Saksi dalam Cermin
Export PDFBerkas yang Berkhianat
Saban baru saja sampai di apartemennya setelah seharian menguras otaknya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia adalah seorang arsiparis yang teliti; baginya, hidup adalah tentang urutan dan katalog. Namun, rutinitasnya seketika pecah saat ia melihat brankas dinding di ruang kerjanya sedikit terbuka.
Di dalamnya, dia tidak kehilangan satu pun barang berharganya, tetapi dia malah menemukan tumpukan berkas dari perusahaan tempat ia bekerja yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Berkas-berkas itu mendokumentasikan aliran dana ilegal dalam jumlah besar selama enam bulan terakhir. Namun, yang membuat darahnya membeku adalah setiap lembar otorisasi ditandatangani dengan tanda tangannya sendiri, dan goresan penanya tidak bisa dibedakan dari tulisan yang dibuatnya.
Wajah saban seketika menjadi pucat dan keringat membasahi dahinya.
"Ini tidak mungkin…," gumam Saban sambil mengusap keringatnya.
Ia tidak pernah melakukan ini. Ia memeriksa tanggal tanda tangan tersebut, beberapa dilakukan saat ia sedang cuti sakit, dan beberapa saat ia sedang berada di luar kota. Ia merasa seperti sedang melihat naskah film horor yang dibintangi dirinya sendiri.
“Bagaimana caraku meminta tolong?”,
“Tidak, tidak…” “semua bukti ini terlalu kuat untuk menuduhku!”.
Ia tidak bisa melapor ke polisi; bukti digital dan fisik sudah terlalu kuat mengarah padanya. Ia harus memecahkan kasus ini sendiri sebelum audit besar di kantornya terjadi besok pagi.
Celah Dalam Waktu
Setelah Saban mulai membedah memorinya, perlahan-lahan mengatur kembali napasnya. Ia mengambil pena, kalender, dan mencatat setiap detail kegiatannya selama seminggu terakhir. Ia menyadari ada celah waktu yang besar. Ia menemukan pola yang aneh. Setiap hari Selasa dan Kamis malam, ia merasa lelah luar biasa, seolah-olah ia baru saja melakukan lari maraton. Namun, ia tidak ingat apa yang ia lakukan.
Ia memeriksa rekaman CCTV apartemennya. Awalnya, ia tiak menemukan hal yang aneh. Akan tetapi, saat ia meneliti dengan kecepatan rendah, ia menemukan sesuatu. Pada jam 02.00 pagi, ia terlihat keluar dari pintu apartemen dengan pakaian yang berbeda, baju yang tidak ia miliki. Ia kembali dua jam kemudian dengan ekspresi yang sangat berbeda; tatapan matanya tajam, tidak seperti tatapan lelahnya yang biasa.
Saban mulai menggeledah apartemennya lebih dalam. Di balik panel lantai kayu di bawah tempat tidur, ia menemukan sebuah ponsel burner (ponsel sekali pakai) dan kunci loker stasiun. Ia menyadari bahwa ia tidak sedang dicurangi oleh orang lain; ia sedang dicurangi oleh bagian dari dirinya sendiri yang selama ini tidak ia kenal.
Tamu Tanpa Wajah
Dengan terburu-buru, Saban pergi ke stasiun kereta sesuai dengan nomor loker yang tertera pada kunci. Di dalam loker tersebut, terdapat sebuah flashdisk dan buku harian kecil. Isi buku harian itu mengejutkannya: itu bukan tulisan tangannya, tetapi gaya bahasanya persis seperti dirinya.
“Saban, kau terlalu lemah untuk menyadari potensimu. Dunia ini tidak akan memberikan apa-apa pada mereka yang hanya menumpuk arsip. Aku memberimu kehidupan yang layak kau dapatkan.”
Saban merasa dunianya runtuh. Ia memiliki kondisi dissociative identity. Ia tidak pernah menyangka bahwa stres pekerjaan dan isolasi sosial yang ia jalani selama bertahun-tahun telah menciptakan 'alter ego' yang lebih agresif, lebih cerdas, dan lebih berani dalam mengambil risiko. Ia tidak sedang diburu oleh musuh; ia sedang mencoba menangkap 'bayangan' di dalam otaknya sendiri yang mencoba menghancurkan kariernya demi keuntungan finansial yang tidak pernah ia inginkan.
Damaikan Sang Bayangan
Angin malam menyapu pikiran Saban yang mulai memberat. Ia duduk merenung memandang ke arah yang tidak jelas. Malam itu, Saban mecoba untuk tidak tertidur, Ia meminum kopi pekat dan mencuci wajahnya dengan air dingin setiap kali rasa kantuk menyerang dan menunggu sosok itu muncul kembali.
Sekitar pukul 03.00 pagi, Ia merasakan nyeri hebat di kepalanya dan pandangannya mengabur. Saat ia menatap cermin, pantulannya seolah tersenyum, sebuah senyuman yang tidak ia buat.
"Kau lelah, Saban," suara itu muncul, bukan dari luar, melainkan dari pikirannya sendiri.
"Biarkan aku yang menyelesaikan urusan dengan auditor besok,”
“Aku sudah menyiapkan semua alibinya."
Arka memegang erat tepian wastafel hingga buku jarinya memutih.
"Tidak," katanya dengan suara bergetar namun tegas.
"Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan sisa hidupku."
Ia mengambil berkas-berkas di brankasnya dan membakarnya di wastafel. Ia tahu, dengan menghancurkan bukti itu, ia mungkin akan sulit menjelaskan hilangnya uang tersebut kepada auditor. Namun, itu adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa ia tidak bersekongkol. Ia menyerahkan diri kepada atasannya pagi itu, mengakui bahwa ia telah lalai, tanpa membongkar sisi gelapnya yang rapuh.
Kasus 'pencurian' itu berakhir. Saban kehilangan pekerjaannya, namun ia mendapatkan dirinya kembali. Ia sadar bahwa misteri terbesar bukanlah siapa pencuri uang perusahaan itu, melainkan bagaimana ia bisa memaafkan dirinya sendiri atas retakan dalam mentalnya. Ia mulai menjalani terapi, satu hari demi satu hari, memahami bahwa menjaga kewarasan adalah penyelidikan yang tidak akan pernah benar-benar selesai.