← Kembali ke Detail

Desa yang Lupa Cara Bermimpi

Export PDF

Pintu bergambar bulan perlahan terbuka.

Begitu Nara melangkah melewatinya, ia langsung terjatuh.

Namun kali ini ia tidak mendarat di tanah.

Tubuhnya jatuh di atas sesuatu yang sangat empuk.

Bantal.

Ratusan bantal bertumpuk di bawahnya seperti awan kecil.

Nara bangkit sambil mengusap kepalanya.

Ia melihat sekeliling.

Tempat itu tampak seperti sebuah desa yang sedang tertidur.

Rumah-rumah kecil berdiri dengan jendela tertutup rapat.

Jalanan sangat sepi.

Matahari bersinar, tetapi cahayanya terlihat pucat, seperti belum benar-benar terbangun.

Hal yang paling aneh adalah warna di desa itu.

Semuanya tampak kusam.

Bantal-bantal yang berserakan berwarna abu-abu.

Rumah-rumah tidak memiliki warna cerah.

Bahkan bunga di halaman hanya memiliki sedikit warna.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki muncul dari balik tumpukan bantal.

Ia membawa jarum jahit yang ukurannya hampir sepanjang lengannya.

“Kau merusak Bantal Nomor Dua Puluh Tujuh.”

Nara menoleh ke bawah.

Benar saja.

Ada satu bantal yang robek karena tempat ia jatuh tadi.

“Maaf,” kata Nara.

“Aku tidak sengaja.”

Anak itu menghela napas, lalu duduk dan mulai memperbaiki bantal tersebut.

Namanya Mimo.

Ia adalah pembuat bantal termuda di Desa Lelap.

Setiap hari, ia membuat bantal untuk membantu penduduk tidur lebih nyaman.

Namun ada satu hal yang tidak bisa dilakukan bantal buatannya.

Membawa mimpi.

Nara memperhatikan jahitan perak yang digunakan Mimo.

“Kenapa tidak ada yang bermimpi di desa ini?”

Mimo berhenti menjahit.

Pertanyaan itu membuat wajahnya berubah.

“Sudah tiga tahun, empat bulan, dan dua belas hari.”

Nara terkejut.

“Kamu menghitungnya?”

Mimo mengangguk.

“Sejak malam ketika semua orang bermimpi tentang pintu yang sama.”

“Setelah malam itu, mimpi menghilang.”

Desa Lelap memang terlihat tenang.

Namun semakin lama Nara berada di sana, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak benar.

Penduduk menjalani hari dengan pola yang sama.

Setiap pagi.

Setiap siang.

Setiap malam.

Semuanya seperti sudah ditentukan.

Seorang tukang roti hanya membuat roti berbentuk kotak.

Ketika Nara bertanya mengapa tidak membuat bentuk lain, tukang roti itu hanya menjawab,

“Karena memang begitu caranya.”

Anak-anak di sekolah menggambar rumah yang sama.

Dua jendela.

Satu pintu.

Atap segitiga.

Tidak ada yang mencoba menggambar sesuatu berbeda.

Tidak ada lagu baru.

Tidak ada permainan baru.

Tidak ada ide baru.

Semua orang hanya melakukan apa yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.

“Kami baik-baik saja tanpa mimpi,” kata kepala desa ketika Nara bertanya.

“Justru hidup lebih mudah.”

“Tidak ada anak yang bangun karena mimpi buruk.”

“Tidak ada orang yang mengejar keinginan yang mungkin tidak tercapai.”

“Semuanya berjalan sesuai rencana.”

Namun ketika Nara mendengar itu, kompasnya justru bergerak semakin kuat.

Jarumnya menunjuk ke bawah balai desa.

Malam itu, Nara dan Mimo diam-diam memasuki ruang bawah tanah balai desa.

Di sana mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Sebuah sistem pipa besar memenuhi ruangan.

Pipa-pipa itu terhubung ke seluruh rumah di desa.

Dari dalamnya mengalir kabut berwarna-warni.

Mimo mendekat.

“Ini…”

“Ini saluran mimpi.”

Nara melihat kabut yang bergerak di dalam pipa.

“Jadi selama ini mimpi mereka tidak hilang?”

Mimo menggeleng perlahan.

“Mereka diambil.”

Mereka mengikuti jalur pipa hingga keluar desa.

