← Kembali ke Detail

Perpustakaan di Ujung Waktu

Export PDF

Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa di balik hujan deras yang turun setiap tanggal tujuh bulan ketujuh, sebuah pintu kayu tua akan muncul di tengah hutan.

Pintu itu tidak memiliki rumah.

Tidak memiliki dinding.

Hanya berdiri sendiri, dikelilingi kabut putih yang berputar perlahan.

Orang-orang menyebutnya Pintu yang Terlupakan.

Konon, siapa pun yang membukanya tidak akan kembali sebagai orang yang sama.

Suatu sore, Elian, remaja berusia enam belas tahun yang gemar membaca, tersesat ketika mencari bunga obat untuk neneknya. Hujan tiba-tiba turun begitu lebat hingga ia berlindung di bawah pohon besar.

Saat itulah ia melihat pintu aneh itu.

Karena penasaran, Elian mendorong gagangnya.

Pintu terbuka tanpa suara.

Di baliknya bukanlah ruangan, melainkan sebuah perpustakaan yang begitu luas hingga rak-raknya menghilang di balik awan.

Tangga-tangga melayang di udara.

Buku-buku beterbangan sendiri.

Jam pasir raksasa menggantung di langit-langit, tetapi pasirnya mengalir ke atas.

"Selamat datang."

Suara lembut membuat Elian menoleh.

Seorang wanita tua berambut putih berdiri sambil membawa lentera biru.

"Aku Liora, penjaga Perpustakaan Ujung Waktu."

"Ini... tempat apa?"

"Tempat semua kisah kehidupan disimpan."

Liora mengambil sebuah buku dari rak.

Di sampulnya tertulis nama Elian.

Ketika dibuka, halaman-halamannya berisi seluruh kehidupannya sejak lahir.

Hari pertama berjalan.

Pertama kali jatuh dari sepeda.

Saat ibunya meninggal.

Semua tertulis sangat rinci.

Elian buru-buru menutup buku itu.

"Bagaimana mungkin?"

"Setiap makhluk memiliki buku kehidupannya."

"Tapi..." Elian menunjuk bagian belakang buku.

"Kenapa halaman terakhir kosong?"

Liora tersenyum.

"Masa depan belum ditulis."

Sebelum Elian sempat bertanya lagi, suara ledakan mengguncang perpustakaan.

Puluhan buku berjatuhan.

Lampu-lampu mulai redup.

Seekor burung hantu berbulu emas terbang tergesa-gesa.

"Liora! Halaman masa depan kembali dicuri!"

Wajah Liora berubah pucat.

"Cepat... ikut aku."

Mereka berlari menuju aula utama.

Di tengah ruangan berdiri Pohon Cerita, pohon raksasa yang daunnya berbentuk lembaran buku.

Namun kini banyak cabangnya mengering.

"Jika halaman masa depan hilang," kata Liora, "orang-orang tidak akan memiliki hari esok."

Elian menatap pohon itu.

"Siapa yang mencurinya?"

"Seorang penyihir bernama Morvane."

"Dulu ia penjaga perpustakaan."

"Tetapi ia percaya masa depan seharusnya hanya dimiliki orang-orang kuat."

Liora menyerahkan sebuah pena kristal kepada Elian.

"Pena ini mampu menulis kenyataan."

"Tapi hanya jika digunakan dengan hati yang jujur."

Perjalanan dimulai.

Burung hantu emas yang bernama Aurex memimpin mereka menuju Lorong Seribu Kisah.

Di lorong itu terdapat jutaan pintu.

Setiap pintu menuju dunia berbeda.

Ada dunia yang dipenuhi naga.

Ada kota terapung di atas awan.

Ada lautan yang seluruh ombaknya terbuat dari cahaya.

Mereka memasuki dunia pertama.

Sebuah kerajaan yang membeku.

Rakyatnya berdiri diam seperti patung.

Rupanya halaman masa depan kerajaan itu telah hilang.

Elian menemukan lembaran tersebut tersangkut di puncak menara es, dijaga seekor serigala bayangan.

Serigala itu menyerang.

Elian hampir terjatuh.

Namun Aurex menjatuhkan sehelai bulu emas.

Bulu itu berubah menjadi cahaya yang membuat bayangan menghilang.

Halaman pertama berhasil ditemukan.

Mereka melanjutkan perjalanan ke Dunia Laut Langit.

Di sana ikan-ikan berenang di udara.

Pulau-pulau melayang tanpa tali.

Halaman kedua tersembunyi di dalam mutiara raksasa yang dijaga gurita awan.

Dengan kecerdikan, Elian tidak melawan.

Ia memainkan seruling tua yang ditemukan di kapal karam.

Musik itu membuat gurita tertidur.

Mereka berhasil mengambil halaman kedua.

Semakin banyak halaman dikumpulkan, semakin kuat cahaya pena kristal.

Namun Morvane akhirnya muncul.

Ia mengenakan jubah hitam dengan topeng retak.

Di tangannya terdapat buku besar tanpa judul.

"Kalian terlambat."

Dengan sekali kibasan tangan, ribuan lembar halaman beterbangan ke langit.

Langit berubah menjadi pusaran hitam.

Seluruh dunia mulai retak seperti kaca.

"Beri aku pena itu," kata Morvane.

"Dengan pena itu aku bisa menulis dunia yang sempurna."

Elian menggeleng.

"Dunia tanpa pilihan bukanlah dunia yang hidup."

Morvane tertawa.

"Pilihan hanya melahirkan penderitaan."

Ia melepaskan sihir hitam.

Rak-rak perpustakaan runtuh.

Jam pasir pecah.

Waktu berhenti.

Semuanya membeku.

Hanya Elian yang masih bisa bergerak karena pena kristal melindunginya.

Ia menyadari satu hal.

Pena itu bukan senjata.

Melainkan alat untuk menciptakan harapan.

Di halaman kosong buku kehidupannya sendiri, Elian mulai menulis.

"Aku memilih percaya bahwa setiap orang berhak menentukan masa depannya."

Tulisan itu bersinar.

Cahaya putih menyebar ke seluruh perpustakaan.

Halaman-halaman yang tercerai berai kembali ke tempatnya.

Jam pasir berputar lagi.

Retakan langit menghilang.

Morvane jatuh berlutut.

Topengnya pecah.

Ternyata wajahnya tampak sangat lelah.

"Aku hanya ingin menghapus semua kesedihan..."

Liora mendekatinya.

"Kesedihan memang bagian dari hidup."

"Tetapi tanpa itu, kebahagiaan juga kehilangan maknanya."

Morvane menunduk.

Untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun, ia menangis.

Perpustakaan kembali tenang.

Pohon Cerita tumbuh lebih hijau daripada sebelumnya.

Sebelum pulang, Liora memberikan sebuah buku kecil kepada Elian.

"Ini buku kosong."

"Untuk apa?"

"Tulislah kisahmu sendiri."

"Takdir bukan sesuatu yang menunggu untuk ditemukan."

"Melainkan sesuatu yang diciptakan."

Ketika Elian keluar dari pintu misterius, hujan telah berhenti.

Hutan kembali sunyi.

Pintu kayu itu menghilang seolah tak pernah ada.

Di tangannya hanya tersisa buku kosong.

Setiap kali ia membuka halaman pertama, selalu muncul satu kalimat yang sama.

"Selama masih ada orang yang berani bermimpi, perpustakaan di ujung waktu akan tetap berdiri."