Penjaga buku mimpi
Export PDFPerpustakaan sekolah selalu sepi menjelang jam pulang, dan itulah waktu favorit Kaya. Ia suka menyusuri rak-rak buku yang jarang disentuh siswa lain, mencari judul-judul asing yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.
Hari itu, di rak paling belakang yang berdebu, Kaya menemukan sebuah buku bersampul kulit cokelat tua tanpa judul apa pun di sampulnya. Anehnya, buku itu terasa hangat saat disentuh, seolah memiliki detak jantung sendiri.
"Buku apa ini?" gumam Kaya sambil membukanya.
Halaman pertama kosong. Namun ketika ia membalik ke halaman kedua, tulisan-tulisan mulai muncul dengan sendirinya, seperti tinta ajaib yang menulis sendiri:
"Selamat datang, Calon Penjaga. Untuk memasuki Perpustakaan Mimpi, ucapkan mimpi terindahmu."
Kaya mengerutkan kening, tapi rasa penasarannya lebih besar dari keraguannya. "Mimpi terindahku... adalah menjadi penulis yang ceritanya dibaca banyak orang," bisiknya pelan.
Seketika, cahaya keemasan memancar dari buku itu, menyelimuti seluruh tubuh Kaya. Ketika cahaya itu memudar, ia tidak lagi berada di perpustakaan sekolah, melainkan di sebuah ruangan raksasa dengan rak-rak buku yang menjulang hingga tak terlihat ujungnya, dipenuhi jutaan buku yang masing-masing berkedip lembut seperti bintang.
"Selamat datang di Perpustakaan Mimpi," sebuah suara menyapanya.
Kaya menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya mengenakan jubah berwarna ungu tua bertabur bintik-bintik cahaya seperti galaksi mini. Rambutnya panjang berwarna perak, dan matanya memancarkan kebijaksanaan yang dalam.
"Namaku Ibu Selara, Penjaga Buku Mimpi yang sekarang," katanya sambil tersenyum. "Dan kau, Nak, telah dipanggil untuk menjadi penerusku."
"Penerus? Aku bahkan tidak tahu apa itu Penjaga Buku Mimpi," kata Kaya bingung.
Ibu Selara menuntunnya berjalan menyusuri lorong rak buku. "Setiap buku di sini adalah kumpulan mimpi seseorang di dunia manusia, mimpi indah yang mereka miliki setiap malam. Tugas Penjaga adalah memastikan mimpi-mimpi itu tetap murni dan tidak rusak, agar orang-orang bisa terus bermimpi dengan tenang."
"Kenapa aku dipilih?"
"Karena kau, Kaya, memiliki imajinasi yang jarang dimiliki manusia lain. Kau masih percaya bahwa mimpi itu penting," jawab Ibu Selara. "Tapi sayangnya, kau datang di saat yang genting."
Mereka berhenti di sebuah ruangan yang berantakan nampak rak-rak buku terguling, halaman-halaman berserakan di lantai, beberapa di antaranya bernoda hitam pekat seperti tinta busuk.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Kaya, terkejut.
"Pencuri Mimpi," jawab Ibu Selara dengan nada berat. "Makhluk yang mencuri halaman-halaman mimpi indah dan menggantinya dengan mimpi buruk. Sudah tiga malam berturut-turut ia menyerang perpustakaan ini. Jika ia berhasil mengganti terlalu banyak halaman, seluruh dunia manusia akan mengalami malam-malam penuh mimpi buruk tanpa henti."
Kaya merasakan ngeri membayangkan hal itu. "Bagaimana cara menghentikannya?"
"Pencuri Mimpi hanya bisa dikalahkan oleh seseorang yang mimpinya begitu murni sehingga cahayanya bisa mengusir kegelapan," jelas Ibu Selara. "Aku sudah terlalu tua, mimpiku sudah memudar seiring waktu. Tapi kau, Kaya, masih memiliki mimpi yang bercahaya terang."
Malam itu atau yang tampak seperti malam di dalam Perpustakaan Mimpi yang selalu temaram keunguan, Kaya berjaga di ruangan tempat buku-buku mimpi anak-anak disimpan, sesuai instruksi Ibu Selara.
Tak lama kemudian, suhu ruangan tiba-tiba turun drastis, dan bayangan gelap mulai merayap dari sela-sela rak buku.