Pipa tersebut menuju sebuah bukit yang selama ini tertutup kabut.

Di balik bukit berdiri sebuah bangunan tua.

Sebuah pabrik.

Cerobongnya berbentuk seperti topi tidur.

Nara dan Mimo masuk perlahan.

Di dalamnya, mereka melihat ribuan gelembung melayang di udara.

Setiap gelembung berisi mimpi.

Ada mimpi seseorang bisa terbang.

Ada mimpi berbicara dengan pohon.

Ada mimpi menemukan teman baru.

Ada mimpi menjelajahi lautan.

Bahkan ada mimpi aneh seperti dikejar sandal raksasa.

Mimo tiba-tiba berhenti.

Di depannya ada sebuah gelembung kecil.

Di dalamnya terlihat seorang anak membuat bantal dengan sayap.

“Itu…”

“Itu mimpiku.”

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

“Kalian tidak seharusnya berada di sini.”

Mereka berbalik.

Seorang perempuan tua berdiri di sana.

Ia mengenakan mantel yang terbuat dari kain selimut.

Kacamata tebal menutupi matanya.

Namanya Nenek Sela.

Orang yang menjaga seluruh mesin penyimpan mimpi.

“Kamulah yang mengambil mimpi penduduk?” tanya Nara.

Nenek Sela tidak menyangkal.

“Aku menyelamatkan desa.”

Ia menunjuk gelembung-gelembung mimpi.

“Mimpi membuat manusia gelisah.”

“Mereka bangun dengan keinginan aneh.”

“Mereka meninggalkan kebiasaan.”

“Mereka mengejar sesuatu yang belum tentu berhasil.”

“Mimpi hanya membawa masalah.”

Mimo menatap gelembung berisi bantal bersayap.

“Tapi itu membuatku ingin mencoba sesuatu.”

Nenek Sela menggeleng.

“Bantal tidak membutuhkan sayap.”

Mimo memegang gelembung itu.

“Mungkin tidak.”

“Tapi aku ingin tahu apakah bantal bisa terbang.”

Nenek Sela berjalan menuju mesin besar yang memenuhi ruangan.

Mesin itu berdetak perlahan.

Setiap kali bergerak, beberapa gelembung mimpi bergetar di udara.

“Aku bukan selalu seperti ini,” katanya.

Nara dan Mimo memperhatikan.

“Dulu aku adalah penjaga mimpi Desa Lelap.”

“Aku bertugas memastikan setiap orang mendapatkan mimpi yang tepat.”

“Mimpi tentang harapan.”

“Mimpi tentang keberanian.”

“Mimpi tentang kemungkinan.”

Nenek Sela menatap salah satu gelembung besar di atas mereka.

“Tapi suatu malam, semua penduduk desa bermimpi tentang pintu yang sama.”

Nara langsung menoleh.

“Pintu?”

Nenek Sela mengangguk.

“Pintu bercahaya yang muncul di dalam mimpi mereka.”

“Ketika mereka bangun, semua orang ingin mencari pintu itu.”

“Mereka meninggalkan pekerjaan.”

“Mereka melupakan jadwal.”

“Banyak hal menjadi kacau.”

“Desa yang sebelumnya tenang berubah menjadi tempat yang penuh kebingungan.”

Mimo menatap mesin besar itu.

“Lalu Nenek mengambil semua mimpi mereka?”

“Aku takut,” jawab Nenek Sela.

“Aku takut jika manusia terlalu banyak bermimpi, mereka akan kehilangan arah.”

“Aku hanya ingin melindungi mereka.”

Nara melihat gelembung terbesar yang tertutup kain hitam.

Kompasnya bergerak semakin kuat ke arah sana.

“Apa yang ada di dalam gelembung itu?”

Nenek Sela terdiam.

“Itu mimpi yang menyebabkan semuanya berubah.”

Nara mendekati gelembung tersebut.

Ketika kainnya tersentuh, cahaya keluar dari sela-selanya.

Di dalamnya terdapat sebuah pintu yang terbuat dari cahaya.

Nara langsung mengenalinya.

“Itu salah satu Pintu Seribu.”

Mimo terkejut.

“Jadi mimpi itu bukan sekadar mimpi?”

Nenek Sela menunduk.

“Pintu itu pernah mengundang Desa Lelap untuk membantu menjaga imajinasi dunia.”

