← Kembali ke Detail

Perpustakaan yang Meminjam Pembaca

Export PDF

Pintu berbentuk sampul buku perlahan tertutup di belakang Nara.

Begitu ia melangkah masuk, ia langsung terdiam.

Di hadapannya terbentang sebuah perpustakaan yang sangat luas.

Rak-rak buku menjulang tinggi hingga menghilang di balik awan.

Tangga kayu bergerak sendiri, berpindah dari satu rak ke rak lainnya.

Buku-buku beterbangan di udara seperti burung.

Beberapa bahkan hinggap di bahu pengunjung sebelum kembali terbang mencari tempatnya.

Nara berjalan beberapa langkah sambil memperhatikan sekeliling.

Di dekat pintu masuk, terdapat sebuah papan besar bertuliskan:

PERPUSTAKAAN BALIK HALAMAN

BUKU BERHAK MEMINJAM PEMBACA SELAMA TUJUH HARI.

KETERLAMBATAN PENGEMBALIAN AKAN DIKENAI DENDA BERUPA SATU KENANGAN.

Nara membaca tulisan itu beberapa kali.

“Ini aturan yang cukup mengkhawatirkan,” gumamnya.

“Menurutku masih cukup adil.”

Sebuah suara terdengar dari balik meja.

Nara menoleh.

Seorang anak laki-laki berdiri di sana.

Ia mengenakan rompi dengan banyak kantong kecil berisi kartu katalog.

Namanya Saka.

“Asisten pustakawan,” katanya sambil tersenyum.

“Selama bukunya mengembalikan pembacanya tepat waktu, tidak ada masalah.”

Nara melihat ke arah rak-rak buku.

“Memangnya buku bisa memilih pembaca?”

Saka mengangguk.

“Di sini memang begitu.”

Ia menjelaskan bahwa setiap buku memiliki kemampuan memilih orang yang cocok dengannya.

Buku petualangan biasanya mencari orang yang berani.

Buku resep mencari orang yang menyukai makanan.

Buku teka-teki mengejar orang-orang yang terlalu penasaran.

Setelah memilih pembaca, buku akan membawa mereka masuk ke dalam cerita.

Pembaca baru bisa kembali setelah kisah di dalamnya selesai.

“Kalau pembacanya tidak mau masuk?” tanya Nara.

Saka menunjuk sebuah buku besar yang sedang mengejar seseorang di antara rak.

“Biasanya buku tidak terlalu peduli.”

Nara hanya bisa terdiam.

Perpustakaan ini jauh lebih aneh daripada yang ia bayangkan.

Tiba-tiba kompas kertas milik Nara mulai bergerak.

Jarumnya berputar cepat.

Sebuah buku tanpa judul jatuh dari rak tertinggi.

Buku itu mendarat tepat di depan Nara.

Sebelum ia sempat menyentuhnya, halaman buku tersebut terbuka.

Lembarannya bergerak seperti tangan.

“Nunggu”

Belum selesai berbicara, halaman-halaman itu langsung menarik Nara masuk.

Saka yang mencoba membantu justru ikut terseret.

Dalam sekejap, mereka menghilang dari perpustakaan.

Ketika membuka mata, Nara tidak lagi berada di antara rak buku.

Ia berdiri di sebuah padang rumput berwarna abu-abu.

Langit di atasnya kosong.

Tidak ada matahari.

Tidak ada awan.

Hanya seperti lembaran kertas besar yang belum ditulis.

Di kejauhan berdiri sebuah istana.

Namun istana itu terlihat aneh.

Bagian kirinya sudah selesai dan sangat megah.

Sementara bagian kanannya masih berupa garis-garis sketsa.

Belum selesai dibuat.

Tiba-tiba seorang gadis datang menghampiri mereka.

Ia mengenakan baju zirah sederhana dan membawa pedang kayu.

“Akhirnya ada pembaca baru!”

Gadis itu terlihat lega.

“Tolong bantu aku menyelesaikan ceritaku.”

“Aku Talia.”

Nara dan Saka saling melihat.

“Ceritamu?”

Talia mengangguk.

“Aku adalah tokoh utama buku ini.”

