di balik setiap foto yang dihasilkan kamera itu.
Di luar jendela, hujan mulai turun perlahan.
Nara memegang kamera tersebut dan menatap ke arah gelap malam. Siapa tahu, suatu hari nanti, kamera itu akan kembali menunjukkan jejak misteri yang belum terungkap.