Kerajaan Jam yang Berhenti Berdetak
Export PDFDi balik pegunungan yang tak pernah tercantum di peta, berdirilah sebuah kerajaan bernama Horologia.
Kerajaan itu sangat berbeda dengan negeri-negeri lain.
Di sana, waktu tidak bergerak dengan sendirinya.
Setiap detik, menit, dan jam berasal dari jutaan jam ajaib yang tersebar di seluruh kerajaan. Semua jam itu terhubung dengan sebuah menara raksasa di pusat kota yang disebut Menara Detak.
Selama menara itu berdetak, dunia akan terus berjalan.
Musim berganti.
Bunga bermekaran.
Anak-anak tumbuh dewasa.
Hujan turun tepat waktunya.
Namun suatu pagi, suara detakan itu menghilang.
Tok...
Tok...
Tok...
Tidak ada lagi.
Seluruh jam di kerajaan berhenti pada waktu yang sama.
Burung-burung membeku di udara.
Air sungai berhenti mengalir.
Daun-daun tidak lagi jatuh.
Langit tetap berada di warna senja tanpa berubah sedikit pun.
Kepanikan melanda seluruh kerajaan.
Para Penjaga Waktu mencoba memperbaiki Menara Detak, tetapi semua usaha mereka gagal.
Di pinggir kota tinggal seorang remaja bernama Raka.
Ia bukan bangsawan ataupun penyihir.
Ia hanya anak seorang pembuat jam tua.
Sejak kecil, Raka belajar memperbaiki jam rusak dengan ayahnya.
Ayahnya selalu berkata,
"Jam bukan sekadar mesin."
"Setiap jam menyimpan kisah orang yang memilikinya."
Ketika seluruh jam berhenti, hanya satu jam yang masih berdetak.
Jam saku peninggalan ayah Raka.
Tok...
Tok...
Tok...
Suaranya pelan, tetapi sangat jelas.
Belum sempat Raka memahami apa yang terjadi, cahaya keluar dari jam tersebut.
Dari dalam cahaya muncul seorang gadis kecil dengan sayap transparan.
Namanya Lyne.
"Akhirnya aku menemukanmu."
"Aku?"
"Jam itu memilihmu."
"Memilihku untuk apa?"
"Menemukan Jam Pertama."
Raka belum pernah mendengar nama itu.
Lyne menjelaskan bahwa sebelum semua jam diciptakan, hanya ada satu jam yang menjadi sumber waktu bagi seluruh dunia.
Jam itu disebut Jam Pertama.
Namun ratusan tahun lalu, Jam Pertama disembunyikan agar tidak disalahgunakan.
Kini seseorang telah mencuri inti kekuatannya.
Jika inti itu tidak dikembalikan sebelum detakan terakhir jam saku Raka berhenti, waktu akan lenyap selamanya.
Raka akhirnya setuju.
Perjalanan mereka dimulai.
Mereka memasuki Hutan Jarum, tempat pepohonan memiliki daun berbentuk jarum jam.
Setiap kali angin bertiup, terdengar suara seperti ribuan jam berdetak bersamaan.
Di tengah hutan mereka bertemu seekor rusa putih dengan tanduk bercahaya.
Namanya Astra.
"Aku akan mengantarmu."
"Tapi jalannya tidak mudah."
Mereka harus melewati Sungai Kenangan.
Air sungai memperlihatkan masa lalu siapa pun yang melihatnya.
Raka melihat ayahnya sedang memperbaiki jam tua.
"Ayah..."
Ayahnya tersenyum.
"Suatu hari nanti kau akan memahami bahwa waktu paling berharga adalah waktu yang diberikan kepada orang lain."
Air sungai tiba-tiba bergolak.
Muncullah makhluk hitam bernama Pencuri Detik.
Makhluk itu memakan kenangan.
Ia menyerang Raka.
Namun Astra menghantamnya dengan tanduk bercahaya hingga makhluk itu menghilang menjadi butiran pasir.
