← Kembali ke Detail

Kerajaan di balik cermin

Export PDF

Alira tidak pernah menyukai loteng rumah neneknya. Tempat itu selalu berbau debu tua dan kayu lapuk, dengan cahaya yang masuk hanya dari satu jendela kecil berbentuk bulan sabit. Namun sore itu, karena bosan menunggu hujan reda, ia memutuskan untuk menjelajahinya. Di sudut ruangan, tertutup kain putih yang menguning, berdiri sebuah cermin besar berbingkai ukiran daun-daun perak. Alira menyingkap kainnya perlahan. Pantulan dirinya di kaca tampak sedikit aneh seperti ada jeda satu detik sebelum bayangannya bergerak mengikuti.

"Aneh," gumamnya sambil mendekat.

Ia mengangkat tangan. Bayangannya di cermin mengangkat tangan pula, tetapi terlambat setengah detik. Penasaran, Alira menyentuh permukaan kaca. Dingin, tapi bukan dingin seperti kaca biasa melainkan dingin seperti air danau di pagi hari.

Tiba-tiba tangannya tenggelam ke dalam cermin seperti menembus permukaan air.

"Astaga!" Alira melompat mundur, jantungnya berdebar kencang. Ia menatap tangannya sendiri, memastikan semuanya masih utuh. Setelah beberapa saat mengumpulkan keberanian, ia melangkah maju dan menembus cermin itu sepenuhnya.

Dunia di baliknya tidak seperti loteng sama sekali. Alira berdiri di sebuah lorong panjang berlantai kaca hitam mengkilap, dengan langit-langit yang memantulkan cahaya keperakan entah dari mana asalnya. Di kejauhan, ia melihat sosok-sosok yang bergerak, orang-orang yang tampak seperti siluet gelap namun memiliki mata bercahaya.

Salah satu sosok itu mendekat. Bentuknya seperti seorang wanita, namun seluruh tubuhnya berwarna hitam pekat kecuali sepasang matanya yang berkilau seperti bintang kembar.

"Seorang manusia," ucap sosok itu, suaranya lembut namun bergema aneh, seolah datang dari dua arah sekaligus. "Sudah lama sekali tidak ada manusia yang menembus Cermin Perbatasan."

"Si-siapa kau?" tanya Alira, mundur selangkah.

"Aku Ratu Nirai, penguasa Kerajaan Bayangan," jawabnya sambil membungkuk hormat. "Dan kau, manusia kecil, datang di waktu yang genting."

Alira mengedarkan pandangan. Ia baru sadar bahwa cahaya di sekeliling kerajaan itu semakin redup, seperti lilin yang perlahan padam.

"Genting bagaimana?"

Ratu Nirai menghela napas panjang. "Kerajaan kami hidup dari cahaya yang dipantulkan dari dunia manusia. Setiap kali seseorang tersenyum, tertawa, atau bermimpi indah, secercah cahaya mengalir ke dunia kami dan menerangi kami. Tapi tiga hari lalu, seseorang atau sesuatu yang menyebut dirinya Kegelapan Pertama mencuri Inti Cahaya kami. Sejak itu, dunia kami mulai memudar. Jika Inti Cahaya tidak kembali sebelum bulan purnama ketujuh, seluruh Kerajaan Bayangan akan lenyap, dan bayang-bayang di dunia manusia akan lenyap bersamanya."

"Kalau bayangan hilang... apa yang terjadi pada dunia manusia?" tanya Alira, mulai merasa cemas.

"Tanpa bayangan, manusia kehilangan separuh jiwanya. Kalian akan menjadi... kosong. Tidak bisa bermimpi, tidak bisa berimajinasi." Ratu Nirai menatap Alira dalam-dalam. "Karena itu aku memohon bantuanmu."

Alira menelan ludah. Ini semua terdengar seperti dongeng gila, tapi tangannya baru saja menembus cermin, dan ia sedang berbicara dengan seorang ratu berwujud bayangan. Rasanya mustahil untuk tidak percaya.

"Aku... aku akan membantu. Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana."

Ratu Nirai tersenyum, giginya berkilau seperti kristal gelap. "Kegelapan Pertama bersembunyi di Puncak Malam Abadi, tempat tergelap di kerajaan ini. Untuk sampai ke sana, kau harus melewati Hutan Bisikan dan Jembatan Ingatan. Aku akan mengirim seorang pemandu bersamamu."

Dari balik tirai kegelapan, muncul sosok kecil yaitu seekor rubah bayangan dengan ekor yang bercahaya lembut di ujungnya.

"Ini Sora," kata Ratu Nirai. "Dia akan menuntunmu. Dengarkan kata-katanya baik-baik, karena Hutan Bisikan bisa membuat siapa pun tersesat dalam pikirannya sendiri."

Sora mendekat dan mendongak menatap Alira dengan mata bulat berkilau. "Ayo," katanya dengan suara kecil yang jernih. "Waktu kita tidak banyak."

