← Kembali ke Detail

Penjahit Bayangan di Kota Lentera

Export PDF

Malam di Kota Nocturna selalu riuh dengan gemerlap lentera minyak yang tergantung di setiap sudut jalan. Di kota ini, kegelapan adalah hal biasa, namun bayangan adalah sesuatu yang berharga. Elian menghela napas panjang sambil memandangi jarum peraknya yang berkilau di bawah temaram lampu toko. Di luar, angin malam berembus membawa aroma belerang dan kayu manis.

"Elian! Tolong aku!" Sebuah suara panik memecah keheningan malam.

Seorang pria paruh baya dengan pakaian mewah menerobos masuk ke dalam toko jahit Elian. Pria itu adalah Tuan Bram, asisten pribadi Wali Kota. Elian menunduk untuk melihat ke arah lantai, dan benar saja, lantai di belakang Tuan Bram kosong melompong. Tidak ada siluet hitam yang biasanya mengikuti setiap gerak-gerik manusia.

"Bayangan Wali Kota lepas lagi?" tanya Elian sambil menyiapkan gulungan benang peraknya.

"Bukan sekadar lepas, Elian! Kali ini bayangannya kabur ke arah Hutan Obsidian. Kamu tahu kan, kalau bayangan pemimpin kota ini menyatu dengan kegelapan hutan itu, seluruh lentera di Nocturna akan padam total!" Tuan Bram meremas jemarinya yang gemetar.

Elian tahu risikonya. Hutan Obsidian adalah tempat di mana imajinasi buruk menjadi nyata. Namun, sebagai satu-satunya Penjahit Bayangan yang tersisa di Nocturna, dia tidak punya pilihan. Elian mengambil jubah hitamnya, mengantongi gunting khusus, dan melangkah keluar.

Perjalanan menuju Hutan Obsidian terasa sangat dingin. Setibanya di pinggiran hutan, pohon-pohon hitam legam tampak seperti raksasa yang membeku. Elian menyalakan lentera kecil di genggamannya. Tiba-tiba, sebuah gerakan cepat tertangkap oleh sudut matanya.

Ada sebuah siluet tinggi yang sedang melompat dari satu pohon ke pohon lain. Itu adalah bayangan sang Wali Kota.

"Hei! Berhenti di situ!" teriak Elian.

Bayangan itu justru berbalik dan menjulurkan lidah hitamnya, mengejek Elian sebelum berlari lebih dalam ke tengah hutan. Elian mengejarnya, melompati akar-akar pohon yang mencuat. Bayangan itu bergerak sangat lincah karena tidak terikat oleh beban fisik.

Saat bayangan itu hendak melompat ke sebuah jurang kegelapan murni yang bisa menelannya selamanya, Elian bertindak cepat. Dia melemparkan jarum peraknya yang sudah terikat benang mistis.

Jarum itu melesat di udara, menembus bagian "jubah" si bayangan dan menancap kuat di batang pohon ek tua.

"Lepaskan aku, manusia membosankan!" Sebuah suara berbisik di dalam kepala Elian. Itu adalah suara dari bayangan tersebut.

"Tugasmu adalah menemani pemilikmu, bukan berkeliaran di sini," balas Elian tegas.

Dengan hati-hati, Elian mendekati bayangan yang terus memberontak itu. Menggunakan teknik yang dia pelajari dari kakeknya, Elian mulai menggerakkan jarumnya dengan lincah. Dia menjahit tepi-tepi bayangan itu, mengikatnya sementara pada selembar kain sutra putih khusus agar tidak bisa kabur selama perjalanan pulang.

Sesampainya kembali di balai kota, Wali Kota Nocturna sudah terduduk lemas di kursinya. Wajahnya pucat pasi, karena kehilangan bayangan terlalu lama bisa membuat manusia kehilangan jiwanya.

"Kau membawanya kembali, Anak Muda?" tanya Wali Kota dengan suara serak.

"Tentu saja, Tuan. Tolong berdiri di bawah cahaya lentera utama," pinta Elian.

Wali Kota berdiri tegak. Elian membuka kain sutra putihnya. Begitu terbebas, bayangan itu langsung mencoba kabur lagi, namun Elian dengan sigap menginjak bagian kaki bayangan tersebut. Dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan rapi, Elian menjahit tumit bayangan itu kembali ke ujung sepatu sang Wali Kota menggunakan benang peraknya.

Setiap tusukan jarum mengeluarkan percikan cahaya keperakan yang indah. Begitu jahitan terakhir selesai, bayangan itu langsung patuh dan mengikuti gerakan Wali Kota yang sedang mengangkat tangannya.

"Luar biasa. Aku merasa utuh kembali," ujar Wali Kota sambil tersenyum lega. Dia memberikan seonggok koin emas kepada Elian sebagai imbalan.

Elian hanya tersenyum dan membungkuk hormat. "Pastikan Anda tidak terlalu banyak melamun di tempat gelap, Tuan.

Bayangan sangat suka memanfaatkan pikiran yang kosong untuk melarikan diri."

Elian berjalan kembali ke tokonya saat lonceng kota berbunyi tiga kali, menandakan waktu istirahat. Di bawah cahaya lentera yang tetap menyala terang, dia tahu tugasnya belum selesai. Selama manusia memiliki ambisi dan rahasia, bayangan-bayangan di Kota Nocturna akan selalu mencari cara untuk lepas. Dan Elian, dengan jarum peraknya, akan selalu siap untuk menjahit mereka kembali.