← Kembali ke Detail

Pembuat Hujan dari Negeri Awan

Export PDF

Konon, hujan tidak pernah tercipta begitu saja.

Jauh di atas langit, di tempat yang tidak dapat dijangkau burung ataupun pesawat, terdapat sebuah kerajaan terapung bernama Nimbus.

Di sanalah para Pengrajin Awan bekerja setiap hari.

Mereka menenun kabut menjadi awan, mengumpulkan embun menjadi hujan, lalu mengirimkannya ke seluruh penjuru dunia.

Setiap tetes hujan dibuat dengan penuh ketelitian.

Jika hujan turun terlalu deras, sungai akan meluap.

Jika terlalu sedikit, tanaman akan mati.

Karena itu menjadi Pengrajin Awan adalah pekerjaan yang paling dihormati.

Elara telah bermimpi menjadi Pengrajin Awan sejak kecil.

Namun ia berbeda dari murid lainnya.

Ia tidak pandai mengendalikan angin.

Kabut yang ia bentuk selalu berantakan.

Awan buatannya sering berubah menjadi asap tipis lalu menghilang.

"Aku rasa kau tidak cocok menjadi Pengrajin Awan," kata gurunya suatu hari.

Ucapan itu membuat Elara hampir menyerah.

Tetapi ia tetap datang setiap pagi untuk belajar.

Suatu malam, ketika sedang membersihkan gudang tua di Akademi Nimbus, Elara menemukan kendi kecil dari kaca bening.

Di dalamnya hanya ada satu tetes air.

Saat ia menyentuh kendi itu, tetesan tersebut melayang keluar.

Perlahan berubah menjadi sosok perempuan kecil yang seluruh tubuhnya terbuat dari air.

"Akhirnya..."

"Ada yang membangunkanku."

"Aku Nira."

"Roh Hujan Terakhir."

Elara terpana.

"Nira? Roh hujan benar-benar ada?"

Nira tersenyum.

"Dulu ada ribuan."

"Sekarang tinggal aku."

Belum sempat Elara bertanya lebih jauh, lonceng darurat berbunyi di seluruh kerajaan.

Para Pengrajin Awan berlarian menuju menara utama.

Di tengah aula terdapat Bola Air Langit, sumber semua hujan di dunia.

Namun kini bola itu retak.

Air di dalamnya hampir habis.

Akibatnya, hujan di bumi berhenti turun.

Sawah mulai mengering.

Danau menyusut.

Sungai kehilangan arusnya.

Para tetua mencoba memperbaiki Bola Air Langit, tetapi semua usaha gagal.

Nira berbisik kepada Elara.

"Aku tahu penyebabnya."

"Tunjukkan padaku."

"Sumber Air Langit telah dicuri."

"Dicuri?"

"Ya."

"Oleh seseorang yang ingin menguasai cuaca."

Malam itu mereka diam-diam meninggalkan Nimbus.

Seekor bangau kristal bernama Arion bersedia mengantar mereka.

Mereka terbang melewati Laut Awan.

Awan di sana berbentuk pulau-pulau kecil.

Ada yang dipenuhi bunga.

Ada yang dipenuhi air terjun yang mengalir ke langit.

Namun semakin jauh mereka terbang, awan berubah gelap.

Mereka tiba di Gurun Langit.

Tempat itu dahulu merupakan lautan awan.

Kini hanya tersisa kabut kering.

Di tengah gurun berdiri istana hitam.

Di sanalah tinggal penyihir cuaca bernama Kaizen.

Ia pernah menjadi Pengrajin Awan terbaik.

Namun ia diusir karena menggunakan hujan untuk mengendalikan kerajaan-kerajaan di bumi.

"Akhirnya ada tamu."

Kaizen tersenyum tipis.

Di belakangnya mengambang sebuah kristal biru.

Itulah Sumber Air Langit yang hilang.

"Kenapa kau mencurinya?" tanya Elara.

Kaizen memandang dunia di bawah sana.

"Manusia tidak pernah menghargai hujan."

"Mereka mencemari sungai."

"Menebang hutan."

"Membuang air sesuka hati."

"Kalau begitu biarkan mereka merasakan dunia tanpa hujan."

Elara terdiam.

Ia tahu ucapan Kaizen tidak sepenuhnya salah.

Namun...

"Kalau hujan hilang..."

"Anak-anak yang tidak bersalah juga akan menderita."

Kaizen mengangkat tongkatnya.

Kabut hitam memenuhi langit.

Petir menyambar ke segala arah.

Arion terhempas.

Nira hampir menghilang karena kekurangan air.

Elara memegang kendi kosong yang tadi dibawanya.

Ia menengadah.

Tidak ada hujan.

Tidak ada embun.

Hanya setetes air mata yang jatuh dari pipinya.

Anehnya, tetesan itu masuk ke dalam kendi.

Lalu berubah menjadi cahaya.

Nira tersenyum.

"Itulah Air Ketulusan."

"Air yang bahkan lebih kuat daripada hujan."

Elara menuangkan cahaya itu ke arah kristal.

Seketika retakan pada kristal menghilang.

Air biru memancar ke seluruh langit.

Awan kembali terbentuk.

Hujan pertama turun.

Bukan hanya di Nimbus.

Tetapi juga di seluruh dunia.

Sawah kembali hijau.

Sungai mengalir deras.

Hutan bernapas kembali.

Kaizen memandang hujan yang membasahi wajahnya.

Sudah bertahun-tahun ia tidak merasakan hujan.

Air matanya bercampur dengan rintik hujan.

"Aku lupa..."

"Hujan bukan hanya milik manusia."

"Hujan juga milik bumi."

Ia menyerahkan tongkatnya kepada para tetua.

Sebagai hukuman, ia memilih menjadi penjaga sungai di bumi agar dapat memperbaiki kesalahannya.

Sementara itu, Elara diangkat menjadi Pengrajin Awan termuda dalam sejarah Nimbus.

Semua orang heran.

Padahal ia tidak pernah menjadi murid paling berbakat.

Tetua kerajaan hanya tersenyum.

"Keahlian membuat hujan bisa dipelajari."

"Tetapi hati yang tulus untuk membagikan hujan kepada semua makhluk tidak bisa diajarkan."

Sejak saat itu, setiap kali hujan turun dengan lembut, penduduk bumi percaya bahwa para Pengrajin Awan sedang bekerja di atas sana.

Dan jika sesekali terlihat seekor bangau kristal terbang di antara awan, orang-orang akan saling mengingatkan bahwa setiap tetes hujan adalah hadiah dari mereka yang memilih merawat kehidupan, bukan menguasainya.