← Kembali ke Detail

Perpustakaan Awan yang Melayang

Export PDF

Bagi Aria, hidup di atas awan adalah rutinitas yang melelahkan namun penuh keajaiban. Setiap pagi, dia harus menaiki tangga spiral yang terbuat dari kristal es untuk mencapai Perpustakaan Nimbu. Tugasnya sederhana: membersihkan debu-debu bintang yang menempel pada jutaan buku yang melayang di rak-rak kayu jati raksasa.

"Aria, jangan melamun terus! Rak nomor tujuh belas di sektor memori usang masih kotor," tegur Tuan Silas, kepala kurator yang berwajah ketus.

"Baik, Tuan. Segera saya bersihkan," jawab Aria sambil membawa kemoceng dari bulu burung phoenix.

Saat sedang menyapu debu di sudut rak tergelap, Aria melihat sebuah buku dengan sampul kulit berwarna biru tua yang tidak biasa. Buku itu tidak melayang seperti yang lain, melainkan tergeletak lemas di lantai seolah energinya habis. Rasa penasaran Aria memuncak.

Di perpustakaan ini, menyentuh buku tanpa sarung tangan khusus adalah pelanggaran berat. Tapi, entah mengapa, buku itu seolah memanggil namanya.

Aria berlutut dan membuka sampulnya. Seketika, tidak ada teks yang dia lihat. Alih-alih tulisan, hamparan air jernih muncul dari halaman buku, memproyeksikan sebuah rekaman tiga dimensi di udara. Aria melihat kota-kota besar di bawah awan yang tenggelam oleh air, manusia yang menangis, dan para tetua yang menggunakan sihir terakhir mereka untuk mengangkat sebagian daratan ke langit yang kini menjadi tempat tinggal mereka.

"Jadi, bumi di bawah sana tidak kosong? Kita sengaja meninggalkan mereka?" bisik Aria, syok melihat kenyataan sejarah yang selama ini disembunyikan. Di sekolah, mereka selalu diajarkan bahwa bumi musnah karena meteor.

"Meong! Kau seharusnya tidak melihat itu, Manusia Bodoh."

Aria tersentak kaget. Di sampingnya, seekor kucing berbulu abu-abu dengan sepasang sayap kecil seperti burung merpati sedang menatapnya dengan mata tajam. Itu Siri, hewan peliharaan perpustakaan yang terkenal galak.

"Siri? Kau bisa bicara?" Aria menutup mulutnya sendiri.

"Tentu saja aku bisa. Dan jika Tuan Silas tahu kau membuka Buku Sejarah Biru ini, kau akan dilempar jatuh ke bumi," bisik Siri sambil mengibaskan ekornya. "Tapi aku juga benci Silas. Dia selalu pelit memberi makan ikan padaku."

Tiba-tiba, terdengar langkah kaki berat mendekat.

Tuan Silas sedang berjalan menuju koridor tempat mereka berada.

"Cepat sembunyikan buku itu di dalam tas kainmu!" perintah Siri.

Aria langsung memasukkan buku tebal itu ke dalam tasnya tepat sebelum Tuan Silas muncul di balik pilar. "Apa yang sedang kau lakukan di sini, Aria? Dan kenapa kucing sialan ini ada bersamamu?" tanya Silas curiga, matanya menyipit menatap tas Aria.

"Saya hanya sedang membersihkan sela-sela rak, Tuan. Dan Siri tadi hampir menjatuhkan vas bunga," bohong Aria dengan wajah sepolos mungkin.

Silas mendengus. "Cepat selesaikan pekerjaanmu. Sore ini kita ada inspeksi dari Dewan Kota."

Setelah Silas pergi, Aria dan Siri segera menyelinap keluar menuju dek observasi perpustakaan, tempat di mana mereka bisa melihat hamparan awan putih tak berujung. Aria mengeluarkan buku itu lagi dengan tangan gemetar.

"Kenapa sejarah ini disembunyikan, Siri?" tanya Aria.

"Karena Dewan Kota ingin semua orang percaya bahwa tidak ada jalan untuk kembali ke bawah. Mereka ingin berkuasa di langit selamanya. Padahal, air di bumi sudah surut, dan daratan di bawah sana sudah mulai hijau kembali," jelas Siri sambil menjilati cakarnya.

Aria menatap ke bawah awan. Dia merasakan sebuah panggilan moral yang besar. Sejarah ini milik semua orang, bukan hanya milik para penguasa di langit.

"Kita harus membagikan memori ini ke seluruh kota, Siri. Caranya bagaimana?"

Siri terbang kecil dan hinggap di bahu Aria. "Di pusat perpustakaan, ada Menara Suara. Jika kau memasukkan buku ini ke dalam proyektor utama menara saat festival malam nanti, seluruh penduduk kota akan melihat memori ini di langit malam, seperti bioskop raksasa."

"Tapi penjagaannya pasti ketat," ujar Aria ragu.

"Kau punya aku, si pemegang kunci rahasia perpustakaan, dan kau punya keberanian. Itu lebih dari cukup," jawab Siri dengan nada bangga.

Aria tersenyum hangat, rasa takutnya perlahan menguap.

Menatap buku biru di tangannya, dia tahu bahwa malam ini, kebenaran yang telah membeku di atas awan selama ratusan tahun akhirnya akan mencair dan turun seperti hujan yang menyegarkan pikiran semua orang.