← Kembali ke Detail

Pulang Melalui Pintu Kesebelas

Export PDF

Nara kembali ke Lorong Seribu Pintu dengan membawa kompas yang kini bersinar terang.

Namun, pemandangan yang menyambutnya jauh berbeda dari sebelumnya.

Lorong yang dahulu penuh cahaya kini terlihat rapuh.

Lampu-lampu kecil berbentuk kunang-kunang berjatuhan dari langit-langit.

Beberapa pintu retak.

Ada pintu yang mengecil perlahan hingga menghilang.

Bahkan lantai lorong berguncang seperti tempat yang sedang kehabisan tenaga.

Di tengah lorong, Ranu berdiri sambil menahan sebuah tiang besar agar tidak roboh.

Jas hujan kuningnya terlihat robek di beberapa bagian.

Ketika melihat Nara datang, wajahnya langsung berubah lega.

“Kau berhasil,” katanya.

“Kau membawa semua kepingan cahaya.”

Nara melihat keadaan sekitar.

“Tapi apa yang terjadi di sini?”

Ranu menarik napas panjang.

“Lorong kehilangan pusat cahayanya.”

“Dunia-dunia yang kau kunjungi memang mulai pulih.”

“Namun dunia asalmu masih perlahan melupakan pentingnya imajinasi.”

“Jika pusat cahaya benar-benar padam, semua pintu akan terputus.”

Nara menggenggam kompasnya lebih erat.

Ia melihat sembilan warna cahaya berputar di dalamnya.

Biru seperti hujan dari Negeri Awan Kering.

Hijau seperti tempurung Mura.

Ungu dari suara Lilo.

Emas dari cahaya fajar.

Hitam dari bayangan Rara.

Putih dari kapal kertas.

Merah muda dari cerita Talia.

Biru muda dari mimpi Desa Lelap.

Dan perak dari bintang-bintang Astria.

Ranu mengambil kompas itu dan memasukkannya ke sebuah lubang berbentuk lingkaran di lantai lorong.

Seketika cahaya menyebar.

Pintu-pintu yang retak mulai bergerak.

Namun cahaya itu berhenti sebelum mencapai ujung lorong.

Ranu menatap kompas.

“Masih belum cukup.”

Nara terdiam.

“Masih ada satu keping?”

Ranu mengangguk.

“Keping terakhir.”

“Tapi keping itu berbeda dari yang lain.”

“Karena ia bukan sesuatu yang bisa ditemukan di dunia lain.”

“Bukan sesuatu yang bisa diberikan seseorang kepadamu.”

Nara menatap Ranu.

“Lalu di mana aku harus mencarinya?”

Ranu tidak langsung menjawab.

Ia hanya melihat sebuah ruang kosong di tengah lorong.

“Keping kesepuluh adalah pilihan.”

“Pilihan untuk membawa imajinasi kembali ke tempat yang mungkin menertawakannya.”

Tiba-tiba sebuah pintu muncul di hadapan Nara.

Berbeda dari pintu-pintu sebelumnya.

Tidak ada ukiran aneh.

Tidak ada cahaya misterius.

Hanya sebuah pintu kayu sederhana dengan goresan pensil kecil di bagian bawah.

Nara langsung mengenalinya.

“Itu…”

“Pintu kamarku.”

Ranu mengangguk.

“Itu jalan pulangmu.”

“Tapi sebelum kembali, kau harus melewati satu tempat terakhir.”

“Ruang Keraguanmu sendiri.”

Pintu terbuka perlahan.

Nara menarik napas.

Kemudian melangkah masuk.

Ia kembali berada di kamarnya.

Semuanya tampak sama seperti sebelumnya.

Buku pelajaran masih menumpuk di meja.

Pensil warna masih berserakan.

Gambar-gambar buatannya masih tertempel di dinding.

Dari luar kamar terdengar suara Ibu.

“Nara! Jemuran tetangga kehujanan!”

Suara itu membuat Nara tersadar.

Petualangan yang ia lalui terasa sangat jauh.

Seperti mimpi yang perlahan menghilang setelah bangun tidur.

Ia segera membuka kompas.

Namun sesuatu yang aneh terjadi.

Kompas itu tidak lagi bersinar.

Benda itu hanya menjadi selembar kertas biasa.

Kapal kecil buatan Banu tidak bergerak.

Biji Pohon Kenangan terlihat seperti biji kering biasa.

Teleskop kecil pemberian Kala tidak dapat digunakan.

Nara mulai merasa ragu.

