← Kembali ke Detail

Pasar yang Menjual Suara

Export PDF

Pintu berikutnya di Lorong Seribu Pintu berbeda dari pintu-pintu sebelumnya.

Permukaannya dipenuhi ukiran berbentuk mulut yang seolah sedang menyanyikan sebuah lagu. Setiap ukiran bergerak perlahan, seperti berbisik satu sama lain.

Ketika Nara menyentuh gagang pintu, terdengar suara samar.

Bukan satu suara.

Melainkan ribuan suara sekaligus.

Ada suara tawa yang meledak seperti jagung yang sedang dipanaskan, suara siulan panjang, tangisan bayi, suara ombak, suara langkah kaki, hingga nyanyian yang terdengar seperti pita warna-warni berputar di udara.

Nara membuka pintu itu.

Begitu melangkah masuk, ia langsung tiba di sebuah tempat yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Pasar Gema.

Namun, pasar itu tidak menjual buah, makanan, atau pakaian seperti pasar biasa.

Di sana, barang dagangan berupa suara.

Setiap kios dipenuhi botol-botol kaca kecil yang berisi cahaya berwarna berbeda. Di dalam botol tersebut tersimpan berbagai macam suara.

Ada botol bertuliskan:

TAWA UNTUK PESTA

SUARA TEGAS UNTUK RAPAT

BISIKAN RAHASIA

NYANYIAN BURUNG PAGI

KEBERANIAN UNTUK MENGATAKAN TIDAK

Nara berjalan perlahan sambil memperhatikan sekeliling.

Seorang pedagang menghampirinya.

“Anak muda, mau membeli suara?”

Pedagang itu mengambil sebuah botol kecil.

“Ini suara guru matematika. Sangat cocok untuk menakuti teman yang belum mengerjakan tugas.”

Nara langsung menggeleng.

“Tidak, terima kasih.”

Ia merasa aneh melihat sesuatu yang seharusnya berasal dari diri seseorang justru dijual seperti barang biasa.

Ketika sedang berjalan lebih jauh, suara kerumunan menarik perhatiannya.

Di tengah pasar terdapat sebuah panggung kecil.

Seorang anak laki-laki berdiri di atasnya sambil membawa gitar.

Jari-jarinya bergerak dengan sangat indah.

Namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

Ia bernyanyi tanpa suara.

Beberapa orang yang menonton malah tertawa.

“Bernyanyi tanpa suara? Apa gunanya?”

Anak itu hanya menunduk.

Setelah kerumunan pergi, Nara mendekatinya.

“Kamu tidak bisa berbicara?”

Anak itu tidak menjawab.

Ia mengambil sebuah papan kecil dari tasnya dan menulis.

NAMAKU LILO. SUARAKU SUDAH KUTUKAR.

Nara terkejut.

“Kamu menukarnya dengan apa?”

Lilo memberi isyarat agar Nara mengikutinya.

Mereka berjalan menuju sebuah rumah kecil di belakang pasar.

Di dalam rumah itu, seorang anak perempuan bernama Mena sedang berbaring di tempat tidur. Wajahnya terlihat pucat. Di meja samping tempat tidur hanya tersisa satu botol obat yang hampir kosong.

Lilo kembali menulis.

ADIKKU SAKIT. AKU MENJUAL SUARAKU KEPADA TUAN VOKAL UNTUK MEMBELI OBAT.

Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

KATANYA SUARAKU HANYA DIPINJAM SELAMA SATU BULAN. TAPI SUDAH ENAM BULAN AKU TIDAK MENDAPATKANNYA KEMBALI.

Saat membaca nama Tuan Vokal, kompas kertas di saku Nara langsung bergetar.

Jarumnya bergerak menuju sebuah bangunan besar di ujung pasar.

Gedung itu berwarna hitam dan memiliki bentuk seperti telinga raksasa.

“Sepertinya kita harus ke sana,” kata Nara.

Lilo mengangguk.

Mereka berjalan menuju gedung tersebut.

Di dalamnya terdapat rak-rak tinggi yang hampir menyentuh langit-langit. Ribuan botol suara tersimpan di balik kaca.

Ada suara tawa.

Suara tangisan.

Suara nyanyian.

Bahkan suara seseorang yang sedang berbisik pada dirinya sendiri.

Di lantai paling atas, mereka menemukan seorang pria kurus mengenakan mantel beludru merah.

