Suara Ketukan Kelir Terakhir: Misteri Hilangnya Wayang Semar di Dalang Ki Sastro
Export PDFMalam di Desa Karangtengah selalu dimulai dengan suara tabuhan kempul dan desiran angin malam yang menggoyangkan rumpun bambu di tepi tebing desa. Di sebuah pendopo joglo tradisional milik Ki Sastro, aroma kayu cendana dan kemenyan tipis menguar memenuhi ruangan, menemani sang maestro tua yang tengah duduk termangu menatap sebuah kotak wayang kulit besar berbahan kayu jati berukir rumit. Kotak itu terbuka, memperlihatkan barisan rapi wayang-wayang kulit bersepuh emas yang tertata di dalam sekat-sekat beludru merah. Namun, ada satu sekat di bagian tengah yang tampak kosong melompong, menyisakan ruang hampa yang terasa begitu menusuk dada.
Kyai Semar telah lenyap. Wayang kulit berwajah putih dengan tawa bijaksana yang diwariskan turun-temurun dari kakek buyut Ki Sastro itu raib tanpa meninggalkan bekas kerusakan pada gembok kuningan kotak pusaka.
Bagi orang awam, kehilangan itu mungkin dinilai sekadar hilangnya sebuah barang antik bernilai tinggi. Namun bagi Ki Sastro, Semar adalah jiwa dari setiap cerita lakon yang ia bawakan di atas kelir selama lebih dari setengah abad. Tanpa Semar, pementasan lakon wahyu cakraningrat yang dijadwalkan pada malam penutupan festival budaya desa tidak akan pernah bisa dimulai. Serangan batuk darah dan demam mendadak langsung merobohkan fisik sang dalang sepuh, membuatnya terbaring lemah di kamar belakang dengan napas yang memburu perlahan.
Bagas, seorang pemuda berusia dua puluhan yang telah lima tahun menjadi penabuh kendang di sanggar Ki Sastro, berdiri di sudut pendopo dengan perasaan hancur. Ia tahu betul betapa berartinya kotak pusaka itu bagi gurunya. Tidak ada orang luar yang bisa masuk ke dalam pendopo tertutup rapat pada tengah malam tanpa diketahui anjing penjaga atau menimbulkan suara gaduh. Itu artinya, pencuri tersebut bukanlah maling amatiran dari luar desa, melainkan seseorang yang mengenal seluk-beluk rumah Ki Sastro, tahu persis di mana kunci cadangan disembunyikan, dan memahami nilai sakral dari wayang yang dicurinya.
Keesokan paginya, ketika matahari pagi memancarkan cahaya keemasan yang hangat di atas genting-genting joglo, Bagas memulai langkah penyelidikannya secara senyap. Ia tidak ingin membuat gaduh warga desa atau memperburuk kondisi kesehatan Ki Sastro yang sedang kritis.
Langkah pertamanya membawanya mendekati kotak pusaka kayu jati di pendopo. Dengan menggunakan senter kecil, ia memeriksa setiap sudut bagian dalam kotak tersebut. Tidak ada serat kain yang tersangkut, tidak ada goresan paksa pada gembok. Namun, saat ia meraba bagian bawah sekat tempat Semar biasa bersemayam, jari tangannya merasakan sesuatu yang ganjil. Sebuah liputan kertas kecil terselip erat di bawah engsel kayu penyangga sekat.
Bagas menarik kertas tersebut keluar dengan hati-hati. Itu adalah selembar kertas merang tua bernoda tinta hitam, bertuliskan sebuah kalimat singkat bergaya sandi aksara Jawa kuno: “Wayang kembali ke tempat asal, saat bulan purnama mencapai puncak kesombongan.”
Pesan itu jelas bukan ditulis oleh seorang pencuri biasa yang mengincar materi. Itu adalah sebuah tantangan pribadi.
Bagas merenungkan makna kalimat tersebut sepanjang hari. Ia memutar kembali ingatannya pada peristiwa-peristiwa beberapa bulan terakhir di sanggar seni. Di tengah persiapan festival budaya tahun ini, Ki Sastro sempat kedatangan seorang tamu tak diundang seorang dalang muda berbakat namun ambisius dari kabupaten sebelah bernama Dananjaya. Dananjaya dikenal memiliki teknik pedalangan yang memukau, namun ia kerap dikritik karena terlalu bernafsu mengejar popularitas instan dan sering meminggung pakem tradisional demi memikat penonton muda. Dalam pertemuan terakhir mereka di pendopo, Dananjaya sempat memuji koleksi wayang kuno Ki Sastro, terutama figur Kyai Semar buatan empu keraton abad kesembilan belas.
Tanpa membuang waktu, menjelang sore hari, Bagas memutuskan untuk pergi meninggalkan Desa Karangtengah menuju sasana seni milik Dananjaya yang terletak di lereng bukit seberang, dibatasi oleh aliran sungai berbatu.
Perjalanan menyeberangi jalan setapak setapak di antara ladang tembakau ditempuh Bagas dengan langkah pasti. Suasana sore itu terasa tenang, dihiasi warna langit jingga kemerahan yang memantul di atas permukaan air sungai. Sesampainya di kompleks sasana seni Dananjaya yang berbentuk rumah panggung modern berarsitektur terbuka, suasana tampak sepi. Hanya terdengar suara gesekan rebah dari arah ruangan belakang.
