← Kembali ke Detail

Setelah Hujan, Kota Masih Menyimpan Luka

Export PDF

Hujan berhenti pada pagi hari ketiga.

Namun kota belum benar-benar tenang.

Air masih menggenang di jalan-jalan utama. Lumpur menempel di tembok rumah, pagar sekolah, dan halaman tempat anak-anak biasanya bermain. Aroma tanah basah bercampur dengan bau kayu yang lapuk memenuhi udara. Sirene ambulans dan kendaraan petugas terdengar bersahutan, sementara warga sibuk menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan.

Di balik langit yang mulai cerah, Kota Arunika tampak seperti seseorang yang tersenyum sambil menahan sakit.

Dimas mematikan mesin motornya di depan balai kelurahan yang kini berubah menjadi posko pengungsian.

Sebagai jurnalis berusia dua puluh tujuh tahun, ia sudah terbiasa meliput kecelakaan, kebakaran, hingga demonstrasi. Namun bencana selalu terasa berbeda. Di dalamnya, tidak ada satu tokoh utama. Semua orang sama-sama kehilangan sesuatu.

"Mas, tolong jangan foto anak-anak yang lagi nangis, ya," ujar seorang relawan.

Dimas mengangguk.

"Aku lebih ingin mendengar cerita mereka daripada mengambil air matanya."

Ia percaya bahwa berita yang baik bukan hanya tentang angka korban atau tinggi genangan, tetapi juga tentang manusia yang sedang berusaha bertahan.

Di dapur umum, seorang perempuan sibuk membungkus nasi.

Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya tampak lelah, tetapi tangannya terus bergerak tanpa henti.

Namanya Asha.

Sejak pagi, ia hampir tidak berhenti bekerja.

"Mas, makan dulu sebelum lanjut liputan," katanya sambil menyodorkan sebungkus nasi.

Dimas tersenyum.

"Terima kasih."

"Kamu wartawan?"

"Iya."

"Kalau bisa, jangan cuma liput banjirnya."

"Maksudmu?"

"Ceritakan juga orang-orang yang nanti dilupakan setelah air surut."

Kalimat itu terus terngiang di kepala Dimas.

Hari-hari berikutnya mereka semakin sering bertemu.

Dimas membantu membagikan logistik ketika liputannya selesai.

Asha mengajaknya berkeliling kampung yang paling parah terdampak.

Di sana, mereka melihat seorang kakek yang masih mencari album foto keluarga di antara tumpukan lumpur.

Seorang anak kecil menangis karena buku sekolahnya hanyut.

Seorang ibu duduk diam memandangi rumah yang tinggal separuh.

Tidak semua kehilangan bisa dihitung dengan uang.

Suatu sore mereka berhenti di sebuah jembatan tua.

Di bawahnya, air sungai masih berwarna cokelat.

"Rumahku dulu di sana."

Asha menunjuk sebidang tanah kosong.

"Yang sekarang tinggal pondasi?"

Asha mengangguk.

"Lima tahun lalu banjir besar juga datang."

"Lalu?"

"Ayah meninggal."

Dimas terdiam.

"Ayah kembali ke rumah buat ambil dokumen."

"Terjebak?"

"Iya."

Sejak hari itu Asha selalu merasa bersalah.

Kalau saja ia memaksa ayahnya pergi lebih cepat.

Kalau saja ia tidak kembali mengambil tas sekolahnya.

Kalau saja...

Namun hidup tidak pernah memberi kesempatan kedua untuk mengubah masa lalu.

Liputan Dimas mulai berubah.

Ia tidak lagi hanya menulis tentang jumlah pengungsi.

Ia menulis tentang guru yang tetap membuka kelas darurat di tenda.

Tentang tukang becak yang setiap hari mengantar bantuan tanpa meminta bayaran.

Tentang pemuda-pemuda yang bergotong royong membersihkan rumah tetangga lebih dulu daripada rumah mereka sendiri.

Artikel-artikelnya mendapat perhatian luas.

Banyak pembaca mulai berdonasi.

Namun tidak semua orang senang.

Suatu malam, redaksi menerima ancaman.

Seseorang meminta Dimas berhenti menulis tentang proyek normalisasi sungai yang mangkrak.

"Fokus saja pada banjir."

"Jangan cari penyebabnya."

Pemimpin redaksi memanggil Dimas.

"Kamu siap kalau berita ini berlanjut?"

"Aku cuma menulis fakta."

"Kadang fakta membuat orang tidak nyaman."

Di sisi lain, Asha mulai resah.

Beberapa warga takut jika liputan itu membuat bantuan dihentikan.

Sebagian lagi ingin semua kebenaran dibuka.

Kampung mereka terbelah.

"Aku capek," kata Asha suatu malam.

"Karena?"

"Setelah banjir selesai, orang-orang malah saling menyalahkan."

Dimas memandang sungai yang mulai tenang.

"Air memang surut."

"Tapi?"

"Luka sering kali tidak."

