Pohon Harapan yang Berbuah Bintang
Export PDFDi ujung sebuah lembah yang dikelilingi pegunungan tinggi, terdapat Desa Lumin, desa kecil yang tidak pernah mengalami malam yang benar-benar gelap. Setiap malam, ribuan kunang-kunang bercahaya beterbangan di langit, menerangi jalan-jalan kecil dan sawah-sawah yang membentang luas.
Penduduk desa percaya bahwa cahaya kunang-kunang berasal dari sebuah pohon raksasa yang tumbuh di tengah hutan. Pohon itu disebut Pohon Harapan.
Konon, setiap seratus tahun sekali pohon tersebut akan berbuah. Buahnya berbentuk bintang kecil berwarna emas. Siapa pun yang memakannya akan memperoleh satu harapan yang menjadi kenyataan.
Selama ratusan tahun, pohon itu selalu berbuah tepat waktu.
Namun pada tahun ketika Amerta berusia tujuh belas tahun, sesuatu yang tidak pernah terjadi akhirnya terjadi.
Daun-daun Pohon Harapan menguning.
Batangnya retak.
Cabang-cabangnya mengering.
Tidak ada satu pun buah yang tumbuh.
Seluruh desa diliputi kesedihan.
"Kalau pohon itu mati," kata tetua desa, "harapan dunia akan ikut menghilang."
Banyak orang mencoba menyiramnya dengan air sungai.
Ada yang membawa pupuk terbaik.
Bahkan para tabib menggunakan ramuan langka.
Namun pohon itu tetap layu.
Amerta memandangi pohon itu setiap hari.
Entah mengapa, ia merasa pohon tersebut seperti sedang meminta pertolongan.
Malam itu, ketika semua orang telah tidur, Amerta kembali ke hutan.
Di bawah pohon ia menemukan sesuatu yang aneh.
Seekor rusa putih sedang berdiri diam sambil memandang akar pohon.
Saat Amerta mendekat, rusa itu berbicara.
"Akhirnya kau datang."
Amerta mundur beberapa langkah.
"Kau... bisa bicara?"
Rusa itu mengangguk pelan.
"Namaku Elvar."
"Aku penjaga Pohon Harapan."
"Kalau begitu, tolong selamatkan pohon ini."
Elvar menatap langit.
"Pohon ini tidak sakit."
"Lalu kenapa layu?"
"Karena Mata Air Harapan berhenti mengalir."
Amerta belum pernah mendengar nama itu.
Elvar menjelaskan bahwa jauh di balik Pegunungan Kabut terdapat mata air ajaib yang menjadi sumber kehidupan Pohon Harapan. Selama ribuan tahun, air dari mata air tersebut mengalir melalui akar-akar yang tersembunyi di bawah tanah.
Namun kini alirannya terputus.
"Siapa yang menghentikannya?"
"Tidak ada yang tahu."
Tanpa ragu, Amerta memutuskan pergi bersama Elvar.
Perjalanan mereka dimulai saat fajar.
Mereka melewati Hutan Bisikan, tempat setiap pohon dapat berbicara. Pohon-pohon itu mencoba membuat Amerta kembali.
"Perjalananmu sia-sia."
"Kau tidak akan berhasil."
Namun Amerta terus melangkah.
Semakin ia mengabaikan suara-suara itu, jalan di depannya semakin terbuka.
Mereka kemudian tiba di Jembatan Angin.
Jembatan itu tidak terbuat dari kayu maupun batu, melainkan dari hembusan angin yang hanya akan muncul jika seseorang berjalan tanpa rasa takut.
Amerta menarik napas panjang.
Ia melangkah perlahan.
Setiap langkah membentuk pijakan baru.
Beberapa kali ia hampir terjatuh.
Namun Elvar selalu berada di sampingnya.
Setelah berhasil melewati jembatan, mereka memasuki Lembah Cermin.
Di sana terdapat danau yang mampu memperlihatkan isi hati seseorang.
Saat Amerta melihat permukaan air, ia tidak melihat wajahnya sendiri.
