Kota di Atas Punggung Kura-Kura
Export PDFPintu kedua di Lorong Seribu Pintu memiliki bentuk yang berbeda dari sebelumnya.
Permukaannya menyerupai tempurung kura-kura dengan garis-garis melingkar berwarna hijau tua. Ketika Nara mendekatinya, pintu tersebut bergerak perlahan dan mengeluarkan suara seperti kayu tua yang berderit.
Nara menggenggam kompas kertasnya.
“Semoga dunia kali ini tidak lebih aneh dari sebelumnya,” gumamnya.
Namun, baru beberapa langkah melewati pintu, Nara langsung kehilangan keseimbangan.
“Whoa!”
Tanah di bawah kakinya bergerak naik turun seperti kapal yang diterpa ombak.
Ia buru-buru berpegangan pada tiang terdekat.
Ketika berhasil berdiri, Nara baru menyadari bahwa ia berada di tengah sebuah kota yang sangat unik.
Jalanan batu membentang di antara rumah-rumah yang berdiri sedikit miring. Berbagai kendaraan aneh berlalu-lalang, mulai dari gerobak kecil, sepeda dengan satu roda, hingga kendaraan yang ditarik oleh makhluk berbulu panjang.
Bangunan-bangunan di sana tidak berdiri kokoh seperti rumah biasa. Semuanya diikat menggunakan tali besar agar tidak bergeser ketika kota bergerak.
Di kejauhan, menara-menara tinggi bergoyang perlahan mengikuti gerakan tanah.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak.
“Pendatang! Minggir dari jalur antena!”
Seseorang menarik lengan Nara tepat sebelum sebuah tiang panjang melintas di atas kepalanya.
Nara terkejut.
“Terima kasih. Kalau terlambat sedikit, mungkin aku sudah jadi hiasan tiang.”
Orang yang menolongnya adalah seorang gadis berambut keriting. Ia memakai kacamata unik dengan satu lensa berbentuk bulat dan satu lensa berbentuk kotak.
“Aku Suri,” katanya.
Ia menunjuk tiang yang baru saja melewati mereka.
“Kamu hampir terkena alat pengukur langkah Mura.”
Nara mengerutkan kening.
“Mura itu siapa?”
Suri tidak langsung menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah luar kota.
“Lihat sendiri.”
Nara mengikuti arah tangan Suri.
Dan saat itulah ia benar-benar terdiam.
Kota yang selama ini ia pijak ternyata bukan berada di atas tanah.
Kota itu berdiri di atas punggung seekor kura-kura raksasa.
Tubuhnya begitu besar hingga rumah-rumah, jalan, dan menara di atasnya terlihat seperti sebuah desa kecil yang menempel pada tempurung.
Kepala Mura sebesar bukit.
Empat kakinya berjalan perlahan melewati padang luas berwarna keemasan.
Setiap kali Mura melangkah, seluruh kota ikut bergoyang.
“Selamat datang di Karapaks,” kata Suri.
“Kota yang tidak pernah menetap di satu tempat.”
Awalnya Nara merasa Karapaks adalah tempat yang luar biasa.
Dari atas punggung Mura, penduduk bisa melihat berbagai tempat tanpa harus melakukan perjalanan jauh. Mereka dapat melewati hutan, pegunungan, dan sungai tanpa meninggalkan rumah mereka.
Pasar Karapaks juga menjadi terkenal karena menjual berbagai barang dari daerah yang mereka lewati.
Ada madu ungu dari Lembah Senja, kain hangat dari Pegunungan Utara, dan buah ajaib yang rasanya dapat berubah sesuai warna pakaian orang yang memakannya.
Namun, semakin lama berada di sana, Nara mulai melihat sesuatu yang tidak beres.
Di beberapa bagian jalan terdapat retakan panjang yang ditutup menggunakan papan kayu.
Beberapa pekerja terlihat memasang besi besar langsung di atas tempurung Mura.
Dari bawah kota terdengar suara berat.
Bukan suara mesin.
Lebih seperti suara seseorang yang sedang menahan rasa sakit.
“Kamu mendengarnya juga?” tanya Nara.
Suri mengangguk.
