← Kembali ke Detail

Kolektor Air Mata Duyung Langit

Export PDF

Desa Caelum bergantung kaku di balik ceruk tebing batu yang curam. Di sini, rumah-rumah kayu diikat dengan rantai besi besar agar tidak jatuh ke jurang tak berujung di bawahnya. Masalah terbesar penduduk Caelum adalah air. Hujan jarang turun, dan sumur-sumur batu telah lama mengering. Kehidupan mereka sepenuhnya bergantung pada para Pemburu Badai seperti Gani.

Gani berdiri di ujung dek kayu, memegang sebuah busur besar dengan tali jerat yang lembut. Matanya yang tajam menembus gumpalan awan hitam di depannya. Gumpalan awan itu bergulung, menandakan badai besar akan datang. Di dalam badai itulah, makhluk yang mereka sebut Duyung Langit biasanya muncul.

"Gani! Ingat, jangan kembali dengan tabung kosong! Pasokan air di balai desa tinggal sisa dua gentong!" teriak kepala desa dari kejauhan.

"Siap, Pak!" jawab Gani tegas.

Saat petir pertama menyambar, sesosok makhluk anggun melesat dari balik awan. Tubuhnya bersisik perak yang memantulkan cahaya kilat, jalannya meliuk-liuk di udara seperti berenang, dan sepasang sayap tipis selembut sutra mengepak perlahan. Itulah Duyung Langit. Biasanya, para pemburu akan menggunakan panah kejut untuk membuat makhluk itu ketakutan atau kesakitan, karena dalam mitologi mereka, air mata kesakitan makhluk itulah yang menjadi air bersih bagi desa.

Namun, sore itu ada yang berbeda. Duyung Langit yang muncul berukuran jauh lebih kecil, mungkin masih anak-anak. Makhluk itu tampak panik karena sayap kirinya tersangkut seutas kawat berduri bekas perangkap pemburu lain. Makhluk kecil itu perlahan kehilangan ketinggian dan meluncur jatuh ke arah dek Gani.

BRUK!

Makhluk itu mendarat dengan keras di atas papan kayu, merintih pelan. Air mata keputusasaan mulai menetes dari mata bulatnya yang berwarna biru laut. Begitu menyentuh lantai kayu, air mata itu berubah menjadi genangan air jernih yang sangat segar.

Gani mendekat dengan ragu, memegang tabung penampungnya. "Aku bisa saja mengambil air matamu sekarang," bisik Gani melihat makhluk yang gemetar ketakutan itu. Makhluk itu mencoba menjauh, namun sayapnya yang terluka membuatnya kesakitan.

Gani menatap mata makhluk itu. Di sana, dia tidak melihat monster, melainkan rasa takut yang sangat manusiawi. Gani menghela napas, meletakkan tabung airnya, dan berlutut. Dia mengeluarkan pisau kecil, bukan untuk melukai, melainkan untuk memotong kawat berduri yang melilit sayap si Duyung Langit.

"Tenanglah, Kecil. Aku tidak akan menyakitimu," kata Gani dengan suara selembut mungkin.

Dengan sangat hati-hati, Gani membebaskan sayap sutra itu. Makhluk itu sempat tersentak, namun merasakan niat baik Gani, dia mulai tenang. Gani kemudian mengambil ramuan daun penyembuh dari kantongnya dan mengoleskannya pada luka di sayap makhluk tersebut.

Ajaibnya, rasa perih itu mereda dengan cepat. Duyung Langit kecil itu mengendus tangan Gani, lalu mengeluarkan suara mendengkur halus mirip kucing. Makhluk itu melompat kecil, mengitari Gani dengan gembira, mengepakkan sayapnya yang kini bebas dari rasa sakit.

Saat makhluk itu terbang kecil di sekitar kepala Gani sambil menari-nari gembira, air mata kembali menetes dari matanya. Namun kali ini, air mata itu adalah air mata kebahagiaan. Begitu menyentuh dek kayu, tetesan air itu tidak hanya menjadi genangan kecil, melainkan meresap ke dalam sela-sela batu tebing dan tiba-tiba memancarkan sebuah mata air baru yang deras dan jernih.

Mata air itu terus mengalir, memenuhi saluran-saluran air desa yang sudah bertahun-tahun kering. Penduduk desa keluar dari rumah dengan sorak-sorai, menampung air yang melimpah tersebut dengan baskom dan ember.

"Gani! Apa yang kamu lakukan? Ini keajaiban!" seru kepala desa dengan mata membelalak tak percaya.

Gani mendongak, melihat Duyung Langit kecil itu terbang tinggi menuju kawanannya di balik awan yang mulai cerah. Makhluk itu sempat berputar sekali lagi seolah mengucapkan terima kasih sebelum menghilang di cakrawala.

"Kita selama ini salah, Pak," kata Gani sambil tersenyum lebar menatap mata air yang mengalir di kakinya. "Kita mengira air mata kesakitan mereka yang kita butuhkan. Padahal, air mata kebahagiaan dan ketulusan dari mereka justru memberikan kita sumber air yang tidak akan pernah kering."

Sejak hari itu, Gani mengubah profesinya dari Pemburu Badai menjadi Penjaga Langit. Tugasnya bukan lagi menangkap atau menyakiti, melainkan memastikan bahwa langit di atas Desa Caelum selalu menjadi tempat yang aman dan membahagiakan bagi para Duyung Langit.