← Kembali ke Detail

Kota yang Menyimpan Langit

Export PDF

Tidak ada seorang pun di dunia yang pernah melihat langit.

Sejak lahir, semua manusia hanya mengenal hamparan abu-abu yang membentang di atas kepala mereka. Tidak ada matahari yang bersinar, tidak ada bulan yang menemani malam, dan tidak ada bintang yang berkelip.

Orang-orang hidup dengan cahaya dari batu kristal yang ditemukan di dalam tanah. Cahaya itu cukup untuk menerangi rumah, jalan, bahkan ladang. Karena telah berlangsung selama ratusan tahun, semua orang menganggap itulah keadaan dunia yang sebenarnya.

Hanya ada satu cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Konon, dahulu langit memiliki warna. Matahari menghangatkan bumi, hujan turun dari awan, dan malam dihiasi jutaan bintang. Namun ketika makhluk-makhluk kegelapan mencoba mencuri cahaya dunia, para penyihir agung memisahkan langit dari bumi dan menyembunyikannya di sebuah tempat yang disebut Kota Aether.

Tak seorang pun percaya kisah itu benar.

Kecuali Kirana.

Sejak kecil ia gemar mengumpulkan buku-buku tua yang dianggap tidak berguna oleh orang lain. Ia selalu penasaran mengapa semua gambar dalam buku kuno memiliki warna biru di bagian atas.

Suatu hari, saat membantu membersihkan gudang perpustakaan desa, Kirana menemukan sebuah kotak kayu yang terkunci rapat. Setelah berusaha membukanya, ia menemukan gulungan peta yang sudah menguning.

Di bagian bawah peta tertulis kalimat pendek.

"Jika dunia kehilangan harapan, carilah kota yang menyimpan langit."

Malam itu juga, Kirana memutuskan mengikuti petunjuk peta.

Perjalanan membawanya melewati Hutan Batu, tempat pepohonan telah berubah menjadi kristal, hingga akhirnya ia tiba di sebuah jurang yang sangat luas. Di tengah jurang berdiri sebuah jembatan yang tampak melayang di udara.

Begitu Kirana menginjak jembatan itu, cahaya biru muncul dari sela-sela batu.

Di ujung jembatan berdiri seorang pemuda berpakaian putih.

"Akhirnya ada manusia yang datang," katanya.

Namanya Arkan.

Ia adalah Penjaga Langit terakhir.

"Kota Aether masih ada?"

Kirana bertanya penuh harap.

Arkan mengangguk.

"Masih. Tapi tidak semua orang boleh masuk."

"Kenapa?"

"Karena sekali langit dilepaskan, dunia tidak akan pernah bisa kembali seperti sebelumnya."

Mereka berjalan memasuki gerbang raksasa yang tersembunyi di balik air terjun cahaya.

Kirana terdiam.

Di hadapannya berdiri kota paling indah yang pernah ia bayangkan.

Bangunan-bangunan melayang di udara.

Jalan-jalan terbuat dari kaca bening.

Air mengalir ke atas seperti terbalik.

Di atas kota terdapat bola cahaya raksasa yang berisi matahari, bulan, awan, dan jutaan bintang.

Semua langit dunia ternyata disimpan di sana.

"Indah sekali..." bisik Kirana.

Tiba-tiba terdengar suara kecil dari balik semak.

Seekor naga mungil berwarna biru keluar sambil menguap.

"Aku Lumen."

"Penjaga bintang."

Sejak saat itu Lumen mengikuti mereka ke mana pun pergi.

Namun kedatangan Kirana ternyata membangunkan sesuatu.

Di ruang terdalam kota, segel kuno mulai retak.

Dari balik kegelapan muncul sosok bernama Umbra.

Tubuhnya seperti bayangan yang terus berubah bentuk.

"Akhirnya..."

"Aku bebas."

Umbra dahulu adalah roh yang mencoba menguasai langit.

Ia dikalahkan para penjaga dan dikurung bersama Kota Aether.

Kini, karena gerbang kota telah dibuka, kekuatannya perlahan kembali.

"Serahkan langit itu."

"Dunia tidak pantas memilikinya."

Arkan segera menghunus pedang cahaya.

Pertarungan pun terjadi.

Umbra terlalu kuat.

Setiap serangannya mengubah cahaya menjadi bayangan.

Bangunan mulai runtuh.

Bintang-bintang jatuh dari bola langit.

Lumen mencoba menyemburkan api biru, tetapi hanya mampu menghalangi Umbra sesaat.

Kirana merasa dirinya tidak memiliki kekuatan apa pun.

Ia hanya gadis biasa.

Saat itulah ia melihat sebuah lukisan tua di dinding istana.

Lukisan itu menggambarkan para penjaga langit yang saling menggenggam tangan membentuk lingkaran.

Di bawahnya tertulis:

"Langit bukan dijaga oleh kekuatan, melainkan oleh hati yang bersatu."

Kirana segera berlari menghampiri Arkan dan Lumen.

"Genggam tanganku!"

Mereka bertiga saling menggenggam.

Cahaya lembut muncul dari telapak tangan mereka.

Semakin mereka saling percaya, cahaya itu semakin besar.

Umbra mencoba menyerang.

Namun cahaya tersebut berubah menjadi ribuan burung putih yang memenuhi langit.

Burung-burung itu membawa kembali setiap bintang yang telah jatuh.

Matahari kembali bersinar.

Bulan kembali bercahaya.

Umbra perlahan memudar.

Sebelum menghilang, ia berkata pelan,

"Selama manusia masih saling percaya... kegelapan memang tak akan pernah menang."

Kota Aether kembali tenang.

Kini tibalah saat menentukan pilihan.

Apakah langit tetap disimpan, atau dikembalikan kepada dunia?

Arkan memandang Kirana.

"Keputusan ini milik manusia."

Kirana menatap bola langit yang berkilauan.

Ia membayangkan anak-anak yang belum pernah melihat pelangi.

Petani yang tidak mengenal hujan.

Laut yang tak pernah memantulkan matahari.

"Aku ingin semua orang melihat betapa indahnya langit."

Ia meletakkan tangannya pada bola cahaya.

Perlahan, bola itu terangkat tinggi.

Retakan muncul di kubah abu-abu yang selama ini menutupi dunia.

Cahaya keemasan menembus celah-celahnya.

Untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun, manusia melihat matahari terbit.

Langit berubah biru.

Awan putih bergerak perlahan.

Burung-burung beterbangan dengan bebas.

Malam harinya, seluruh dunia keluar dari rumah masing-masing hanya untuk memandang bintang.

Banyak yang menangis.

Banyak yang tersenyum.

Anak-anak menunjuk bulan dengan wajah penuh takjub.

Kirana kembali ke desanya.

Tidak ada yang tahu bahwa dialah penyebab langit kembali.

Ia tidak membutuhkan pujian.

Baginya, melihat orang-orang tersenyum saat memandang langit sudah lebih dari cukup.

Sejak hari itu, setiap kali matahari terbit dan bintang-bintang muncul di malam hari, orang-orang selalu mengingat sebuah pesan lama yang kini menjadi kenyataan:

Keajaiban tidak pernah benar-benar hilang. Terkadang, ia hanya menunggu seseorang yang cukup berani untuk mencarinya.