Mereka berjalan menyusuri lorong kaca hitam yang perlahan berubah menjadi hutan aneh seperti pepohonan dengan daun-daun yang terbuat dari kepingan cahaya redup, berbisik pelan setiap kali angin bertiup.

"Jangan dengarkan apa yang dikatakan pepohonan," bisik Sora. "Mereka akan mencoba membisikkan ketakutan terdalammu untuk membuatmu berhenti."

Benar saja, begitu mereka masuk lebih dalam, Alira mulai mendengar suara-suara aneh dari sela-sela dedaunan.

"Kau akan gagal seperti biasanya..."

"Kenapa repot-repot menolong dunia yang bukan duniamu?"

"Pulanglah, Alira. Ini bukan urusanmu."

Alira menggigit bibir, mencoba mengabaikan suara-suara itu, namun langkahnya mulai goyah. Tiba-tiba ia teringat saat ia gagal dalam lomba menggambar di sekolah, saat teman-temannya menertawakannya.

"Berhenti," ucapnya pelan pada dirinya sendiri. "Itu bukan suara asli. Itu cuma bisikan hutan."

Sora menatapnya kagum. "Kau kuat juga, untuk ukuran manusia."

Mereka akhirnya sampai di Jembatan Ingatan, sebuah jembatan tipis yang terbuat dari untaian cahaya keperakan yang membentang di atas jurang tanpa dasar. Setiap langkah membuat jembatan itu memutar potongan kenangan yang melayang di udara seperti hologram: kenangan tawa, tangis, dan mimpi dari berbagai manusia yang pernah "menyumbangkan" cahaya mereka.

Di tengah jembatan, Alira melihat sesosok bayangan besar menghadang, tubuhnya berkabut hitam pekat tanpa bentuk jelas, dengan dua mata merah menyala.

"Kegelapan Pertama," bisik Sora, bulu di lehernya berdiri.

"Manusia kecil," suara itu menggema berat, "berani sekali kau memasuki wilayahku."

"Kembalikan Inti Cahaya," kata Alira, mencoba terdengar berani meski lututnya gemetar. "Kerajaan Bayangan akan lenyap tanpa itu!"

"Dan kenapa aku harus peduli?" Kegelapan Pertama tertawa, suaranya seperti gemuruh guntur jauh. "Selama berabad-abad, aku hidup di celah-celah kegelapan, dilupakan, sementara cahaya selalu dipuja. Sekarang giliranku yang bersinar dengan caraku sendiri."

"Tapi tanpa cahaya, kegelapan juga tidak ada artinya," Alira menjawab, mengingat kata-kata neneknya suatu kali. "Cahaya dan kegelapan saling membutuhkan. Salah satu tanpa yang lain hanya akan jadi kekosongan."

Kegelapan Pertama terdiam sejenak, seolah kata-kata itu menyentuh sesuatu yang lama terkubur.

"Kau pikir aku tidak tahu itu?" suaranya melembut sedikit. "Tapi tak seorang pun pernah mengingatku sebagai sesuatu yang berharga. Aku hanya bayangan dari bayangan."

Alira melangkah maju perlahan. "Kalau begitu, biarkan aku mengingatmu. Kembalikan Inti Cahaya, dan aku janji akan menceritakan kisahmu pada dunia manusia bahwa kegelapan bukan musuh, hanya bagian lain dari cahaya."

Hening panjang. Lalu, dari dalam kabut hitam itu, muncul sebuah bola cahaya kecil berkilau lembut yaitu Inti Cahaya yang telah lama dicuri.

"Bawalah," kata Kegelapan Pertama pelan. "Tapi jangan lupakan janjimu."

"Aku tidak akan lupa," jawab Alira sambil menerima Inti Cahaya yang hangat di tangannya.

Ketika Alira dan Sora kembali ke istana, Ratu Nirai menyambut mereka dengan mata berkaca-kaca. Begitu Inti Cahaya diletakkan kembali di singgasananya, seluruh Kerajaan Bayangan bersinar terang seperti sedia kala.

"Kau telah menyelamatkan kami," kata Ratu Nirai. "Bagaimana bisa kubalas kebaikanmu?"

"Cukup jaga kerajaan ini baik-baik," jawab Alira sambil tersenyum. "Dan... tolong, jangan lupakan Kegelapan Pertama. Dia bukan jahat, dia cuma kesepian."

Ratu Nirai mengangguk pelan. "Akan kuingat."

Alira kembali menembus cermin, dan begitu ia keluar, loteng itu terasa sama seperti sebelumnya nampak berdebu dan sunyi. Namun kali ini, ketika ia melihat bayangannya sendiri di cermin, bayangan itu tersenyum lebih dulu daripada dirinya.

Alira tersenyum balik. "Terima kasih," bisiknya, meski ia tak yakin apakah bayangannya bisa mendengar. Tapi entah kenapa, ia merasa yakin bahwa di suatu tempat di balik cermin, Kerajaan Bayangan kini bersinar lebih terang dari sebelumnya dan kegelapan, untuk pertama kalinya, tidak lagi merasa sendirian.