Penjaga Lentera Bintang
Export PDFDi balik pegunungan paling utara, tersembunyi sebuah lembah yang tidak pernah muncul di peta mana pun. Lembah itu bernama Astravia, tempat para Penjaga Cahaya tinggal selama ribuan tahun.
Setiap senja, ketika matahari tenggelam, para penjaga akan berkumpul di sebuah menara tinggi. Mereka menyalakan ribuan lentera kecil yang dibuat dari kaca bening dan embun pagi. Setelah itu, lentera-lentera tersebut diterbangkan ke langit.
Begitu menyentuh angkasa, setiap lentera berubah menjadi sebuah bintang.
Karena itulah malam selalu dipenuhi cahaya.
Penduduk dunia tidak pernah mengetahui rahasia tersebut. Mereka hanya menganggap bintang memang selalu ada di langit.
Di desa kecil dekat Astravia tinggal seorang gadis bernama Nara. Sejak kecil ia bermimpi menjadi Penjaga Cahaya, meskipun semua orang mengatakan bahwa hanya keturunan penjaga yang boleh memasuki menara.
Namun Nara tidak pernah menyerah.
Setiap sore ia membantu seorang kakek pembuat lentera bernama Toma. Dari kakek itu ia belajar memilih kaca terbaik, merangkai sumbu, dan membuat api yang tidak mudah padam.
"Api terbesar," kata Toma suatu hari, "bukan yang paling panas, tetapi yang paling lama bertahan."
Nara selalu mengingat kalimat itu.
Suatu malam, sesuatu yang aneh terjadi.
Satu bintang di langit tiba-tiba padam.
Kemudian bintang kedua.
Lalu ketiga.
Malam demi malam jumlah bintang terus berkurang.
Langit yang dahulu berkilau kini dipenuhi ruang kosong.
Orang-orang mulai ketakutan.
Anak-anak tidak lagi bisa melihat rasi bintang.
Para pelaut kehilangan arah.
Bunga malam yang hanya mekar di bawah cahaya bintang perlahan layu.
Para Penjaga Cahaya kebingungan.
Mereka sudah membuat lentera lebih banyak dari biasanya, tetapi semuanya tetap padam.
Suatu malam, ketika mengantar lentera ke bengkel Toma, Nara melihat seekor rubah kecil dengan ekor menyala bersembunyi di balik tumpukan kayu.
Rubah itu terluka.
Dengan hati-hati Nara membersihkan lukanya.
Anehnya, rubah itu berbicara.
"Terima kasih."
Nara membeku.
"Kau... bisa bicara?"
"Namaku Pyra."
"Aku penjaga api bintang."
Pyra menjelaskan bahwa cahaya bintang tidak benar-benar menghilang.
Cahaya itu dicuri.
"Dicuri oleh siapa?"
"Seorang mantan Penjaga Cahaya bernama Orion."
Nara terkejut.
Orion adalah nama yang sering disebut dalam cerita lama sebagai penjaga paling hebat sepanjang sejarah.
Pyra mengangguk pelan.
"Ia takut mati."
"Karena itu ia mencuri cahaya bintang."
"Cahaya itu membuatnya tetap hidup."
Malam itu juga, Pyra membawa Nara menuju Menara Cahaya yang sudah lama ditinggalkan.
Di sana mereka bertemu Toma.
Ternyata selama ini Toma bukan pembuat lentera biasa.
Ia adalah Penjaga Cahaya terakhir yang masih bertahan.
"Aku menunggumu, Nara."
"Menungguku?"
"Tidak semua penjaga lahir dari garis keturunan."
"Sebagian dipilih oleh cahaya."
Toma menyerahkan sebuah lentera tua yang tampak kusam.
"Lentera ini tidak akan menyala dengan api biasa."
"Lalu dengan apa?"
"Dengan keberanian."
Perjalanan mereka dimulai.
Mereka melewati Hutan Bayangan, tempat pohon-pohon mencuri suara siapa pun yang lewat.
Nara harus berjalan tanpa bisa berbicara.
Kemudian mereka menyeberangi Sungai Pantulan.
Air sungai memperlihatkan ketakutan terbesar seseorang.
Nara melihat dirinya gagal menyelamatkan langit.
Namun ia tetap melangkah.
Semakin berani ia menghadapi ketakutannya, semakin terang lentera di tangannya.
Akhirnya mereka tiba di sebuah benteng yang melayang di atas awan.
Di tengah benteng berdiri Orion.
Tubuhnya masih muda, meski usianya telah ratusan tahun.
Di belakangnya terdapat ribuan bintang yang terkurung dalam bola-bola kaca.
"Cahaya ini milikku sekarang," katanya.
"Tanpa cahaya, kau akan mati," kata Nara.
Orion tersenyum.
"Semua orang takut mati."
"Kau juga."
Nara terdiam.
Ia memang takut.
Namun ia teringat semua orang yang setiap malam memandang langit.
Anak-anak yang menghitung bintang.
Pelaut yang bergantung pada cahaya malam.
Petani yang menunggu bunga malam mekar.
"Aku memang takut."
"Tapi hidup selamanya tidak ada artinya jika dunia kehilangan harapan."
Orion mengangkat tongkatnya.
Bintang-bintang berubah menjadi hujan cahaya yang tajam.
Pyra melompat melindungi Nara.
Toma menahan serangan dengan tongkat kayunya.
Namun mereka tidak akan bertahan lama.
Nara memegang lentera tua itu erat-erat.
Ia memejamkan mata.
Ia tidak memikirkan dirinya sendiri.
Ia hanya berharap semua orang bisa kembali melihat langit berbintang.
Tiba-tiba lentera itu menyala.
Bukan dengan api merah.
Melainkan cahaya putih keemasan yang begitu lembut.
Cahaya itu menyebar ke seluruh benteng.
Bola-bola kaca pecah satu per satu.
Semua bintang kembali terbang ke langit.
Malam yang gelap berubah terang.
Orion jatuh berlutut.
Tubuhnya mulai menua.
Ia tersenyum pahit.
"Sudah lama..."
"...aku lupa betapa indahnya langit."
Nara menghampirinya.
"Tidak ada cahaya yang pantas dimiliki sendirian."
Orion mengangguk.
Ia menutup mata untuk terakhir kalinya.
Tubuhnya berubah menjadi ribuan cahaya kecil yang bergabung dengan bintang-bintang di langit.
Sejak malam itu, Astravia kembali dipenuhi lentera.
Namun ada satu perubahan.
Para Penjaga Cahaya tidak lagi dipilih berdasarkan keturunan.
Siapa pun yang memiliki hati tulus dan berani menjaga harapan orang lain dapat menjadi penjaga.
Nara menjadi Penjaga Lentera termuda yang pernah ada.
Setiap senja ia masih membuat lentera bersama Toma.
Sementara Pyra selalu duduk di bahunya, mengawasi nyala api kecil yang perlahan berubah menjadi bintang.
Konon, jika pada malam yang cerah seseorang melihat sebuah bintang jatuh dengan cahaya keemasan, itu bukanlah pertanda akhir.
Melainkan sebuah lentera baru yang sedang diterbangkan ke langit, mengingatkan semua orang bahwa harapan akan selalu menemukan jalan untuk bersinar, selama masih ada seseorang yang rela menjaganya.