“Tapi tidak ada seorang pun yang berani melewatinya.”

“Ketika aku menyimpan mimpi mereka, pintu itu perlahan menghilang.”

Nara menatap Nenek Sela.

“Aku mengerti kenapa Nenek takut.”

“Tapi mengambil semua mimpi bukan membuat masalah hilang.”

Nenek Sela mengerutkan dahi.

“Mimpi hanya membuat orang kecewa.”

“Tidak semua mimpi bisa menjadi kenyataan.”

Nara mengangguk.

“Memang.”

“Tidak semua mimpi harus diwujudkan.”

“Tapi tanpa mimpi, seseorang tidak akan pernah tahu apa yang ingin ia coba.”

“Mimpi bukan perintah.”

“Mimpi hanya menunjukkan kemungkinan.”

“Setelah itu, manusia tetap bisa memilih.”

Nenek Sela terdiam.

Namun sebelum ia menjawab, suara keras tiba-tiba terdengar.

BRAK!

Salah satu gelembung di atas mesin pecah.

Dari dalamnya muncul makhluk aneh.

Tubuhnya seperti gabungan jam weker dan selimut.

Kepalanya berbentuk jam bundar.

Kakinya terbuat dari gulungan kain.

Ia berlari mengelilingi ruangan sambil membunyikan alarm keras.

“Bunyinya terlalu keras!” teriak Mimo sambil menutup telinga.

“Kenapa mimpi itu keluar?” tanya Nara.

Nenek Sela melihat layar mesin.

Wajahnya langsung panik.

“Penyimpanan terlalu penuh.”

“Mimpi tidak bisa terus dikurung.”

Satu per satu gelembung mulai pecah.

Dari dalamnya keluar berbagai hal aneh.

Seekor ikan yang bisa terbang.

Rumah kecil yang berjalan dengan kaki.

Hujan permen.

Raksasa kecil memakai topi.

Semuanya berlarian memenuhi pabrik.

“Kalau tangki utama pecah,” kata Nenek Sela,

“Semua mimpi akan berubah menjadi kabut liar.”

“Penduduk desa bisa tertidur selamanya.”

Nara, Mimo, dan Nenek Sela segera mencoba menghentikan mesin.

Mereka mencari katup pelepas.

Namun pintu pengaman tidak mau terbuka.

“Tidak bisa!” kata Nenek Sela.

“Katup ini hanya bisa dibuka dengan sesuatu yang dibuat dari imajinasi baru.”

Nara segera mengeluarkan buku gambarnya.

Ia mencoba menggambar sebuah kunci.

Namun tangannya berguncang karena keadaan semakin kacau.

Ketika gambar selesai, kunci itu bergerak.

Tetapi bukan menjadi kunci biasa.

Kunci tersebut memiliki kaki kecil.

“Aku hampir lupa menghapus bagian anehnya,” gumam Nara.

Kunci itu langsung berlari menjauh.

Mimo tertawa kecil.

“Setidaknya dia terlihat bahagia.”

Nara mengejar kunci itu dan berhasil menangkapnya.

Ia menggambar ulang dengan lebih hati-hati.

Kali ini, kunci tersebut berubah menjadi kunci sungguhan.

Namun katup tetap terlalu tinggi.

Mimo melihat kain-kain yang berserakan di lantai.

Kemudian matanya berbinar.

“Aku punya ide.”

Ia mengambil kain besar.

Tangannya bergerak cepat.

Jarum jahitnya berpindah seperti kilatan cahaya.

Dalam beberapa menit, ia membuat sesuatu.

Sebuah bantal.

Namun bukan bantal biasa.

Bantal itu memiliki dua sayap lebar.

Nara tersenyum.

“Bantal bersayap?”

Mimo melihat hasil buatannya.

“Bantal memang tidak membutuhkan sayap.”

“Tapi mungkin bantal boleh punya.”

Mereka naik ke atas bantal tersebut.

Dengan menarik tali kecil, sayap bantal mulai bergerak.

Bantal itu terbang.

Walaupun sedikit miring ke kiri.

“Pegangan!” teriak Mimo.

Mereka melayang melewati pabrik.

Menghindari monster jam weker.

Melewati gelembung mimpi yang pecah.

Hingga akhirnya mereka mencapai katup utama di langit-langit.

Nara memasukkan kunci.