“Jangan-jangan…”

“Semua ini tidak pernah terjadi?”

Tiba-tiba suara terdengar dari arah cermin.

“Bukankah itu lebih mudah?”

Nara menoleh.

Bayangannya di dalam cermin bergerak sendiri.

Wajahnya sama.

Namun sorot matanya berbeda.

Dingin.

“Tidak ada seorang pun yang akan percaya padamu.”

Bayangan itu tersenyum kecil.

“Kau akan bercerita tentang kota di atas kura-kura raksasa.”

“Tentang pasar yang menjual suara.”

“Tentang bintang yang memiliki cerita.”

“Orang-orang akan tertawa.”

“Mereka akan bilang kau terlalu banyak berkhayal.”

“Jadi untuk apa menceritakannya?”

Nara terdiam.

Bayangan itu benar.

Ada kemungkinan orang tidak percaya.

Ada kemungkinan mereka menganggap semua cerita itu hanya khayalan anak kecil.

“Kalau aku menyimpan semuanya sendiri,” kata Nara pelan,

“setidaknya tidak ada yang bisa mengejeknya.”

Bayangan itu tersenyum.

“Nah.”

“Itu pilihan yang aman.”

“Tutup buku.”

“Kerjakan hal yang masuk akal.”

“Jangan membuat sesuatu yang tidak diperlukan.”

Dinding kamar perlahan berubah.

Warna-warna mulai memudar.

Gambar ikan bersayap yang pernah dibuat Nara kehilangan sayapnya.

Rumah di atas bulan berubah menjadi gambar rumah biasa.

Pintu kamar perlahan mengecil.

Saat itu Nara menyadari sesuatu.

Ruang Keraguan tidak mencoba menyerangnya.

Tidak ada monster.

Tidak ada badai.

Tidak ada ancaman.

Tempat itu justru menawarkan sesuatu yang terlihat nyaman.

Tidak gagal.

Tidak ditertawakan.

Tidak dianggap aneh.

Namun di balik kenyamanan itu, semua kemungkinan perlahan hilang.

Nara memandang sekeliling kamarnya.

Ia melihat semua gambar yang mulai memudar.

Gambar ikan bersayap.

Gambar dunia yang belum pernah ia datangi.

Gambar-gambar kecil yang selama ini hanya dianggap coretan.

Semuanya perlahan menghilang.

Untuk sesaat, Nara hampir menyerah.

Mungkin bayangannya benar.

Mungkin semua petualangan itu hanya mimpi.

Mungkin lebih mudah kembali menjadi anak biasa yang hanya mengerjakan tugas sekolah dan tidak perlu menjelaskan hal-hal yang sulit dipercaya.

Namun kemudian ia teringat sesuatu.

Ia teringat Piko yang akhirnya berani menangis.

Ia teringat Mura yang memilih berjalan dengan caranya sendiri.

Ia teringat Lilo yang mendapatkan kembali suaranya.

Ia teringat Banu yang tetap membuat kapal meskipun takut gagal.

Mereka semua pernah merasa ragu.

Namun mereka tetap memilih mencoba.

Nara mengambil sebuah pensil dari meja.

Tangannya sedikit gemetar.

Bayangan di cermin memperhatikannya.

“Apa yang ingin kau lakukan?”

Nara tidak menjawab.

Ia mengambil selembar kertas kosong.

Lalu mulai menulis.

Kalimat pertama yang muncul adalah:

Pada suatu sore, hujan membuka sebuah pintu di ujung gang.

Bayangan di cermin langsung tertawa kecil.

“Itu terdengar aneh.”

Nara berhenti sebentar.

Lalu menjawab,

“Memang.”

“Kedengarannya belum sempurna.”

“Belum tentu bagus.”

“Mungkin tidak ada yang mau membacanya.”

Nara melihat tulisan di kertas.

Kemudian ia tersenyum.

“Tapi aku tetap ingin menulisnya.”

Pensil kembali bergerak.

Satu kalimat menjadi dua.

Dua kalimat menjadi halaman.

Halaman menjadi cerita.

Nara menulis tentang Negeri Awan Kering.

Tentang Ratu Cerah yang belajar bahwa kesedihan bukan sesuatu yang harus dikurung.

Ia menulis tentang Kota Karapaks.

Tentang Mura yang mengajarkan bahwa berjalan lambat bukan berarti gagal.

Ia menulis tentang Pasar Gema.

Tentang Lilo yang membuktikan bahwa suara seseorang tidak boleh menjadi milik orang lain.

Ia menulis tentang Hutan Detik.

