Pintu yang Menyimpan Hujan
Export PDFPintu yang Menyimpan Hujan
Sinopsis
Hujan yang turun pada suatu sore membawa Nara menemukan sebuah pintu biru misterius di ujung gang dekat rumahnya. Pintu yang hanya muncul ketika hujan turun itu ternyata menjadi jalan menuju Lorong Seribu Pintu, sebuah tempat yang menghubungkan berbagai dunia penuh keajaiban.
Di sana, Nara mendapatkan tugas untuk mengumpulkan kepingan cahaya dari dunia-dunia yang mulai kehilangan imajinasi. Perjalanan pertamanya membawanya ke Negeri Awan Kering, tempat hujan disimpan karena penduduknya percaya bahwa kesedihan hanya membawa kelemahan. Nara harus membantu mereka memahami bahwa rasa sedih bukan sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan bagian dari kehidupan yang membuat seseorang mampu merasakan kebahagiaan.
Isi Cerita
Hujan turun sejak sore.
Rintiknya kecil dan lembut, seperti benang-benang tipis yang dijatuhkan perlahan dari langit. Nara duduk di teras rumah sambil memperhatikan air yang mengalir di sela-sela batu halaman. Suara hujan biasanya membuatnya tenang, tetapi sore itu pikirannya justru dipenuhi rasa penasaran.
Sebenarnya, Nara sedang memiliki tugas dari Ibu. Ia diminta mengambil jemuran milik tetangga yang belum diangkat karena kemungkinan akan kehujanan.
Namun, ketika hendak berjalan keluar rumah, langkahnya berhenti.
Di ujung gang, tepat di sebuah tembok tua yang selama ini hanya dipenuhi lumut dan coretan kapur anak-anak, berdiri sebuah pintu berwarna biru.
Nara mengerutkan kening.
Ia yakin benda itu tidak pernah ada sebelumnya.
Di balik tembok tersebut seharusnya hanya terdapat kebun pisang milik Pak Rahman. Tidak ada rumah, tidak ada ruangan, bahkan tidak ada jalan menuju tempat lain.
Akan tetapi, sore itu sebuah pintu berdiri tegak di sana.
Pintu itu memiliki gagang berbentuk bulan sabit. Pada permukaannya terdapat tulisan yang perlahan bersinar setiap kali terkena air hujan.
UNTUK ORANG YANG MASIH BERANI MEMBAYANGKAN.
Nara membaca tulisan itu beberapa kali.
“Siapa yang membuat ini?” gumamnya.
Ia melihat ke kanan dan kiri. Gang terlihat sepi. Tidak ada siapa pun yang bisa ditanya.
Rasa ingin tahunya semakin besar.
Dengan hati-hati, Nara mendekati pintu tersebut. Tangannya perlahan menyentuh gagang pintu.
Dingin.
Namun, rasa dinginnya berbeda dari benda logam biasa. Rasanya seperti menyentuh air yang berhenti mengalir.
Nara segera menarik tangannya.
“Aku cuma melihat sebentar,” katanya pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Ia kemudian memutar gagang pintu.
Begitu pintu terbuka, hembusan angin hangat langsung menyambut wajahnya.
Nara terdiam.
Di balik pintu itu bukan kebun pisang.
Tidak ada pohon.
Tidak ada tanah.
Yang ada hanyalah sebuah lorong panjang dengan langit-langit tinggi yang dipenuhi cahaya kecil seperti kunang-kunang. Di kedua sisi lorong berdiri ratusan pintu dengan bentuk yang berbeda-beda.
Ada pintu bundar seperti pintu rumah peri, pintu kecil sebesar kotak surat, pintu tinggi menjulang seperti gerbang istana, bahkan ada pintu yang melayang di udara tanpa dinding.
Nara melangkah masuk perlahan.
“Tempat apa ini?”
Belum sempat ia mencari jawaban, sebuah suara terdengar dari kejauhan.