Klik.

Katup terbuka.

Seketika seluruh mesin berhenti.

Ribuan mimpi melesat keluar melalui cerobong pabrik.

Mereka menyebar ke seluruh Desa Lelap.

Malam turun secara tiba-tiba.

Penduduk desa tertidur.

Namun kali ini, mereka tidak tidur dalam kehampaan.

Mereka bermimpi.

Langit desa dipenuhi cahaya berwarna-warni.

Seperti aurora yang bergerak perlahan di atas rumah-rumah.

Nara, Mimo, dan Nenek Sela berdiri melihatnya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Desa Lelap memiliki warna kembali.

Keesokan paginya, perubahan mulai terlihat.

Tukang roti membuat roti berbentuk ikan.

Ketika ditanya alasannya, ia menjawab,

“Aku bermimpi berenang di laut.”

Seorang petani mencoba menanam bunga di antara ladang.

Anak-anak membuat permainan baru menggunakan sapu dan lingkaran bambu.

Tidak semua ide berhasil.

Ada yang gagal.

Ada yang harus diperbaiki.

Namun desa itu kembali hidup.

Beberapa orang memang mengalami mimpi buruk.

Tetapi Nenek Sela mengajarkan mereka untuk menggambar atau menceritakan mimpi tersebut.

“Ketakutan yang dibicarakan akan menjadi lebih kecil,” katanya.

Namun perubahan di Desa Lelap tidak langsung membuat semua orang merasa nyaman.

Beberapa penduduk mulai kebingungan menghadapi kehidupan yang berbeda dari sebelumnya.

Kepala desa menjadi orang yang paling sulit menerima perubahan.

Ia berjalan mengelilingi desa sambil membawa catatan jadwal hariannya.

“Ini kacau.”

“Anak-anak terlambat masuk kelas karena sibuk membicarakan mimpi.”

“Para pedagang menunda membuka toko karena mereka ingin mencatat ide yang muncul saat tidur.”

“Bahkan ada petani yang menanam tanaman dengan pola melingkar.”

Ia menunjuk ladang milik seorang warga.

“Itu bukan cara bertani yang benar.”

Namun beberapa hari kemudian, sesuatu yang mengejutkan terjadi.

Tanaman yang ditanam dengan pola melingkar justru tumbuh lebih baik.

Pola tersebut membuat air hujan tertahan lebih lama sehingga tanah tidak cepat kering.

Petani itu tersenyum.

“Aku memang tidak tahu apakah akan berhasil.”

“Tapi aku ingin mencoba.”

Kepala desa terdiam.

Ia mulai menyadari bahwa tidak semua perubahan berarti kekacauan.

Kadang sesuatu yang berbeda hanya membutuhkan waktu untuk dipahami.

Di tempat lain, seorang anak kecil datang menemui Nara.

“Aku bermimpi membuat alat yang bisa mengalirkan air ke kebun.”

Anak itu menunjukkan gambar sederhana dari selang bekas dan roda kecil.

Dulu, mungkin tidak ada yang akan memperhatikan idenya.

Namun sekarang, penduduk desa mendengarkannya.

Mereka membantu membuat alat tersebut.

Tidak langsung sempurna.

Beberapa kali gagal.

Selangnya bocor.

Rodanya tidak berputar.

Namun mereka terus memperbaikinya.

Dan akhirnya alat itu berhasil.

Kebun-kebun kecil di sekitar desa mulai mendapatkan air dengan lebih mudah.

Melihat itu, kepala desa akhirnya tersenyum kecil.

“Mungkin sedikit kekacauan memang tidak selalu buruk.”

“Mungkin yang penting adalah bagaimana kita mengarahkannya.”

Setelah kejadian itu, Nenek Sela tidak lagi menggunakan mesin penyedot mimpi.

Sebaliknya, ia mengubah pabrik tua tersebut menjadi tempat baru.

Namanya:

Rumah Mimpi.

Di sana, penduduk bisa menceritakan mimpi mereka.

Bukan untuk langsung mengejar semuanya.

Namun untuk memahami mana yang bisa dicoba.

Mana yang harus dipersiapkan.

Dan mana yang cukup menjadi cerita indah di dalam pikiran.

Nenek Sela juga mulai belajar bahwa tugasnya bukan menghapus mimpi.

