← Kembali ke Detail

Melodi dari Dasar Jam Dinding

Export PDF

Bagi Milo, hidup diukur dari setiap detak tik-tok yang bergema di sepanjang dinding logam tempat tinggalnya. Dunia Chronos adalah labirin yang rumit, penuh dengan roda gigi yang berputar, pipa uap yang berdesis, dan jembatan yang terbuat dari jarum jam bekas. Sebagai montir junior, Milo selalu membawa obeng besar di punggungnya dan sebotol minyak pelumas di pinggangnya.

"Milo! Cepat periksa poros utama di Sektor Enam! Ritme detak jantung kota kita agak aneh pagi ini," teriak Pak Arlo, mentor Milo yang berjalan menggunakan kaki buatan dari pegas.

Milo mendengarkan dengan saksama. Benar saja, suara tik-tok yang biasanya terdengar konstan dan bertenaga, kini terdengar lemah dan tersendat-sendat. Tik... tok... tik...... tok... Ada jeda yang terlalu lama di sana.

"Saya akan langsung ke sana, Pak!" jawab Milo seraya melompat ke atas sebuah sabuk konveyor yang bergerak menuju bagian dalam jam dinding.

Semakin masuk ke dalam, suasana semakin gelap dan bising. Suhu udara juga meningkat karena gesekan antar logam. Ketika Milo tiba di Sektor Enam, tempat roda gigi terbesar yang menggerakkan seluruh sistem berada, dia terkejut melihat apa yang terjadi. Roda gigi raksasa setinggi rumah itu berputar dengan sangat lambat, mengeluarkan suara berderit yang memekakkan telinga.

Di tengah-tengah pertemuan dua roda gigi utama, ada sebutir kristal bercahaya kuning keemasan yang terjepit. Kristal itu sekecil kelereng bagi manusia, tetapi bagi ukuran tubuh Milo, itu seperti batu besar yang menyumbat saluran air.

"Apa itu? Itu bukan bagian dari mesin kita," gumam Milo.

"Itu adalah Pasir Waktu yang tersesat dari dunia luar," sebuah suara merdu terdengar dari balik bayangan roda gigi.

Milo terkejut dan langsung menggenggam obengnya seperti pedang. "Siapa di sana? Tunjukkan dirimu!"

Dari balik uap panas, muncul sesosok makhluk kecil yang anggun. Sayapnya transparan seperti sayap capung, namun terbuat dari untaian dawai gitar yang halus. Badannya memancarkan cahaya biru lembut.

"Namaku Lyra. Aku adalah peri melodi yang bertugas menghasilkan suara dentang jam setiap jamnya," kata makhluk itu sambil membungkuk kecil. "Pasir itu jatuh dari kantong pemilik rumah saat dia sedang membersihkan bagian luar jam ini. Jika kita tidak mengeluarkannya sebelum jarum panjang menyentuh angka dua belas, roda gigi ini akan patah, dan waktu di dunia ini akan berhenti selamanya."

Milo melihat ke arah jendela kaca kecil yang menghadap ke dunia luar. Jarum panjang jam sudah berada di angka sebelas lewat lima puluh lima menit. Mereka hanya punya waktu lima menit sebelum bencana terjadi.

"Bagaimana cara menghancurkannya? Logam terbaik kita saja tidak akan kuat menahan tekanan jika roda gigi ini patah," tanya Milo panik.

"Pasir Waktu tidak bisa dihancurkan dengan kekuatan fisik, Milo. Dia hanya bisa dicairkan dengan getaran frekuensi tinggi atau musik yang selaras dengan frekuensi alam," jelas Lyra.

Milo berpikir keras. Dia melihat obengnya, lalu melihat pipa-pipa uap di sekelilingnya. "Lyra, jika aku membuka katup uap di pipa-pipa ini secara berurutan, mereka akan mengeluarkan suara siulan dengan nada yang berbeda. Bisakah kau menyanyikan melodi yang selaras dengan siulan itu?"

Lyra matanya berbinar. "Itu ide yang jenius! Mari kita coba!"

Milo segera berlari melompati pipa-pipa uap yang panas. Dengan cekatan, dia memutar katup pertama. Wuuuush! Suara siulan tinggi terdengar. Dia melompat lagi ke katup kedua, menghasilkan nada yang lebih rendah. Milo bergerak seperti penari di atas mesin-mesin yang bergerak berbahaya, membuka dan menutup katup hingga menciptakan sebuah ritme musik mekanis yang megah.

Lyra terbang tinggi di depan kristal emas tersebut. Dia mulai bernyanyi, memadukan suara indahnya dengan melodi pipa uap milik Milo. Gelombang suara yang kasat mata mulai terbentuk di udara, berwarna biru dan emas, berputar mengelilingi kristal penyumbat tersebut.

Satu menit terakhir sebelum angka dua belas.

Kristal emas itu mulai bergetar hebat. Retakan-retakan kecil muncul di permukaannya. Suara derit roda gigi semakin keras, seolah mesin itu berteriak kesakitan menahan beban.

"Sedikit lagi, Milo! Buka katup utamanya!" teriak Lyra di sela-sela nyanyiannya.

Milo mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik tuas besar di ujung ruangan. Katup utama terbuka, mengeluarkan uap raksasa yang menghasilkan nada bass yang sangat kuat. getaran di ruangan itu menjadi sangat hebat hingga obeng di punggung Milo bergetar.

PRANG!

Kristal emas itu akhirnya hancur berkeping-keping, berubah menjadi debu halus yang langsung terbang terbawa angin uap. Begitu sumbatan hilang, roda gigi raksasa itu langsung berputar dengan lancar dan cepat.

DENGANNGGG!

Suara dentang jam angka dua belas bergema dengan sangat merdu dan lantang ke seluruh penjuru rumah, menandakan bahwa waktu telah terselamatkan. Milo terduduk di lantai besi sambil terengah-engah, namun senyum lebar menghiasi wajahnya. Lyra terbang mendekat dan mendarat di atas lutut Milo.

"Kita berhasil, Montir Muda," ucap Lyra lembut.

Milo mengangguk seraya menyeka keringat di dahinya. "Ya, kita berhasil. Kerja sama yang bagus, Peri Melodi."

Sejak hari itu, dunia Chronos kembali berjalan normal. Namun ada yang berbeda di Sektor Enam. Setiap kali jam berdetak, selalu ada harmoni siulan uap kecil dan nyanyian peri yang mengiringinya, sebuah pengingat bahwa detak waktu yang paling indah adalah detak yang dijaga dengan kerja keras dan persahabatan.