Kumisnya melengkung seperti simbol nada musik.

“Selamat datang di Kantor Kepemilikan Bunyi,” katanya sambil tersenyum.

“Aku Tuan Vokal.”

Ia memandang Nara dan Lilo.

“Apa yang kalian cari?”

“Kami ingin mengambil kembali suara Lilo,” jawab Nara.

Tuan Vokal tersenyum.

“Suara nomor 7.304?”

Ia membuka sebuah catatan.

“Suara yang sangat bagus. Jernih, hangat, dan mampu membuat orang berhenti bertengkar. Saat ini suara itu sedang dipakai oleh penyanyi kerajaan.”

Lilo mengepalkan tangannya.

“Itu bukan milikmu,” kata Nara.

Tuan Vokal tertawa kecil.

“Bukankah ada perjanjian?”

Ia menunjukkan sebuah gulungan kertas.

“Di sini tertulis bahwa jika pembayaran obat terlambat, masa peminjaman suara akan diperpanjang.”

Nara mengambil kertas itu.

Ia memperhatikan bagian bawahnya.

Tulisan tersebut sangat kecil hingga hampir tidak terlihat.

“Ini tidak adil.”

Tuan Vokal tersenyum.

“Tidak adil adalah kata yang sering digunakan orang ketika mereka menyesal tidak membaca perjanjian.”

Nara menatapnya tajam.

Ia tahu ada sesuatu yang salah.

Belum sempat ia menjawab, Tuan Vokal menjentikkan jarinya.

Dua penjaga tanpa mulut muncul dan membawa mereka keluar.

Namun sebelum pergi, Nara melihat sesuatu yang membuatnya curiga.

Di balik pintu ruangan itu, terdapat ribuan botol lain.

Bukan hanya suara biasa.

Melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Setelah dikeluarkan dari gedung Tuan Vokal, Nara dan Lilo kembali berjalan menyusuri Pasar Gema.

Namun, kali ini Nara tidak hanya melihat botol-botol suara sebagai barang dagangan.

Ia mulai memperhatikan wajah para penduduk.

Ada sesuatu yang aneh.

Seorang ibu yang menjaga kios kain berjalan tanpa pernah bernyanyi lagi. Padahal sebelumnya ia dikenal sebagai penyanyi terbaik di pasar.

Seorang kakek yang duduk di sudut jalan hanya tersenyum tanpa suara. Ketika Nara bertanya, kakek itu hanya menunjuk tenggorokannya lalu menggeleng.

Banyak orang tidak lagi mampu mengucapkan apa yang mereka pikirkan.

Mereka membawa papan kecil untuk menulis.

Mereka menggunakan gerakan tangan untuk berkomunikasi.

Pasar yang dulu dipenuhi berbagai suara kini terasa semakin sunyi.

“Kenapa semua orang kehilangan suara?” tanya Nara.

Lilo mengambil papan kecilnya dan menulis.

BUKAN HANYA SUARA BIASA YANG DIAMBIL.

Ia menatap gedung hitam berbentuk telinga di ujung pasar.

TUAN VOKAL MENGAMBIL SESUATU YANG LEBIH PENTING.

Nara mengerutkan kening.

“Apa?”

Lilo menulis perlahan.

SUARA HATI.

Nara terdiam.

Ia kembali mengingat ribuan botol tanpa label yang ia lihat di dalam gedung tadi.

Jadi, selama ini Tuan Vokal bukan hanya mengumpulkan suara yang dijual.

Ia mencuri suara yang tidak pernah diberikan.

Suara kecil dalam diri seseorang yang memberitahu apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Suara yang membuat seseorang berani berkata tidak.

Suara yang membuat seseorang berani memperjuangkan dirinya sendiri.

“Pantas mereka tidak melawan,” kata Nara pelan.

“Karena mereka tidak lagi mendengar keberanian dalam diri mereka.”

Lilo mengangguk.

Malam mulai turun di Pasar Gema.

Lampu-lampu kios menyala satu per satu. Namun suasana pasar tetap terasa sunyi.

Nara dan Lilo duduk di atas sebuah menara lonceng tua yang berada di tengah pasar.

Dari sana mereka bisa melihat seluruh kota.

Gedung Tuan Vokal berdiri paling tinggi dibandingkan bangunan lainnya.

Seolah ingin menunjukkan bahwa semua suara di pasar berada di bawah kendalinya.

