Langit Biru di Bulan Juni
Export PDFHari pertama bulan Juni dimulai dengan langit yang sangat cerah.
Nanda berdiri di depan gerbang SMA Pelita Bangsa sambil memegang kamera kecilnya.
Ia suka memotret langit.
Menurutnya, langit selalu punya cara untuk membuat seseorang merasa tenang.
Bel masuk berbunyi.
Siswa-siswi bergegas menuju kelas masing-masing.
Di dalam kelas, wali kelas memperkenalkan seorang murid baru.
Namanya Dira.
Perempuan itu berdiri di depan kelas dengan wajah tenang dan senyum yang tipis.
"Halo, aku Dira. Senang bertemu dengan kalian."
Setelah memperkenalkan diri, ia duduk di bangku kosong di dekat jendela.
Sejak hari itu, Nanda sering melihat Dira sendirian.
Ia makan sendiri di kantin.
Duduk sendiri di perpustakaan.
Bahkan pulang sendiri.
Suatu sore, Nanda memberanikan diri menghampirinya.
"Kamu suka langit?"
Dira menoleh.
"Apa?"
Nanda menunjukkan foto-foto di kameranya.
"Aku sering memotret langit. Kalau kamu suka, kita bisa lihat matahari terbenam dari lapangan sekolah."
Dira tersenyum kecil.
"Baiklah."
Sore itu menjadi awal persahabatan mereka.
Mereka mulai sering berbincang.
Tentang pelajaran.
Tentang film favorit.
Tentang impian setelah lulus.
Namun ada satu hal yang tidak pernah diceritakan Dira.
Tentang kakaknya.
Suatu hari, ketika mereka sedang duduk di lapangan, Dira tiba-tiba berkata pelan.
"Kakakku meninggal tahun lalu."
Nanda terdiam.
"Itu sebabnya aku pindah sekolah."
Angin sore bertiup pelan.
"Aku masih sering merasa kehilangan," lanjut Dira.
Nanda tidak tahu harus menjawab apa.
Akhirnya ia hanya berkata,
"Kalau suatu hari kamu ingin bercerita, aku akan mendengarkan."
Sejak saat itu, Dira mulai lebih terbuka.
Ia bercerita tentang kakaknya yang sangat menyukai musik.
Tentang kenangan-kenangan kecil yang masih ia simpan.
Dan tentang rasa bersalah karena belum sempat mengucapkan selamat tinggal.
Hari-hari berlalu.
Masa kelulusan semakin dekat.
Nanda dan teman-temannya membuat daftar hal yang ingin dilakukan sebelum lulus.
Mereka menonton matahari terbit.
Makan bersama di kantin untuk terakhir kalinya.
Dan menulis surat untuk diri mereka di masa depan.
Tak terasa, hari perpisahan tiba.
Semua siswa mengenakan seragam putih abu-abu untuk terakhir kalinya.
Suasana sekolah dipenuhi tawa dan air mata.
Sebelum pulang, Nanda mengajak Dira ke lapangan.
Langit sore terlihat sangat biru.
Dira tersenyum.
"Aku rasa aku mulai menyukai bulan Juni."
"Kenapa?" tanya Nanda.
"Karena di bulan ini, aku belajar bahwa kehilangan tidak berarti kita harus berhenti bahagia."
Nanda ikut tersenyum.
Mereka memandang langit bersama.
Mungkin masa putih abu-abu akan segera berakhir.
Mungkin mereka akan berjalan menuju jalan yang berbeda.
Namun kenangan tentang persahabatan, tawa, dan langit biru di bulan Juni akan selalu tinggal di hati mereka.
Karena beberapa pertemuan hadir untuk mengubah hidup seseorang.
Dan terkadang, perubahan itu dimulai dari hal sederhana, seperti memandang langit bersama di penghujung masa remaja.