“Akhirnya ada yang datang.”
Nara langsung menoleh.
Di tengah lorong berdiri seorang lelaki tua mengenakan jas hujan berwarna kuning. Rambut dan janggutnya berwarna abu-abu seperti awan mendung. Di tangannya terdapat payung tertutup dan sebuah kompas kecil yang seluruh bagiannya terbuat dari kertas.
Nara berhenti beberapa langkah darinya.
“Bapak siapa?”
Lelaki tua itu tersenyum.
“Namaku Ranu. Aku penjaga Lorong Seribu Pintu.”
Nara masih terlihat bingung.
“Bagaimana Bapak tahu siapa aku?”
Ranu mengangkat kompas kertas di tangannya.
“Karena lorong ini dapat mengenali orang-orang yang masih memiliki imajinasi.”
Ia memperhatikan Nara dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
“Kau Nara, bukan? Anak yang sering menggambar ikan bersayap di belakang buku matematika.”
Nara langsung memeluk kedua lengannya.
“Kok Bapak tahu?”
Ranu tertawa kecil.
“Karena hal-hal kecil yang dianggap tidak penting oleh dunia biasa sering kali menjadi sesuatu yang paling berharga di tempat ini.”
Kemudian wajah Ranu berubah lebih serius.
“Tetapi sekarang Lorong Seribu Pintu sedang menghadapi masalah.”
Nara melihat ke arah pintu-pintu di sekitarnya.
“Masalah apa?”
“Banyak dunia di balik pintu ini mulai kehilangan cahaya imajinasi.”
Ranu menunjukkan kompasnya yang jarumnya bergerak tidak beraturan.
“Jika cahaya itu benar-benar hilang, dunia-dunia tersebut akan lenyap. Bahkan dunia manusia perlahan akan berubah menjadi tempat yang hanya mengenal hal-hal yang sudah ada.”
Nara terdiam.
“Maksudnya?”
“Tidak ada lagi keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru. Tidak ada cerita baru, ide baru, atau mimpi tentang sesuatu yang belum pernah terjadi.”
Nara menatap deretan pintu yang tidak berujung.
“Lalu aku harus melakukan apa?”
Ranu menyerahkan kompas kertas itu kepada Nara.
“Kumpulkan sembilan kepingan cahaya dari sembilan dunia berbeda. Keping terakhir akan menemukanmu sendiri ketika waktunya tiba.”
Tiba-tiba kompas di tangan Nara bergerak.
Jarumnya berputar cepat lalu berhenti menunjuk sebuah pintu putih yang retak.
Dari celah pintu tersebut keluar udara panas.
“Pintu pertama sudah memilihmu,” kata Ranu.
Nara menatap pintu itu.
Ia memikirkan Ibu yang mungkin sedang mencarinya. Ia memikirkan jemuran tetangga yang mungkin sudah basah karena hujan.
Namun, ia juga membayangkan dunia tanpa cerita dan tanpa imajinasi.
Entah kenapa, hal itu terasa jauh lebih menakutkan.
Nara menarik napas panjang.
Lalu ia membuka pintu putih tersebut.
Begitu melewati pintu putih itu, Nara merasakan perubahan suasana yang sangat berbeda.
Udara hangat langsung menyambutnya. Namun, bukan kehangatan yang nyaman seperti sinar matahari pagi. Udara itu terasa kering dan berat, seolah tempat tersebut sudah lama menunggu datangnya sesuatu yang hilang.
Di hadapannya terbentang sebuah negeri yang aneh.
Tanahnya lembut seperti kapas, tetapi sebagian besar permukaannya retak karena tidak pernah terkena air. Rumah-rumah penduduk terlihat seperti gumpalan awan yang dibentuk menjadi bangunan, tetapi warnanya tampak kusam dan kehilangan cahaya.
Langit di atas negeri itu berwarna putih terang.
