← Kembali ke Detail

Jejak yang Tertinggal di Trotoar Kota

Export PDF

Pukul lima pagi, ketika sebagian besar kota masih terlelap, Rafi sudah mengenakan rompi oranye dan sarung tangan kerjanya.

Ia menyapu trotoar yang membentang dari stasiun hingga taman kota.

Setiap hari pekerjaannya sama.

Mengumpulkan daun kering.

Mengangkat botol plastik.

Membersihkan sisa-sisa kehidupan yang ditinggalkan orang lain.

Sebagian besar pejalan kaki tidak pernah memperhatikannya.

Mereka lewat begitu saja.

Terburu-buru.

Menatap layar telepon.

Memikirkan rapat, tugas, atau tagihan yang menunggu.

Namun Rafi selalu percaya bahwa kota yang bersih bukan hanya hasil dari sapu yang ia pegang, tetapi juga dari kepedulian orang-orang yang menggunakannya.

Suatu pagi, ia menemukan sebuah buku bersampul cokelat di bangku halte.

Awalnya ia mengira itu buku catatan biasa.

Namun ketika membukanya, tidak ada nama pemilik.

Hanya satu kalimat di halaman pertama.

"Jika kamu menemukan buku ini, jangan buru-buru mengembalikannya. Bacalah satu halaman. Mungkin kamu akan menemukan seseorang yang tidak pernah sempat kamu kenal."

Rafi mengernyit.

Rasa penasaran mengalahkan keinginannya untuk langsung menyerahkan buku itu ke kantor barang hilang.

Ia membuka halaman berikutnya.

"Hari ini aku melihat seorang ayah mengikat tali sepatu anaknya di trotoar depan sekolah. Tidak ada yang memperhatikan. Tapi menurutku, itu salah satu bentuk cinta yang paling sederhana."

Rafi tersenyum.

Tulisan itu membuatnya melihat trotoar dengan cara yang berbeda.

Di sisi lain kota, Kirana sedang berusaha menyelesaikan ilustrasi untuk klien.

Sudah tiga bulan ia kehilangan pekerjaan tetap setelah perusahaan tempatnya bekerja tutup.

Semangat menggambarnya ikut memudar.

Sketsa demi sketsa terasa kosong.

Ia mulai mempertanyakan pilihannya menjadi ilustrator.

"Kalau memang berbakat, kenapa hidupku begini?" gumamnya.

Pagi itu ia memutuskan berjalan kaki ke taman kota, berharap suasana baru dapat mengembalikan inspirasinya.

Di sana ia bertemu Rafi yang sedang duduk membaca buku cokelat itu.

"Buku apa?"

Rafi sedikit terkejut.

"Bukan punyaku."

"Lalu?"

"Aku menemukannya."

Kirana meminta izin membaca satu halaman.

"Perempuan yang setiap pagi menjual nasi kuning di sudut jalan selalu tersenyum kepada semua pembeli. Aku bertanya-tanya, siapa yang tersenyum kepadanya ketika dagangannya tidak habis?"

Kirana terdiam.

Kalimat sederhana itu terasa lebih hidup daripada banyak novel yang pernah ia baca.

Sejak hari itu mereka sering bertemu.

Setiap pagi Rafi membaca satu halaman.

Setiap sore Kirana menggambar ilustrasi berdasarkan cerita yang baru mereka baca.

Buku itu berisi kisah-kisah singkat tentang kehidupan kota.

Seorang pengemudi ojek yang diam-diam membiayai sekolah adiknya.

Seorang nenek yang selalu memberi makan burung di taman.

Seorang mahasiswa yang menangis diam-diam setelah gagal sidang.

Seorang anak kecil yang menyisihkan uang jajannya untuk membeli makanan kucing liar.

Tidak ada nama.

Tidak ada alamat.

Hanya potongan-potongan kehidupan.

"Kita harus cari pemiliknya," kata Kirana.

Rafi mengangguk.

Mereka mulai memasang pengumuman di halte, taman, perpustakaan, dan media sosial.

Namun minggu demi minggu berlalu tanpa hasil.

Meski begitu, perjalanan mereka justru membawa banyak pertemuan.

Mereka berbincang dengan pedagang kaki lima.

Petugas keamanan.

Pengamen.

Pengantar paket.

Sopir bus.

Masing-masing memiliki cerita yang tak kalah menyentuh.

Kirana mulai menggambar mereka satu per satu.

Ia memberi judul proyek itu Jejak Kota.

Suatu hari, sebuah unggahan ilustrasi Kirana menjadi viral.

Banyak orang mengaku merasa terwakili.

Mereka mulai mengirimkan kisah sederhana tentang kehidupan mereka.

Seorang perawat bercerita tentang pasien yang selalu menyelipkan ucapan terima kasih.

Seorang sopir taksi menulis tentang penumpang yang membayarkan makanan untuk tunawisma.

Seorang siswa SMA menceritakan gurunya yang diam-diam membelikan sepatu bagi murid yang tidak mampu.

Kirana kewalahan membaca semuanya.

"Ternyata..."

"Apa?" tanya Rafi.

"Kota ini tidak sekosong yang aku kira."

Sementara itu, Rafi menghadapi masalah di rumah.

Ayahnya yang sudah pensiun mengalami stroke ringan.

Biaya pengobatan mulai meningkat.

Adiknya masih kuliah.