“Aku sudah lama khawatir.”
Ia kemudian mengajak Nara menuju sebuah bengkel kecil di salah satu sudut kota.
Di dalamnya terdapat berbagai roda gigi, peta perjalanan, dan botol minyak.
Seorang pria tua sedang memperbaiki alat mekanik di meja.
“Ini ayahku, Pak Toma,” kata Suri.
Pak Toma tersenyum ramah.
“Kamu pasti pendatang yang dibicarakan Suri.”
Nara menunjuk ke arah luar.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Mura?”
Pak Toma mengambil sebuah serpihan besar berwarna cokelat dari meja.
Nara langsung memperhatikan benda itu.
“Ini bagian dari tempurung Mura.”
Pak Toma mengangguk.
“Tempurungnya mulai rusak karena terlalu banyak beban.”
Ia melihat ke luar jendela.
“Dulu Karapaks hanya memiliki rumah-rumah kecil yang ringan. Namun sekarang penduduk terus membangun gudang besar, menara tinggi, dan berbagai mesin tambahan.”
“Kenapa mereka melakukan itu?” tanya Nara.
“Karena mereka takut tertinggal.”
Pak Toma menarik napas.
“Kota lain mulai menggunakan kereta angin. Para pedagang Karapaks ingin bergerak lebih cepat agar tidak kalah bersaing.”
Nara melihat kembali ke arah tempurung Mura.
“Jadi mereka mengorbankan Mura?”
Pak Toma tidak menjawab.
Namun, wajahnya menunjukkan bahwa itulah kenyataannya.
Tiba-tiba suara lonceng besar terdengar dari pusat kota.
Penduduk mulai berkumpul.
Suri melihat ke arah alun-alun.
“Mereka akan menyalakan mesin itu.”
Di tengah alun-alun Karapaks, penduduk berkumpul dengan penuh rasa penasaran.
Sebuah mesin besar berdiri di sana.
Bentuknya seperti rangka besi raksasa yang mengelilingi kaki Mura. Banyak roda gigi berputar di dalamnya, mengeluarkan suara berisik yang menggema ke seluruh kota.
Di atas panggung berdiri seorang pria berpakaian mewah dengan jubah panjang berwarna merah tua.
Namanya Baron Braksi.
Ia dikenal sebagai pemimpin Dewan Kecepatan, kelompok yang bertugas mengatur perkembangan Kota Karapaks.
Baron mengangkat kedua tangannya.
“Warga Karapaks!”
Semua mata tertuju kepadanya.
“Hari ini adalah awal dari masa baru!”
Penduduk bersorak.
Baron menunjuk mesin besar di belakangnya.
“Dengan Mesin Langkah Seribu, kita tidak akan lagi menjadi kota yang tertinggal. Kita akan menjadi kota tercepat di seluruh daratan!”
Sebagian penduduk bertepuk tangan.
Para pedagang mulai membayangkan keuntungan yang lebih besar. Mereka membayangkan bisa mencapai lebih banyak wilayah dalam waktu yang lebih singkat.
Anak-anak bahkan terlihat senang membayangkan angin yang lebih kencang saat kota mereka bergerak.
Namun, Nara memperhatikan sesuatu.
Suri dan Pak Toma tidak ikut bersorak.
Mereka hanya berdiri diam dengan wajah khawatir.
Tiba-tiba, kompas kertas di saku Nara terasa hangat.
Nara mengeluarkannya.
Jarumnya bergerak cepat.
Bukan menunjuk ke arah mesin.
Melainkan menunjuk ke bawah.
Ke arah tubuh Mura.
Malam mulai turun ketika Nara dan Suri memutuskan mencari tahu keadaan sebenarnya.
Mereka turun melalui tangga kecil yang berada di sisi tempurung kota. Dengan bantuan tali, mereka perlahan mencapai bagian bawah Karapaks, tepat di dekat leher Mura.
Di sana suasananya jauh lebih tenang.
Tidak ada suara pedagang.
Tidak ada suara mesin.
Hanya suara napas panjang seekor makhluk raksasa yang telah membawa kota selama ratusan tahun.
Perlahan, mata Mura terbuka.
Matanya begitu besar.