Namun, tidak ada satu pun awan hujan.
Tidak ada sungai.
Tidak ada genangan.
Bahkan tidak ada embun.
“Selamat datang di Negeri Awan Kering.”
Nara menoleh.
Seorang anak laki-laki berjalan mendekatinya sambil membawa ember kosong. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan Nara. Rambutnya sedikit berantakan dan wajahnya terlihat penasaran.
“Kamu bukan penduduk sini, kan?” tanyanya.
Nara menggeleng.
“Bukan. Namaku Nara. Aku ingin tahu, kenapa tempat yang disebut Negeri Awan justru terlihat sangat kering?”
Anak itu memperkenalkan dirinya.
“Aku Piko.”
Ia kemudian menunjuk sebuah menara kaca yang berdiri jauh di tengah negeri tersebut.
“Karena hujan sudah tidak ada lagi.”
Nara mengikuti arah pandangannya.
Di dalam menara itu terlihat sesuatu yang bergerak seperti kabut hitam yang berputar-putar.
“Itu apa?”
Piko menatap menara tersebut dengan wajah sedih.
“Itu hujan yang dikurung.”
Nara terkejut.
“Hujan bisa dikurung?”
Piko mengangguk perlahan.
“Dulu tempat ini tidak seperti sekarang. Negeri Awan Kering dulu penuh warna. Hujan turun dengan lembut, tanaman tumbuh subur, sungai mengalir, dan setiap selesai hujan selalu muncul pelangi.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi semuanya berubah ketika Ratu Cerah memerintahkan agar semua awan hujan disimpan dalam menara.”
“Kenapa dia melakukan itu?”
Piko menunduk.
“Karena menurutnya hujan hanya membawa kesedihan.”
Nara mengernyitkan dahi.
“Kesedihan?”
“Iya. Ratu percaya bahwa air mata membuat orang menjadi lemah. Jadi ia berpikir, jika tidak ada hujan, maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menangis.”
Nara melihat sekeliling.
Sekarang ia mulai memahami sesuatu.
Mereka berjalan menuju menara kaca. Sepanjang perjalanan, Nara melihat hal-hal yang terasa ganjil.
Semua orang tersenyum.
Namun senyum mereka tidak terlihat bahagia.
Seorang ibu menjatuhkan kendi kosongnya. Ia hanya mengambilnya kembali sambil tersenyum.
“Tidak apa-apa,” katanya.
Padahal matanya terlihat sedih.
Seorang lelaki tua terpeleset di jalan. Ia bangkit sambil tertawa kecil meskipun lututnya terluka.
“Aku baik-baik saja,” ujarnya.
Bahkan seorang anak kecil yang kehilangan mainannya buru-buru menghapus air mata.
“Aku tidak sedih,” katanya.
Nara menatap Piko.
“Mereka sebenarnya sedih, ya?”
Piko mengangguk.
“Namun kami tidak boleh menunjukkannya.”
Nara merasa ada sesuatu yang salah dengan negeri itu.
Bukan karena mereka menangis.
Melainkan karena mereka tidak diberi kesempatan untuk menangis.
Ketika sampai di depan menara, dua penjaga berdiri menghalangi pintu masuk.
“Tidak ada yang boleh masuk tanpa izin Ratu Cerah,” kata salah satu penjaga.
Nara berpikir.
Ia tidak membawa senjata.
Ia tidak memiliki kekuatan ajaib.
Namun, ia memiliki sesuatu yang mungkin tidak dimiliki banyak orang.
Ide.
Nara mengambil buku kecil dari tasnya.
“Aku punya cara.”
Ia mulai menggambar sesuatu di halaman kosong.
Piko melihat dengan penasaran.
“Apa yang kamu gambar?”
“Tunggu sebentar.”
Beberapa saat kemudian, Nara menunjukkan hasil gambarnya.
Seekor burung kecil dengan ekor yang sangat panjang.