Beberapa tetangga menyarankan Rafi mencari pekerjaan lain yang dianggap lebih bergengsi.

Namun ia hanya tersenyum.

"Aku suka pekerjaanku."

"Kenapa?"

"Karena setiap hari aku ikut menjaga rumah bagi jutaan orang."

Kirana semakin kagum pada cara Rafi memandang hidup.

Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengejar pengakuan hingga lupa menikmati proses.

Suatu sore ia berkata,

"Kalau nanti aku berhasil lagi sebagai ilustrator..."

"Iya?"

"Aku mau bikin buku."

"Buku gambar?"

"Buku tentang orang-orang biasa."

Rafi tersenyum.

"Menurutku itu luar biasa."

Musim hujan datang.

Suatu pagi, halaman terakhir buku cokelat itu akhirnya mereka baca.

Di sana tertulis:

"Kalau kamu sudah sampai di halaman terakhir, berarti kamu telah berjalan bersama orang-orang yang mungkin tidak pernah kamu temui. Tolong lanjutkan buku ini. Kota selalu memiliki cerita baru."

Tidak ada tanda tangan.

Tidak ada petunjuk.

Hanya sebuah halaman kosong setelahnya.

Kirana memandang Rafi.

"Kita isi?"

Rafi mengangguk.

"Mari."

Tulisan pertama mereka sederhana.

"Hari ini seorang petugas kebersihan memungut buku yang mengubah cara dua orang memandang kehidupan."

Mereka tertawa.

Beberapa bulan kemudian, proyek Jejak Kota berkembang menjadi pameran ilustrasi dan kumpulan cerita pendek.

Masyarakat diundang untuk menulis pengalaman sederhana yang pernah menyentuh hati mereka.

Ratusan cerita terkumpul.

Tidak ada yang spektakuler.

Namun semuanya terasa dekat.

Tentang tetangga yang meminjamkan payung.

Tentang guru yang percaya kepada muridnya.

Tentang kasir minimarket yang menghibur pelanggan yang sedang bersedih.

Tentang anak kecil yang membagi rotinya dengan temannya.

Orang-orang mulai datang bukan hanya untuk melihat gambar.

Mereka datang untuk membaca.

Merenung.

Lalu pulang sambil sedikit lebih memperhatikan orang di sekitarnya.

Pada hari terakhir pameran, seorang perempuan tua datang menghampiri mereka.

Ia membawa buku yang bentuknya sama persis.

"Kalian menemukan yang ini?"

Rafi mengangguk.

"Ibu kenal pemiliknya?"

Perempuan itu tersenyum.

"Itu milik suami saya."

"Di mana beliau sekarang?"

"Sudah meninggal dua tahun lalu."

Mereka terdiam.

"Beliau selalu bilang, setiap kota punya penulis yang tidak terkenal. Mereka adalah orang-orang yang mengingat kebaikan kecil yang sering dilupakan."

Perempuan itu membuka tasnya.

Di dalamnya masih ada beberapa buku kosong.

"Beliau ingin setiap buku berpindah tangan."

"Supaya apa?"

"Supaya cerita tentang kebaikan tidak pernah berhenti ditulis."

Sore itu, Rafi kembali menyapu trotoar seperti biasa.

Namun kali ini langkahnya terasa berbeda.

Ia tidak lagi melihat trotoar sebagai jalur pejalan kaki semata.

Ia melihatnya sebagai tempat ribuan cerita saling berpapasan.

Di ujung jalan, Kirana sedang menggambar seorang bapak yang menggendong anaknya sambil menunggu lampu lalu lintas berubah hijau.

Ia tersenyum.

Inspirasi ternyata tidak datang dari tempat yang jauh.

Ia tumbuh dari kehidupan yang selama ini terlalu sering dilewati tanpa benar-benar diperhatikan.

Malam menjelang.

Lampu-lampu kota mulai menyala.

Orang-orang berjalan pulang setelah hari yang panjang.

Sebagian membawa kabar baik.

Sebagian lagi membawa beban yang belum selesai.

Trotoar tetap menjadi saksi bisu.

Setiap langkah meninggalkan jejak yang tak selalu terlihat.

Namun Rafi dan Kirana kini percaya bahwa tidak ada perjalanan yang benar-benar biasa.

Selalu ada seseorang yang sedang berusaha bertahan.

Selalu ada seseorang yang diam-diam menolong orang lain.

Selalu ada kebaikan yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi mampu tinggal di ingatan selama bertahun-tahun.

Sebelum menutup buku itu malam itu, Kirana menulis satu kalimat di halaman terakhir yang masih kosong.

"Kita mungkin tidak bisa mengingat semua wajah yang pernah kita lewati di trotoar kota. Tetapi kita selalu bisa memilih untuk menjadi jejak yang membuat perjalanan seseorang terasa sedikit lebih ringan."

Rafi membaca kalimat itu sambil tersenyum.

Di kejauhan, kota masih sibuk dengan ritmenya sendiri.

Orang-orang terus berjalan, mengejar waktu, mimpi, dan kehidupan.

Mungkin sebagian dari mereka tidak pernah menyadari bahwa setiap langkah meninggalkan cerita.

Namun selama masih ada orang yang mau memperhatikan, mendengar, dan menuliskannya, jejak-jejak itu tidak akan pernah benar-benar hilang.

Dan trotoar kota akan selalu menjadi halaman panjang tempat manusia saling meninggalkan kebaikan, satu langkah demi satu langkah.