← Kembali ke Detail

Pulau yang Mengapung di Atas Mimpi

Export PDF

Sejak kecil, Naresya memiliki mimpi yang sama setiap malam.

Ia berdiri di tepi tebing, memandang sebuah pulau raksasa yang mengapung di atas awan. Air terjun mengalir dari pulau itu langsung ke langit, sementara ribuan ikan berwarna-warni berenang di udara seperti burung.

Di tengah pulau berdiri sebuah pohon yang daunnya memancarkan cahaya keemasan.

Setiap kali Naresya mencoba mendekatinya, ia selalu terbangun.

Mimpi itu terus datang selama bertahun-tahun.

Teman-temannya menertawakannya.

"Itu cuma mimpi."

"Banyak baca buku fantasi, ya?"

Naresya hanya tersenyum.

Entah mengapa, ia selalu merasa pulau itu benar-benar ada.

Suatu sore, ketika membantu kakeknya membersihkan gudang tua, ia menemukan sebuah jam pasir kecil yang seluruh isinya berwarna biru.

Di bagian bawahnya terukir tulisan:

"Balikkan saat bulan menyentuh awan."

Malam itu bulan tampak sangat besar.

Awan tipis melintas tepat di depannya.

Dengan penasaran, Naresya membalik jam pasir tersebut.

Pasir biru berputar cepat.

Lantai rumah menghilang.

Tubuhnya terasa sangat ringan.

Dalam sekejap ia sudah berdiri di atas hamparan rumput lembut dengan langit berada di bawah kakinya.

Ia menoleh.

Pulau dalam mimpinya benar-benar ada.

"Akhirnya kau datang."

Suara kecil membuatnya terkejut.

Seekor kelinci putih bersayap berdiri sambil membawa tas mungil.

"Aku Piko."

"Nenek Penjaga sudah menunggumu."

"Nenek siapa?"

"Kau akan tahu."

Mereka berjalan menuju pohon bercahaya yang selama ini hanya ia lihat dalam mimpi.

Di bawah pohon duduk seorang perempuan tua berjubah hijau.

Rambutnya panjang seperti benang perak.

"Selamat datang, Penjaga Mimpi."

"Aku bukan penjaga."

"Belum."

Perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai Aruna, penjaga terakhir Pulau Mimpi.

Ia menjelaskan bahwa semua mimpi manusia berasal dari pohon bercahaya tersebut.

Setiap malam, daun-daunnya berubah menjadi mimpi yang terbang menuju dunia manusia.

"Mimpi memberi manusia keberanian untuk mencoba hal baru."

"Tanpa mimpi," kata Aruna, "manusia akan hidup, tetapi tidak pernah benar-benar berharap."

Naresya mengangguk pelan.

Lalu ia menyadari sesuatu.

Sebagian besar daun pohon telah mengering.

"Apa yang terjadi?"

"Waktu kita hampir habis."

Sebelum Aruna sempat menjelaskan lebih jauh, terdengar suara menggeram dari kejauhan.

Langit berubah menjadi gelap.

Awan-awan berubah hitam.

Dari balik kabut muncul makhluk raksasa berbentuk bayangan.

Matanya merah menyala.

Sayapnya terbuat dari asap.

"Itulah Pemakan Fajar," kata Aruna lirih.

"Ia mencuri mimpi sebelum sampai kepada manusia."

Makhluk itu menyambar beberapa daun bercahaya.

Daun-daun langsung berubah menjadi debu.

"Kalau semua mimpi habis?"

"Matahari tidak akan pernah terbit lagi."

Perjalanan pun dimulai.

Aruna memberikan Naresya sebuah kompas kristal.

"Kompas ini tidak menunjukkan arah utara."

"Lalu menunjukkan apa?"

"Arah harapan."

Jarumnya berputar sendiri menuju hutan awan.

Di sana mereka bertemu berbagai makhluk aneh.

Burung yang bernyanyi menggunakan warna.

