← Kembali ke Detail

Kota yang tersembunyi di awan

Export PDF

Setiap sore, Bima duduk di tebing belakang panti asuhan sambil memegang layang-layang usang berwarna biru pudar satu-satunya barang peninggalan ayahnya yang tidak pernah ia kenal. Layang-layang itu terbuat dari bambu tipis dan kain sutra yang sudah robek di beberapa bagian, namun Bima selalu merawatnya seperti harta karun.

"Kenapa kau selalu membawa benda tua itu?" tanya Wulan, teman sekamarnya, suatu sore.

"Karena ini satu-satunya hal yang kupunya dari ayah," jawab Bima pelan sambil mengelus bilah bambunya.

Sore itu angin bertiup sangat kencang, lebih kencang dari biasanya. Bima memutuskan untuk menerbangkan layang-layangnya seperti biasa. Namun begitu benang di tangannya mulai terulur, sesuatu yang aneh terjadi, layang-layang itu tidak berhenti naik. Ia terus melesat semakin tinggi, menembus awan, menyeret Bima yang berpegangan erat pada gulungan benangnya.

"Wo whoaaa!" teriak Bima ketika kakinya terangkat dari tanah.

Dalam sekejap, ia sudah melayang tinggi di atas awan, dengan pemandangan lautan awan putih terbentang seperti kapas raksasa di bawahnya. Di kejauhan, ia melihat sesuatu yang membuatnya terpana yaitu sebuah kota yang mengambang di antara gumpalan awan, dengan menara-menara berwarna keemasan dan jembatan-jembatan yang melengkung anggun di udara.

Layang-layang itu menariknya perlahan mendarat di gerbang kota tersebut. Sebuah papan besar bertuliskan "SELAMAT DATANG DI NIRWALA, KOTA PARA PEMIMPI" tergantung di atas gerbang berukir awan.

Seorang pria tua berjenggot panjang, mengenakan jubah yang berkilau seperti embun pagi, mendekatinya.

"Kau membawa Layang-layang Penjelajah," ucap pria itu sambil menatap Bima penuh selidik. "Sudah lama sekali benda itu tidak muncul di sini."

"Layang-layang Penjelajah? Ini cuma layang-layang biasa peninggalan ayahku," jawab Bima bingung.

Pria tua itu tersenyum. "Tidak ada yang 'biasa' tentang benda ini, Nak. Hanya Penjelajah Awan sejati yang bisa mewariskan layang-layang ini dan hanya keturunannya yang bisa menerbangkannya ke Nirwala. Siapa namamu?"

"Bima."

"Aku Kakek Rengga, penjaga Kota Nirwala." Ia menghela napas berat. "Kau datang di waktu yang tidak tepat, Bima. Badai Pelupa sedang mendekat."

"Badai Pelupa?"

Kakek Rengga menunjuk ke arah cakrawala, di mana awan-awan gelap berputar membentuk pusaran raksasa, perlahan bergerak mendekati kota. "Nirwala adalah kota yang dibangun dari ingatan-ingatan indah para pemimpi di dunia bawah. Kenangan masa kecil, harapan, dan impian yang terlupakan namun tak pernah benar-benar hilang. Tapi setiap seratus tahun, Badai Pelupa datang untuk menghapus semuanya, mengembalikan kota ini menjadi kekosongan."

"Kenapa badai itu ingin menghapus kota ini?"

"Karena begitulah sifat alam pelupa manusia," jawab Kakek Rengga sedih. "Semua yang diingat, pada akhirnya, berjuang melawan waktu yang ingin melupakannya."

Bima menatap kota indah di sekelilingnya, anak-anak bermain di taman awan, orang dewasa tertawa di kedai-kedai kecil, semuanya tampak begitu hidup dan nyata. "Apa yang bisa kulakukan untuk membantu?"

Kakek Rengga menatapnya penuh harap. "Di jantung kota ini, ada Menara Kenangan Abadi, tempat tersimpannya Kristal Ingatan Pertama. Kenangan paling murni yang pernah ada, milik penjelajah awan pertama yang membangun kota ini. Jika kristal itu dinyalakan sebelum badai tiba, cahayanya akan melindungi seluruh kota dari lupa. Tapi hanya keturunan penjelajah awan yang bisa menyalakannya."

"Dan ayahku..."

"Ayahmu adalah penjelajah awan terakhir yang pernah datang kemari, dua puluh tahun lalu," kata Kakek Rengga. "Ia pergi untuk mencari cara menyelamatkan kota ini secara permanen, namun tak pernah kembali."