Ia melihat ayahnya yang telah lama meninggal.
"Ayah..."
Bayangan itu tersenyum.
"Aku bangga padamu."
Air mata Amerta menetes.
Namun ia sadar itu hanyalah kenangan.
Ia mengusap air matanya lalu melanjutkan perjalanan.
Akhirnya mereka sampai di Pegunungan Kabut.
Di balik bebatuan besar terdapat Mata Air Harapan.
Namun mata air itu telah membeku menjadi kristal.
Di depannya berdiri seorang pria berjubah hitam.
Namanya Kaelor.
"Aku yang menghentikan aliran air ini."
"Kenapa?" tanya Amerta.
Kaelor memandang mata air dengan tatapan kosong.
"Aku pernah berharap."
"Aku kehilangan keluargaku."
"Aku memohon agar mereka kembali."
"Pohon Harapan tidak mengabulkannya."
"Sejak saat itu aku tahu bahwa harapan hanyalah kebohongan."
Amerta terdiam.
Ia memahami rasa kehilangan itu.
Namun ia menggeleng perlahan.
"Harapan bukan jaminan bahwa semua keinginan akan terwujud."
"Harapan memberi kita kekuatan untuk tetap melangkah meski kenyataan menyakitkan."
Kaelor tertawa pahit.
"Itu hanya kata-kata."
Ia mengangkat tongkatnya.
Es di sekitar mata air berubah menjadi naga kristal raksasa.
Naga itu menyerang Amerta.
Elvar mencoba melindunginya, tetapi terpental.
Amerta tidak memiliki senjata.
Yang ia miliki hanyalah sebuah botol kecil berisi air dari desa.
Air yang setiap hari digunakan warga untuk menyiram Pohon Harapan.
Ia menuangkan air itu ke atas es.
Tetes demi tetes.
Tidak terjadi apa-apa.
Namun tiba-tiba cahaya kecil muncul.
Botol itu ternyata telah dipenuhi doa-doa sederhana para penduduk desa.
Doa seorang ibu agar anaknya sehat.
Doa petani agar panennya berhasil.
Doa anak kecil agar bisa melihat pelangi.
Cahaya itu semakin besar hingga mencairkan seluruh es.
Mata Air Harapan kembali mengalir.
Naga kristal menghilang.
Kaelor berlutut.
Ia melihat bayangan keluarganya di permukaan air.
Mereka tidak kembali hidup.
Namun mereka tersenyum kepadanya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kaelor menangis.
"Aku terlalu lama hidup dalam kemarahan."
Air mata Kaelor jatuh ke mata air.
Aliran air menjadi semakin deras.
Jauh di Desa Lumin, Pohon Harapan mulai berubah.
Daun-daunnya kembali hijau.
Batangnya bersinar lembut.
Cabang-cabangnya dipenuhi buah berbentuk bintang.
Seluruh desa bersorak gembira.
Ketika Amerta kembali, tetua desa mempersilahkannya mengambil satu buah bintang sebagai hadiah.
Namun Amerta menggeleng.
"Ada banyak orang yang lebih membutuhkan daripada aku."
Tetua itu tersenyum.
"Karena itulah kau paling pantas menerimanya."
Saat Amerta memetik buah tersebut, buah itu tidak berubah menjadi emas atau permata.
Buah itu berubah menjadi cahaya kecil yang masuk ke dalam dadanya.
"Mana harapanku?" bisiknya.
Elvar tersenyum.
"Itu bukan hadiah."
"Itu adalah keberanian yang akan selalu tinggal di dalam hatimu."
Sejak hari itu, Pohon Harapan kembali berbuah setiap seratus tahun.
Namun masyarakat Desa Lumin tidak lagi datang hanya untuk meminta keajaiban.
Mereka datang untuk mengingat satu pelajaran yang diwariskan Amerta:
Harapan bukanlah menunggu keajaiban datang. Harapan adalah keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika jalan di depan masih dipenuhi ketidakpastian.