Di dalamnya terlihat pantulan bintang-bintang di langit malam.
“Mura,” panggil Suri dengan suara pelan.
“Apakah kau bisa mendengar kami?”
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Mura.
Namun, tiba-tiba Nara mendengar sebuah suara di dalam pikirannya.
Aku mendengar semua langkah yang terjadi di atas punggungku.
Nara terkejut.
Ia menatap Suri.
“Kamu juga mendengarnya?”
Suri mengangguk.
“Aku sudah pernah mendengarnya sebelumnya.”
Nara mendekat.
“Mura, apakah mesin itu menyakitimu?”
Kura-kura raksasa itu diam cukup lama.
Kemudian jawabannya terdengar.
Aku sudah membawa Karapaks selama enam ratus tahun. Aku tidak keberatan berjalan.
Mura berhenti sebentar.
Aku bahagia menjadi rumah bagi mereka.
Nara mendengarkan dengan saksama.
Namun, sekarang mereka tidak lagi bertanya apakah aku baik-baik saja. Mereka hanya memintaku berjalan lebih cepat.
Suri menundukkan kepala.
“Mengapa kau tidak berhenti saja?”
Mura memandang langit.
Karena jika aku berhenti secara tiba-tiba, kota ini akan jatuh. Banyak yang akan terluka.
Nara melihat tempurung Mura yang retak.
Ia baru menyadari betapa besar pengorbanan makhluk tersebut.
Mura bukan sekadar kendaraan.
Ia adalah rumah.
Dan selama ini penduduk Karapaks lupa bahwa rumah mereka memiliki perasaan.
Jika Mesin Langkah Seribu digunakan, lanjut Mura, satu langkah keras saja dapat membuat retakan mencapai bagian terdalam tempurungku.
Nara mengepalkan tangan.
Mereka harus menghentikan mesin itu.
Keesokan paginya, Nara dan Suri langsung menemui Dewan Kecepatan.
Mereka menjelaskan semuanya kepada Baron Braksi.
Namun, pria itu hanya tertawa.
“Kura-kura berbicara?”
Ia menggeleng.
“Itu hanya cerita anak-anak.”
“Mura benar-benar bisa berbicara,” kata Nara.
Baron tertawa semakin keras.
“Jadi sekarang aku harus percaya pada cerita khayalan seorang anak?”
Nara menatapnya.
“Kadang sesuatu yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada.”
Namun Baron tidak mau mendengarkan.
Ia memberi perintah.
“Jalankan mesin.”
Para pekerja menarik tuas utama.
Mesin Langkah Seribu mulai bergerak.
Roda-roda besi berputar.
Suara logam bergesekan terdengar keras.
Mura mengangkat kakinya dengan susah payah.
Kemudian melangkah.
Awalnya penduduk bersorak.
Karapaks bergerak lebih cepat dari biasanya.
Angin bertiup kencang.
Pemandangan di sekitar kota berubah begitu cepat seperti halaman buku yang dibalik.
Namun tidak lama kemudian, masalah mulai muncul.
Atap rumah mulai beterbangan.
Barang dagangan jatuh.
Beberapa penduduk mulai berteriak ketakutan.
“Berhenti!”
“Ini terlalu cepat!”
Retakan di jalan semakin panjang.
Sebuah menara miring perlahan.
Lonceng besar di alun-alun terlepas dan jatuh menghantam panggung.
Baron Braksi yang berdiri di sana langsung terpental dan jatuh ke tumpukan karung tepung.
“Aduh!”
Wajahnya tertutup tepung putih.
Untuk pertama kalinya, penduduk tidak melihat seorang pemimpin yang hebat.
Mereka melihat seseorang yang sama takutnya dengan mereka.
“Matikan mesinnya!” teriak Suri.
Namun masalah baru muncul.
Tuas utama tidak bergerak.
Roda gigi terlalu kuat menahan tekanan.
Mesin justru semakin cepat.
Nara membuka buku gambarnya.
Ia mencoba menggunakan imajinasinya untuk membuat sesuatu yang bisa membantu.
“Aku butuh kunci besar.”
Tangannya bergerak cepat menggambar.
Namun karena kota terus berguncang, gambarnya tidak sesuai rencana.