Hati Bima berdegup kencang. Selama ini ia mengira ayahnya hanya pergi entah ke mana, meninggalkannya sendirian. Ternyata ada alasan di balik semuanya.

"Bawa aku ke menara itu," kata Bima mantap. "Aku akan menyalakan kristal itu."

Mereka bergegas menyusuri jalanan kota yang mulai diselimuti kabut aneh yang merupakan tanda-tanda awal Badai Pelupa. Di sepanjang jalan, Bima melihat beberapa warga kota mulai tampak transparan, seperti perlahan menghilang.

"Cepat, Bima!" seru Kakek Rengga. "Warga yang menghilang berarti kenangan asal mereka mulai dilupakan oleh pemiliknya di dunia bawah!"

Mereka tiba di Menara Kenangan Abadi, sebuah menara tinggi berlapis kristal bening yang memancarkan cahaya lembut kebiruan. Di puncaknya, sebuah kristal besar berbentuk tetesan air tergantung di udara, berkedip lemah seperti detak jantung yang melemah.

Bima menaiki tangga spiral menuju puncak menara, napasnya terengah-engah. Ketika ia mencapai kristal itu, ia meletakkan kedua tangannya di permukaannya yang dingin.

Tiba-tiba, kenangan-kenangan mengalir ke dalam pikirannya bukan kenangannya sendiri, melainkan kenangan ayahnya. Ia melihat sosok pria muda menerbangkan layang-layang yang sama, tersenyum bahagia di Kota Nirwala, lalu wajah pria itu berubah sedih saat mengetahui istrinya di dunia bawah baru saja melahirkan seorang anak laki-laki.

"Aku harus kembali," suara ayahnya bergema dalam kenangan itu, "tapi jika aku tidak menemukan cara menyelamatkan kota ini, generasi berikutnya yang harus melakukannya."

Air mata mengalir di pipi Bima. "Ayah... kau meninggalkanku untuk menyelamatkan kota ini."

Dari bawah menara, Kakek Rengga berteriak, "Badai sudah semakin dekat, Bima! Cepat nyalakan kristalnya!"

Bima menutup mata, mengingat semua kenangan indahnya sendiri. Hari-hari bermain layang-layang, tawa teman-temannya di panti asuhan, kehangatan yang selalu ia rasakan meski tanpa orang tua. Ia membiarkan semua kenangan itu mengalir ke dalam kristal.

"Aku tidak akan biarkan kota ini dilupakan," bisiknya. "Karena kota ini adalah bagian dari ayahku, dan ayahku adalah bagian dariku."

Kristal itu bersinar terang, memancarkan gelombang cahaya keemasan yang menyebar ke seluruh kota. Badai Pelupa yang mendekat perlahan melemah, awan gelapnya terurai menjadi kabut tipis yang lenyap ditiup angin.

Warga kota yang tadinya mulai transparan kembali terlihat utuh, tertawa lega. Kakek Rengga menatap Bima dengan mata berbinar bangga.

"Kau berhasil, Nak. Sama seperti ayahmu, kau memiliki hati seorang penjelajah sejati."

"Apakah kota ini akan aman selamanya sekarang?" tanya Bima.

"Untuk seratus tahun ke depan, ya," jawab Kakek Rengga. "Tapi kau selalu boleh kembali kapan pun kau mau, Bima. Layang-layang itu akan selalu membawamu ke sini."

Bima memandang layang-layang biru pudar di tangannya, yang kini terasa jauh lebih berarti dari sekadar peninggalan. Itu adalah jembatan antara dirinya dan ayah yang tak pernah sempat ia kenal, namun kini terasa begitu dekat.

Ketika Bima kembali menembus awan menuju tebing panti asuhan, matahari mulai terbenam, memberi warna jingga keemasan di langit. Wulan berlari menghampirinya, panik.

"Bima! Dari mana saja kau? Kau menghilang berjam-jam!"

Bima hanya tersenyum, menatap layang-layangnya sekali lagi sebelum menyimpannya erat-erat. "Aku baru saja bertemu ayahku," katanya pelan, "meski hanya lewat kenangan."

Sejak hari itu, setiap kali angin bertiup kencang di sore hari, Bima akan tersenyum, karena ia tahu di suatu tempat di atas awan, Kota Nirwala terus bersinar dan dijaga oleh kenangan-kenangan yang tak pernah benar-benar hilang.