Jam Dinding yang Berdetak Mundur
Export PDFMalam itu hujan turun deras di Kota Puspasari.
Jalan-jalan yang biasanya ramai mulai sepi. Hanya suara hujan dan gelegar petir yang terdengar dari kejauhan.
Di tengah kota berdiri sebuah balai kota tua peninggalan zaman kolonial. Bangunan itu sudah jarang digunakan, kecuali untuk menyimpan arsip dan benda-benda bersejarah.
Di aula utama bangunan tersebut tergantung sebuah jam dinding besar berusia lebih dari seratus tahun. Jam itu sudah lama mati.
Setidaknya itulah yang dipercaya semua orang.
Namun tepat pukul dua belas malam, sesuatu yang tidak pernah terjadi selama tiga puluh tahun kembali terjadi.
Tik
Tik.
Tik.
Tik.
Jarum detik mulai bergerak.
Bukan maju.
Melainkan mundur.
Keesokan paginya, berita itu menyebar ke seluruh kota. Penjaga balai kota mengaku melihat sendiri peristiwa tersebut.
Banyak warga langsung merasa takut.
Menurut legenda yang beredar, setiap kali jam itu berdetak mundur, seseorang akan menjadi korban.
Raka mendengar cerita itu ketika sedang meneliti arsip sejarah kota.
Ia hanya tertawa kecil.
"Zaman sekarang masih percaya kutukan?" katanya.
Temannya, Sinta, mengangkat bahu.
"Kalau semua orang percaya, biasanya ada alasan."
"Atau hanya cerita yang dibesar-besarkan."
Meski begitu, rasa penasaran membuat mereka memutuskan mengunjungi balai kota.
Jam tua itu tergantung di dinding aula utama.
Ukurannya hampir satu meter. Kayunya berwarna hitam tua dan dipenuhi ukiran rumit.
Ketika Raka mendekat, ia melihat sesuatu yang aneh.
Di bagian bawah jam terdapat sebuah simbol kecil berbentuk mata.
"Simbol apa ini?" tanya Sinta.
Raka menggeleng.
"Aku belum pernah melihatnya."
Mereka memotret simbol tersebut untuk diteliti lebih lanjut.
Saat hendak pergi, penjaga balai kota menghampiri mereka.
"Kalian sedang meneliti jam itu?"
"Iya," Jawab Raka.
Wajah penjaga itu terlihat cemas.
"Kalau bisa, jangan terlalu jauh mencampuri urusan jam itu."
"Kenapa?"
Penjaga tersebut menatap jam tua di dinding.
"Karena setiap kali jam itu bergerak mundur, selalu ada sesuatu yang buruk terjadi."
Dua hari kemudian, kejadian pertama terjadi.
Seorang pengusaha terkenal ditemukan hilang dari rumahnya. Tidak ada tanda-tanda penculikan, dan tidak ada saksi atau jejak apapun. Orang itu seolah menghilang begitu saja.
Kota Puspasari langsung gempar.
Warga mulai menghubungkan peristiwa tersebut dengan jam tua di balai kota.
Sementara itu, Raka mulai memeriksa arsip lama. Ia menemukan catatan mengenai tiga kejadian serupa pada tahun 1958, 1979, dan 1996.
Menariknya, semua korban memiliki satu kesamaan. Mereka terlibat dalam proyek pembangunan balai kota pada masa lalu.
Temuan itu membuat Raka dan Sinta semakin serius.
Mereka menelusuri dokumen-dokumen lama yang tersimpan di ruang arsip bawah tanah.
Di sana mereka menemukan laporan kecelakaan kerja yang terjadi hampir lima puluh tahun lalu. Seorang pekerja bangunan bernama Jaya dilaporkan meninggal saat renovasi balai kota.
Namun ada sesuatu yang janggal.
Beberapa halaman laporan tampak sengaja dihilangkan. Seolah seseorang berusaha menyembunyikan fakta tertentu.
Malam berikutnya mereka kembali ke balai kota.
Saat memeriksa aula utama, Sinta menemukan sebuah celah kecil di belakang jam. Mereka mencoba membukanya.
Di balik panel kayu terdapat ruang sempit yang selama ini tersembunyi. Di dalamnya terdapat sebuah kotak besi tua.
Jantung Raka berdegup kencang ketika membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat buku harian. Pemiliknya adalah Jaya.
Isi buku itu mengungkap fakta mengejutkan.
Jaya ternyata tidak meninggal karena kecelakaan.
Ia mengetahui adanya penggelapan dana pembangunan yang dilakukan beberapa pejabat kota.
Setelah mengumpulkan bukti, ia berniat melaporkannya. Namun sehari sebelum laporan itu diserahkan, ia menghilang. Kematian yang diumumkan kepada publik ternyata hanyalah cerita yang dibuat-buat.
Halaman terakhir buku itu berisi satu kalimat.
"Jika seseorang menemukan catatan ini, berarti waktunya telah tiba."
Tiba-tiba terdengar suara dentingan jam.
Dong...
Dong...
Dong...
Raka dan Sinta saling berpandangan.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam.
Padahal sebelumnya jarum menunjuk pukul sembilan.
Mereka menyaksikan sendiri jarum jam bergerak mundur perlahan.
Tik.
Tik.
Tik.
Suara itu menggema di seluruh aula.
Suasana terasa sangat mencekam.
Keesokan harinya mereka menyerahkan salinan dokumen kepada pihak berwenang.
Penyelidikan resmi pun dimulai.
Bukti-bukti yang ditemukan mengarah pada kasus korupsi lama yang belum pernah terungkap.
Beberapa nama penting dalam sejarah kota mulai diperiksa.
Rahasia yang selama puluhan tahun terkubur akhirnya muncul ke permukaan.
Seminggu kemudian, misteri jam tua berhasil dijelaskan.
Ternyata jam tersebut pernah digunakan oleh Jaya sebagai tempat menyembunyikan bukti-bukti kejahatan. Setiap kali seseorang mencoba menghilangkan jejak masa lalu, mekanisme rahasia di dalam jam akan aktif karena adanya perubahan pada ruang penyimpanan.
Cerita kutukan muncul karena kebetulan berbagai kejadian besar selalu terjadi setelah rahasia itu terusik.
Namun bagi sebagian warga, penjelasan itu tidak sepenuhnya menghapus rasa takut.
Suatu malam, setelah kasus tersebut selesai, Raka kembali mengunjungi balai kota.
Jam tua itu sudah diperbaiki dan kembali berfungsi normal.
Sebelum pulang, ia menatapnya beberapa saat.
Lalu terdengar suara kecil.
Tik.
Tik.
Tik.
Raka membeku.
Jarum detik bergerak satu langkah mundur. Hanya sekali.
Lalu kembali normal.
Ia tersenyum tipis.
Mungkin itu hanya kerusakan mekanis.
Atau mungkin masih ada rahasia lain yang belum ditemukan. Tidak ada yang tahu pasti.
Namun satu hal yang jelas. Beberapa misteri memang terpecahkan. Sebagian lainnya memilih tetap bersembunyi di balik waktu.
Tamat.