Piko mengambil pensil.
“Aku tambahkan sesuatu.”
“Apa?”
“Tiga kaki dan topi koki.”
Nara menatap gambar itu.
“Kenapa harus topi koki?”
Piko mengangkat bahu.
“Supaya dia terlihat seperti burung yang punya pekerjaan.”
Nara tertawa kecil.
Namun sebelum mereka sempat membahasnya lebih jauh, gambar tersebut tiba-tiba bergerak.
Burung itu keluar dari kertas.
Ia mengepakkan sayap, berjalan mengelilingi penjaga, lalu berteriak keras,
“Sup awan gosong! Sup awan gosong!”
Kedua penjaga saling memandang bingung.
“Apa itu?”
“Aku tidak tahu, tetapi sepertinya harus ditangkap!”
Mereka langsung mengejar burung aneh tersebut.
Nara dan Piko memanfaatkan kesempatan itu untuk masuk ke dalam menara.
Mereka menaiki tangga yang panjang hingga akhirnya tiba di ruangan paling atas.
Di sana, seorang perempuan duduk di atas singgasana yang terbuat dari cahaya.
Dialah Ratu Cerah.
Wajahnya terlihat anggun, tetapi sorot matanya menyimpan rasa lelah yang dalam.
Di belakangnya berdiri sebuah tabung kaca besar.
Di dalam tabung itu, awan gelap bergerak perlahan.
Hujan yang selama bertahun-tahun tidak pernah turun.
Ratu menatap mereka.
“Siapa yang mengizinkan kalian masuk?”
Nara berdiri dengan berani.
“Tidak ada.”
Ia menunjuk tabung kaca di belakang Ratu.
“Kami datang untuk membebaskan hujan.”
Ekspresi Ratu berubah.
“Tidak.”
Suaranya terdengar tegas.
“Hujan membawa kesedihan. Kesedihan membuat seseorang menjadi lemah.”
Nara menatap tabung tersebut.
“Menurutku tidak.”
Ratu berdiri.
“Kau masih terlalu muda untuk memahami kehilangan.”
Kalimat itu membuat Nara terdiam.
Ia tiba-tiba teringat Kuki, kucing kesayangannya yang hilang beberapa tahun lalu.
Saat itu, Nara merasa sangat sedih.
Ia bahkan berhenti menggambar karena setiap gambar selalu mengingatkannya pada Kuki.
Namun, setelah beberapa waktu, ia kembali mengambil pensilnya.
Ia menggambar cerita tentang Kuki yang berpetualang ke bulan dan bertemu dengan berbagai makhluk ajaib.
“Aku memang pernah kehilangan,” kata Nara.
“Tapi menangis tidak membuatku lebih lemah. Menangis membantuku menerima bahwa sesuatu pernah begitu berarti bagiku.”
Ruangan menjadi sunyi.
Kemudian Piko melangkah maju.
“Aku juga sedih.”
Suaranya bergetar.
“Aku sedih karena adikku sakit. Aku sedih karena kami tidak punya cukup air untuk membantunya.”
Untuk pertama kalinya, Piko tidak memaksakan senyum.
Air matanya jatuh.
Satu tetes.
Lalu dua tetes.
Ketika air mata itu jatuh ke dalam ember kosongnya, sesuatu yang luar biasa terjadi.
Air mata tersebut berubah menjadi cahaya biru kecil.
Ratu Cerah menatapnya dengan terkejut.
Dan dari luar menara, suara-suara lain mulai terdengar.
“Aku sedih karena kebunku mati!”
“Aku sedih karena lupa bagaimana warna pelangi!”
“Aku sedih karena aku lelah berpura-pura bahagia!”
Satu per satu penduduk mulai berani mengakui perasaan mereka.
Dan saat itu juga, Negeri Awan Kering mulai berubah.