“Kita harus mengambil kembali semua suara itu,” kata Nara.

Lilo menatapnya.

“Tapi bagaimana?”

Nara membuka buku gambarnya.

“Aku belum tahu.”

Ia berpikir sejenak.

“Kita mulai dengan mencari suara milikmu.”

Nara kemudian menggambar.

Kali ini ia lebih berhati-hati.

Ia menggambar seekor kelelawar besar dengan telinga lebar.

“Aku butuh bantuan untuk menemukan suara Lilo.”

Ketika gambar itu selesai, kelelawar tersebut bergerak.

Sayapnya terbuka.

Kemudian ia terbang ke udara.

Nara menunggu.

Tidak lama kemudian, kelelawar itu kembali.

Ia berputar-putar di atas satu bagian gedung Tuan Vokal.

“Di sana,” kata Nara.

Mereka menyelinap masuk melalui pintu belakang gedung.

Di dalam, suasananya jauh lebih gelap daripada sebelumnya.

Mereka menaiki rak-rak tinggi yang penuh botol suara.

Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah ruangan tersembunyi.

Nara membuka pintunya perlahan.

Dan ia terkejut.

Di dalam ruangan itu terdapat ribuan botol tanpa label.

Setiap botol berisi cahaya kecil yang bergerak seperti detak jantung.

“Apa ini?” bisik Nara.

Lilo mengambil salah satu botol.

Saat menyentuhnya, cahaya di dalam botol bergetar.

Kemudian terdengar suara kecil.

Aku ingin menjadi penulis.

Nara terdiam.

Ia mengambil botol lain.

Dari dalamnya terdengar suara berbeda.

Aku ingin berhenti melakukan sesuatu yang tidak kusukai.

Botol berikutnya berisi suara lain.

Aku ingin meminta maaf kepada keluargaku.

Nara akhirnya mengerti.

Ini bukan sekadar suara.

Ini adalah keinginan terdalam seseorang.

Suara hati mereka.

“Tuan Vokal mencurinya agar orang-orang tidak berani melawan,” kata Nara.

Tanpa suara hati, seseorang akan lebih mudah menerima apa pun yang diberikan kepadanya.

Mereka tidak tahu kapan harus menolak.

Mereka tidak tahu kapan harus memperjuangkan sesuatu.

Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari belakang.

“Pintar sekali.”

Nara dan Lilo langsung berbalik.

Tuan Vokal berdiri di depan pintu.

Di belakangnya terdapat para penjaga tanpa mulut.

“Aku selalu kagum pada orang yang bisa memahami pekerjaanku.”

Nara berdiri di depan Lilo.

“Pekerjaanmu adalah mencuri.”

Tuan Vokal tersenyum.

“Tidak. Aku membantu orang.”

Ia berjalan mendekati rak botol.

“Manusia sering membuat masalah karena memiliki terlalu banyak suara dalam diri mereka. Keraguan, ketakutan, kemarahan.”

Ia mengambil sebuah botol.

“Dengan mengambil suara itu, mereka menjadi lebih mudah diarahkan.”

“Itu bukan membantu,” jawab Nara.

“Itu mengendalikan.”

Wajah Tuan Vokal berubah dingin.

“Kalau begitu, biarkan kalian mendengar semua suara sekaligus.”

Ia mengangkat sebuah tongkat berbentuk seperti alat konduktor.

Sekejap kemudian, seluruh botol di ruangan mulai bergetar.

Suara-suara keluar dari dalamnya.

Ribuan suara.

Tangisan.

Teriakan.

Suara petir.

Suara benda pecah.

Suara orang berdebat.

Semuanya bercampur menjadi satu gelombang besar yang menyerang mereka.

Nara menutup telinganya.

Namun suara itu tidak hanya terdengar di telinga.

Suara itu terasa sampai ke seluruh tubuh.

Ia hampir tidak mampu berdiri.

Namun Lilo tetap bertahan.

Ia mengambil gitarnya.

Meskipun tidak memiliki suara, ia mulai memainkan nada.

Petikan pertama terdengar sederhana.

Petikan kedua semakin kuat.

Dan perlahan, suara gitar itu mulai menembus kebisingan.

Nara membuka mata.

Ia melihat botol suara Lilo bergetar mengikuti irama.

“Itu dia!”

Nara berlari mengambil botol tersebut.