Bagas menyusur dinding luar rumah panggung tersebut secara sembunyi-sembunyi. Ia mengintip melalui celah bilik bambu ruang kerja Dananjaya. Di dalam ruangan yang diterangi lampu meja berkerudung kain hijau itu, Dananjaya tampak sedang duduk menghadap sebuah meja kayu besar. Di atas meja tersebut tergeletak sebuah kotak kulit hitam, dan di sampingnya, di bawah sorotan lampu, berdiri tegak wayang kulit Kyai Semar yang agung dengan warna keemasan yang berkilau.
Jantung Bagas berdegup kencang. Bukti itu terpampang nyata di depan matanya.
Namun, sebelum Bagas sempat merencanakan tindakan selanjutnya, suara langkah kaki berat mendadak mendekati tempat ia berdiri. Sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang dengan pelan namun tegas.
Bagas terperanjat, berbalik badan dengan cepat. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya berbadan tegap Pak Lurah setempat yang juga bertindak sebagai sesepuh pelindung sanggar seni desa. Wajah Pak Lurah tampak tenang, memancarkan wibawa yang menenangkan kepanikan Bagas.
"Kau mencari Kyai Semar, Nak Bagas?" suara Pak Lurah terdengar lirih, memecah kesunyian senja di halaman belakang sasana.
Bagas mengangguk pelan, napasnya masih sedikit memburu. "Kenapa wayang itu bisa ada di sini, Pak? Ki Sastro sedang sakit parah karena kehilangan pusaka lelakonnya."
Pak Lurah menghela napas panjang, lalu memberi isyarat agar Bagas mengikuti langkahnya duduk di atas bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke arah lembah hijau. Di bawah temaram cahaya senja yang mulai berganti malam, Pak Lurah menceritakan kisah yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh para sesepuh desa.
Ternyata, pencurian itu bukanlah tindakan kriminal murni, melainkan sebuah bentuk protes emosional dari masa lalu. Dananjaya sebenarnya adalah anak kandung dari almarhum saudara kembar Ki Sastro seorang pembuat wayang jenius yang pernah berseteru dengan Ki Sastro puluhan tahun lalu mengenai hak cipta pahatan Kyai Semar pertama. Selama ini, Dananjaya merasa berhak memiliki warisan leluhur tersebut karena tangan kakeknyalah yang memahat figur Semar itu pertama kali, sementara Ki Sastro menyimpannya secara eksklusif dan menolak membaginya untuk sang keponakan.
Surat tantangan dan pengambilan wayang itu dilakukan Dananjaya untuk memaksa Ki Sastro turun takhta dari panggung festival tahun ini dan menyerahkan tongkat estafet dalang utama kepada generasi muda.
Bagas mendengarkan cerita itu dengan kepala dingin. Ia menyadari bahwa kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah, dan kesehatan Ki Sastro jauh lebih berharga daripada sebuah sengketa ego keluarga yang telah berakar lama.
Malam harinya, ditemani oleh Pak Lurah, Bagas menemui Dananjaya langsung di dalam ruang utama sasana seni. Tidak ada teriakan atau ancaman kekerasan. Di hadapan Dananjaya yang tampak terkejut dengan kehadiran mereka, Bagas berbicara dengan nada tenang namun penuh ketegasan mewakili suara sang guru.
"Kyai Semar bukan sekadar benda seni yang bisa diperebutkan di atas meja pameran, Mas Dananjaya," ucap Bagas pelan, menatap lurus mata sang dalang muda. "Semar adalah lambang pengayoman, keluhuran budi, dan kesabaran seorang guru. Jika kau mengambilnya dengan cara sembunyi-sembunyi hanya untuk membuktikan kehebatanmu, maka nilai kebijaksanaan yang diajarkan karakter itu sendiri telah hilang dari tanganmu."
Dananjaya terdiam seribu bahasa. Sorot matanya yang awalnya keras perlahan melunak. Ia menatap wayang kulit Kyai Semar yang berdiri megah di atas meja kerjanya. Ia menyadari bahwa ambisi besarnya telah membutakan arti sejati dari seni pedalangan yang ia junjung sejak kecil.
Tanpa sepatah kata pun, Dananjaya meraih wayang kulit tersebut dengan kedua tangannya, lalu menyerahkannya kembali kepada Bagas dengan kepala tertunduk.
Menjelang tengah malam, di pendopo Desa Karangtengah yang diterangi cahaya lampu petromak, Kyai Semar akhirnya dikembalikan ke dalam kotak pusakanya. Ki Sastro yang mendengarkan suara kepakan bilah wayang itu dari kamar tidurnya membuka mata dengan senyuman tenang. Kesehatannya berangsur pulih, seolah kehadiran kembali sang punokawan mengalirkan kembali energi kehidupan ke dalam tubuhnya.
Keesokan harinya, pementasan festival budaya desa dilangsungkan dengan megah. Ki Sastro duduk di balik kelir putih, menabuh cempala dengan mantap. Saat bayangan Kyai Semar melangkah anggun di atas kelir diiringi alunan gending yang sakral, seluruh warga desa bersorak dalam kebersamaan. Misteri telah usai, dan harmoni budaya kembali berpijar di bumi Karangtengah.