Melainkan membantu orang memahami mimpi mereka.

Suatu sore, Nara melihat Mimo sedang bekerja di bengkelnya.

Di depannya terdapat sebuah benda besar.

Sebuah bantal dengan dua sayap.

“Bantal Bersayap versi kedua,” kata Mimo bangga.

Nara tersenyum.

“Apakah sekarang bisa terbang lurus?”

Mimo terdiam sebentar.

“Sedikit.”

Tiba-tiba bantal itu bergerak ke samping dan hampir menabrak pintu.

Nara tertawa.

“Masih perlu diperbaiki?”

Mimo mengangguk.

“Tentu.”

“Tapi sekarang aku tahu sesuatu.”

“Apa?”

“Tidak masalah kalau percobaan pertama belum sempurna.”

“Karena tanpa percobaan pertama, tidak akan ada percobaan kedua.”

Mimo kemudian mengambil sebuah kain kecil.

Di bagian tengah bantal terdapat jahitan berbentuk bintang.

Dari jahitan itu muncul cahaya lembut.

Sebuah keping cahaya berwarna biru muda perlahan keluar.

Cahaya tersebut melayang menuju Nara.

Begitu disentuh, cahaya itu masuk ke dalam kompas kertasnya.

Kepingan cahaya kedelapan telah ditemukan.

Mimo melihat kompas tersebut dengan kagum.

“Apakah semua mimpi harus menjadi kenyataan?”

Nara melihat desa yang sekarang mulai penuh warna.

Anak-anak bermain.

Penduduk mencoba hal baru.

Orang-orang kembali memiliki rasa ingin tahu.

“Tidak,” jawab Nara.

“Tidak semua mimpi harus diwujudkan.”

“Ada mimpi yang cukup menjadi inspirasi.”

“Ada mimpi yang mengajarkan kita sesuatu.”

“Tapi tanpa mimpi, kita mungkin tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ingin kita coba.”

Malam itu, Desa Lelap terasa berbeda.

Tidak lagi sunyi.

Dari berbagai rumah terdengar orang-orang bercerita tentang mimpi mereka.

Ada yang ingin membuat taman.

Ada yang ingin menciptakan lagu baru.

Ada yang ingin menjelajahi tempat yang belum pernah dikunjungi.

Tidak semua rencana akan berhasil.

Namun sekarang mereka tidak takut gagal.

Karena mereka tahu kegagalan bukan akhir.

Kadang kegagalan hanyalah bagian dari perjalanan menuju sesuatu yang baru.

Keesokan harinya, sebuah pintu muncul di dinding Rumah Mimpi.

Permukaannya dipenuhi gambar bintang kecil.

Namun salah satu bintang terus berkedip.

Seperti sedang memberi tanda.

Nara tahu.

Itulah pintu berikutnya.

Ia berpamitan kepada Mimo dan Nenek Sela.

“Terima kasih sudah mengembalikan mimpi kami,” kata Nenek Sela.

Nara tersenyum.

“Aku hanya membantu membuka pintunya.”

“Yang membuat desa ini berubah adalah kalian sendiri.”

Mimo memberikan Nara sebuah benda kecil.

Sebuah kain berbentuk bintang dari sisa bahan Bantal Bersayap.

“Untuk mengingat Desa Lelap.”

Nara menyimpannya bersama kapal kertas dari Banu.

Kini sakunya semakin penuh dengan benda-benda dari dunia yang pernah ia kunjungi.

Benda kecil.

Namun memiliki cerita besar.

Saat Nara membuka pintu, ia mendengar suara anak-anak di belakangnya.

Mereka sedang berdebat tentang cara membuat sepeda yang bisa terbang.

Salah satu berkata sayapnya harus lebih besar.

Yang lain berkata harus menggunakan baling-baling.

Mungkin sebagian ide mereka tidak akan berhasil.

Mungkin mereka akan membuat banyak kesalahan.

Namun bagi Nara, suara perdebatan itu terdengar jauh lebih hidup dibandingkan desa yang dulu hanya mengikuti aturan.

Karena dunia yang penuh mimpi selalu memiliki kemungkinan.

Nara melangkah masuk.

Di balik pintu bintang itu, sebuah dunia baru kembali menunggunya.

Petualangan baru.

Cerita baru.

Dan kepingan cahaya berikutnya yang harus ditemukan.

SELESAI