Ia menjelaskan bahwa kisahnya sudah dibaca oleh banyak orang.

Namun tidak ada satu pun yang berhasil menemukan akhir cerita.

Setiap pembaca selalu mencoba membuat akhir yang berbeda.

Ada yang menjadikannya seorang ratu.

Ada yang menikahkannya dengan pangeran.

Ada yang membuatnya mengalahkan naga besar.

Namun setiap akhir terasa tidak cocok.

Dan halaman terakhir selalu kembali kosong.

Nara melihat istana setengah jadi itu.

“Bukankah biasanya tokoh utama harus menyelamatkan kerajaan?”

Talia mengangkat bahu.

“Itu yang selalu dikatakan pembaca.”

“Apakah kerajaanmu sedang dalam bahaya?”

Talia berpikir.

“Tidak juga.”

“Naga di gunung sudah pensiun.”

“Penyihir jahat sekarang membuka toko kue.”

“Pangeran yang katanya harus kuselamatkan malah sedang belajar berkebun.”

Nara hampir tertawa.

Cerita ini benar-benar berbeda dari cerita kepahlawanan biasa.

Saka mengeluarkan sebuah kartu katalog dari sakunya.

Anehnya, kartu itu masih terbawa masuk ke dalam cerita.

Ia membaca informasi yang muncul.

Judul: KISAH YANG MENUNGGU PEMILIKNYA

Penulis: Tidak Diketahui

Akhir cerita akan ditemukan ketika tokoh utama memilih jalannya sendiri.

Saka menatap Talia.

“Mungkin masalahnya bukan karena ceritamu belum selesai.”

“Mungkin kamu belum pernah diberi kesempatan menentukan akhir sendiri.”

Talia terdiam.

Selama hidupnya di dalam cerita, semua orang selalu memberinya arahan.

Pembaca pertama menyuruhnya menjadi ksatria.

Pembaca kedua ingin ia memakai mahkota.

Pembaca ketiga memaksanya jatuh cinta pada seseorang yang bahkan tidak ia kenal.

Tidak pernah ada yang bertanya:

Apa yang sebenarnya Talia inginkan?

Nara, Saka, dan Talia mulai berjalan menuju istana yang belum selesai.

Mereka berharap menemukan petunjuk tentang bagaimana cerita itu seharusnya berakhir.

Namun semakin jauh mereka berjalan, semakin aneh dunia di dalam buku tersebut berubah.

Jalan yang mereka lewati tidak pernah benar-benar tetap.

Ketika Nara membayangkan bahwa mereka akan melewati hutan berbahaya, tiba-tiba pohon-pohon tinggi muncul dari tanah.

Batangnya dipenuhi duri panjang.

Ketika Saka mulai berpikir bahwa mungkin ada monster yang menjaga jalan, semak-semak di depan mereka berubah menjadi makhluk berkaki enam dengan mata menyala.

Talia langsung mengangkat pedang kayunya.

“Bisa tidak kalian berhenti memikirkan hal-hal buruk?”

Nara dan Saka saling melihat.

“Aku hanya mencoba mencari kemungkinan,” jawab Saka.

“Masalahnya, cerita ini terlalu cepat mengikuti pikiran kita.”

Belum sempat Talia menjawab, Saka tiba-tiba berhenti.

“Aku baru saja terpikir sesuatu.”

Nara langsung menatapnya.

“Apa?”

Saka terlihat khawatir.

“Hujan batu.”

Detik berikutnya, langit langsung berubah gelap.

Batu-batu kecil mulai jatuh dari atas.

Talia menghela napas.

“Serius?”

Mereka bertiga segera berlindung di bawah perisai kayu milik Talia.

Nara mulai memahami sesuatu.

“Buku ini bukan hanya mengikuti pembaca.”

“Buku ini terlalu bergantung pada pembaca.”

Saka mengangguk.

“Itulah masalahnya.”

“Selama ini setiap pembaca mencoba membuat cerita sesuai keinginan mereka sendiri.”

“Mereka tidak pernah benar-benar mendengarkan Talia.”

Talia terdiam.

Ia melihat pedang kayu di tangannya.

Selama ini, semua orang selalu mengatakan bahwa dirinya harus menjadi pahlawan.

