Lembar Terakhir Sebelum Dewasa
Export PDF"Menurut kalian, kapan seseorang benar-benar menjadi dewasa?"
Pertanyaan itu muncul begitu saja dari Maya saat mereka duduk di kantin kampus pada suatu sore.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Fajar sibuk mengaduk kopi yang sudah dingin.
Nisa menatap langit yang mulai berubah jingga.
Sementara Rendra hanya tertawa kecil.
"Mungkin waktu kita lulus."
"Terlalu sederhana," sahut Maya.
"Lalu?"
"Kalau menurutku, kita dewasa ketika mulai sadar hidup nggak selalu berjalan sesuai rencana."
Tak ada yang membantah.
Mereka hanya diam.
Karena diam-diam, masing-masing sedang menghadapi kenyataan itu.
Mereka berteman sejak semester pertama.
Empat orang dengan kehidupan yang sangat berbeda.
Rendra berasal dari keluarga sederhana di Magelang. Ia bekerja paruh waktu sebagai penjaga perpustakaan agar tidak membebani orang tuanya.
Maya adalah mahasiswi berprestasi yang selalu terlihat percaya diri. Tidak banyak yang tahu bahwa ia menyimpan kecemasan berlebih terhadap masa depannya.
Fajar dikenal paling santai. Hampir semua orang menganggap hidupnya mudah karena berasal dari keluarga mampu. Padahal ia sedang berjuang keluar dari bayang-bayang ayahnya yang selalu menuntut kesempurnaan.
Sedangkan Nisa adalah mahasiswa rantau yang setiap malam menelepon ibunya di kampung hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
Mereka berbeda.
Namun justru karena itulah mereka saling melengkapi.
Semester delapan datang lebih cepat dari yang mereka kira.
Kampus yang dulu terasa begitu luas kini dipenuhi mahasiswa tingkat akhir yang berjalan dengan wajah lelah.
Di perpustakaan, antrean bimbingan skripsi menjadi pemandangan biasa.
Di grup WhatsApp kelas, pertanyaan yang paling sering muncul bukan lagi tentang jadwal kuliah, melainkan,
"Dosen pembimbing lagi di kampus nggak?"
Rendra menjadi orang pertama yang mulai tertinggal.
Skripsi yang ia kerjakan terpaksa berhenti selama dua bulan.
Ibunya jatuh sakit.
Ia harus pulang pergi antara kota tempat kuliah dan kampung halamannya.
Suatu malam, Maya menemukannya tertidur di meja perpustakaan.
"Kamu belum pulang?"
Rendra membuka mata perlahan.
"Nunggu revisi."
"Kapan terakhir tidur yang benar?"
Rendra hanya tersenyum.
"Udah lupa."
Di sisi lain, Maya mengalami masalah yang berbeda.
Semua orang menganggap ia akan lulus paling cepat.
Padahal setiap malam ia mengalami serangan cemas.
Ia takut gagal.
Takut mengecewakan orang tua.
Takut tidak diterima bekerja.
Takut masa depannya tidak sebaik yang dibayangkan.
Namun setiap pagi ia tetap datang ke kampus dengan senyum yang sama.
Karena ia sudah terbiasa terlihat baik-baik saja.
Fajar mulai sering bertengkar dengan ayahnya.
"Setelah lulus kamu langsung masuk perusahaan."
"Aku mau lanjut S2."
"Itu bukan pilihan."
"Ini hidupku."
"Selama kamu masih anak ayah, hidupmu juga tanggung jawab ayah."
Percakapan itu berakhir dengan pintu yang dibanting.
Fajar tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun.
Sampai suatu malam ia akhirnya berkata kepada Rendra,
"Aku capek hidup sesuai harapan orang lain."
Nisa menghadapi kenyataan yang paling sunyi.
Ayahnya kehilangan pekerjaan.
Kiriman uang semakin sedikit.
Ia mulai mengajar les setiap sore.
Menjual makanan kecil di kampus.
Menghemat uang makan.
Namun ia tidak pernah ingin teman-temannya tahu.
Suatu hari Maya tanpa sengaja melihat Nisa sedang menawarkan kue kepada mahasiswa lain.
"Nis..."
Nisa tersenyum canggung.
"Jangan bilang siapa-siapa ya."
Maya memeluknya.
"Kenapa harus malu?"
"Aku nggak mau dikasihani."
Hari-hari berlalu dengan ritme yang sama.
Revisi.
Seminar proposal.
Sidang.
Lamaran kerja.
Penolakan.
Harapan.
Kecewa.
Lalu mencoba lagi.
Mereka mulai sadar bahwa menjadi mahasiswa tingkat akhir bukan sekadar menyelesaikan skripsi.
Tetapi juga belajar menghadapi kenyataan.
Suatu pagi, dosen pembimbing Rendra berkata,
"Kamu tahu kenapa saya banyak revisi?"
"Karena skripsi saya jelek?"
Dosen itu tersenyum.
"Bukan."
"Lalu?"
"Karena saya tahu kamu mampu lebih baik."
Kalimat sederhana itu membuat Rendra kembali bersemangat.
Kadang seseorang hanya membutuhkan satu orang yang percaya padanya.
Beberapa minggu kemudian, kabar buruk datang.
Nenek Maya meninggal dunia.
Maya tetap mengikuti seminar hasil sehari setelah pemakaman.
Presentasinya berjalan lancar.
Semua orang memujinya.
Tidak ada yang tahu bahwa malam sebelumnya ia hampir membatalkan semuanya karena tidak sanggup menahan sedih.