"Siapa di sana?" seru Kaya, mencoba terdengar berani meski jantungnya berdegup kencang.
Dari bayangan itu muncul sesosok makhluk tinggi kurus, berwajah seperti topeng retak tanpa ekspresi, dengan jari-jari panjang yang meraih buku-buku di sekitarnya.
"Seorang Penjaga baru," desis makhluk itu, suaranya seperti kertas yang disobek. "Mengganggu pekerjaanku."
"Kenapa kau melakukan ini? Kenapa mencuri mimpi indah orang-orang?" tanya Kaya.
Pencuri Mimpi berhenti sejenak. "Karena tak seorang pun peduli padaku ketika aku masih memiliki mimpi sendiri. Aku dulu manusia biasa, tapi mimpiku selalu ditertawakan, dianggap tidak masuk akal. Jadi kuputuskan, jika mimpiku tidak berharga, maka tak ada mimpi yang boleh berharga."
Kaya merasakan sesuatu yang menyentuh hatinya. Rasa kesepian yang mirip dengan yang pernah ia rasakan sendiri, saat teman-temannya menertawakan cerita-cerita yang ia tulis.
"Aku mengerti perasaanmu," kata Kaya pelan. "Aku juga pernah merasa mimpiku diremehkan. Tapi mencuri mimpi orang lain tidak akan membuat mimpimu kembali berharga."
"Lalu apa yang harus kulakukan?!" seru Pencuri Mimpi, suaranya penuh amarah dan luka.
"Biarkan aku menunjukkan sesuatu," kata Kaya sambil melangkah maju perlahan, mengeluarkan buku bersampul cokelat yang membawanya ke tempat ini. Ia membuka halaman kosong dan mulai menuliskan sesuatu dengan jarinya, seolah menulis di udara.
Perlahan, muncul gambaran bercahaya di depan mereka, gambaran tentang seorang anak yang mimpinya ditertawakan, namun terus percaya pada mimpinya hingga akhirnya menjadi seseorang yang menginspirasi banyak orang lain.
"Mimpi yang ditertawakan bukan berarti mimpi yang tidak berharga," kata Kaya lembut. "Mimpimu berhak ada, sama seperti mimpi siapa pun. Kau tidak perlu menghancurkan mimpi orang lain untuk membuat mimpimu diakui."
Wajah topeng Pencuri Mimpi retak lebih jauh, dan dari celah-celah retakan itu, cahaya lembut mulai bersinar keluar.
"Aku... aku hanya ingin seseorang percaya padaku," bisiknya, suaranya kini terdengar lebih seperti manusia daripada monster.
"Aku percaya padamu," kata Kaya tulus. "Dan mulai sekarang, biarkan aku membantumu menemukan mimpimu sendiri lagi, bukan mencuri milik orang lain."
Topeng itu perlahan hancur berkeping-keping, cahaya keemasan memenuhi ruangan, dan sosok di baliknya berubah menjadi seorang pemuda dengan wajah lelah namun tenang.
Ibu Selara yang datang bersama beberapa Penjaga lain menyaksikan semuanya dengan mata berkaca-kaca. "Sudah lama sekali aku menunggu seseorang yang bisa menyembuhkan Pencuri Mimpi, bukan sekadar mengalahkannya," katanya.
Halaman-halaman mimpi yang rusak perlahan pulih, tinta hitam busuk berubah kembali menjadi kilauan warna-warni yang indah.
Sejak malam itu, pemuda yang dulunya Pencuri Mimpi tinggal di Perpustakaan Mimpi sebagai penjaga baru, membantu merawat mimpi-mimpi lain dengan penuh kasih, sebagai balasan atas kesempatan kedua yang diberikan padanya.
Kaya sendiri kini resmi menjadi Penjaga Buku Mimpi generasi baru, meski ia tetap kembali ke dunia manusia setiap pagi, duduk di perpustakaan sekolahnya yang sepi, membaca buku-buku dengan senyum kecil di wajahnya. Karena kini ia tahu, di suatu tempat di luar sana, mimpi-mimpi semua orang dijaga dengan penuh cinta.
"Buku ini akan selalu terbuka untukmu, Kaya," bisik Ibu Selara sebelum ia kembali ke dunia nyata. "Karena penjaga sejati bukan yang paling kuat, tapi yang paling percaya pada kekuatan mimpi."