Ketika gambar itu hidup, yang muncul bukan kunci biasa.
Melainkan sebuah kunci besar dengan kaki ayam.
Kunci itu langsung berlari menjauh.
Nara menatapnya.
“Kenapa selalu begini?”
Suri hampir tertawa meskipun situasi sedang kacau.
“Setidaknya dia punya kaki.”
Namun Nara segera menyadari sesuatu.
Mereka tidak hanya harus menghentikan mesin.
Mereka harus mengurangi beban yang membuat Mura semakin kesulitan.
Ia berlari menuju menara pengumuman.
Dengan susah payah, ia mengambil corong suara.
“Semua warga Karapaks, dengarkan!”
Suara Nara menggema ke seluruh kota.
“Kalau kalian ingin menyelamatkan rumah kalian, kalian harus membantu Mura!”
Penduduk berhenti.
“Kita terlalu banyak membebani Mura selama ini!”
“Turunkan barang yang tidak diperlukan! Lepaskan bangunan tambahan! Jangan biarkan kota kita hancur hanya karena ingin bergerak lebih cepat!”
Awalnya tidak ada yang bergerak.
Namun kemudian Pak Toma maju.
Ia mulai membongkar bagian tambahan dari bengkelnya.
Suri ikut membantu melepaskan tangki air besar yang tidak digunakan.
Melihat mereka, penduduk lain mulai mengikuti.
Para pedagang membuka gudang.
Mereka menurunkan peti-peti berat.
Penduduk membongkar bangunan tambahan yang selama ini hanya digunakan untuk mengejar keuntungan.
Mereka tidak membuang sesuatu yang berharga.
Mereka hanya melepaskan hal-hal yang selama ini membuat kota menjadi terlalu berat.
Bahkan Baron Braksi mencoba memberi perintah.
Namun karena kepalanya masih tertutup tepung, suaranya hanya terdengar seperti suara orang bersin.
Tidak ada yang menghiraukannya.
Perlahan...
Langkah Mura mulai melambat.
Beban kota berkurang.
Suri akhirnya berhasil mencapai mesin.
Bersama Nara, ia menarik tuas utama sekuat tenaga.
“Tarik!”
“Aku sudah!”
Dengan suara keras, tuas itu patah.
Roda-roda mesin berhenti berputar.
Mesin Langkah Seribu jatuh berkeping-keping ke tanah.
Karapaks akhirnya berhenti.
Untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun...
Kota itu diam.
Setelah mesin berhenti, seluruh Kota Karapaks menjadi sunyi.
Tidak ada lagi suara roda gigi yang berputar.
Tidak ada lagi suara besi yang menghantam tempurung Mura.
Penduduk berdiri diam sambil melihat keadaan kota mereka.
Beberapa jalan mengalami kerusakan. Beberapa bangunan miring. Namun yang paling penting, Karapaks masih berdiri.
Dan Mura masih mampu bernapas dengan tenang.
Untuk pertama kalinya, penduduk benar-benar menyadari sesuatu.
Selama ini mereka terlalu sibuk mengejar kecepatan sampai lupa memperhatikan makhluk yang telah membawa mereka selama ratusan tahun.
Mereka lupa bahwa Karapaks bukan hanya sebuah kota.
Karapaks adalah rumah yang hidup.
Suri berjalan mendekati Mura.
“Maafkan kami,” katanya pelan.
Mura membuka matanya perlahan.
Aku tidak marah.
Suara Mura terdengar lembut.
Aku hanya ingin kalian mengingat bahwa perjalanan bukan hanya tentang seberapa cepat kalian sampai. Tetapi juga tentang bagaimana kalian menjaga tempat yang membawa kalian.
Nara tersenyum mendengar kata-kata itu.
Penduduk Karapaks mulai memperbaiki kota mereka.
Mereka tidak lagi membangun menara tinggi yang berat.
Gudang-gudang besar diganti dengan tempat penyimpanan yang lebih ringan.
Bangunan tambahan yang tidak diperlukan dilepas.
Mereka menggunakan bahan yang lebih ramah bagi tempurung Mura.
Bahkan Dewan Kecepatan akhirnya dibubarkan.