Tetapi tidak ada yang pernah bertanya apakah itu memang yang ia inginkan.

Setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya sampai di istana.

Di dalamnya terdapat sebuah ruangan besar yang dipenuhi cermin.

Namun cermin-cermin itu tidak menunjukkan wajah mereka.

Setiap cermin menampilkan akhir cerita yang berbeda.

Di cermin pertama, Talia terlihat duduk di atas singgasana.

Ia mengenakan mahkota besar.

Semua orang menyebut namanya sebagai ratu hebat.

Namun wajahnya terlihat kosong.

“Aku memang menjadi ratu,” kata Talia.

“Tapi kenapa rasanya seperti bukan aku?”

Mereka melihat cermin berikutnya.

Di sana Talia menikah dengan seorang pangeran tampan.

Kerajaan merayakan pesta besar.

Namun Talia terlihat bingung.

“Aku bahkan tidak mengenalnya.”

Cermin berikutnya menunjukkan Talia sebagai pahlawan terkenal.

Namanya dikenal di seluruh dunia.

Ia berhasil mengalahkan berbagai musuh.

Tetapi ia berdiri sendirian.

Tidak pernah kembali ke rumah.

Semua akhir itu terlihat sempurna.

Namun tidak satu pun terasa benar.

“Semua ini terlihat seperti akhir yang bagus,” kata Talia.

“Tapi tidak terasa seperti hidupku.”

Nara mendekat.

“Kalau begitu, coba lupakan dulu tentang menjadi tokoh utama.”

Talia menatapnya.

“Pikirkan tentang dirimu sendiri.”

“Apa yang kamu suka?”

Bukan tentang kerajaan.

Bukan tentang kemenangan.

Bukan tentang apa yang orang lain ingin lihat.

Talia berpikir cukup lama.

“Aku suka memperbaiki sesuatu.”

Nara tersenyum.

“Memperbaiki?”

Talia mengangguk.

“Pedang kayuku sudah patah berkali-kali, tapi aku selalu memperbaikinya.”

“Aku juga suka menggambar rancangan bangunan.”

“Aku sering membuat gambar jembatan dan rumah.”

Ia berhenti.

“Tapi itu bukan pekerjaan seorang pahlawan.”

“Siapa bilang?” tanya Nara.

“Tidak semua orang harus menyelamatkan dunia dengan pedang.”

“Kadang seseorang bisa mengubah dunia dengan membangun sesuatu.”

Mereka kemudian pergi ke bagian istana yang belum selesai.

Di sana terdapat sebuah jurang besar yang memisahkan dua wilayah.

Di sisi satu terdapat desa.

Di sisi lain terdapat pasar.

Selama bertahun-tahun, penduduk harus memutar melewati gunung selama tiga hari hanya untuk berpindah tempat.

Talia melihat jurang itu.

Matanya langsung berbinar.

“Ini masalahnya.”

Nara tersenyum.

“Aku rasa kamu sudah tahu jawabannya.”

Talia mengambil pensil dari tanah.

Ia mulai menggambar.

Bukan pedang.

Bukan mahkota.

Melainkan sebuah jembatan.

Saka membantu menghitung ukuran dan jarak.

Nara membantu mencari bahan.

Penduduk desa mulai ikut membantu.

Perlahan, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada mulai terbentuk.

Sebuah jalan penghubung.

Namun ketika mereka hampir menyelesaikannya, langit berubah gelap.

Suara berat terdengar.

“Berhenti.”

Dari udara muncul sosok tinggi dengan tubuh yang tersusun dari tanda baca.

Ada titik.

Koma.

Tanda seru.

Semuanya bergerak membentuk tubuh.

“Aku adalah Penjaga Akhir.”

Makhluk itu berdiri di depan mereka.

“Tugasku memastikan setiap cerita mengikuti aturan.”

Talia menatapnya.

“Aturan apa?”

Penjaga Akhir mengangkat tangannya.

“Tokoh utama harus memiliki pertarungan besar.”

“Harus mengalahkan musuh.”

“Harus mendapatkan kemenangan yang luar biasa.”

Sekejap, jurang berubah menjadi arena.

