Pembuat Kunci Gerbang Dimensi yang Mogok
Export PDFBagi warga Neotopia, nama Silas adalah legenda urban yang nyata. Di balik pintu besi sebuah bengkel tua yang penuh dengan rongsokan mesin dan aroma oli bakar, lelaki tua berambut perak acak-acakan itu mampu menempa logam biasa menjadi kunci ajaib. Kunci buatan Silas bisa membuka pintu rumah mana saja dan mengubahnya menjadi gerbang menuju dimensi lain, mulai dari dunia permen yang manis hingga planet gurun tanpa hukum.
Namun, sudah satu minggu ini pintu bengkel Silas tertutup rapat. Sebuah papan pengumuman besar dari kardus bekas digantung di depan pintu: "TUTUP SELAMANYA. CARI JALAN KELUAR LAIN. SAYA MAU TIDUR."
"Buka pintunya, Kek! Tolonglah, ini darurat!" teriak Maya sambil menggedor-gedor pintu besi tersebut menggunakan sepatu botnya. Gadis berusia enam belas tahun itu sudah berdiri di sana sejak subuh, mengenakan jaket jinjing yang kebesaran.
Pintu besi tiba-tiba bergeser terbuka sedikit dengan suara derit yang memekakkan telinga. Wajah masam Silas muncul dari celah, matanya menyipit terganggu oleh cahaya matahari pagi. "Pergi sana, Bocah! Sudah kubilang aku pensiun. Tidak ada lagi kunci dimensi, tidak ada lagi pelarian!" bentak Silas hendak menutup kembali pintunya.
Maya dengan cepat menahan pintu itu dengan menyodorkan kakinya. "Aku tidak mau kabur dari bumi, Kek! Aku tidak butuh dunia fantasi yang indah. Aku hanya butuh kuncimu untuk membuka Dimensi Cermin!"
Silas mendengus remeh, bersedekap di dadanya yang kekar tertutup apron kulit. "Sama saja. Kemarin ada pengusaha kaya yang minta kunci ke Dimensi Emas karena bangkrut. Hari sebelumnya ada siswa yang minta ke Dimensi Tanpa Ujian karena malas belajar. Manusia sekarang pengecut, selalu ingin lari kalau ada masalah. Aku tidak mau membantu mereka lagi."
"Tapi kucingku, Si Belang, melompat ke dalam cermin rias ibuku kemarin sore!" teriak Maya dengan mata berkaca-cara. "Dia mengejar bayangan tikus dan sekarang terjebak di sana. Di dalam cermin itu dingin dan gelap, Kek. Kalau aku tidak menjemputnya, dia bisa membeku atau dimakan monster bayangan!"
Silas terdiam. Dia menatap Maya, mencari kebohongan di wajah gadis itu, namun yang dia temukan hanyalah ketulusan dan rasa sayang yang besar pada seekor hewan peliharaan. Silas menghela napas panjang, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu membuka pintu bengkelnya lebih lebar. "Masuklah," gerutunya.
Dalam bengkel Silas sangat berantakan. Ratusan kunci dengan berbagai bentuk aneh—ada yang berkepala naga, ada yang terbuat dari kristal cair, tergantung di dinding, namun semuanya tampak redup tanpa energi magis. Silas berjalan menuju perapian besarnya, mengambil sebatang besi hitam, dan menyalakan api sihir berwarna biru.
"Dengar, Bocah. Dimensi Cermin itu berbahaya karena apa yang kamu lihat adalah kebalikan dari kenyataan," kata Silas sambil mulai memukul besi panas itu dengan palu godamnya. TANG! TANG! TANG! Suara hantaman logam bergema berirama. "Kunci ini hanya akan bertahan selama tiga puluh menit. Jika kamu tidak kembali sebelum energinya habis, kamu akan terjebak menjadi bayangan di dalam cermin selamanya."
"Aku tidak peduli, yang penting Belang selamat," jawab Maya tegas.
Silas tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang sudah bertahun-tahun tidak muncul di wajah tuanya. Dia menyadari bahwa tidak semua orang menggunakan kekuatannya untuk melarikan diri dari realitas; ada orang-orang seperti Maya yang rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan bagian dari realitas mereka yang berharga.
Setelah beberapa menit yang menegangkan, Silas mencelupkan kunci yang baru ditempanya ke dalam ember berisi air suci. Suara desis keras terdengar bersamaan dengan kepulan asap putih. Silas mengangkat kunci itu; bentuknya menyerupai jalinan kaca yang berkilauan.
"Ini," Silas menyerahkannya pada Maya. "Tancapkan pada permukaan cermin tempat kucingmu hilang, putar ke kiri dua kali. Dan ingat, begitu kamu memegang kucingmu, langsung kembali. Jangan menatap bayangan dirimu sendiri terlalu lama."
Maya menerima kunci itu dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih banyak, Kek Silas! Berapa aku harus membayar?"
"Gratis untuk orang yang tidak berniat kabur dari dunia ini," jawab Silas sambil mengibaskan tangannya, mengusir Maya keluar dari bengkelnya.
Setelah Maya pergi, Silas menatap palu godamnya lama sekali. Rasa bosan dan frustrasi yang menyelimutinya selama seminggu ini perlahan memudar. Dia berjalan ke depan bengkel, mengambil papan pengumuman kardus bertuliskan "TUTUP SELAMANYA", lalu merobeknya menjadi dua bagian.
Silas tersenyum, menyalakan kembali api perapiannya. Dia sadar, kuncinya mungkin sering disalahgunakan, tetapi selama masih ada orang-orang yang membutuhkan kuncinya untuk membawa kembali kebahagiaan ke bumi, tugasnya sebagai Pembuat Kunci Multiverse belumlah usai.