Air mata yang selama ini dianggap sebagai tanda kelemahan ternyata membawa sesuatu yang berbeda.
Setiap tetesan air mata penduduk Negeri Awan Kering jatuh ke tanah, lalu berubah menjadi cahaya kecil yang perlahan menyebar ke seluruh penjuru negeri.
Tanah yang sebelumnya kering mulai menjadi lembap.
Retakan-retakan di permukaan tanah perlahan tertutup. Dari celah-celah kecil mulai tumbuh tunas hijau yang lama tertidur. Bunga-bunga kecil bermunculan di antara awan yang mulai berubah warna.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, negeri itu terlihat hidup kembali.
Penduduk yang sebelumnya hanya tersenyum palsu mulai menunjukkan perasaan mereka dengan bebas.
Ada yang menangis karena bahagia.
Ada yang tertawa karena lega.
Ada yang saling berpelukan karena akhirnya mereka tidak perlu lagi menyembunyikan apa yang mereka rasakan.
Ratu Cerah berdiri di dekat jendela menara sambil memperhatikan perubahan negerinya.
Wajahnya yang sebelumnya terlihat kuat dan tidak tergoyahkan perlahan berubah.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku yang membuat semua ini terjadi,” katanya pelan.
Nara menatapnya.
Ratu menarik napas panjang.
“Aku mengurung hujan setelah putriku pergi.”
Suaranya bergetar.
“Setiap kali hujan turun, aku selalu teringat pada hari terakhir bersamanya. Aku merasa terlalu sakit untuk menghadapinya.”
Ia menundukkan kepala.
“Aku berpikir, jika hujan tidak pernah turun lagi, maka rasa kehilangan itu juga akan hilang.”
Nara diam sejenak.
Ia memahami perasaan itu.
Kadang manusia memang ingin menghapus sesuatu yang menyakitkan. Namun sering kali, menghilangkan rasa sakit bukan berarti menyelesaikan masalah.
“Apakah rasa sedih itu benar-benar hilang?” tanya Nara lembut.
Ratu menggeleng.
“Tidak.”
Ia melihat kedua tangannya.
“Rasa itu tetap ada. Aku hanya menyembunyikannya.”
Nara tersenyum kecil.
“Mungkin memang ada beberapa hal yang tidak perlu dilupakan. Beberapa hal cukup diterima.”
Ratu Cerah memandang tabung kaca besar di belakangnya.
Kemudian ia berjalan mendekat.
Dengan tangan perlahan, ia menyentuh permukaan tabung tersebut.
Awalnya tidak terjadi apa-apa.
Namun beberapa detik kemudian, muncul retakan kecil.
Suara pecahan kaca terdengar memenuhi ruangan.
Retakan itu semakin besar.
Hingga akhirnya...
PRAK!
Tabung kaca pecah menjadi ribuan serpihan kecil yang berubah menjadi butiran embun bercahaya.
Awan gelap yang selama ini terperangkap langsung keluar dan bergerak menuju langit.
Guntur terdengar.
Angin berhembus lebih kuat.
Lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Hujan turun di Negeri Awan Kering.
Penduduk berdiri terpaku.
Mereka menatap langit yang selama ini mereka rindukan.
Tidak ada yang berlari mencari tempat berteduh.
Tidak ada yang merasa takut.
Mereka justru berjalan keluar dari rumah masing-masing.
Seorang anak kecil tertawa ketika tetesan hujan mengenai wajahnya.
“Airnya dingin!” katanya senang.
Seorang ibu menengadahkan tangan sambil menangis.
Namun kali ini, tangisan itu bukan karena kesedihan.
Melainkan karena bahagia.
Di tengah hujan, penduduk Negeri Awan Kering mulai menari dan tertawa.
Mereka akhirnya memahami bahwa hujan tidak datang untuk membuat dunia menjadi sedih.
Hujan datang untuk memberi kehidupan.
Di langit, awan gelap perlahan berubah menjadi warna-warni.
