Pemberontakan Angka Di Negeri Aljabar
Export PDFBagi Zero, hidup di kota perkalian Mathland adalah hal yang menyedihkan. Di dunia yang terbuat dari garis-garis koordinat Cartesian dan bangunan berbentuk kubus ini, nilai sosial seseorang ditentukan oleh besarnya angka mereka. Angka Sembilan berjalan dengan jubah sutra merah, dikelilingi oleh pengawal, sementara Angka Delapan memimpin dewan kota dengan kesombongan yang meluap-luap.
"Minggir, Nol! Jangan menyentuh bajuku, nanti nilaiku bisa turun!" bentak Angka Tujuh saat berpapasan dengan Zero di koridor pasar pecahan.
Zero hanya menunduk, merapatkan tubuh bundarnya yang sederhana ke dinding. Dia terbiasa dianggap sebagai beban, angka yang tidak ada artinya, lambang dari kekosongan.
Tiba-tiba, langit Mathland yang biasanya biru cerah berubah menjadi merah darah. Di tengah alun-alun kota, menara pembagian utama bergetar hebat. Sebuah kabut hitam pekat yang bertuliskan kode-kode rusak melesat dari langit dan menghantam puncak menara. Itu adalah virus "Error 404".
"Apa yang terjadi?!" teriak Tio, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang kebingungan. Tio tersedot ke dunia ini lima menit yang lalu setelah ketiduran di atas buku tugas matematika sekolahnya.
Dia sekarang berdiri di samping Zero, memegang pensil kayunya dengan erat.
"Itu bencana! Virus pembagian dengan nol sedang meretas menara!" seru Zero panik.
Di alun-alun, Angka Sembilan mencoba menyerang virus itu menggunakan rumus kuadratnya. Namun, begitu virus itu menyentuh Angka Sembilan dan membaginya dalam rumus, tubuh Angka Sembilan langsung membengkak, bergetar hebat, dan meledak menjadi partikel tak terhingga yang merusak lingkungan sekitarnya. Hal yang sama terjadi pada Angka Delapan dan Tujuh. Siapa pun angka yang mencoba melawan justru hancur karena rumus pembagian misterius itu menghasilkan nilai
"Undefined" atau tak terhingga yang merusak struktur logika Mathland.
"Dunia ini akan hancur kalau nilai tak terhingga itu menyebar ke seluruh sektor!" teriak Zero melihat kepanikan massal di sekelilingnya.
"Tunggu dulu!" Tio teringat pelajaran matematika yang dia benci di sekolah. "Nol, jika suatu angka dibagi nol, hasilnya memang tidak terdefinisi dan merusak sistem. Tapi, apa yang terjadi jika virus itu mengalikan dirinya denganmu?"
Zero tertegun, mata bulatnya berkedip. "Apapun yang dikalikan dengan aku... akan menjadi aku. Menjadi nol. Menjadi netral kembali."
"Benar! Kamu bukan tidak berguna, Nol! Kamu adalah tombol reset untuk dunia ini!" seru Tio bersemangat. "Ayo, kita harus mendekati menara itu. Aku akan membantumu!"
Tio memimpin jalan, menggunakan penggaris besi besar yang dia temukan di jalan untuk menghalau pecahan-pecahan angka yang beterbangan. Virus "Error 404" melihat kedatangan mereka dan melepaskan tentara kode rusak untuk menyerang.
"Nol, gunakan sihir kurung dalam matematika! Bungkus mereka!" perintah Tio seperti seorang jenderal perang.
Zero melompat ke udara. Dia meregangkan tubuh bundarnya, menciptakan simbol tanda kurung raksasa ( ) yang mengurung sepasang tentara virus. Di dalam kurung itu, Tio dengan cepat menuliskan tanda perkalian × di depan tubuh Zero. Seketika, kilatan cahaya putih meledak. Tentara virus yang memiliki nilai kekuatan besar itu langsung menyusut dan lenyap, berubah menjadi angka nol yang tidak berbahaya.
"Kita berhasil, Tio! Ini berhasil!" sorak Zero gembira.
Namun, tantangan terbesar berada di puncak menara. Inti virus berbentuk monster gurita digital sedang menyerap energi inti Mathland. Tio dan Zero menaiki tangga menara yang mulai runtuh.
Begitu sampai di puncak, monster virus itu melayangkan tentakel kodenya, memukul Tio hingga terlempar ke sudut ruangan.
"Tio!" teriak Zero.
Monster itu kini beralih menatap Zero. "Kau hanyalah kekosongan, angka tanpa nilai! Kau tidak bisa menyakitiku!" raung virus itu seraya meluncurkan seluruh energinya untuk membagi tubuh Zero.
Zero tidak menghindar. Dia justru tersedot, mengingat kata-kata Tio. Dia mengumpulkan seluruh keberanian yang dia miliki. Saat energi pembagian virus menyentuhnya, Zero menggunakan kemampuan pamungkasnya. Dia tidak membagi, melainkan memeluk seluruh energi tersebut dan memaksanya masuk ke dalam rumus perkalian universal miliknya.
"Mungkin aku tidak punya nilai sendirian," bisik Zero di tengah kepungan cahaya merah. "Tapi bersamaku, semua kesombongan dan kerusakanmu akan kembali ke titik awal!"
Cahaya putih raksasa memancar dari tubuh Zero, menelan seluruh menara dan menyebar ke seluruh penjuru Mathland. Gelombang energi itu menghapus seluruh virus "Error 404", mengembalikan angka-angka yang hancur menjadi utuh kembali, dan menata ulang struktur kota yang rusak.
Saat cahaya meredup, Mathland kembali damai. Menara pembagian berdiri kokoh, langit kembali biru, dan angka-angka yang sombong kini terduduk di tanah dengan wajah malu.
Zero berdiri di tengah alun-alun, tubuhnya tetap sama, namun kini semua angka menatapnya dengan rasa hormat yang mendalam. Angka Sembilan berjalan mendekat, lalu membungkuk hormat di hadapan Zero. "Maafkan kami, Zero. Kami salah. Tanpa kekosonganmu yang menjaga keseimbangan, nilai kami tidak akan ada artinya."
Tio berjalan mendekati Zero sambil menggendong tas sekolahnya yang tiba-tiba muncul kembali.
Tubuh Tio mulai memudar, pertanda dia akan kembali ke dunia manusia. "Kamu hebat, Zero. Ternyata matematika tidak seburuk yang kukira."
"Terima kasih, Tio. Selamat tinggal, temanku," lambaikan tangan Zero dengan senyum paling bahagia yang pernah dia miliki.
Tio terbangun di meja belajarnya dengan napas terengah-engah. Dia melihat buku tugas matematikanya yang terbuka. Angka nol di kertas tugasnya seolah-olah memberikan kedipan kecil padanya. Tio tersenyum, mengambil pensilnya, dan mulai mengerjakan soal berikutnya dengan semangat baru, tahu bahwa di dalam setiap angka yang dia tulis, ada petualangan dan keseimbangan yang luar biasa.