Gema Sunyi di Pulau Karang Hantu
Export PDFSamudra selalu menyimpan sejuta cerita di balik gulungan ombaknya, tetapi tidak semua cerita layak untuk diungkap ke permukaan. Bagi para nelayan tradisional di pesisir selatan Jawa, Pulau Karang Hantu adalah batas akhir peta dunia yang tidak boleh disentuh, apalagi didatangi. Konon, tidak ada burung laut yang pernah terlihat terbang melintas di atas pulau itu, dan tidak ada satupun ikan yang berani mendekati gugusan karang tajam yang mengelilinginya. Namun, bagi Arya, pulau terlarang itu adalah satu-satunya kunci untuk memecahkan misteri besar tentang hilangnya sang kakek, Kapten Dirgantara, tepat tiga puluh tahun yang lalu.
Di atas perahu kayu sewaan yang mesinnya sengaja dimatikan demi menghindari kebisingan, Arya mendayung perlahannya mendekati bibir pantai. Kabut putih yang sangat tipis namun pekat tampak menyelimuti daratan kecil itu, menciptakan suasana sunyi yang teramat mencekam. Bau garam yang pekat bercampur dengan aroma tanah basah yang busuk langsung menyengat indra penciumannya begitu ia berhasil menginjakkan kaki di atas hamparan pasir hitam yang legam. Di dalam tas ranselnya, sebuah buku catatan tua bersampul kulit rusa menjadi satu-satunya panduan hidup. Catatan terakhir kakeknya tertanggal 14 Oktober 1996, ditutup dengan kalimat yang ditulis secara tergesa-gesa: “Pulau ini bernapas layaknya makhluk hidup, dan waktu di sini tidak pernah berjalan lurus.”
Tanpa membuang waktu, Arya mulai melangkah menyusuri jalan setapak yang hampir sepenuhnya tertutup oleh semak belukar liar dan duri tajam. Pohon-pohon bakau di sisi kiri dan kanan tampak mati merana, ranting-ranting hitamnya menyerupai jemari kurus yang seolah sedang menggapai-gapai langit kelabu. Suasana di dalam pulau itu terasa begitu aneh dan tidak wajar. Tidak terdengar sedikit pun suara deburan ombak besar yang biasanya memecah karang, padahal angin di luar lautan bertiup sangat kencang. Yang terdengar di telinganya hanyalah desiran angin yang berbisik pelan, mirip ribuan suara manusia yang sedang berbicara serentak dalam bahasa asing yang tak dimengerti.
Setelah berjalan sekitar satu kilometer menembus hutan mati, sebuah bangunan kolosal yang sudah reyot muncul di balik rerimbunan pohon besar. Itu adalah sebuah mercusuar tua setinggi tiga puluh meter yang cat putih aslinya sudah lama mengelupas dan digantikan oleh lumut hitam yang tebal. Pintu masuknya tampak separuh terbuka, berderit pelan dan konstan setiap kali tiupan angin menerpanya dari samping. Arya mendekati ambang pintu tersebut, sementara jantungnya berdegup kencang seiring dengan setiap langkah kaki yang mendekati kegelapan di dalam sana.
Ia lantas menyalakan senter LED berdaya tinggi dan melangkah masuk ke dalam ruang utama mercusuar yang berdebu. Debu tebal menutupi lantai kayu yang sudah rapuh dan berlubang di sana-sini. Di tengah ruangan yang luas itu, terdapat sebuah meja kayu bundar besar dengan beberapa perkakas navigasi kuno yang seluruh permukaannya telah berkarat dimakan usia. Di atas meja itulah tergeletak sebuah kompas kuno milik sang kakek. Yang membuat bulu kuduknya merinding, jarum kompas tersebut berputar sangat liar tanpa arah yang jelas, seolah kehilangan gravitasi magnetik bumi sepenuhnya.
Tiba-tiba, suara dentang lonceng besi yang sangat berat bergemanya memecah keheningan dari puncak menara. Klonceng!
Arya terperanjat kaget hingga hampir menjatuhkan senternya. Berdasarkan catatan harian yang ia baca, lonceng di puncak mercusuar itu sebenarnya telah runtuh bersama kerangka atapnya akibat gempa besar pada tahun 1980. Didorong oleh rasa penasaran yang teramat besar dan bercampur rasa takut yang mencengkeram dada, Arya mulai menaiki tangga melingkar yang terbuat dari besi tua berkarat. Setiap anak tangga yang dipijaknya berderit keras, menciptakan gema yang memantul di dalam rongga menara yang kosong dan gelap gulita.