Sebuah pelangi besar muncul membentang di antara awan.
Dari ujung pelangi tersebut, muncul sebuah cahaya biru yang bergerak perlahan menuju Nara.
Cahaya itu berhenti tepat di depan tangannya.
Nara menyentuhnya.
Dalam sekejap, cahaya tersebut masuk ke dalam kompas kertas miliknya.
Kompas itu bergetar.
Sebuah garis bercahaya muncul di permukaannya.
Keping cahaya pertama telah ditemukan.
Piko yang berdiri di samping Nara tersenyum.
Kali ini senyumnya benar-benar terlihat bahagia.
“Jadi kamu harus pergi lagi?”
Nara melihat pintu bercahaya yang perlahan muncul di bawah pelangi.
“Iya.”
Piko terlihat sedikit sedih.
“Apakah kamu akan kembali?”
Nara terdiam sebentar.
Ia ingin memberikan jawaban pasti.
Namun perjalanan ini masih panjang.
“Aku tidak tahu,” katanya jujur.
“Tapi setiap kali hujan turun di rumahku, aku akan mengingat tempat ini.”
Piko mengangguk.
“Kurasa itu sudah cukup.”
Nara melambaikan tangan kepada Piko dan penduduk Negeri Awan Kering.
Kemudian ia berjalan menuju pintu bercahaya tersebut.
Saat melewatinya, suara hujan perlahan menghilang.
Dalam sekejap, Nara kembali berada di Lorong Seribu Pintu.
Ranu masih berdiri di sana.
Anehnya, lelaki tua itu tetap membawa payung terbuka meskipun lorong tersebut tidak pernah terkena hujan.
“Selamat datang kembali,” kata Ranu.
Nara mengangkat kompasnya.
“Sudah satu keping.”
Ranu melihat cahaya biru yang tersimpan di dalam kompas.
“Lalu, apa yang kau pelajari dari dunia pertama?”
Nara memandang cahaya itu sejenak.
Ia teringat Piko yang akhirnya berani menangis.
Ia teringat Ratu Cerah yang akhirnya menerima rasa kehilangan.
Ia juga teringat penduduk yang menemukan kembali kebahagiaan setelah berani menghadapi kesedihan.
“Bahwa dunia yang terlalu takut pada kesedihan bisa kehilangan kesempatan untuk merasakan kebahagiaan.”
Ranu tersenyum dan mengangguk.
“Itu pelajaran yang sangat penting.”
Tidak lama kemudian, terdengar suara dari kejauhan.
Salah satu pintu di Lorong Seribu Pintu mulai bergerak.
Pintu itu berbentuk bulat dengan permukaan menyerupai tempurung raksasa.
Nara menatap pintu tersebut.
Ia belum tahu apa yang menunggunya di dunia berikutnya.
Namun sekarang ia tidak lagi merasa takut.
Ia bukan lagi anak yang hanya penasaran dengan sebuah pintu misterius.
Kini ia membawa sebuah misi.
Sebuah kompas.
Dan satu keping cahaya yang menjadi bukti bahwa setiap dunia memiliki cerita untuk diselamatkan.
Nara tersenyum kecil.
Ia tiba-tiba teringat sesuatu.
“Jemuran tetangga…”
Kemungkinan besar pakaian itu sudah benar-benar basah.
Ia membayangkan wajah Ibu ketika mengetahui dirinya menghilang tanpa kabar.
Mungkin ia akan dimarahi.
Mungkin ia harus membantu mencuci ulang semua pakaian itu.
Namun, untuk pertama kalinya, Nara tidak menyesal.
Karena di balik sebuah pintu biru sederhana, ia menemukan dunia yang jauh lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan.
Dan petualangannya baru saja dimulai.
Dengan langkah mantap, Nara membuka pintu berikutnya.
Menuju dunia baru yang menunggu untuk ditemukan.