← Kembali ke Detail

Surat Terakhir dari Rumah Nomor 13

Export PDF

Hujan turun perlahan ketika Alya membuka kotak peninggalan neneknya. Sudah seminggu sejak pemakaman selesai. Rumah tua keluarga mereka terasa lebih sunyi daripada biasanya. Alya berniat membereskan barang-barang yang tersimpan di loteng sebelum kembali ke kota.

Di antara foto-foto lama dan buku-buku usang, ia menemukan sebuah amplop berwarna cokelat. Namanya tertulis di bagian depan.

Tangannya sedikit gemetar ketika membuka surat tersebut, tulisan tangan neneknya masih terlihat jelas.

"Alya, jika kamu membaca surat ini, berarti Nenek sudah tiada. Ada satu hal yang harus kamu ketahui. Jangan pernah masuk ke Rumah Nomor 13 setelah matahari terbenam. Apapun alasannya."

Alya mengernyit.

Rumah Nomor 13 adalah bangunan kosong yang terletak di ujung jalan dekat alun-alun kota tua.

Sejak kecil ia sering mendengar cerita tentang rumah itu. Konon, rumah tersebut berhantu. Namun Alya tidak pernah percaya pada cerita semacam itu.

Bagian akhir surat membuatnya semakin penasaran.

"Ada rahasia yang tidak pernah berhasil Nenek ungkap. Jika suatu hari kamu mencarinya, berhati-hatilah."

Keesokan harinya, Alya menemui sahabat lamanya, Reno.

Mereka duduk di sebuah warung kopi dekat pasar.

"Aku yakin ini cuma cerita lama," kata Reno setelah membaca surat itu.

"Mungkin."

"Tapi aku tahu wajahmu."

"Apa maksudmu?"

"Kamu pasti ingin menyelidikinya."

Alya tersenyum.

Reno mengenalnya terlalu baik.

Malam itu mereka mencari informasi mengenai Rumah Nomor 13. Di perpustakaan kota, mereka menemukan arsip koran lama. Salah satu berita menarik perhatian mereka.

Pria Hilang Secara Misterius di Rumah Nomor 13.

Berita itu diterbitkan tahun 1985, korbannya seorang guru bernama Arif Prasetyo. Menurut laporan, Arif menghilang tanpa jejak setelah pindah ke rumah tersebut. Polisi tidak pernah menemukan petunjuk yang jelas.

Kasus itu akhirnya ditutup.

Namun ada sesuatu yang aneh.

Foto rumah dalam artikel terlihat berbeda. Di bagian belakang bangunan tampak sebuah pintu yang sekarang sudah tidak ada.

Dua hari kemudian, Alya dan Reno mendatangi rumah tersebut. Bangunan itu terlihat tua dan tidak terawat, catnya mengelupas, jendelanya sebagian pecah, halaman depannya dipenuhi rumput liar.

Meski sudah puluhan tahun kosong, pintu utama ternyata tidak terkunci. Mereka masuk perlahan.

Debu tebal menutupi lantai.

Udara di dalam terasa pengap. Ruang tamu kosong.

Hanya ada sebuah jam dinding tua yang sudah berhenti berdetak.

Alya memperhatikan sesuatu di dekat perapian.

Sebuah ukiran angka 13.

Namun di bawahnya terdapat simbol aneh yang tidak dikenalnya.

"Apa ini?" bisiknya.

Reno memotret simbol tersebut.

Mereka belum tahu bahwa simbol itu akan menjadi petunjuk terpenting dalam penyelidikan mereka.

Malam harinya, Alya menerima surat misterius.

Surat itu tidak memiliki nama pengirim.

Isinya hanya satu kalimat.

"Berhenti mencari tahu tentang Rumah Nomor 13."

Alya merasa merinding.

Ia yakin tidak banyak orang yang mengetahui penyelidikannya. Lalu siapa yang mengirim surat itu?

Keesokan hari, Reno berhasil menemukan arti simbol yang mereka lihat. Simbol tersebut ternyata digunakan oleh sebuah perkumpulan rahasia yang pernah ada di kota itu pada tahun 1970-an.

Perkumpulan itu dikenal sangat tertutup, anggotanya berasal dari berbagai kalangan.

Namun organisasi tersebut dibubarkan setelah terjadi sebuah skandal besar.

Nama Arif Prasetyo tercatat sebagai salah satu anggotanya.

Temuan itu mengubah arah penyelidikan mereka.

Mungkin misteri Rumah Nomor 13 tidak ada hubungannya dengan hantu.