Seminggu kemudian investigasi Dimas terbit.

Ia menemukan bahwa beberapa saluran drainase yang seharusnya dibangun tidak pernah selesai meski anggarannya telah dicairkan. Dokumen, wawancara, dan foto yang ia kumpulkan menunjukkan bahwa bencana itu diperparah oleh kelalaian manusia, bukan semata-mata hujan.

Berita itu menggemparkan kota.

Sebagian memuji keberaniannya.

Sebagian lagi mengecamnya.

Namun satu hal mulai berubah.

Pemerintah daerah membentuk tim evaluasi independen.

Perbaikan drainase dan pengerukan sungai dipercepat.

Meski tidak menghapus kerugian yang sudah terjadi, setidaknya ada harapan bahwa tragedi serupa dapat dikurangi.

Beberapa bulan berlalu.

Kota mulai kembali sibuk.

Toko-toko buka.

Sekolah dipenuhi tawa anak-anak.

Aspal yang dulu tertutup lumpur kini kembali hitam.

Namun bagi sebagian orang, hujan tidak lagi terdengar sama.

Setiap awan gelap datang, jantung mereka berdegup lebih cepat.

Mereka teringat malam ketika listrik padam, air naik tanpa henti, dan waktu seolah berhenti.

Trauma tidak hilang bersamaan dengan banjir.

Ia tinggal diam-diam di dalam ingatan.Suatu sore, Asha mengajak Dimas mengunjungi taman yang baru dibangun di bekas lahan pengungsian.

Di tengah taman berdiri sebuah pohon trembesi muda.

"Kenapa di sini ditanam pohon?" tanya Dimas.

"Biar orang ingat."

"Ingat apa?"

"Kalau kota ini pernah jatuh."

Mereka duduk di bangku kayu.

Anak-anak berlarian di sekitar mereka.

Suara tawa mulai menggantikan suara tangis yang dulu memenuhi tempat itu.

Asha tersenyum.

"Aku dulu pikir aku nggak akan pernah bisa melihat sungai tanpa takut."

"Sekarang?"

"Aku masih takut."

"Tapi?"

"Aku belajar bahwa berani bukan berarti tidak takut. Berani adalah tetap melangkah meski rasa takut itu masih ada."

Setahun kemudian.

Musim hujan kembali datang.

Ramalan cuaca menyebutkan curah hujan tinggi.

Warga bersiap lebih awal.

Saluran air dibersihkan bersama-sama.

Posko siaga dibuka sebelum banjir terjadi.

Sekolah mengadakan simulasi evakuasi.

Masyarakat tidak lagi menunggu bencana datang untuk mulai peduli.

Mereka belajar dari luka.

Dimas menerbitkan sebuah buku kumpulan reportase berjudul Setelah Hujan yang berisi kisah-kisah para penyintas, relawan, tenaga kesehatan, guru, dan anak-anak yang bangkit setelah bencana. Baginya, kisah mereka jauh lebih penting daripada namanya sebagai penulis.

Pada peluncuran buku itu, Asha datang membawa sebuah amplop.

"Apa ini?" tanya Dimas.

"Surat."

"Untukku?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Untuk ayah."

Dimas membuka surat itu.

Isinya hanya beberapa kalimat.

"Ayah, aku masih merindukanmu. Aku masih menangis saat hujan deras datang. Tapi aku tidak lagi menyalahkan diriku sendiri. Aku akan terus membantu orang lain, seperti yang selalu Ayah ajarkan. Semoga di mana pun Ayah berada, Ayah tahu bahwa aku sudah belajar berdamai."

Dimas mengembalikan surat itu.

"Sudah pernah dikirim?"

Asha menggeleng.

"Memang tidak ada alamatnya."

"Lalu kenapa ditulis?"

"Karena beberapa perasaan tidak perlu sampai kepada seseorang. Cukup keluar dari hati kita."

Dimas tersenyum.

Di luar gedung, hujan gerimis mulai turun.

Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.

Sebagian membuka payung.

Sebagian memilih menikmati rintiknya.

Asha berdiri di bawah langit yang mendung tanpa bergerak.

Ia mengangkat wajahnya, membiarkan titik-titik hujan menyentuh kulitnya.

Dulu hujan hanya mengingatkannya pada kehilangan.

Kini hujan juga mengingatkannya pada orang-orang yang saling menggenggam tangan saat dunia terasa runtuh.

Kota Arunika memang telah pulih.

Bangunan diperbaiki.

Jalan kembali mulus.

Lampu-lampu kota kembali menyala setiap malam.

Namun setiap kali hujan turun, kota itu masih menyimpan luka yang tak terlihat, bukan untuk terus diratapi, melainkan untuk diingat agar kepedulian, kejujuran, dan gotong royong tidak ikut hanyut bersama derasnya air.

Sebab luka yang diingat dengan bijaksana dapat berubah menjadi pelajaran. Dan pelajaran itulah yang membuat sebuah kota, dan orang-orang di dalamnya, mampu bangkit menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.