Namun Tuan Vokal mencoba menghentikannya.

“Jangan!”

Nara tidak berhenti.

Ia melemparkan botol itu ke lantai.

Pecah.

Cahaya emas keluar dari dalam botol.

Cahaya itu bergerak menuju Lilo.

Masuk ke tenggorokannya.

Anak itu terdiam.

Kemudian ia menarik napas.

Dan untuk pertama kalinya setelah enam bulan...

Lilo mengeluarkan suara.

Satu nada panjang.

Jernih.

Hangat.

Suara itu begitu indah hingga seluruh ruangan berhenti bergerak.

Bahkan suara-suara lain seolah ikut mendengarkan.

Suara Lilo memenuhi ruangan.

Bukan suara yang paling keras.

Bukan suara yang paling sempurna.

Namun, ada sesuatu dalam suara itu yang tidak dimiliki oleh suara mana pun di Pasar Gema.

Kejujuran.

Lagu yang dinyanyikan Lilo bukan hanya sekadar melodi. Lagu itu menceritakan tentang seorang kakak yang rela kehilangan sesuatu yang berharga demi menyelamatkan adiknya. Tentang orang-orang yang selama ini kehilangan keberanian untuk berbicara. Tentang janji yang disembunyikan dalam tulisan kecil dan dimanfaatkan oleh orang yang memiliki kekuasaan.

Nada demi nada menyebar keluar dari gedung.

Menembus dinding.

Melewati jalan-jalan pasar.

Hingga akhirnya terdengar oleh seluruh penduduk Pasar Gema.

Orang-orang berhenti berjalan.

Mereka mendongak.

Mereka tidak mendengar suara biasa.

Mereka mendengar sesuatu yang sudah lama hilang.

Suara hati mereka sendiri.

Di dalam gedung, ribuan botol tanpa label mulai bergetar.

Cahaya di dalamnya bergerak semakin kuat.

Tuan Vokal panik.

“Tidak!”

Ia mengangkat tongkat konduktornya.

“Berhenti bernyanyi!”

Namun, kali ini tidak ada yang bisa menghentikan Lilo.

Karena suara yang keluar bukan lagi hanya miliknya.

Suara itu membawa keberanian seluruh penduduk yang selama ini diam.

Di luar gedung, satu per satu orang mulai datang.

Mereka tidak mampu berbicara.

Namun, mereka berdiri bersama.

Seorang ibu penjual kain memegang tenggorokannya.

Seorang kakek yang kehilangan tawanya mengepalkan tangan.

Seorang anak kecil yang dulu menukar keberaniannya mulai menatap lurus ke depan.

Mereka semua merasakan sesuatu.

Suara hati mereka kembali.

Ternyata selama ini, suara tersebut tidak pernah benar-benar hilang.

Hanya dikurung.

“Tidak bisa…” bisik Tuan Vokal.

Ia melihat para penjaga tanpa mulut yang berdiri di belakangnya.

“Usir mereka!”

Namun para penjaga tidak bergerak.

Tuan Vokal membentak.

“Kenapa kalian diam saja?”

Salah satu penjaga perlahan mengangkat tangannya.

Di dadanya muncul cahaya kecil.

Suara keluar dari tubuhnya.

“Aku juga ingin memilih pekerjaanku sendiri.”

Tuan Vokal terkejut.

Ternyata suara hati para penjaga pun selama ini disimpan olehnya.

Mereka bukan penjaga yang setia.

Mereka hanya orang-orang yang kehilangan kemampuan untuk mengatakan tidak.

Nara melihat kesempatan itu.

Ia berlari menuju meja Tuan Vokal.

Di sana terdapat tongkat konduktor yang digunakan untuk mengendalikan semua botol suara.

Nara mengambilnya.

Dengan sekuat tenaga, ia menghantamkan tongkat tersebut ke lemari penyimpanan utama.

Brak!

Pintu-pintu lemari terbuka.

Ribuan botol melayang keluar.

Masing-masing mencari pemiliknya.

Satu botol kembali kepada seorang kakek.

Ketika botol itu pecah, suara tawanya kembali.

Kakek itu tertawa.

Tawa yang begitu lepas hingga orang-orang di sekitarnya ikut tersenyum.

Botol lain kembali kepada seorang ibu penjual kain.

Ia mulai menyanyikan lagu yang sudah bertahun-tahun tidak terdengar.