Pedang kayu Talia berubah menjadi pedang besi yang berkilau.

Sorak-sorai terdengar dari udara.

Seolah seluruh dunia menunggu pertarungan.

“Majulah,” kata Penjaga Akhir.

“Buktikan bahwa kamu adalah pahlawan.”

Talia melihat pedang di tangannya.

Kemudian ia menurunkannya.

“Aku tidak mau.”

Penjaga Akhir terdiam.

“Apa?”

“Aku tidak ingin bertarung hanya karena cerita mengharuskannya.”

Tubuh Penjaga Akhir mulai membesar.

“Kalau begitu, kamu bukan pahlawan.”

Talia mengambil kembali palu pembangunan.

“Mungkin aku bukan pahlawan seperti yang kamu bayangkan.”

“Tapi aku tahu apa yang ingin kulakukan.”

Ia kembali membangun jembatan.

Penjaga Akhir marah.

Ia menyerang dengan tombak berbentuk tanda seru.

Nara segera membuka buku gambarnya.

Ia menggambar payung besar.

Payung itu muncul dan menahan serangan.

Saka mengeluarkan kartu katalog.

Kartu-kartu itu berubah menjadi burung kertas yang terbang mengelilingi Penjaga Akhir.

Sementara itu, Talia terus bekerja.

Satu papan.

Dua papan.

Tiga papan.

Jembatan semakin panjang.

Penduduk desa ikut membantu.

Mereka membawa kayu.

Mengikat tali.

Menyusun bagian yang belum selesai.

Semakin jembatan terbentuk, tubuh Penjaga Akhir semakin retak.

“Tidak!”

teriaknya.

“Cerita tanpa pertarungan tidak akan menarik!”

Namun tidak ada yang berhenti.

Karena untuk pertama kalinya, cerita itu tidak dibuat untuk memenuhi keinginan pembaca.

Cerita itu dibuat berdasarkan pilihan tokoh yang menjalaninya.

Ketika papan terakhir dipasang, jembatan selesai.

Penduduk desa mulai menyeberang.

Seorang anak kecil akhirnya bisa mengunjungi neneknya tanpa harus berjalan berhari-hari.

Pedagang dapat membawa barang lebih cepat.

Dua wilayah yang lama terpisah akhirnya kembali bertemu.

Dan saat itulah halaman kosong di langit mulai dipenuhi tulisan.

Penjaga Akhir semakin melemah.

Tubuhnya yang tersusun dari tanda baca mulai pecah sedikit demi sedikit.

Tanda seru yang menjadi senjatanya jatuh ke tanah.

Titik-titik yang membentuk tubuhnya mulai berubah menjadi tulisan kecil yang beterbangan di udara.

“Tidak mungkin,” katanya dengan suara bergetar.

“Cerita yang baik harus memiliki kemenangan besar.”

“Harus ada musuh yang dikalahkan.”

“Harus ada akhir yang membuat semua orang kagum.”

Talia berhenti sejenak.

Ia menatap makhluk itu.

“Mungkin selama ini kamu salah memahami cerita.”

Penjaga Akhir terdiam.

“Cerita tidak selalu tentang seseorang yang mengalahkan sesuatu.”

“Kadang cerita tentang seseorang yang menemukan apa yang benar-benar ingin ia lakukan.”

Talia melihat jembatan yang baru selesai dibangun.

Anak-anak berlari melewatinya.

Pedagang membawa barang mereka dengan mudah.

Orang-orang dari dua desa yang dulu terpisah kini bisa saling bertemu.

“Aku tidak menyelamatkan kerajaan dengan pedang.”

“Aku hanya membuat sesuatu yang membantu orang lain.”

“Dan menurutku, itu sudah cukup berarti.”

Kalimat itu membuat retakan terakhir muncul di tubuh Penjaga Akhir.

Ia berubah menjadi sebuah titik kecil.

Titik itu jatuh perlahan ke ujung kalimat terakhir dalam cerita.

Kemudian muncul tulisan baru di langit.

ISTANA ITU TIDAK PERNAH SELESAI SEPENUHNYA, KARENA TALIA MEMAHAMI BAHWA DUNIA YANG BAIK SELALU MEMILIKI RUANG UNTUK DIPERBAIKI.