Perjalanan berlanjut menuju Gurun Menit.
Di sana pasir mengalir ke atas.
Semakin lama seseorang berada di gurun itu, semakin banyak waktunya yang hilang.
Rambut seseorang bisa memutih hanya dalam beberapa menit.
Lyne hampir kehilangan seluruh kekuatannya.
Untunglah Raka menemukan jam matahari kuno yang menjadi jalan keluar dari gurun tersebut.
Akhirnya mereka tiba di sebuah kastel hitam.
Di sanalah Jam Pertama disembunyikan.
Namun seseorang telah lebih dulu tiba.
Ia adalah Chronos, mantan Penjaga Waktu.
"Aku lelah melihat manusia menyia-nyiakan waktu," katanya.
"Mereka menunda mimpi."
"Mereka menyakiti sesama."
"Mereka membuang hidup begitu saja."
"Karena itu aku menghentikan waktu."
"Dengan begitu tidak ada lagi penyesalan."
Raka menggenggam jam saku ayahnya.
"Kalau waktu berhenti..."
"Tidak akan ada kesempatan memperbaiki kesalahan."
"Tidak ada kesempatan meminta maaf."
"Tidak ada kesempatan bertemu orang yang kita sayangi."
Chronos terdiam.
Namun ia tetap mengaktifkan inti Jam Pertama.
Seluruh kastel bergetar.
Jarum jam raksasa berputar tak terkendali.
Retakan muncul di langit.
Waktu mulai terpecah.
Ada bunga yang mekar lalu layu dalam satu detik.
Ada batu yang berubah menjadi debu.
Ada anak kecil yang tiba-tiba menjadi tua.
Raka tahu hanya ada satu cara.
Ia membuka jam saku peninggalan ayahnya.
Di dalamnya tersimpan roda gigi kecil berwarna emas.
Ayahnya ternyata telah menyimpan bagian terakhir Jam Pertama selama bertahun-tahun.
Roda gigi itu melayang menuju jam raksasa.
Klik.
Semua suara mendadak menghilang.
Lalu...
Tok.
Tok.
Tok.
Detakan pertama terdengar.
Kemudian disusul ribuan detakan lain.
Menara Detak kembali hidup.
Jam-jam di seluruh dunia mulai bergerak.
Air sungai mengalir lagi.
Angin kembali bertiup.
Burung melanjutkan kepakan sayapnya.
Bunga-bunga bermekaran.
Chronos menatap langit.
Air mata mengalir di pipinya.
"Aku lupa..."
"Waktu memang membawa kesedihan."
"Tetapi juga membawa harapan."
Ia menyerahkan tongkat Penjaga Waktu kepada Raka.
"Aku terlalu lama mencoba mengendalikan waktu."
"Padahal tugas kami hanyalah menjaganya."
Raka menolak.
"Aku bukan pahlawan."
Lyne tersenyum.
"Mungkin."
"Tapi dunia selalu diselamatkan oleh orang biasa yang memilih melakukan hal luar biasa."
Raka kembali ke rumahnya.
Ayahnya sedang duduk di depan bengkel kecil, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Sudah pulang?"
"Iya, Yah."
Ayahnya tersenyum sambil menyerahkan sebuah jam baru.
"Perbaiki ini."
Raka tertawa kecil.
Kini ia mengerti mengapa ayahnya begitu mencintai pekerjaannya.
Karena memperbaiki jam bukan hanya membuat jarumnya kembali bergerak.
Melainkan memberi kesempatan bagi seseorang untuk kembali menghargai waktu.
Sejak hari itu, setiap detakan jam di Kerajaan Horologia mengingatkan semua orang akan satu hal:
Waktu adalah harta yang tidak dapat disimpan, tidak dapat dibeli, dan tidak akan pernah kembali. Karena itu, gunakanlah setiap detiknya untuk menciptakan kisah yang layak dikenang.