Mungkin ada sesuatu yang jauh lebih nyata.

Malam berikutnya mereka kembali ke rumah itu. Kali ini mereka memeriksa bagian belakang bangunan.

Di balik semak-semak tua, Alya menemukan bekas pondasi yang berbeda dari dinding lainnya.

"Reno."

"Apa?"

"Aku rasa dulu memang ada pintu di sini."

Mereka mulai membersihkan area tersebut.

Setelah beberapa menit, terlihat gagang besi yang tersembunyi di balik tanah dan lumut.

Dengan susah payah mereka menariknya.

Terdengar suara berderak keras. Sebagian dinding bergerak. Di baliknya terdapat lorong sempit menuju ruang bawah tanah.

Jantung Alya berdebar kencang.

Mereka menyalakan senter dan masuk perlahan.

Lorong itu berakhir di sebuah ruangan kecil. Di tengah ruangan terdapat meja kayu tua. Di atasnya ada kotak besi berkarat.

Ketika kotak itu dibuka, mereka menemukan puluhan dokumen dan sebuah buku harian. Nama pada sampul buku membuat mereka terdiam.

Arif Prasetyo.

Dengan tangan gemetar, Alya membuka halaman pertama.

Isi buku itu menceritakan aktivitas perkumpulan rahasia tersebut.

Awalnya mereka hanya kelompok diskusi biasa. Namun beberapa anggotanya mulai terlibat dalam praktik korupsi dan pemerasan.

Arif berniat membongkar semuanya. Ia mengumpulkan bukti dan menyimpannya di Rumah Nomor 13.

Tetapi sebelum sempat melaporkannya kepada polisi, ia mengetahui bahwa dirinya sedang diburu.

Pada halaman terakhir tertulis:

"Jika seseorang menemukan buku ini, berarti aku gagal. Kebenaran ada di dalam kotak besi."

Mereka segera memeriksa dokumen-dokumen di dalam kotak.

Isinya adalah bukti transaksi, daftar nama anggota, dan berbagai catatan penting. Bukti yang cukup untuk menjelaskan mengapa Arif menghilang.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari atas.

Tok...

Tok…

Tok…

Seseorang sedang berjalan di dalam rumah.

Alya dan Reno saling berpandangan. Mereka tahu tidak ada orang lain yang seharusnya berada di sana.

Langkah kaki itu semakin dekat.

Lalu berhenti tepat di atas ruangan bawah tanah.

Keheningan terasa mencekam.

Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu depan ditutup keras.

BRAK!

Mereka menunggu cukup lama sebelum memberanikan diri keluar.

Ketika memeriksa seluruh rumah, tidak ada siapa pun. Namun di ruang tamu terdapat sebuah amplop baru.

Surat itu ditujukan kepada Alya.

Tulisan tangannya sama seperti surat ancaman sebelumnya.

"Kamu sudah menemukan apa yang dicari. Sekarang serahkan dokumen itu."

Alih-alih menyerah, Alya membawa seluruh dokumen ke kantor polisi.

Penyelidikan lama kembali dibuka.

Beberapa nama yang tercantum dalam arsip ternyata masih memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh berpengaruh di kota tersebut.

Kasus yang telah terkubur hampir empat puluh tahun akhirnya mulai terungkap.

Beberapa bulan kemudian, misteri hilangnya Arif Prasetyo berhasil dipecahkan. Meski jasadnya tidak pernah ditemukan, bukti menunjukkan bahwa ia menjadi korban karena berusaha membongkar kejahatan yang dilakukan kelompoknya sendiri.

Rumah Nomor 13 tidak pernah berhantu. Rumah itu hanya menyimpan rahasia yang terlalu berbahaya bagi sebagian orang.

Suatu sore, Alya berdiri di depan rumah tersebut untuk terakhir kalinya.

Bangunan tua itu akan direnovasi dan dijadikan museum sejarah kota.

Saat hendak pergi, ia menemukan sebuah amplop tua terselip di bawah pintu.

Di dalamnya terdapat selembar kertas menguning.

Tulisan itu berasal dari Arif.

"Terima kasih karena telah menyelesaikan apa yang tidak sempat ku selesaikan."

Alya tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, ia merasa misteri itu benar-benar berakhir. Atau setidaknya, itulah yang ia pikirkan. Karena di bagian belakang surat terdapat sebuah alamat lain yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Sebuah alamat yang mungkin menyimpan rahasia berikutnya.

Tamat.