Tentang Rubi yang akhirnya berani melihat pagi kembali.

Ia menulis tentang Kerajaan Siluet.

Tentang Rara yang mengajarkan bahwa rasa takut tidak harus disembunyikan.

Ia menulis tentang Kapal Arunika.

Tentang Banu yang berani membuat sesuatu dengan tangannya sendiri.

Ia menulis tentang Perpustakaan Balik Halaman.

Tentang Talia yang memilih akhir ceritanya sendiri.

Ia menulis tentang Desa Lelap.

Tentang Mimo yang terus mencoba membuat sesuatu yang belum pernah ada.

Dan ia menulis tentang Menara Astria.

Tentang bintang-bintang yang kembali bersinar karena seseorang masih mau bercerita.

Semakin banyak Nara menulis, semakin terang kamarnya.

Gambar-gambar yang sebelumnya menghilang mulai muncul kembali.

Ikan bersayap mendapatkan sayapnya.

Rumah di atas bulan kembali memiliki bentuk anehnya.

Warna-warna memenuhi dinding.

Bayangan di cermin mulai mengecil.

“Kau masih bisa gagal,” katanya.

Nara mengangguk.

“Iya.”

“Ceritaku mungkin tidak sempurna.”

“Mungkin ada yang tidak suka.”

“Mungkin ada yang menganggapnya aneh.”

Ia melihat kertas di tangannya.

“Tapi gagal membuat cerita lebih baik daripada tidak pernah mencoba hanya karena takut.”

Tiba-tiba ujung pensil Nara memancarkan cahaya.

Bukan cahaya dengan satu warna.

Melainkan cahaya yang memiliki seluruh warna dari sembilan dunia yang telah ia kunjungi.

Biru.

Hijau.

Ungu.

Emas.

Hitam.

Putih.

Merah muda.

Biru muda.

Perak.

Semua bercampur menjadi satu.

Cahaya itu perlahan membentuk sebuah kepingan baru.

Kepingan kesepuluh.

Namun berbeda dari kepingan lainnya.

Kepingan itu tidak berasal dari dunia tertentu.

Tidak berasal dari makhluk tertentu.

Ia muncul dari keputusan Nara sendiri.

Kamar mulai bergetar.

Dinding yang semula seperti ruang keraguan mulai pecah seperti lembaran kertas.

Nara menutup mata.

Ketika membukanya kembali, ia sudah berada di Lorong Seribu Pintu.

Ranu berdiri di sana.

Kali ini tanpa menahan bangunan yang runtuh.

Karena lorong sudah kembali kuat.

Nara menggenggam kepingan terakhir.

“Aku menemukannya.”

Ranu tersenyum.

“Apa yang kau temukan?”

Nara melihat cahaya di tangannya.

“Keberanian untuk tetap bercerita meskipun belum tentu ada yang percaya.”

Ranu mengangguk.

“Itulah kepingan yang paling sulit ditemukan.”

Nara memasukkan kepingan kesepuluh ke dalam kompas.

Sekejap kemudian, cahaya besar memenuhi seluruh lorong.

Sepuluh warna menyebar ke setiap sudut.

Pintu-pintu yang sebelumnya retak kembali utuh.

Pintu kecil yang hampir menghilang kembali membesar.

Pintu-pintu yang melayang kembali menyala.

Dari balik berbagai pintu terdengar suara.

Tawa.

Nyanyian.

Hujan.

Suara ombak.

Suara anak-anak bercerita.

Lorong Seribu Pintu kembali hidup.

Namun Nara menyadari satu hal.

Masih ada sesuatu yang belum selesai.

Ia menatap ujung lorong.

“Bagaimana aku bisa pulang?”

Ranu tersenyum.

“Keping terakhir menghidupkan lorong.”

“Tapi jalan pulang harus kau buat sendiri.”

Nara mengerutkan dahi.

“Dengan apa?”

Ranu menunjuk buku gambar di tangan Nara.

“Dengan sesuatu yang sudah kau miliki sejak awal.”

Nara membuka buku gambarnya.

Ia mulai menggambar.

Sebuah pintu.

Garis pertama sedikit miring.

Garis kedua terlalu pendek.

Gagang pintunya terlihat seperti kentang.

Nara tertawa kecil.

Dulu ia mungkin akan menghapus gambar itu dan mencoba membuat yang sempurna.

Namun sekarang ia tahu.

Tidak semua hal harus sempurna untuk menjadi berarti.

Ia memperbaiki sedikit.

Cukup agar pintu itu bisa dikenali.

