← Kembali ke Detail

Pencuri Bayangan yang Kehilangan Wajahnya

Export PDF

Kota Umbra selalu tertutup asap pabrik yang tebal, membuat siang dan malam terasa hampir sama kelamnya. Di kota ini, wajah adalah segalanya. Semakin simetris dan indah wajahmu, semakin tinggi kasta sosialmu di mata para penguasa. Kael, bagaimanapun, tidak peduli dengan semua itu. Baginya, wajah hanyalah komoditas yang bisa diperjualbelikan.

Di dalam gang yang gelap, Kael mengenakan topeng porselen putih tanpa corak miliknya. "Satu pekerjaan lagi, lalu kita bisa pergi dari kota sialan ini," bisiknya pada diri sendiri.

Malam itu, targetnya adalah seorang kakek tua misterius yang menyewa kamar di penginapan ujung kota. Kael berhasil menyelinap masuk melalui jendela. Di bawah temaram lilin, sang kakek sedang tertidur lelap. Kael mendekat, meletakkan topeng porselennya di atas wajah sang kakek, lalu membacakan mantra kuno.

Seketika, topeng itu menyerap kilauan cahaya dari wajah sang kakek. Kael menarik topengnya kembali dan memakainya di wajahnya sendiri. Dalam sekejap, struktur tulang wajah Kael berubah, kulitnya berkerut, dan dia menjelma menjadi sang kakek tua. Namun tiba-tiba, dada Kael terasa sesak. Kakek itu membuka matanya, mata yang memancarkan cahaya jam pasir yang berputar.

"Kau telah mencuri dari perajin waktu, Anak Muda," suara kakek itu menggema berat. "Sebagai hukumannya, waktu akan menghapus siapa dirimu."

Kael panik. Dia melepas topengnya dengan paksa. Namun, saat dia berkaca di cermin kamar, dia menjerit tanpa suara. Wajahnya tidak kembali ke bentuk semula. Wajahnya kini datar sempurna, tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Hanya selembar kulit kosong yang pucat. Dia kehilangan identitasnya.

Ketakutan, Kael berlari keluar ke jalanan kota. Dia mencoba memanggil orang-orang, namun karena tidak memiliki mulut, tidak ada suara yang keluar. Dia bahkan pergi ke rumah adiknya, Nina. Namun saat Nina membuka pintu dan melihat sosok tanpa wajah di depannya, adik kecilnya itu menjerit ketakutan dan menutup pintu rapat-rapat.

Kael terduduk lemas di sudut pasar yang sepi, air mata yang tak kasat mata terasa mengalir di hatinya. Di tengah keputusasaannya, sebuah ketukan tongkat kayu terdengar mendekat. Seorang gadis dengan gaun abu-abu sederhana dan mata yang tertutup kain putih duduk di sampingnya. Dia adalah Lyra, pelukis jalanan yang terkenal bisa melukis jiwa seseorang meski dia buta.

"Kamu memiliki aura yang sangat sunyi, Tuan," kata Lyra lembut sambil meletakkan kanvas kecilnya di pangkuan. "Dan aku tidak bisa mendengar detak identitas di wajahmu. Apakah kamu pria tanpa wajah yang sedang dibicarakan orang-orang?"

Kael mengambil tangan Lyra, lalu menggunakan jemari Lyra untuk meraba permukaan wajahnya yang datar. Lyra terkesiap kecil, namun dia tidak menjauh.

"Ah, jadi rumor itu benar. Kamu kehilangan dirimu karena mengambil milik orang lain," tebak Lyra dengan nada bersimpati. "Jangan takut. Mata manusia sering menipu, mereka hanya melihat permukaan. Jika kamu ingin wajahmu kembali, aku bisa melukiskannya untukmu dengan tinta jiwa. Tapi kamu harus menceritakan padaku, siapa kamu sebenarnya di dalam hatimu?"

Kael terdiam. Karena tidak bisa bicara, dia menggunakan jemarinya untuk menuliskan kata-kata di telapak tangan Lyra. Dia menulis tentang penyesalannya, tentang masa kecilnya bersama Nina, tentang impian sederhananya untuk melihat matahari sejati, dan tentang ketakutannya jika dilupakan oleh dunia.

Setiap kali Kael menuliskan satu bagian dari jiwanya, Lyra mengangguk pahit dan mulai menggerakkan kuasnya di atas kanvas dengan lincah. Ajaibnya, meskipun Lyra tidak bisa melihat, setiap goresan tintanya memancarkan cahaya keperakan yang hangat.

"Ingatlah rasa sayangmu pada adikmu, Kael. Rasa itulah yang membentuk matamu," bisik Lyra seraya mengoleskan kuas di bagian atas kanvas.

Kael memejamkan mata batinnya. Dia merasakah kehangatan menjalar di seluruh wajah datarnya. Perlahan tapi pasti, rasa gatal yang hebat muncul di kulit wajahnya. Sesuatu sedang tumbuh kembali dari dalam jiwanya.

"Ingatlah kejujuran yang sempat kamu buang. Itu yang membentuk mulutmu," lanjut Lyra dengan senyuman tulus.

Tepat saat semburat cahaya fajar pertama menembus asap tebal Kota Umbra, Lyra menyelesaikan sapuan kuas terakhirnya. Dia meniup kanvas tersebut, dan seketika, lukisan cahaya itu terbang dari kanvas dan menempel sempurna ke wajah Kael.

GASPP!

Kael menarik napas dalam-dalam. Mulutnya telah kembali. Hidungnya menghirup udara pagi, dan saat dia membuka matanya, dia bisa melihat wajah Lyra yang sedang tersenyum di hadapannya. Kael meraba wajahnya sendiri; bentuknya telah kembali seperti dulu, bahkan tampak lebih bersih dan bercahaya dari sebelumnya.

"Aku... aku bisa melihat lagi. Aku bisa bicara," bisik Kael dengan suara bergetar. Dia langsung berlutut di depan Lyra. "Terima kasih, Lyra. Kamu menyelamatkan hidupku."

"Aku tidak menyelamatkanmu, Kael. Kamu sendiri yang menemukan jalan pulang ke jiwamu," jawab Lyra sambil merapikan alat lukisnya. "Gunakan wajah barumu itu untuk berbuat baik, bukan untuk bersembunyi lagi."

Kael mengangguk mantap. Dia meninggalkan topeng porselennya di atas lantai batu gang tersebut, membiarkannya hancur terinjak-injak. Dia berjalan pulang menuju rumah adiknya dengan senyuman nyata di wajahnya, berjanji tidak akan pernah lagi menjadi orang lain, karena wajah terbaik yang dimiliki manusia adalah wajah yang mencerminkan ketulusan hatinya sendiri.