Sebelum Kita Menjadi Orang Asing
Export PDFAda banyak cara sebuah hubungan berakhir.
Ada yang selesai karena pengkhianatan.
Ada yang selesai karena kebohongan.
Namun ada pula yang perlahan menghilang hanya karena dua orang berhenti saling mendengarkan.
Begitulah kisah Nadira dan Aksa.
Mereka bertemu di perpustakaan kampus saat sama-sama mencari buku yang sama.
Nadira lebih dulu meraih buku itu.
Aksa tersenyum.
"Silakan duluan."
"Kamu juga butuh?"
"Iya."
Nadira berpikir sejenak, lalu berkata,
"Gimana kalau kita baca bareng?"
Kalimat sederhana itu menjadi awal dari tujuh tahun kebersamaan.
Mereka menjalani hari-hari seperti pasangan pada umumnya.
Belajar bersama.
Mengerjakan tugas hingga larut malam.
Merayakan ulang tahun dengan kue sederhana.
Menghemat uang untuk sesekali menonton bioskop.
Tidak ada kemewahan.
Namun semuanya terasa cukup.
Karena mereka percaya bahwa mereka sedang membangun masa depan bersama.
Setelah lulus, hidup mulai berubah.
Nadira diterima bekerja sebagai desainer interior.
Aksa menjadi analis keuangan di sebuah perusahaan besar.
Jam kerja mereka tidak lagi sama.
Kesempatan bertemu semakin sedikit.
Awalnya mereka masih menyempatkan makan malam bersama setiap akhir pekan.
Lalu berubah menjadi dua minggu sekali.
Kemudian hanya saat salah satu memiliki waktu luang.
Tanpa mereka sadari, kesibukan mulai menggantikan percakapan.
Suatu malam, Nadira mengirim pesan.
"Hari ini capek banget."
Balasan Aksa datang lima jam kemudian.
"Maaf, baru selesai rapat."
Nadira tidak marah.
Ia mengerti.
Namun kejadian itu terus berulang.
Pelan-pelan, ia berhenti bercerita.
Bukan karena tidak ingin.
Tetapi karena merasa waktunya tidak pernah tepat.
Di sisi lain, Aksa juga sedang berjuang.
Perusahaannya mengalami restrukturisasi.
Target kerja meningkat.
Ia harus memimpin tim untuk pertama kalinya.
Setiap hari ia pulang dengan kepala penuh angka dan laporan.
Ia berpikir,
"Nanti saja cerita kalau semuanya sudah tenang."
Sayangnya, hidup tidak pernah benar-benar tenang.
Hari ulang tahun ketujuh hubungan mereka datang.
Nadira sudah memesan meja di restoran kecil yang dulu sering mereka datangi saat masih kuliah.
Ia menunggu sejak pukul tujuh malam.
Pukul delapan.
Pukul sembilan.
Telepon Aksa akhirnya masuk.
"Dira... maaf."
"Kamu masih di kantor?"
"Iya."
"Nggak bisa datang?"
"Ada pekerjaan yang harus selesai malam ini."
Nadira menarik napas panjang.
"Ya sudah."
Ia mematikan telepon.
Kue kecil di atas meja tetap utuh.
Lilin yang sempat dinyalakan perlahan padam.
Malam itu, untuk pertama kalinya ia pulang sendirian sambil membawa dua porsi makanan yang tidak jadi dimakan bersama.
Sejak malam itu, hubungan mereka terasa berbeda.
Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada kata-kata kasar.
Hanya keheningan yang semakin panjang.
Mereka masih saling mengucapkan selamat pagi.
Masih saling mengingatkan makan.
Namun semuanya terasa seperti kewajiban.
Bukan lagi keinginan.
Suatu Minggu sore, Nadira berkata,
"Kita perlu ngobrol."
Aksa mengangguk.
Mereka duduk di taman kota.
Tempat yang dulu menjadi saksi banyak tawa.
"Aku ngerasa kita makin jauh."
Aksa diam.
"Aku juga."
"Kenapa kita jadi begini?"
"Aku nggak tahu."
Jawaban itu terasa jujur sekaligus menyakitkan.
Mereka mencoba memperbaiki hubungan.
Mulai meluangkan waktu.
Mematikan ponsel saat bertemu.
Pergi berlibur singkat.
Untuk beberapa minggu, semuanya tampak membaik.
Namun masalah yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Mereka hanya menambalnya.
Bukan memperbaikinya.
Suatu hari Nadira mendapat tawaran bekerja di Bali.
Posisi itu adalah impiannya sejak lama.
Namun ia ragu.
Saat akhirnya ia menceritakan kepada Aksa, jawaban yang diterima sangat singkat.
"Kalau itu yang kamu mau, ambil saja."
"Kamu nggak keberatan?"
"Aku akan mendukung."
Nadira tersenyum.
Tetapi jauh di dalam hati, ia berharap Aksa berkata,
"Aku akan berusaha supaya kita tetap bersama."
Kalimat itu tidak pernah datang.
Beberapa bulan kemudian, Aksa juga mendapat promosi jabatan.
Artinya ia harus pindah ke Singapura selama dua tahun.
Mereka duduk di apartemen sambil memandangi koper yang belum terisi.
"Aneh ya."
"Apa?"