Setelah kalimat itu muncul, seluruh dunia di dalam buku mulai berubah.

Langit yang sebelumnya kosong kini dipenuhi warna.

Rumput abu-abu berubah menjadi hijau.

Istana setengah jadi tidak lagi terlihat sebagai sesuatu yang kurang.

Melainkan sebagai tempat yang masih memiliki kesempatan untuk berkembang.

Talia berdiri di tengah jembatan buatannya.

“Aku tahu sekarang.”

“Aku tidak harus menjadi seseorang yang diinginkan orang lain.”

“Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri.”

Saka tersenyum sambil melihat kartu katalog di tangannya.

Tulisan pada kartu berubah.

Judul buku yang sebelumnya kosong kini memiliki nama baru.

JEMBATAN TALIA

Tiba-tiba, seluruh halaman mulai berputar.

Angin besar muncul dari setiap sudut cerita.

Nara dan Saka merasa tubuh mereka semakin ringan.

“Aku rasa waktunya kembali,” kata Saka.

Talia mendekat.

“Terima kasih.”

Nara tersenyum.

“Bukan aku yang menemukan akhir ceritamu.”

“Kamu sendiri yang memilihnya.”

Talia melihat jembatan yang sudah selesai.

“Aku berharap pembaca berikutnya mau mendengarkan sebelum mencoba mengubah ceritaku.”

“Aku rasa mereka akan melakukannya,” jawab Nara.

Cahaya memenuhi tempat itu.

Dalam sekejap, Nara dan Saka kembali terlempar keluar dari buku.

Mereka kembali berada di Perpustakaan Balik Halaman.

Buku tanpa judul yang tadi membawa mereka masuk kini melayang di udara.

Sampulnya telah berubah.

Tidak lagi kosong.

Di bagian depannya tertulis:

JEMBATAN TALIA

Buku itu terbang menuju sebuah rak khusus bertuliskan:

CERITA YANG MENEMUKAN JALANNYA SENDIRI

Nara memperhatikannya dengan senang.

Ia menyadari bahwa cerita bukan hanya tentang akhir yang sempurna.

Cerita adalah perjalanan.

Tentang pilihan.

Tentang perubahan.

Dan tentang keberanian seseorang menentukan jalannya sendiri.

Tidak lama kemudian, kepala pustakawan datang membawa sebuah stempel besar.

Ia melihat buku Jembatan Talia.

“Bagus.”

“Buku mengembalikan kalian tepat waktu.”

Ia memeriksa catatan peminjaman.

“Tidak ada denda kenangan.”

Saka langsung menghela napas lega.

“Syukurlah.”

Nara tertawa kecil.

“Aku tidak ingin kehilangan kenangan tentang tempat ini.”

Saka menatapnya.

“Kau akan pergi ke pintu berikutnya?”

Nara mengangguk.

Di ujung perpustakaan, sebuah pintu baru mulai muncul.

Pintu itu memiliki gambar bulan yang sedang tertidur.

Sebelum pergi, Nara mengambil kartu peminjaman buku Jembatan Talia.

Ia menulis sesuatu di sana.

Saka penasaran.

“Apa yang kamu tulis?”

“Namakuku.”

“Untuk apa?”

Nara tersenyum.

“Supaya suatu hari nanti aku bisa membaca cerita ini lagi.”

“Tapi kali ini sebagai pembaca.”

“Pembaca yang tahu bahwa tidak semua cerita harus diarahkan.”

“Kadang kita hanya perlu mendengarkan.”

Nara berjalan menuju pintu berikutnya.

Sebelum masuk, ia mendengar suara buku-buku di rak.

Bukan suara yang meminta dibuatkan akhir yang hebat.

Bukan suara yang meminta kisahnya menjadi sempurna.

Melainkan suara yang berharap setiap pembaca bersedia menemani mereka menemukan akhir yang paling jujur.

Nara membuka pintu bergambar bulan.

Cahaya lembut menyambutnya.

Di balik pintu itu, dunia baru kembali menunggu.

Petualangan baru.

Cerita baru.

Dan kepingan cahaya berikutnya yang harus ditemukan.

SELESAI