Sebagai gantinya, penduduk membentuk Dewan Perjalanan.
Berbeda dengan dewan sebelumnya, anggota Dewan Perjalanan memiliki satu aturan penting.
Mereka harus selalu mendengarkan pendapat perawat tempurung dan, melalui Suri, mendengarkan suara Mura.
Beberapa hari kemudian, seluruh penduduk berkumpul di alun-alun.
Baron Braksi berdiri di depan mereka.
Tidak ada lagi pakaian mewah.
Tidak ada lagi wajah penuh percaya diri seperti sebelumnya.
Ia terlihat malu.
“Aku ingin meminta maaf,” katanya.
Penduduk mendengarkan.
“Aku terlalu takut Karapaks tertinggal dari kota lain. Aku berpikir bahwa menjadi cepat berarti menjadi lebih hebat.”
Ia menundukkan kepala.
“Tapi aku lupa bahwa kota ini bisa berjalan selama ini bukan karena mesin.”
Ia menatap ke arah Mura.
“Melainkan karena seseorang yang selama ini bersedia membawa kami.”
Penduduk terdiam.
Kemudian beberapa orang mulai bertepuk tangan.
Bukan karena Baron adalah pemimpin yang hebat.
Melainkan karena ia akhirnya berani mengakui kesalahannya.
Nara memperhatikan semua itu sambil tersenyum.
Ia melihat bahwa terkadang seseorang tidak berubah karena kalah.
Seseorang berubah ketika akhirnya mau mendengarkan.
Tiba-tiba kompas kertas di sakunya bergetar.
Nara mengeluarkannya.
Di dekat kaki Mura, muncul cahaya berwarna hijau.
Cahaya itu bergerak perlahan menuju Nara.
Ketika disentuh, cahaya tersebut berubah menjadi sebuah kepingan kecil berbentuk sisik.
Nara memasukkannya ke dalam kompas.
Seketika kompas menyala.
Garis kedua muncul di permukaannya.
Kepingan cahaya kedua telah ditemukan.
Suri tersenyum.
“Berarti perjalananmu masih panjang.”
Nara melihat kompasnya.
“Iya.”
Ia menatap kota yang kini mulai berubah.
“Masih banyak dunia yang harus aku datangi.”
Suri menunjuk ke arah sebuah pintu yang perlahan muncul di sisi menara kota.
Pintu itu berbeda dari pintu sebelumnya.
Permukaannya dipenuhi ukiran berbentuk mulut kecil yang seolah sedang bernyanyi.
“Sepertinya pintu berikutnya sudah menunggumu,” kata Suri.
Nara berjalan mendekatinya.
Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi ke arah Mura.
Kura-kura raksasa itu berjalan perlahan.
Tidak terburu-buru.
Tidak dipaksa.
Setiap langkahnya membuat seluruh kota bergoyang lembut.
Anehnya, tidak ada seorang pun yang mengeluh.
Penduduk Karapaks mulai menikmati perjalanan mereka.
Mereka melihat pemandangan lebih lama.
Mereka berbicara lebih banyak.
Mereka tidak lagi sibuk mengejar tujuan sampai lupa menikmati perjalanan.
Mura memang berjalan lebih lambat dibandingkan mesin sebelumnya.
Namun sekarang setiap langkah terasa lebih berarti.
Nara tersenyum.
Ia mulai memahami bahwa cepat bukan selalu berarti lebih baik.
Kadang seseorang perlu berjalan perlahan agar bisa melihat hal-hal yang sebelumnya terlewatkan.
Ia menggenggam kompas kertasnya.
“Terima kasih, Suri.”
Suri melambaikan tangan.
“Semoga perjalananmu menyenangkan, Nara.”
Nara membuka pintu berikutnya.
Dari balik pintu terdengar suara aneh.
Seperti banyak suara yang sedang bernyanyi bersamaan.
Ia belum tahu dunia apa yang menunggunya.
Namun satu hal sudah pasti.
Setiap pintu selalu membawa cerita baru.
Dan setiap cerita selalu memiliki pelajaran yang berbeda.
Nara melangkah masuk.
Menuju petualangan berikutnya.
SELESAI