← Kembali ke Detail

Pelangi Setelah Jam Pulang

Export PDF

Bel sekolah berbunyi panjang.

Siswa-siswi SMA Mandala berhamburan keluar dari kelas.

Sebagian menuju kantin, sebagian lagi berkumpul di lapangan.

Di tengah keramaian itu, Cakra berjalan pelan sambil membawa tasnya.

Hari itu adalah hari pertamanya di sekolah baru.

Ia tidak mengenal siapa pun.

"Hei, kamu murid baru, ya?"

Cakra menoleh.

Seorang perempuan berdiri di depannya sambil membawa beberapa kuas dan buku gambar.

Namanya Aurel.

Cakra mengangguk pelan.

"Ayo, aku antar ke ruang guru. Kamu kelihatan bingung."

Sejak saat itu, mereka mulai sering bertemu.

Aurel ternyata anggota klub seni dan hampir setiap sore menghabiskan waktunya di ruang lukis.

Suatu hari, ia mengajak Cakra ikut menemaninya.

"Aku nggak bisa menggambar," kata Cakra.

"Nggak apa-apa. Di sini nggak ada yang dinilai."

Kalimat sederhana itu membuat Cakra tersenyum.

Hari demi hari berlalu.

Cakra mulai mengenal teman-teman baru.

Ada Rian yang suka bermain gitar, Nisa yang hobi membaca novel, dan Dito yang selalu membawa kamera ke mana pun ia pergi.

Untuk pertama kalinya sejak pindah, Cakra merasa tidak sendirian.

Suatu sore, hujan turun deras.

Mereka terjebak di sekolah karena belum ada yang dijemput.

Akhirnya, mereka duduk di teras kelas sambil bercerita.

"Apa impian kalian?" tanya Aurel.

"Aku ingin menjadi fotografer," jawab Dito.

"Aku ingin menulis buku," kata Nisa.

Semua mata kemudian tertuju kepada Cakra.

Ia terdiam.

Sudah lama ia tidak memikirkan impiannya sendiri.

"Aku... belum tahu."

Tidak ada yang tertawa.

Aurel justru tersenyum.

"Nggak apa-apa. Kadang kita memang butuh waktu untuk menemukan tujuan."

Sejak hari itu, mereka membuat sebuah tradisi.

Setiap jam pulang sekolah, mereka berkumpul di taman belakang dan saling menceritakan hal-hal yang terjadi hari itu.

Mereka tertawa bersama.

Belajar bersama.

Bahkan saling menghibur ketika salah satu dari mereka sedang sedih.

Namun waktu berjalan begitu cepat.

Tak terasa, ujian akhir semakin dekat.

Mereka mulai sibuk mempersiapkan masa depan masing-masing.

Suatu hari, Aurel mengumumkan bahwa ia diterima di sekolah seni di luar kota.

Semua ikut bahagia.

Namun di saat yang sama, mereka sadar bahwa perpisahan sudah semakin dekat.

Hari kelulusan pun tiba.

Langit sore dihiasi pelangi setelah hujan.

Mereka berkumpul di taman belakang sekolah untuk terakhir kalinya.

Dito mengambil foto bersama.

Rian memainkan gitar pelan.

Aurel mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas.

"Itu apa?" tanya Cakra.

"Surat untuk diri kita di masa depan."

Mereka menulis harapan dan mimpi masing-masing.

Kemudian surat-surat itu dimasukkan kembali ke dalam kotak.

"Suatu hari nanti, kita harus membacanya lagi," kata Aurel.

Cakra memandang pelangi di langit.

Ia tersenyum.

Dulu ia datang ke sekolah itu dengan perasaan asing dan kesepian.

Kini ia pergi dengan membawa banyak kenangan.

Ia akhirnya mengerti bahwa masa remaja bukan hanya tentang nilai, ujian, atau kelulusan.

Tetapi tentang orang-orang yang datang dan mengajarkan arti persahabatan.

Karena beberapa kenangan memang tercipta setelah jam pulang sekolah.

Dan kenangan itulah yang akan selalu menjadi warna paling indah dalam masa putih abu-abu.