SATU-SATUNYA PENUMPANG DI GERBONG TERAKHIR
Export PDFKereta Hantu di Tengah Malam
Angin malam yang bertiup di stasiun tua itu menggigit tulang dan membuat harmoni yang tidak dapat diabaikan telinga. Pak Danu menyalakan senternya ke arah rel yang berkarat. Tepat pukul 02:00, suara deru besi terdengar, disusul peluit panjang yang melengking memilukan. Sebuah kereta uap tua muncul dari kabut, seolah menembus batas dunia.
Kereta itu berhenti tepat di depan pos jaga. Dengan ragu, Danu mendekat dengan tangan gemetar, keringatnya bercucuran di bawah langit yang dingin. Pintu gerbong terakhir terbuka dengan suara yang tajam. Tak menyangka, dia melihat foto istrinya di dalam gerbong itu.
"Sari?" gumam Danu, suaranya parau. "Bagaimana foto ini bisa ada di sini?"
Ia melangkah masuk. Begitu kakinya menginjak lantai gerbong, pintu tertutup rapat tanpa suara.
"Hei! Buka pintunya!" teriak Danu sambil menggedor pintu.
"Tidak akan ada yang membukamu, Danu," sebuah suara berat menyahut dari kegelapan gerbong.
Gerbong Kenangan
“Batin menyuruhku untuk berhenti, tetapi kenapa kaki ku terus melangkah penasaran?”, gumamnya di dalam hati.
Gerbong itu berubah menjadi ruang tamu rumah lama Danu. Di tengah ruangan, duduk seorang wanita yang sedang menjahit, tidak lain adalah Sari.
"Sari? Kamu masih hidup?" Danu berlari mendekat, air matanya menetes.
Sari menoleh, wajahnya pucat namun teduh. "Kamu terlambat pulang lagi, Danu. Apa uang itu lebih penting daripada makan malam bersama?"
"Itu... itu hanya tugas, Sari. Aku ingin kita punya rumah yang layak," jawab Danu terbata-bata.
"Rumah?" Sari tertawa getir.
"Kamu membangun rumah di atas kebohongan, Danu dan sekarang, rumah itu sudah jadi abu. Kamu tahu itu, kan?".
"Aku tidak bermaksud membakar rumah itu! Itu kecelakaan!", balas Danu.
"Kebohongan tidak pernah menjadi kecelakaan!" sahut Sari sebelum sosoknya memudar, berubah menjadi kepulan asap.
Penumpang yang Terjebak
Danu berlari ke gerbong berikutnya, nafasnya tersengal. Kali ini, suasananya adalah ruang sidang yang pengap. Di kursi saksi, duduk mantan rekan bisnisnya, Pak Hadi.
"Apa yang kamu cari di sini, Danu?" tanya Pak Hadi dengan tatapan dingin.
"Aku mencari jalan keluar! Lepaskan aku!" seru Danu.
"Jalan keluar?" ucap Pak Hadi, sambil tersenyum sinis. "Kamu yang menaruh uang perusahaan di rekening pribadi mu, memalsukan tanda tanganku, dan membiarkan aku dipenjara. Kamu pikir gerbong ini akan membawamu ke mana?"
"Aku sudah membayar utangku!" teriak Danu.
"Dengan menjadi penjaga stasiun seumur hidupmu?" Pak Hadi berdiri, menunjukkan sosok yang besar dan menantang.
"Itu bukan hukuman, itu pelarian. Kamu hanya bersembunyi dari dosa-dosamu di stasiun busuk ini.", lanjutnya.
Damaikan Sang Bayangan
Danu merangkak menuju gerbong depan. Di sana, ia menemukan sosok kondektur yang membelakanginya. Sosok itu memakai seragam yang persis dengan miliknya.
"Siapa kau?" tanya Danu sambil mencengkeram bahu sosok itu.
Sosok itu berbalik. Wajahnya adalah wajah Danu sendiri—tapi dengan mata penuh kebencian. "Aku adalah bagian yang kau buang, Danu. Aku adalah ketakutan dan penyesalan yang kau pendam setiap malam."
"Aku ingin semuanya berakhir!" teriak Danu. "Aku tidak ingin menghantui diriku sendiri lagi!"
Kondektur itu menyodorkan tuas rem ke tangan Danu. "Kalau begitu, tarik tuas ini. Tapi ingat, jika kau menghentikan kereta ini, kau harus melepaskan semua kenyamanan yang kau bangun dari kebohonganmu."
Danu memegang tuas itu erat-erat. "Aku melepaskannya. Semuanya. Aku tidak mau bersembunyi lagi."
Dengan satu hentakan kuat, ia menarik tuas itu. Cahaya putih menyilaukan menghantam matanya.
"Danu! Bangun, Danu!"
Danu tersentak bangun di pos jaganya. Kereta itu sudah hilang. Tidak ada asap, tidak ada bayangan. Hanya ada dingin malam yang kini terasa berbeda, terasa ringan. Ia melihat ke arah rel, lalu tersenyum tipis. Ia mengambil tasnya, berjalan meninggalkan stasiun untuk terakhir kalinya, siap menghadapi hidup yang sebenarnya.