Kupu-kupu sebesar perahu.

Rusa transparan yang tanduknya dipenuhi bunga kecil.

Mereka juga bertemu anak laki-laki bernama Orion.

Ia sudah tinggal di Pulau Mimpi selama puluhan tahun.

"Puluhan tahun?"

"Tapi kau masih kecil."

"Di sini waktu berjalan berbeda."

Orion bergabung dalam perjalanan.

Kompas membawa mereka menuju Danau Pantulan.

Airnya bukan memantulkan wajah.

Melainkan impian terbesar setiap orang.

Saat Naresya melihat ke dalam air, ia melihat dirinya mengenakan jas putih sebagai dokter, tersenyum membantu banyak orang.

Ia terdiam.

"Itu mimpimu," kata Orion.

"Tidak semua orang berani mengakuinya."

Mereka melanjutkan perjalanan menuju Gunung Senandung.

Di puncaknya tersimpan Benih Fajar, satu-satunya benda yang mampu menghidupkan kembali Pohon Mimpi.

Namun Pemakan Fajar telah menunggu.

Bayangannya memenuhi langit.

"Kalian terlambat."

Ia menghancurkan sebagian jalan menuju puncak.

Batu-batu berjatuhan.

Orion hampir terjatuh ke jurang awan.

Naresya segera menarik tangannya.

Pemakan Fajar tertawa.

"Manusia mudah menyerah."

"Kalian bermimpi terlalu tinggi."

Naresya menggenggam kompas.

Jarumnya mulai bersinar.

Ia sadar kompas itu semakin terang setiap kali seseorang saling membantu.

"Bukan mimpi yang membuat kami lemah."

"Mimpi justru membuat kami terus mencoba."

Kompas berubah menjadi cahaya besar.

Cahaya itu mengenai Benih Fajar.

Benih tersebut tumbuh menjadi pohon kecil yang memancarkan ribuan daun emas.

Daun-daun itu beterbangan memenuhi langit.

Ketika menyentuh tubuh Pemakan Fajar, bayangan hitamnya perlahan menghilang.

Di balik tubuh gelap itu ternyata terdapat seekor burung raksasa berbulu putih.

"Aku... bebas..."

Burung itu menundukkan kepala.

"Dulu aku penjaga mimpi."

"Aku berubah menjadi monster karena terlalu lama memakan keputusasaan manusia."

Naresya tersenyum.

"Kalau begitu... bantulah kami lagi."

Burung itu mengepakkan sayapnya.

Seluruh langit kembali berwarna biru.

Pohon Mimpi hidup kembali.

Daun-daunnya tumbuh jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Satu per satu daun terbang menuju dunia manusia.

Di malam yang sama, jutaan orang bermimpi.

Ada yang bermimpi menjadi guru.

Ada yang ingin menemukan obat penyakit.

Ada yang bercita-cita menjelajah lautan.

Ada pula yang hanya ingin melihat keluarganya bahagia.

Semua mimpi itu memenuhi langit seperti bintang.

Sebelum pulang, Aruna memberikan jam pasir biru kepada Naresya.

"Pulau ini akan selalu ada."

"Tapi hanya mereka yang masih percaya pada mimpi yang dapat menemukannya."

Sesaat kemudian pasir kembali berputar.

Naresya membuka mata di kamarnya.

Jam dinding menunjukkan pagi.

Semua terasa seperti mimpi.

Namun di meja belajarnya terdapat satu helai daun emas yang tidak pernah layu.

Sejak hari itu, setiap kali seseorang berkata bahwa mimpi hanyalah angan-angan, Naresya hanya tersenyum.

Karena ia tahu, di atas awan sana masih ada sebuah pulau yang menjaga setiap harapan manusia.

Dan selama masih ada satu orang yang berani bermimpi, Pulau Mimpi akan terus mengapung di langit, menunggu seseorang yang cukup berani untuk menemukannya.