"Dulu kita selalu bicara tentang masa depan."
"Iya."
"Sekarang kita bahkan nggak tahu masa depan kita masih sama atau nggak."
Aksa menunduk.
Ia tidak punya jawaban.
Seminggu sebelum keberangkatan masing-masing, mereka kembali ke perpustakaan kampus.
Rak buku itu masih ada.
Buku yang mempertemukan mereka sudah berganti edisi.
Nadira tertawa kecil.
"Kalau dulu aku nggak ambil buku itu..."
"Mungkin kita nggak pernah kenal."
"Menyesal?"
Aksa menatapnya lama.
"Nggak pernah."
Hari terakhir sebelum mereka berpisah datang tanpa drama.
Tidak ada hujan.
Tidak ada musik.
Tidak ada adegan berlari mengejar.
Hanya dua orang yang duduk berdampingan di halte bus.
"Kita masih saling sayang, ya?" tanya Nadira.
"Iya."
"Terus kenapa harus selesai?"
Aksa menarik napas panjang.
"Karena sayang saja ternyata nggak cukup."
Air mata Nadira jatuh perlahan.
Ia akhirnya mengerti.
Hubungan tidak hanya membutuhkan cinta.
Ia juga membutuhkan waktu.
Keberanian untuk mendengar.
Kesediaan memahami.
Dan usaha yang dilakukan oleh dua orang, bukan hanya satu.
Mereka berpelukan.
Lama.
Seolah ingin mengingat perasaan itu untuk terakhir kalinya.
"Lihat aku."
Nadira mengangkat wajah.
"Jangan pernah berpikir tujuh tahun kita sia-sia."
"Kenapa?"
"Karena selama tujuh tahun itu aku benar-benar bahagia."
Nadira tersenyum sambil menangis.
"Aku juga."
Mereka lalu berjalan ke arah yang berbeda.
Tidak ada yang menoleh lagi.
Bukan karena tidak ingin.
Tetapi karena mereka tahu, beberapa perpisahan akan menjadi lebih berat jika salah satu memilih kembali.
Dua tahun berlalu.
Nadira berhasil menjadi desainer interior yang dikenal karena karya-karyanya yang mengutamakan ruang nyaman untuk keluarga.
Di setiap proyek, ia selalu percaya bahwa sebuah rumah yang indah bukan hanya soal bentuk, tetapi juga bagaimana orang-orang di dalamnya saling berbicara dan mendengarkan.
Sementara itu, Aksa menyelesaikan penugasannya di Singapura. Pengalaman tersebut membentuknya menjadi pemimpin yang lebih bijaksana. Ia belajar bahwa keberhasilan di tempat kerja tidak berarti banyak jika hubungan dengan orang-orang terdekat dibiarkan perlahan memudar.
Suatu sore, takdir mempertemukan mereka di sebuah pameran desain.
Mereka saling melihat.
Lalu tersenyum.
"Halo."
"Halo."
Bagaimana kabarmu?"
"Baik."
"Kamu?"
"Baik juga."
Percakapan itu terdengar sederhana.
Namun kali ini tidak ada rasa sakit.
Hanya kenangan yang datang sebentar, lalu pergi dengan tenang.
Sebelum pulang, mereka duduk di bangku taman di depan gedung pameran.
Langit mulai berubah jingga.
Nadira berkata pelan,
"Aku dulu sempat marah sama kita."
"Kenapa?"
"Karena kupikir kita menyerah terlalu cepat."
Aksa menggeleng.
"Aku justru merasa kita bertahan selama yang kita mampu."
Mereka sama-sama terdiam.
Kini mereka menyadari bahwa hubungan mereka tidak hancur dalam semalam.
Ia retak sedikit demi sedikit, setiap kali percakapan ditunda, setiap kali perasaan disimpan sendiri, setiap kali salah satu memilih diam daripada menjelaskan.
Pelajaran itu tidak bisa mengubah masa lalu.
Namun bisa menyelamatkan masa depan.
Mereka berdiri.
Sebelum berpisah, Aksa berkata,
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena pernah menjadi rumah."
Nadira tersenyum.
"Dan terima kasih... karena sudah mengajariku bahwa rumah harus terus dirawat."
Mereka berjalan ke arah yang berbeda.
Kali ini tanpa penyesalan.
Karena mereka telah memahami bahwa ada orang-orang yang hadir bukan untuk menemani seumur hidup, melainkan untuk mengajarkan sesuatu yang akan dibawa sepanjang hidup.
Mungkin benar, pada akhirnya mereka menjadi orang asing.
Namun mereka bukan orang asing yang saling membenci.
Mereka adalah dua orang yang pernah saling mencintai dengan sungguh-sungguh, pernah berjuang semampunya, lalu memilih melepaskan ketika mempertahankan hanya akan melukai lebih dalam.
Dan terkadang, akhir yang paling dewasa bukanlah kembali bersama.
Melainkan saling mendoakan agar bahagia, meski kebahagiaan itu ditemukan di jalan yang berbeda.
Sebab cinta yang matang tidak selalu berakhir dengan memiliki.
Kadang, cinta yang paling tulus justru tahu kapan harus berhenti, agar
kenangan yang tersisa tetap menjadi sesuatu yang layak disyukuri, bukan disesali.