Botol berikutnya kembali kepada seorang anak kecil.

Ia menarik napas dan berkata dengan lantang,

“Aku tidak mau!”

Kalimat sederhana itu terdengar seperti suara paling kuat di dunia.

Karena untuk pertama kalinya, ia berani menyampaikan apa yang ia rasakan.

Satu per satu penduduk mendapatkan kembali suara mereka.

Pasar Gema yang sebelumnya sunyi kembali dipenuhi bunyi.

Namun kali ini bukan suara yang dijual dalam botol.

Melainkan suara yang berasal dari hati setiap orang.

Tuan Vokal mencoba melarikan diri.

Namun langkahnya terhenti ketika gulungan-gulungan kontrak beterbangan di udara.

Kontrak yang selama ini ia gunakan untuk mengambil suara penduduk.

Kertas-kertas itu mengelilinginya seperti badai.

Penduduk kemudian mendesaknya untuk membatalkan semua perjanjian yang tidak adil.

Tidak ada lagi tulisan kecil yang menyembunyikan jebakan.

Tidak ada lagi suara yang diambil tanpa izin.

Dengan wajah terpaksa, Tuan Vokal akhirnya menyetujui semua permintaan mereka.

Gedung hitam berbentuk telinga yang sebelumnya digunakan untuk menyimpan suara kemudian diubah.

Tidak lagi menjadi tempat penyimpanan.

Tidak lagi menjadi tempat mengambil hak orang lain.

Bangunan itu berubah menjadi Balai Suara.

Tempat penduduk belajar bernyanyi, berbicara di depan umum, bercerita, dan mendengarkan satu sama lain.

Karena suara bukan hanya tentang berbicara.

Suara juga tentang didengar.

Beberapa hari kemudian, keadaan Mena mulai membaik.

Penduduk Pasar Gema mengumpulkan bantuan untuk membeli obat yang dibutuhkan.

Lilo akhirnya tidak perlu lagi menjual sesuatu yang menjadi bagian dari dirinya.

Suatu sore, Lilo kembali berdiri di atas panggung yang sama seperti sebelumnya.

Namun kali ini berbeda.

Dulu ia berdiri tanpa suara.

Sekarang seluruh pasar menunggu nyanyiannya.

Lilo memetik gitarnya.

Kemudian ia mulai bernyanyi.

Suaranya memenuhi udara.

Penduduk tersenyum.

Mena yang duduk di barisan depan ikut bernyanyi pelan bersama kakaknya.

Saat lagu itu selesai, sesuatu yang aneh terjadi.

Dari senar gitar Lilo muncul cahaya berwarna ungu.

Cahaya itu melayang perlahan menuju Nara.

Ketika Nara menyentuhnya, cahaya tersebut berubah menjadi kepingan kecil dan masuk ke dalam kompas kertas.

Kompas kembali bersinar.

Kepingan cahaya ketiga telah ditemukan.

Lilo menghampiri Nara.

“Kamu akan pergi lagi?”

Nara melihat pintu yang mulai muncul di belakang panggung.

Permukaannya dipenuhi ukiran angka jam yang bergerak mundur.

“Iya,” jawab Nara.

Ia tersenyum.

“Masih banyak dunia yang harus aku datangi.”

Lilo menatapnya.

“Terima kasih sudah mengembalikan suaraku.”

Nara menggeleng.

“Aku hanya membantu menemukan sesuatu yang sebenarnya sudah menjadi milikmu.”

Lilo tersenyum.

“Suara memang bisa digunakan untuk mencari uang.”

Ia memandang seluruh Pasar Gema.

“Tapi bukan berarti suara seseorang boleh dimiliki orang lain.”

Nara mengangguk.

Ia melangkah menuju pintu berikutnya.

Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi.

Di belakangnya, seluruh penduduk Pasar Gema bernyanyi bersama.

Tidak ada botol.

Tidak ada kontrak.

Tidak ada orang yang menjual bagian dari dirinya sendiri.

Suara mereka memenuhi udara.

Bebas.

Jujur.

Dan tidak dimiliki oleh siapa pun selain pemiliknya.

Nara membuka pintu.

Dari baliknya terdengar suara detak jam yang berjalan mundur.

Ia menggenggam kompas kertasnya.

Lalu melangkah menuju dunia berikutnya.

Perjalanan masih panjang.

Dan masih banyak cahaya yang harus ditemukan.

SELESAI