Cukup agar ia bisa dipercaya.

Perlahan, gambar itu keluar dari kertas.

Pintu itu berdiri di tengah lorong.

Warnanya biru.

Sama seperti pintu pertama yang membawanya pergi.

Ranu menyerahkan kompas kepada Nara.

Namun kali ini kompas tidak lagi menunjukkan arah.

Di permukaannya muncul tulisan baru.

PINTU AKAN MUNCUL DI TEMPAT CERITA DIBAGIKAN.

Nara membaca kalimat itu perlahan.

“Apa maksudnya?”

Ranu menjawab,

“Pintu tidak selalu terbuat dari kayu.”

“Kadang pintu muncul melalui buku.”

“Kadang melalui gambar.”

“Kadang melalui permainan.”

“Kadang melalui pertanyaan sederhana yang membuat seseorang melihat dunia dengan cara berbeda.”

Nara berdiri di depan pintu biru.

Sebelum masuk, ia menoleh kepada Ranu.

“Apakah aku akan bertemu mereka lagi?”

Ranu tersenyum.

“Setiap cerita yang benar-benar diingat adalah sebuah pertemuan.”

“Selama seseorang masih mengingat mereka, dunia mereka masih ada.”

Nara membuka pintu.

Cahaya biru memenuhi pandangannya.

Sesaat kemudian…

Ia kembali berada di ujung gang rumahnya.

Hujan masih turun.

Langit masih mendung.

Seolah-olah waktu hanya berlalu beberapa menit.

Namun satu hal tidak berubah.

Jemuran tetangga sudah basah.

Ibu berdiri di depan rumah dengan tangan berkacak pinggang.

“Nara!”

“Dari mana saja kamu?”

Nara hampir menjawab dengan alasan sederhana.

Ia hampir berkata bahwa ia hanya berjalan-jalan.

Itu jawaban yang aman.

Namun ia melihat kompas di tangannya.

Ia melihat kapal kecil Banu.

Biji kenangan.

Teleskop Kala.

Semua benda kecil yang membuktikan perjalanan itu pernah terjadi.

“Aku masuk ke sebuah pintu di tembok ujung gang,” katanya.

“Di baliknya ada lorong menuju banyak dunia.”

“Aku tahu mungkin Ibu tidak langsung percaya.”

“Tapi aku akan menceritakannya.”

“Setelah membantu mengangkat jemuran, tentu saja.”

Ibu menatapnya beberapa saat.

Kemudian melihat benda-benda yang dibawanya.

“Ceritanya panjang?”

Nara tersenyum.

“Panjang sekali.”

“Kalau begitu, ambil handuk dulu.”

“Nanti cerita sambil minum teh.”

Malam itu, Nara menulis sampai tangannya terasa lelah.

Ia menuliskan semua yang ia alami.

Tidak semua orang langsung percaya.

Ada yang tertawa.

Ada yang bertanya apakah kura-kura raksasa benar-benar membawa kota.

Ada yang mengatakan cerita tentang pintu ajaib terdengar mustahil.

Namun Nara tidak marah.

Ia justru meminta mereka menggambar dunia yang ingin mereka kunjungi.

Seorang anak menggambar kota di bawah laut.

Anak lain menggambar taman yang buahnya berisi lagu.

Seorang anak yang biasanya diam menggambar rumah untuk monster yang takut gelap.

Dan untuk pertama kalinya, mereka tidak takut membuat sesuatu yang belum pernah ada.

Beberapa hari kemudian, di dinding kelas muncul garis biru tipis.

Garis itu perlahan membentuk sebuah pintu kecil.

Tidak semua orang bisa melihatnya.

Hanya mereka yang sedang membayangkan sesuatu yang belum ada.

Nara melihat pintu itu.

Namun ia tidak membukanya.

Belum.

Karena ia tahu masih ada tugas sekolah.

Masih ada jemuran.

Masih ada piring kotor.

Masih ada kehidupan biasa yang harus dijalani.

Namun sekarang ia memahami sesuatu.

Dunia biasa dan dunia imajinasi tidak pernah benar-benar terpisah.

Keduanya bertemu setiap kali seseorang berani bertanya.

Berani bermimpi.

Berani menciptakan sesuatu.

Dan berani percaya bahwa sesuatu yang belum ada hari ini mungkin bisa menjadi nyata suatu hari nanti.

Lorong Seribu Pintu tidak hanya berada di balik tembok ujung gang.

Lorong itu tumbuh dalam diri setiap orang yang masih berani membayangkan.