Setelah seminar selesai, ia duduk sendirian di taman kampus.
Rendra datang membawa dua gelas teh hangat.
"Kamu hebat."
Maya menggeleng.
"Aku cuma bertahan."
"Itu juga hebat."
Bulan berikutnya.
Fajar akhirnya berbicara jujur kepada ayahnya.
"Ayah selalu minta aku jadi seperti Ayah."
"Karena Ayah ingin kamu berhasil."
"Tapi Ayah nggak pernah tanya, berhasil menurutku itu seperti apa."
Keheningan memenuhi ruang tamu.
Untuk pertama kalinya, ayahnya tidak membalas.
Beberapa hari kemudian, sang ayah menghampiri Fajar.
"Kalau itu benar-benar impianmu, lanjutkan S2."
Fajar memeluk ayahnya.
Hubungan mereka belum sempurna.
Tetapi mulai membaik.
Nisa menjadi orang terakhir yang sidang.
Sehari sebelum sidang, ibunya menelepon.
"Nisa."
"Iya, Bu."
"Maaf ya, Ibu belum bisa datang."
"Nggak apa-apa."
"Yang penting kamu lulus."
Nisa menutup telepon sambil menangis.
Ia ingin sekali melihat ibunya duduk di ruang sidang.
Namun ia tahu keadaan ekonomi keluarga belum memungkinkan.
Hari kelulusan akhirnya tiba.
Empat sahabat itu kembali duduk di kantin yang sama.
Tempat semuanya pernah dimulai.
Kini meja mereka dipenuhi toga, bunga, dan tawa.
Mereka mengenang malam-malam begadang mengerjakan tugas, presentasi yang berantakan, dosen yang galak, dan kantin yang menjadi saksi ratusan percakapan.
"Kita lulus," kata Fajar pelan.
"Iya."
"Tapi kok rasanya sedih?"
Karena mereka tahu, setelah hari itu, hidup tidak lagi sama.
Sebulan kemudian.
Rendra diterima bekerja di sebuah perusahaan kecil sambil tetap merawat ibunya.
Maya gagal pada tiga wawancara kerja pertamanya, tetapi akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai penulis konten di sebuah perusahaan media.
Fajar berangkat melanjutkan studi ke luar negeri dengan restu ayahnya.
Nisa diterima sebagai guru honorer di kota asalnya sambil membantu ekonomi keluarga.
Mereka tidak lagi bertemu setiap hari.
Grup percakapan mulai sepi.
Kesibukan mengambil alih.
Namun setiap akhir bulan, mereka selalu menyempatkan panggilan video bersama.
Tidak pernah lama.
Kadang hanya lima belas menit.
Namun cukup untuk saling mengingatkan bahwa mereka masih memiliki tempat untuk berbagi.
Lima tahun kemudian.
Mereka kembali ke kampus sebagai alumni.
Gedung-gedung baru berdiri.
Kantin lama direnovasi.
Beberapa dosen telah pensiun.
Namun bangku di bawah pohon tempat mereka dulu sering belajar masih ada.
Mereka duduk di sana.
Persis seperti dahulu.
Maya tersenyum.
"Ingat pertanyaan waktu itu?"
"Yang mana?" tanya Rendra.
"Kapan seseorang benar-benar dewasa."
Semua saling memandang.
Fajar tertawa kecil.
"Aku rasa..."
Ia berhenti sejenak.
"...nggak ada hari khusus."
Nisa mengangguk.
"Dewasa itu ternyata proses."
"Setiap kali kita gagal lalu mencoba lagi."
"Setiap kali kita kehilangan lalu belajar menerima."
"Setiap kali kita takut tapi tetap melangkah."
Mereka memandang kampus yang kini dipenuhi mahasiswa baru.
Anak-anak muda yang mungkin sedang berada di halaman pertama cerita mereka sendiri.
Rendra mengeluarkan map lusuh dari tasnya.
Map itu berisi skripsinya.
Halaman terakhir sudah mulai menguning.
Ia membukanya perlahan.
Di pojok halaman terakhir, masih ada tanda tangan dosen pembimbing.
Ia tersenyum.
Dulu ia mengira lembar terakhir skripsi adalah penutup perjalanan.
Kini ia tahu, itu hanyalah halaman pembuka bagi kehidupan yang sesungguhnya.
Mereka berdiri, berjalan meninggalkan kampus dengan langkah yang lebih tenang daripada lima tahun lalu.
Tidak semua impian mereka terwujud sesuai rencana.
Tidak semua jalan terasa mudah.
Namun mereka telah belajar bahwa menjadi dewasa bukan berarti berhenti merasa takut.
Menjadi dewasa adalah tetap berjalan, bahkan ketika tidak ada yang bisa memastikan apa yang menunggu di depan.
Dan mungkin, setiap orang memiliki "lembar terakhir" yang berbeda.
Ada yang menulisnya saat lulus kuliah.
Ada yang menulisnya ketika kehilangan seseorang.
Ada yang menulisnya saat pertama kali gagal.
Apa pun bentuknya, setiap lembar terakhir selalu mengajarkan satu hal yang sama: kehidupan tidak pernah meminta kita menjadi sempurna.
Ia hanya meminta kita untuk terus bertumbuh.
Sementara senja perlahan menyelimuti kampus, empat sahabat itu melangkah menuju jalan masing-masing.
Mereka tidak lagi takut meninggalkan masa muda.
Karena mereka tahu, apa pun yang menanti di depan, mereka telah membawa bekal paling berharga: keberanian untuk menghadapi kehidupan, satu hari demi satu hari.