Semakin tinggi ia mendaki, udara di sekitar terasa semakin dingin membekukan kulit. Napasnya mulai memburu, membentuk uap tipis yang mengepul di udara gelap. Ada perasaan psikologis yang sangat aneh, seolah seseorang sedang berdiri tepat di belakangnya, mengawasi setiap pergerakannya dalam diam yang mematikan. Sesampainya di lantai teratas, pemandangan di luar jendela kaca yang pecah memperlihatkan bentangan laut lepas yang tampak begitu jauh di bawah, seolah pulau karang ini menjulang jauh lebih tinggi dari kenyataan geografisnya.
Di tengah-tengah ruangan puncak menara yang terbuka, berdiri sesosok bayangan manusia yang tinggi besar.
Arya membeku di tempat, kakinya terasa tertanam kuat di lantai dan senter di tangannya bergetar hebat. Sosok itu mengenakan seragam lengkap kapten laut era tahun sembilan puluhan, berdiri membelakangi Arya sambil menghadap lurus ke arah jendela kaca yang kotor. Perlahan-lahan, sosok berwibawa itu membalikkan badannya menghadap Arya. Wajahnya sebagian besar tertutup bayangan gelap, tetapi janggut putih yang lebat dan sorot mata yang sangat tajam terlihat sangat jelas di bawah cahaya remang-remang senja yang mendadak turun begitu cepat.
Sosok itu adalah Kapten Dirgantara, kakek kandungnya sendiri. Wajahnya sama sekali tidak menua barang sedikit pun sejak hari pertama ia dilaporkan hilang di lautan lepas.
"Kau terlalu cepat datang kemari, cucuku," suara kakeknya menggema berat dan serak, seolah keluar langsung dari dasar palung laut yang paling dalam.
Arya ingin sekali berbicara, ingin meneriakkan sejuta pertanyaan tentang di mana ia selama ini berada, tetapi suaranya tertahan begitu saja di kerongkongan. Lidahnya terasa kelu.
"Pulau ini bukan tempat bagi manusia yang masih bernyawa," lanjut sang kakek dengan nada datar sambil menunjuk ke arah sebuah cermin besar berbingkai besi yang sudah retak parah di sudut ruangan. "Waktu di sini terjebak dalam lingkaran abadi tanpa ujung. Siapa pun yang datang ke tempat ini untuk mencari jawaban, pada akhirnya akan menjadi bagian dari jawaban itu sendiri."
Melalui pantulan kaca cermin yang retak tersebut, Arya melihat pemandangan mengerikan yang membuat darahnya mendadak berhenti mengalir. Di sekeliling luar mercusuar, berdiri puluhan sosok bayangan transparan yang mengenakan pakaian dari berbagai dekade sejarah yang berbeda-beda. Ada pelaut kolonial abad ke-18 dengan mantel panjang mereka, awak kapal kargo tahun 1950-an dengan seragam kusam, hingga para nelayan modern yang dilaporkan hilang beberapa tahun ke belakang. Mereka semua berdiri kaku menatap ke arah menara dengan pandangan kosong tanpa jiwa.
Sebelum Arya sempat membalikkan badan untuk melarikan diri menuruni tangga, lantai kayu tua di bawah kedua kakinya tiba-tiba ambruk tanpa suara.
Tidak ada suara benturan keras ketika ia terjatuh. Arya hanya merasakan tubuhnya melayang perlahan dalam keheningan total, menembus lapisan kabut waktu yang sangat pekat. Detik-detik terasa berjalan begitu lambat hingga ia akhirnya menyadari kebenaran mutlak dari catatan harian sang kakek. Di Pulau Karang Hantu, masa lalu, masa kini, dan masa depan telah lama melebur menjadi satu keabadian yang sunyi dan abadi.
Keesokan paginya, perahu sewaan yang membawa Arya ditemukan nelayan terdampar kosong di pantai selatan tanpa ada seorang pun di dalamnya. Buku catatan tua miliknya tergeletak begitu saja di atas pasir basah, terbuka pada halaman paling akhir yang berisi tulisan tangan baru—sebuah catatan pendek tentang seorang pemuda yang datang ke pulau demi mencari kakeknya, dan kini telah bergabung dalam keheningan abadi di sana.